You belong to me

You belong to me
Episode Dua Belas



Nathaniel membuka pintu kamarnya dengan kasar lalu menutupnya kembali dengan suara yang berdebum keras. Membuat Yana tersentak untuk kesekian kalinya. Dia kembali meringis kala Niel menarik tangannya kasar lalu membanting tubuhnya diatas kasur empuknya.


Jujur saja Yana tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Niel saat ini. Yang pasti lelaki itu terlihat sangat marah saat menatapnya. Yana tidak merasa telah melakukan sebuah kesalahan, tapi mengapa lelaki ini tega menyakitinya seperti ini. Lelaki itu bahkan telah mempermalukannya didepan umum. Entah bagaimana nasib Yana selanjutnya.


Bagaimana jika ibu Lila ataupun pak Argus tau, apakah mereka masih akan menerimaku bekerja? Dan Nara, dia akan semakin membenciku. Batinnya berteriak kesakitan.


Kayana bangkit lalu kemudian mengusap air matanya yang mengalir deras. Dia berdiri menghadap Niel yang terlihat sangat frustasi. Yana meringis pelan saat menyentuh pergelangan tangannya yang kini terlihat memerah.


Tapi Niel tak merasa iba sedikitpun saat melihatnya. Lelaki itu malah berdecih dan menatap Yana dengan pandangan meremehkan. "Jadi apa saja yang sudah kau lakukan selama aku pergi, hah?"


Kayana menggelengkan kepalanya pelan "a-aku tidak melakukan apapun"


"Benarkah?"


"Aku bekerja" cicit Yana pelan. Mungkin saja Niel marah karena sebelumnya Yana tidak memberitahunya bahwa dia masih bekerja. Tapi Radi mengatakan bahwa dia sendiri yang akan mengatakannya pada Niel. Jadi Yana tidak pernah memikirkan itu kembali.


"Tentu saja kau bekerja" sarkasnya. "Bekerja di bawah kukungan para lelaki, begitu?!" lanjut Niel menekankan setiap katanya.


Kayana menggelengkan kepalanya keras. Menatap Niel dengan penuh luka. Ya benar, aku bekerja dibawah kukungan pria, tapi itu hanya kau brengsek. Ingin sekali Yana mengeluarkan kalimat itu. Tapi sayangnya dia masih waras untuk tidak membuat amarah Niel semakin memuncak.


"Tidak! Aku bekerja di Toko Bunga lalu kemudian di Restoran. Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya"


"Hah, ternyata kau tidak sepolos seperti yang aku kira"


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Niel. Kau tiba-tiba saja datang dan memukul Sony... "


"Jangan pernah sekalipun menyebut nama lelaki lain saat bersamaku" ujar Niel mengcengkeram pipi Yana keras.


"Kau sepertinya salah paham" ucap Yana susah payah.


"Berani sekali kau mengatakan aku salah. Siapa kau? Kau hanya wanita jalang yang menjual tubuhnya padaku demi uang! Oh, atau semua ini hanya akal-akalanmu saja. Kau sebenarnya sudah tertarik padaku lebih awal. Tapi kau tidak tau bagaimana cara mendekatiku, jadi kau meminta bantuan Rachel"


Kayana memejamkan matanya sejenak. Niel sudah terlalu banyak menghinanya hari ini. Tapi tetap saja Yana tidak dapat melakukan apa-apa. Lelaki itu terlalu berkuasa. Dan Yana hanya setitik debu dihadapan Niel yang bisa di hempaskan kapan saja lelaki itu mau.


"Kenapa kau diam saja? Jadi benar kau hanya berpura-pura tidak mengenalku"


"Sungguh! Sebelum ini aku tidak mengenalmu" sanggah Yana dengan cepat.


"Sialan Yana, mengapa kau melakukan ini kepadaku?" teriak Niel melepaskan tangannya dipipi Yana dengan kasar. Egonya seakan terluka saat wanita itu mengatakan bahwa dia tidak mengenalnya sebelum ini.


Pembohong!


Niel adalah pebisnis muda sukses yang akhir-akhir ini sering di beritakan dimajalah bisnis, Televisi maupun kabar berita lainnya. Semua orang tengah membicaraknnya. Bukan hanya kesuksesannya tapi juga karena nama besar keluarganya yang melekat dibelakang namanya.


"Sekarang katakan apa kesalahanmu dan aku akan mengampunimu" lanjutnya dengan tenang. Dia akan memberikan Yana kesempatan. Tapi kalimat wanita itu selanjutnya malah menyulut kembali api yang sempat padam itu.


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun!" tegas Yana.


"Ya, kau melakukannya brengsek! Kau tidak mendengarkan kata-kata ku dan menggoda lelaki lain!" ujar Niel setelah melayangkan tamparan keras dipipi kanan Yana, membuat wanita itu jatuh ke kasur.


Kayana meringis memegang pipinya yang terasa panas dengan sudut bibir yang sedikit mengeluarkan darah. Yana bahkan merasa sedikit pening. Tamparan lelaki itu benar-benar tidak main-main.


Kayana melebarkan matanya kala melihat Niel hendak membuka sabuk celannya. Tubuhnya bergetar membayangkan sesuatu yang akan Niel lakukan padanya.


"Niel, kumohon. Aku benar-benar tidak melakukan apapun" ujarnya dengan suara bergetar.


"Katakan apa kesalahanmu dan kau akan ku ampuni" kata Niel dengan nada dinginnya lalu menarik sabuknya keluar.


Nathaniel hanya ingin Yana mengatakan apa yang dilakukannya di ruangan Argus dan memberi jawaban yang Niel inginkan. Tapi wanita itu tak ingin juga mengakui apa yang telah dilakukannya dan tetus saja menyangkalnya membuat Niel semakin emosi.


"Niel, kumohon. Kau bisa menanyakannya pada Radi. Aku bersamanya sepanjang hari"


Tapi Niel tidak mengindahkannya. Radi tidak ada disana saat Yana masuk keruangan Argus dan keluar sejam setelahnya. Itu yang di katakan Karen padanya.


"Yana, sekali saja katakan apa yang kau lakukan di Restoran hari itu"


Kayana berusaha memutar otaknya, mengingat semua kejadian yang di laluinya di Restoran selama Niel tidak disini. Tapi tetap saja dia tidak mengingat apapun yang kira-kira dapat menyulut emosi Lelaki itu.


"Aku...aku tidak melakukan apapun" cicitnya membuat Niel melayangkan sabuknya.


"Sialan Yana!"


Kayana memejamkan matanya kala rasa perih itu menjalar dibetisnya. Dia berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Memohon ampun pada Niel. Seumur hidupnya dia tidak pernah mendapa perlakuan seperti ini. Ibu maupun ayahnya tidak pernah sedikitpun memukulnya. Bahkan Nara yang membencinya tidak pernah melukainya secara fisik.


Tapi kini lelaki yang baru di kenalnya beberapa hari ini telah melakukanya. Bukan hanya fisik tapi batinnya juga terluka. Yana kembali memejamkan matanya dan berteriak kala rasa perih itu kembali dirasakannya.


Hingga saat Niel melayangkan sabuknya yang ketiga di punggungnya. Untuk sesaat Yana seolah tidak dapat merasakan nafasnya. Dia terbaring lemah diatas kasur.


Kayana menggeleng pelan kala Niel melempar sabuknya lalu menghampirinya. Dia terus saja memohon kepada Niel dengan suara lirihnya. Pekikan kembali keluar dari bibir mungilnya saat Niel merobek paksa dress yang dipakainya.


Lalu kemudian disusul yang lain hingga dia benar-benar telanjang. Dengan sekuat tenaganya Yana berontak dan memukul Niel membuat lelaki itu kembali melayangkan tamparannya.


Telinga Yana terasa berdengung. Dia tidak tau apa saja yang di lakukan Niel padanya. Di ambang batas kesadarannya, Yana dapat merasakan sesuatu menerobos kewanitaannya dengan paksa membuatnya berteriak kesakitan. Tapi Yana seolah tidak mendengar suaranya sendiri.


Yang di rasakannya hanya rasa sakit saat Niel bergerak di atasnya dengan sangat brutalnya. Tidak ada lagi desahan seperti sebelumnya. Yang ada hanya ringisan kesakitan karena Niel menyentuhnya tanpa foreplay terlebih dahulu. Yana bahkan tidak merasakan kenikmatan sedikitpun.


Bayangan akan masa-masa indah bersama keluarganya melintas di kepalanya. Hingga kesadarannya telah benar-benar mengambil alih. Yana tidak mengingat apapun yang terjadi selanjutnya. Dia hanya berharap saat bangun nanti semua yang dialaminya kini hanyalah mimpi semata.


***


"Kenapa lo tadi diam aja sih?"


"Yaelah, terus gue harus ngapain? Tonjok balik? Yang ada suasana akan semakin runyam. Lo ngga liat bagaimana Niel tadi" ujar Sony sambil sesekali meringis.


Saat ini mereka tengah berada di salah satu Klinik yang berada tidak jauh dari apartement Niel. Untung saja hidungnya tidak patah karena tonjokan dari Niel.


"Sus, pelan-pelan dong sakit nih" ujarnya meringis.


"Lebay amat lo, gitu doang"


"Lo bisa ngomong kayak gitu karena lo belum rasain gimana tonjokan Niel" Radi hanya terkekeh nikmat.


"Lo juga gimana sih, tadi lo bilang Yana hanya teman tidur Niel! Tapi dia kok marah banget liat gue sama Yana. Udah kayak gue mau rebut pacar dia aja. Aw, pelan-pelan sus"


"Shit! Gue lupa kalau Yana lagi sama Niel" Radi tiba-tiba berdiri dari duduknya membuat Sony menatapnya dengan kening berkerut.


"Terus kenapa kalau Yana sama Niel... Yana kan wanitanya"


Radi mendengus "Lo lupa gimana Niel kalau lagi marah?"


"Kasihan Yana, dia pasti bakalan habis tuh sama Niel" Sony menggeleng miris membuat Radi menekan tangan suster yang tengah mengobati luka di sudut bibirnya.


"Sialan lo Rad! Sakit nih!"


"Lagian lo ngomongnya gitu amat"


"Perasaan dari tadi gue salah mulu. Ngga lo, ngga Niel, sama aja" ujar Sony dengan memberenggut kemudian kembali meringis.


"Kayaknya Niel ngga ingat sama gue" ucap Sony kala mereka keluar dari Klinik


"Pastinya lah, secara lo dulu kan gendut, dekil lagi. Gue aja heran, kenapa gue bisa temenan sama lo" sahut Radu dengan nada mengejek.


"Sialan lo!"


"Gue balik dulu, mau kerumah Niel"


"Terus gue pulangnya gimana? Gue tadi kesini kan sama lo!"


"Jalan aja, deket juga" Radi mendengus dan membuka pintu mobil.


"Sialan lo Rad! Tungguin gue woy! Ah shit!" Teriak Sony kala Radi mulai melajukan mobilnya sebelum meringis karena rasa perih di sudut bibirnya.


"Teman Biadab lo!!!"