
...PLEASE VOMEN-NYA...
...***...
Kayana menghentikan larinya begitu sampai di ruangan yang di tujunya. Dia mengatur nafasnya yang terengah-engah sebelum mengetuk pintu di depannya dan masuk dengan tak sabaran begitu mendengar suara seseorang dari dalam yang menginterupsinya untuk masuk. Dia baru saja mendapat telepon dari pihak rumah sakit mengenai kondisi Widya, ibunya.
"Bagaimana kondisi ibu saya dok?" tanya Kayana langsung begitu dia duduk di depan dokter Ryan. Dokter yang menangani Widya. Sarat kekhawatiran dalam nada suaranya tidak dapat di sembunyikannya. Selama perjalanan ke rumah sakit, Yana berdoa semoga yang didapatkannya adalah kabar baik dan bukan sebaliknya.
Kayana tidak akan sanggup jika harus kehilangan lagi. Sudah cukup kejadian lima tahun lalu. Kejadian yang mengubah nasibnya juga nasib keluarganya. Saat sang ayah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya tepat di hari ulang tahunnya.
Karena kejadian itu pula Kayana sangat membenci hari ulang tahunnya. Jika saja hari itu dia tidak egois untuk ingin merayakan hari ulang tahun bersama sang ayah yang sedang berada di luar kota, mungkin sampai saat ini sang ayah masih bersama mereka.
Kinara, adiknya bahkan ikut menyalahkannya akan kematian sang ayah. Hal yang membuatnya semakin terpuruk. Bahkan sampai saat ini Nara masih saja membencinya. Bukan hanya dirinya tapi juga Widya. Nara beranggapan bahwa Widya lebih menyayangi Yana dari pada dirinya, hanya karena Widya mengatakan bahwa semua yang menimpa sang ayah bukanlah kesalahan siapapun tapi sudah kehendak yang maha kuasa.
Tapi Nara yang keras kepala dan sedang di liputi kemarahan tidak mengartikan kalimat Widya dengan baik, gadis itu malah menganggap bahwa Widya telah bersekongkol dengan Yana karena telah membelanya.
"Maafkan saya Yana, tapi dengan berat hati saya harus mengatakan bahwa kondisi ibumu semakin memburuk. Hal yang tidak di inginkan bisa terjadi jika kita masih saja menunda operasinya"
Yana menundukkan kepala menahan desakan air matanya. Dia tidak ingin kehilangan Widya. Tapi biaya operasi pastilah sangat mahal. Dari mana dia harus mendapatkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit dalam waktu dekat ini. Untuk biaya perawatan Lidya saja sudah menghabiskan hampir seluruh tabungannya, belum lagi biaya sehari-harinya juga Nara yang kelakuannya setiap hari semakin menjadi.
"Saya tau ini tidaklah mudah, tapi jangan pernah menyerah. Kamu gadis yang kuat" Yana hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan dokter Ryan, senyum yang dipaksakan.
Apa yang dikatakan dokter Ryan memang benar. Ini bukan saatnya untuk berkeluh kesah. Dia hanya perlu berusaha lebih keras lagi. Tapi sampai kapan? Yang dibutuhkannya bukanlah jumlah yang sedikit. Pekerjaan apa yang harus di lakukannya untuk mendapatkan uang yang banyak dalam waktu singkat? Yana memijit keningnya yang sedikit pening. Dia lalu keluar dari ruangan dokter Ryan dengan gontai setelah sebelumnya berpamitan.
'Ya Tuhan, berikanlah kemudahan padaku' batinnya memohon.
***
"Yana!"
Sentuhan di pundaknya membuat gadis yang dipanggil itu tersentak kaget. Dia menoleh dan menatap kesal pada sahabatnya, Diana.
"Ya ampun Dee, bikin kaget aja" ujarnya seraya mengusap dadanya.
"Sorry... Kenapa? Gue perhatiin dari tadi lo kayak ngga semangat gitu. Lo ada masalah?"
"Bukan apa-apa. Cuma kurang istirahat aja. Lo tau kan gue ngga hanya kerja di satu tempat"
"Bener hanya itu?" tanya Diana menatapnya dengan mata memicing.
Bukan tanpa alasan Diana meragukan jawaban Yana. Dia tau Yana tidak bekerja di satu tempat saja. Tapi Yana yang di kenalnya tidak akan pernah mengeluh di hadapan siapapun jika itu benar hanya tentang pekerjaan. Kayana adalah sosok gadis yang sangat kuat. Yana memang tidak pernah menceritakan apapun padanya, tapi Diana tau bahwa saat ini gadis itu tengah menanggung sebuah beban yang mungkin jika itu dirinya, dia tidak akan sanggup.
"Lo ngga percaya?"
"Bukan gitu, tapi gue siap kapan pun jika lo butuh pendengar yang baik"
Kayana tersenyum haru mendengarnya. Dia merentangkan tangan yang disambut pelukan hangat dari Diana.
"Lo benar. Mau menginap dirumah gue malam ini?"
"Ok. Kalau gitu lo tunggu disini, gue ambil tas dulu. Awas lo ninggalin gue!" Ujar Diana dengan girangnya. Dia tau apa arti dari ajakan Yana itu. Yang pasti itu bukan sekedar ajakan untuk menginap. Mungkin saja ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua. Jangan berpikir yang macam-macam. Malam panjang yang mereka maksud itu saling berbagi cerita.
Mereka tiba di rumah ketika hari sudah mulai gelap. Tak ada satupun lampu yang menyala di dalam maupun di luar rumah, yang artinya Nara belum juga pulang. Yana berjongkok di depan pintu dan meraih kunci yang ditaruhnya di bawah keset. Dia meraba dinding untuk mencari saklar lampu ketika mereka sudah berada di dalam rumah.
"Adek lo belum pulang?" tanya Siska yang sebenarnya sudah tau pasti apa jawabannya.
"Kayaknya sih belum"
Kayana menghembuskan nafasnya pelan dan berucap sendu "bukan sekali dua kali, tapi berulang kali. Tapi mau gimana lagi, dia ngga pernah mau dengerin gue. Apalagi sejak ayah meninggal, dia jarang dirumah kalau ada gue. Paling dia pulang kalau butuh uang doang"
"Lo yang sabar ya. Gue yakin dia ngga bakal selamanya kayal gini. Ada saatnya dia akan menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini itu salah" ucap Diana mengelus punggung Yana.
"Yaudah lo duduk aja dulu, gue ambil minum. Tapi yang ada hanya air kosong, ngga apa-apakan?"
"Yaelah santai aja kali, kayak siapa aja lo. Lagi pula itu lebih menyehatkan tahu" Yana tersenyum, dia sangat bersyukur karena mempunyai sahabat seperti Diana, yang selalu mengerti dirinya.
Kayana baru saja akan melangkahkan kakinya ketika mendengar suara ketukan di pintu yang lama-lama jadi gendoran keras.
"Siapa yang ngetok pintu kayak orang kesetanan gitu? Ngga sabaran banget" Diana baru akan berdiri tapi segera di cegah oleh Yana.
"Udah lo duduk aja, biar gue yang buka" Diana mengedikkan bahunya dan kembali memperbaiki duduknya, membiarkan Yana yang membuka pintu.
"Lo ngapain di dalam, buka pintu aja lama banget! Pegel nih kaki gue berdiri!"
Suara bentakan itu membuatĀ tersentak. Handphone yang dipegangnya hampir saja terjatuh. Dia mengerutkan kening kemudian bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Yana. Dilihatnya Nara yang tengah berdiri di pintu masuk dengan mata melotot pada Yana. Diana hanya menggelengkan kepala melihat ketidaksopanan Nara. Dia berdiri memperhatikan tanpa ada niat untuk ikut campur. Lagi pula itu urusan mereka berdua. Dia tidak ingin jika sampai dia bersuara, kata-katanya hanya akan membuat Yana semakin terpojok.
"Mana uang lo, uang gue habis!" tukas Nara menengadahkan tangannya. "Kenapa lo diam aja? Jangan bilang lo ngga ada uang! Mau gue sendiri yang cari?" lanjutnya.
"Sebentar" Yana menghela nafas lelah. Dia mengembangkan senyum tipisnya begitu dia berbalik dan mendapati Diana berdiri tidak jauh dari mereka. Memberi isyarat padanya bahwa semua baik-baik saja sebelum berlalu ke kamarnya.
Tapi Diana bukanlah gadis bodoh. Dia telah melihat dan menyaksikannya sendiri. Dia juga tau apa yang sedang Yana pikirkan saat ini. Dia bukan cenayang yang bisa membaca pikiran seseorang. Hanya saja melalui kata-kata Nara juga ekspresi wajah Yana, dia tau bahwa saat ini gadis itu tengah kekurangan uang dan tidak tau harus memberikan apa pada sang adik.
"Aku cuma punya ini" Ujar Yana begitu dia kembali dari kamarnya dan menyodorkan tiga lembar uang sepuluh ribu.
"Lo pikir gue anak TK lo kasi segini! Pelit banget lo. Siniin lagi!"
"Aku ngga ada lagi, hanya itu"
"Ok. Kalau lo ngga mau ambil, biar gue yang ambil sendiri" tukas Nara mulai meraba Saku sang kakak. Tidak memperdulikan protesan Yana yang sudah akan menangis karena perbuatannya.
Saat tidak menemukan apapun di saku, Nara menyentak tubuh Yana dengan kasar membuat gadis itu akan terjatuh jika saja tidak ada Diana yang menahannya.
"Nara! Yang sopan dong sama kakak lo!" sentak Diana mulai jengah dengan sikap kurang ajar Nara.
"Wah, siapa nih? Pahlawan kemalaman? Siapa yang ngundang lo kesini?!"
"Nara, jangan kasar sama Diana. Aku yang ajak dia kesini" Ujar Yana dengan lembut berusaha meredakan amarah Nara.
"Gue ngga peduli. Sekarang lo keluar! Gue ngga mau ada tamu yang ngga di undang dirumah ini"
"Sudah aku bilang, aku yang ajak Diana kesini"
Kinara memalingkan wajahnya dan menatap Yana dengan garang "Lo pikir lo siapa? Ini rumah gue. Dan gue ngga mau dia ada di sini! Lo ngga berhak ajak siapapun kesini tanpa seizin gue. Ngerti lo!"
Kayana menghembuskan nafasnya pelan. Menghadapi Nara memang membutuhkan kesabaran yang lebih. Dia lalu menatap Diana dengan tidak enak hati "Dee maaf. Tapi sepertinya lo harus pulang"
Dengan kesal Diana mengambil tasnya dan berlalu begitu saja tanpa pamit membuat Yana semakin merasa bersalah. Dia yang sudah membawa Diana ke rumah. Yana bahkan belum sempat memberikan minum tapi dia sudah menyuruhnya pulang.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Yana begitu melihat Nara yang membalikkan badan.
"Bukan urusan lo! Mending lo kerja, cari uang yang banyak"
Kayana tersentak begitu pintu tertutup dengan keras. Dia meremas ujung kaosnya menahan tangis.