
"Hallo baby boy" sapa Azura pada putra pertamanya yang baru saja turun dari kamarnya.
"Ma! berhenti memanggilku seperti itu, aku bukan anak kecil lagi" Ujar Danu dengan memberenggut.
"Mama akan terus memanggilmu seperti itu selama kamu belum menikah"
"Ini tidak adil! Mama memanggilku seolah-olah aku ini bayi yang baru lahir sedangkan si kutu kupret Niel..."
"Itu lain lagi ceritanya. Dan jangan coba-coba mengumpati adikmu!" potong Azura.
Danu hanya memutar bola matanya malas dan semakin memberenggut kala mendengar suara langkah kaki juga suara tawa yang semakin mendekat. Tidak lupa tatapan tajam Azura yang kemudian membuat Danu mendengus. Dan Danu tau apa maksud dari tatapan tajam itu.
"Nathaniel, adikku sayang. Apa kabar?" sapanya sambil memeluk Niel. Tidak lupa dengan penekanan kata sayang-nya. Lihat, kini Azura menatap mereka dengan senyum hangatnya.
"Perasaan lo udah tanya kabar gue kemarin deh" balas Niel memulai aksi jahilnya. Dia tidak sabar melihat Danu yang duduk di lantai dengan wajah lesuhnya dan Azura di atas sofa yang memberinya ceramah panjang.
"Ngaco lo! Gue baru datang hari ini. Gimana bisa gue sapa lo" Danu menatap tajam Niel memberinya isyarat untuk menutup mulut.
Lagi pula dari mana bocah tengil itu tau kalau dia sudah tiba dari kemarin dan bukannya tadi. Sial! Sepertinya Niel hendak mengerjainya seperti Radi dulu. Dan Danu tidak akan membiarkan rencana bocah tengil itu berhasil.
Lihat saja!
"Ngga mungkin lah gue salah. Bahkan Radi juga liat lo. Iya kan Rad?"
Radi yang tengah mencemot kue yang di selalu di sediakan Azura diatas meja tersedak. Dia terbatuk sambil memukul dadanya berulang kali. Hingga Azura menuangkannya air dan memberikannya segera.
"Terima kasih tante" ujar Radi menatap tajam pada orang yang baru saja menyebut namanya.
Sialan! Niel pasti sengaja membawa-bawa namanya. Radi jadi menyesali apa yang dilakukannya kemarin. Niel tidak akan tau jika berada di club yang sama dengan mereka jika bukan Radi sendiri yang menunjukkannya.
"Itu... Kemarin... " ujarnya terbata tidak tau harus menjawab apa. Pasalnya sekarang ini ada dua pasang mata yang tengah menatapnya tajam. Dan dua orang pemilik mata itu sama kejamnya.
Habislah kau Radi! Batinnya menggelengkan kepala miris dengan dirinya sendiri. Tapi kemudian dia bernafas lega kala Azura mulai membuka suara. Setidaknya untuk sementara dia selamat dari dua lelaki kejam itu.
"Jadi benar Danu, kamu datangnya kemarin dan bukannya hari ini?"
"Ya ampun, ma. Mama kayak ngga tau aja gimana putra mama yang satu ini. Dia kan orangnya memang jahil. Mungkin karena aku ngga angkat panggilannya kemarin makanya dia ngerjain aku sekarang. Pake bawa-bawa mama segala lagi, kekanakan" ucap Danu berusaha sesantai mungkin di depan Azura yang menatapnya dengan mata memicing.
"Mama aku ngga bohong, Radi bahkan..." ucapan Niel terhenti kala sebuah lengan merangkul lehernya keras hingga dia tercekik. Kakak biadap, umpatnya.
"Kau selalu saja begitu, bersikap dewasalah sedikit" Danu mengeraskan rangkulannya dan mengacak rambut Niel dengan sesekali di tekannya kala lelaki itu berontak dan tersenyum paksa ke Azura.
Azura menggelengkan kepanya melihat tingkah kekanakan kedua putranya "Kau harusnya menatap dirimu sendiri sebelum memberi nasihat pada adikmu" ujarnya sebelum berlalu dan mengabaikan panggilan tercekik dari Niel.
"Ngga waras lo!" tukasnya dengan sedikit terbatuk kala Danu melepas rangkulannya. Dia berlalu mengikuti Azura, tidak mengindahkan segala umpatan yang Niel keluarkan untuknya.
Sedangkan Niel mendengus kesal karena rencananya gagal. Dia menatap Radi tajam karena secara tidak langsung lelaki itu ikut andil dalam kegagalan rencananya, membuat lelaki yang di tatap itu lari terbirit menyusul Danu. Dia harus mencari perlindungan atau Niel akan menghabisinya.
"Jadi kapan anakmu nikah Azura? Dia sudah pas menikah di umurnya yang sekarang loh. Apalagi pekerjaannya menjamin. Dia juga sangat tampan" tanya Riyanti sepupu Azura, begitu Azura duduk di pantri bersamanya.
"Aku juga maunya begitu. Tapi mau gimana lagi, dia selalu saja sibuk dengan wanita yang tidak jelas diluaran sana" keluh Azura.
"Kalau begitu jodohkan saja dia"
Azura mengangguk setuju dan menatap Danu yang baru saja duduk "Kamu benar juga, Yanti. Baiklah, Danu. Mama akan kasih kamu waktu dua bulan untuk membawa calonmu sendiri. Tapi kalau dalam waktu itu kamu belum juga membawanya, mama sendiri yang akan memilihkan calon untukmu. Dan kau tidak boleh menolaknya"
"Mama tidak perlu melakukan itu karena aku sudah menemukannya" ujar Danu tersenyum sendiri mengingat wanita yang dilihatnya kemarin.
"Bagus kalau begitu. Lebih cepat kamu mengenalkannya pada mama itu lebih baik" ujar Azura menepuk tangannya sekali dengan girang.
"Jijik gue liat ekspresi lo. Jadi penasaran gue, siapa cewek yang lo maksud itu. Bisa-bisanya dia suka sama lo" Niel yang baru datang mengambil kentang goreng yang baru akan Radi masukkan kedalam mulutnya dan melemparkannya ke wajah Danu, membuat lelaki itu mendengus. Tidak suka dengan kalimat terakhir Niel.
***
Radi mengucek matanya dan menatap jam yang ada di nakas.
"Pukul 01.00. Siapa yang bertamu sepagi ini? Ganggu aja" gumamnya seraya bangkit dari kasur dan berjalan keluar kamar menuju pintu masuk.
"Siap... Woy apa-apaan! Gue mau dibawa kemana? Sialan! Siapa kalian?!" berontaknya.
Radi baru saja membuka pintu dan dia langsung di bawa dengan paksa oleh orang yang tidak di kenalnya. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri dari dua orang kekar yang tengah mengapitnya di tambah tiga di belakang juga satu yang berjalan di depannya.
Sialan! Siapa yang berani menculiknya di pagi buta seperti ini? Tidak akan ku ampuni, batinnya berteriak.
"Lepas, sialan!" teriaknya ketika orang itu memaksanya masuk kedalam mobil.
"Siapa yang nyuruh kalian, heh? Dibayar berapa kalian? Brengsek, lepasin gue!" teriak Radi menatap satu persatu orang yang ada di dalam mobil. Hingga pandanganya berhenti pada orang yang duduk disamping kemudi. Dia seperti tidak asing dengan orang itu. Di tambah tato yang ada di leher kanannya.
Shit! Bajingan tengik itu? Radi berhenti berontak kala mengetahui siapa dalang di balik penculikan tiba-tibanya itu. Seperti dugaannya, mobil berhenti di lobi apartement yang sangat di kenalnya.
"Lepas, gue bisa jalan sendiri!" sentaknya begitu mereka turun.
Radi menyenderkan tubuhnya ketika pintu lift tertutup dan menatap tajam orang-orang di depannya. Hanya itu yang bisa di lakukannya sebab Radi tau, dia tidak akan bisa menang melawan mereka, sebab tubuh mereka yang di penuhi otot itu.
Radi berjalan keluar dengan tergesa begitu pintu lift terbuka menuju dalang dari penculikannya itu. Dia mendengus menatap orang yang menyenderkan tubuhnya dengan tangan bersedekap di dekat pintu dengan santainya. Seolah apa yang barusan di lakukannya bukanlah apa-apa.
"Brengsek! Apa-apaan maksud lo ini?!" teriaknya begitu sampai dihadapan orang itu.
"Stt! Jangan sampai lo ganggu tidur dia" ujar Niel dengan tenangnya.
Radi tau betul siapa dia yang Niel maksud. "Bagus sekali! Lo larang gue ribut disini karena takut gue ganggu tidur dia. Sedang lo udah ganggu tidur gue dengan lima bodyguard sangar lo itu" sarkasnya.
Tapi Niel hanya memutar bola matanya jengah mendengarnya "Gue ada pekerjaan penting buat lo. Dan kali ini bonus lo dua kali lipat dari biasanya"
"Gue ngga butuh kerjaan tambahan"
"Terserah! Tapi gue ngga nerima penolakan. Sekarang lo masuk! Gue mau selama gue pergi lo jagain Yana. Dia sangat ceroboh dan bodoh. Dan yang panting, pastiin agar gadis bodoh itu gak kabur"
"Sialan Niel! Lo bangunin gue dengan cara yang ngga wajar dipagi buta hanya untuk jaga Yana? Dia bukan anak kecil lagi, dan sejak kapan lo butuh penjagaan buat teman tidur lo? Jangan bilang lo naksir sama dia?"
"Bacot lo! Gue udah bilang kalau dia bodoh dan ceroboh" ketus Niel.
Nathaniel sendiri tidak tau apa yang terjadi padanya. Dia hanya akan pergi selama beberapa hari dan Yana bukan siapa-siapa baginya. Wanita itu hanya sekedar teman tidurnya saja. Sialan! Wanita itu sudah sangat mempengaruhinya.
Tapi sekali lagi Niel menekankan pada dirinya sendiri bahwa dia melakukan itu semua karena dia sudah membayar Yana dengan sangat mahal. Niel hanya tidak ingin jika sampai Yana melarikan diri dengan uang yang telah di berikannya sedangkan dia belum puas dengan tubuh wanita itu.
"Alasan lo ngga masuk akal. Lo sendiri yang bilang kalau Danu ngga waras, tapi ternyata lo lebih ngga waras"
"Udahlah, mending lo masuk karena gue udah mau pergi. Lo harus pastiin Yana ngga dekat dengan lelaki siapapun di luar sana. Dan gue ngga mau jika gue kembali nanti, ada luka lecet sedikit pun di tubuhnya. Ingat sedikit luka lecet aja lo yang tangung akibatnya" ujar Niel penuh penekanan.
"Lo beneren udah gila! Kenapa lo ngga minta bodyguard lo yang jagain Yana dan bukannya gue, sialan!"
"Itu karena gue lebih percaya sama lo. Dan lo harus bangga dengan itu" Ucap Niel menepuk bahu Radi sebelum berlalu bersama semua Bodyguard-nya.
Sedangkan Radi hanya mendengus kesal. Dia berbalik dan membuka pintu apartement. Melanjutkan langkahnya kearah kamar Niel, tangannya yang baru akan memutar knop pintu terhenti kala melihat secarik kertas yang di tempel di depan pintu. Dia mengambil kertas itu dan membacanya. Matanya melotot kala membaca kata per kata dari kertas itu.
"Lo benar-benar bajingan sialan Niel" geramnya meremas kertas yang di pegangnya sebelum melemparnya kesembarang arah.
Jangan coba-coba masuk kamar gue atau kepala lo taruhannya. Selama gue ngga ada lo tidur di sofa. Dan menjauh dari kamar Yana! Atau siap-siap lo kehilangan kaki lo!