You belong to me

You belong to me
Episode Tujuh Belas



Nathaniel mengacak rambutnya frustasi kala Radi menceritakan tentang keadaan Yana setelah kejadian itu. Untuk pertama kali selama hidupnya Niel teramat menyesali perbuatannya terhadap Yana. Dia teramat marah atau mungkin cemburu? Sial! Dia bahkan tidak tau apa yang sebenarnya dirasakannya terhadap Yana. Sifat posesifnya muncul begitu saja jika itu menyangkut Yana.


"Sebenarnya keadaan Yana sudah lebih baik selama dua minggu terakhir ini. Gue bahkan udah bebas ngobrol sama dia. Yang lo liat tadi, itu juga yang gue liat pas pertama kali dia liat gue. Jadi lo tenang aja..."


"Kebenarannya adalah Yana takut sama gue karena gue yang udah buat dia kayak gitu" potong Niel cepat.


"Semua akan baik-baik saja" ujar Radi setelah beberapa saat hening. Dia tidak tau harus menanggapi ucapan Niel dengan apa. Sebab apa yang dikatakan Niel itu benar juga.


Sebenarnya Radi masih teramat kesal dengan Niel. Masih banyak kata-kata yang ingin di keluarkannya untuk lelaki tapi ditahannya. Dia tidak ingin memperumit keadaan. Cukup dengan Niel minta maaf pada Yana dan menyesali perbuatannya.


"Ngga ada yang baik-baik saja Rad, lo tau itu! Gue emang brengsek! Sialan!" geram Niel frustasi.


Derap langkah kaki yang cepat mengalihkan perhatian mereka berdua. Niel yang terlebih dahulu berdiri dari duduknya dan mencegat Azura yang setengah berlari ingin kedapur.


"Ada apa ma, Yana baik-baik saja kan?" tanya Brian dengan cemas.


"Yana, sepertinya dia demam. Mama akan mengambilkan kompres" jawab Azura sebelum melanjutkan langkahnya.


Sedangkan Niel melangkah menuju kamar Yana. Dia baru akan mendorong pintu ketika tangan Radi mencekalnya.


"Sorry Niel, tapi ada baiknya kalau mama Azura yang masuk. Nanti lo temuin Yana kalau keadaannya sudah lebih baik"


Nathaniel menghempaskan tangan Radi dengan kasar dan menatapnya tajam "Lo ngga ada hak buat ngatur-ngatur gue"


"Lo udah tau bagaimana keadaan Yana yang sebenarnya. Lupa lo bagaimana histerisnya Yana tadi waktu liat lo?" ujar Radi pelan berusaha menekan emosinya.


"Gue ngga peduli! Gue mau temuin Yana sekarang!"


"Yana ngga mau temuin lo, brengsek! Lagi pula Yana seperti ini, itu karena lo!" teriak Radi.


Nathaniel yang tidak terima dengan kata-kata Radi mencengkeram kerah baju lelaki itu dengan tangan kekarnya, membuat Radi hampir tercekik.


"Niel, Apa yang kau lakukan? Lepaskan Radil!" seru Azura yang baru datang.


Nathaniel mendengus dan menghempaskan Radi dengan sedikit mendorongnya. Dia kemudian mengambil alih baskom yang berisi air hangat ditangan Azura.


"Biar aku yang merawat Yana" ujarnya tegas.


"Niel, kamu tidak bisa melakukan ini. Kamu tau sendiri kan... "


"Aku yang sudah membuat Yana seperti ini, jadi sekarang biarkan aku yang mengembalikannya. Mama pernah dengarkan, orang yang punya trauma harus bisa menghadapi traumanya sendiri agar bayangan dari trauma itu tidak terus menghantuinya. Dia harus belajar menghadapinya" ujar Niel dengan cepat tidak membiarkan Azura melanjutkan kata-katanya.


"Tapi tidak sekarang..." terlambat, Niel sudah masuk dan mengunci puntu. "Niel, buka pintunya! Niel!"


"Ma, biarkan saja. Niel sangat keras kepala. Dia tidak akan mendengarkan siapapun. Niel hanya akan mengompresnya sedangkan Yana sedang tertidur, iyakan? Kalau mama mengetuk pintunya dengan keras, Yana bisa terbangun nanti" ujar Radi menenangkan Azura yang menggedor-gedor pintu. Dia percaya Niel tidak akan melakukan apapun.


Disisi lain Niel yang tengah membawa baskom segera meletakkannya diatas meja disamping ranjang. Ditatapnya Yana yang sedang memejamkan matanya dengan intens. Wajahnya pucat dengan bibir yang sedikit gemetaran, mungkin kedinginan. Niel kemudian meletakkan tangannya di kening Yana lalu mendesis.


"Panas sekali" gumamnya.


Lalu diambilnya handuk kecil yang sudah disediakan Azura dan dicelupkannya kedalam air hangat sebelum meletakkannya dikening Yana. Dia terlihat sangat cekatan saat melakukannya. Itu karena dia sudah terbiasa.


Sebab jika Azura sedang demam dia sendiri yang akan merawatnya dan bukannya pelayan. Dia akan meninggalkan segala pekerjaannya demi merawat Azura. Yang kemudian berimbas kepada Radi karena harus menggantikan segala pekerjannya.


Setelah sepuluh menit, panas tubuh Yana belum juga turun membuat Niel khawatir. Dia kemudian mengingat apa yang dilakukan Bram jika panas tubuh Azura tak kunjung mereda. Jangan tanya dari mana dia mengetahui itu. Salahkan kedua orang tuanya yang jarang mengunci pintu saat sedang berduaan di dalam kamar. Dengan inisiatifnya sendiri Niel mulai melepas kancing baju Yana satu persatu.


Namun baru juga memegang kancing atas, mata Yana sudah lebih dulu terbuka membuat Niel menarik tangannya dengan cepat.


Sedangkan yang di panggil langsung membelalakkan matanya, hendak bangun. Tapi kemudian meringis kala pusing dikepala menderanya.


"Hei, tenanglah" Niel secara refleks mendekat dan memegang tangan Yana dengan lembut. Mengambil kain yang di pegang Yana mencoba meletakkannya kembali di kening Yana. Tapi wanita itu malah berontak membuat kainnya kembali jatuh.


"Pergi. Aku tidak salah, aku tidak salah" gumamnya berulang kali sambil berusaha melepakan tangannya.


Nathaniel yang tidak melepaskan tangannya membuat Yana bangun dengan bersusah payah. Dia juga menggunakan kakinya untuk mendorong Niel. Namun usahanya itu sia-sia karena Niel lebih kuat darinya.


"Kumohon, aku tidak bersalah. Jangan lakukan ini. Lepaskan aku, kumohon" ujar Yana disertai isak tangisnya. Dia hendak berteriak tapi tidak kuat karena sekujur tubuhnya terasa sangat lelah. Dia juga merasa kedinginan.


"Aku tidak bersalah"


Nathaniel yang mendengar itu memejamkan matanya sejenak seakan ikut merasakan apa yang dirasakan Yana. Dia kemudian menarik paksa Yana kedalam pelukannya. Tidak peduli dengan kepalan kecil tangan Yana yang memukulnya. Wanita itu terus saja berontak disertai isakannya.


Setelah beberapa menit, mungkin karena sudah lelah Yana tak lagi memukulnya. Wanita itu mencengkeram kemeja depannya dengan erat. Menekan kepalanya di dada bidangnya dan menangis sesegukan disana.


Nathaniel ikut mendekapnya erat dengan sesekali mengusap rambutnya seolah menenangkannya.


"Tenanglah Yana, aku tidak akan menyakitimu. Tidak akan pernah!" ujar Niel dengan setengah berbisik lalu mendaratkan bibirnya dipuncak kepala Yana. Panas tubuh wanita itu bahkan bisa dirasakannya.


Setelah merasa Yana sudah lebih tenang, Niel melepaskan pelukannya dan membaringkan Yana kembali. Wanita itu menurut saja. Tapi Niel dapat melihat ketakutan dimata indah itu yang membuat dadanya terasa nyeri. Dia lalu tersenyum dan mengusap dahi Yana, masih panas. Tapi setidaknya sudah tidak sepanas tadi.


***


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tapi Niel belum juga memejamkan matanya. Dia berulang kali mengatur posisinya di sofa yang ukurannya lebih kecil dari tubuhnya. Dia menghela nafas gusar lalu kemudian duduk.


Mamanya itu sungguh kejam. Di rumah yang besar ini terdapat banyak kamar. Namun bukan Azura namanya jika tidak memiliki alasan untuk mengusirnya. Azura bahkan juga Radi sudah berulang kali menyuruhnya untuk kembali ke Hotel. Tapi Niel tetaplah Niel si keras kepala. Dia lebih memilih tidur di sofa yang kecil ini dari pada harus kembali ke Hotel.


Bisa saja itu hanya rencana mamanya dan Radi untuk kembali membawa Yana pergi, pikirnya.


Nathaniel menyenderkan kepalanya disofa dengan tangan bersedekap lalu memejamkan matanya pelan. Dia mungkin akan tidur dalam keadaan duduk dari pada harus tidur berbaring dengan tersiksa.


Suara langkah kaki yang mendekat tidak di hiraukannya. Mungkin saja itu Azura atau Radi yang kembali akan menyuruhnya untuk ke Hotel. Sentuhan singkat dipundaknya membuat Niel mengernyitkan kening lalu membuka matanya secara perlahan. Dia langsung menegapkan duduknya dan mengucek matanya beberapa kali ketika melihat Yana berdiri didepannya. Wanita itu terlihat ketakutan dengan bibir mengatup rapat. Dan Niel tau apa penyebabnya.


Nathaniel mendengus pelan "kau juga ingin menyuruhku pergi ditengah malam seperti ini? Jangan harap! Aku tidak akan kemana-mana"


Kayana menggeleng pelan lalu menunjuk kamarnya. Niel menatap Yana lama membuat wanita itu menunduk. Dia kemudian mengangguk mengerti.


"Kau ingin aku tidur di kamarmu?" anggukan kepala Yana yang pelan membuat Niel tersenyum sumrigah. Yana memundurkan langkahnya begitu Niel berdiri.


"Baiklah, kalau kau tidak keberatan"


Kayana kembali mengangguk dan melangkah terlebih dahulu. Niel menyusul dibelakangnya menatap wanita itu dengan gemas. Yana takut padanya tapi juga peduli. Yana-nya yang manis. Pemikirannya itu membuat Niel tersenyum-senyum sendiri. Dia terlihat seperti remaja yang baru kasmaran saja.


Nathaniel langsung merebahkan tubuhnya diranjang begitu mereka masuk ke kamar. Tapi dia kembali duduk kala Yana hanya berdiri lalu kemudian berjalan kearah lemari dan mengelurkan selimut.


"Jadi kau membawaku ke kamarmu hanya untuk kembali tidur di sofa? Tapi baiklah, setidaknya sofa itu cukup besar" Niel hendak turun tapi tidak jadi kala Yana mengangkat sebelah tangannya, menghentikannya.


"Aku yang akan tidur disini" ujarnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Niel. Setidaknya dia harus bisa mengendalikan rasa takutnya seperti yang selalu dikatakan Azura juga dokter yang merawatnya.


"Apa-apaan, kau pikir aku akan membiarkanmu tidur disitu? Ini kamarmu dan kau yang lebih berhak. Jadi biarkan aku yang tidur di sofa"


Nathaniel menghela nafasnya jengah kala Yana menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu tidak akan ada yang tidur di sofa. Kita akan tidur di ranjang ini, berdua"