You belong to me

You belong to me
Episode Tiga



...PLEASE VOMEN-NYA🙏...


...***...


"Baru datang lo Nar, gue hubungin dari tadi tapi handphone lo ngga aktif" ujar Sandra begitu Nara duduk. Tapi Gadis itu mengabaikannya dan malah menyesap sedikit minuman yang belum di sentuhnya.


"Tumben lo ngga pegang Handphone. Biasanya kalau kita kumpul gini lo pegang terus tuh handphone. Atau Handphone lo rusak" timbrung Viona membuat mereka tertawa kecuali Nara yang hanya memutar bola matanya malas.


"Wajar sih, orang handphone lo udah ketinggalan. Harusnya dari dulu lo ganti. Udah lama banget tuh handphone, udah berapa tahun lo pake?" kata Sandra kembali menimpali.


"Sialan, lo pada!" umpat Nara.


"Kalian apaan sih, bukannya bantu temannya yang lagi susah malah di ejekin" Hani yang sedari tadi diam angkat bicara.


Sandra menghembuskan asap melelui mulutnya sebelum berucap "Udah gue tawarin, tapi Nara-nya aja yang ngga mau"


"Gue masih waras buat nerima tawaran lo itu"


"Sok suci banget lo. Lagian ya, lo ngga bakal susah lagi kalau nerima tawaran gue. Kaya mendadak lo"


"Mending gue kayak gini aja, dari pada ngikutin lo - lo pada. Seenggaknya gue masih bisa makan"


"Ok. Terserah lo deh. Gue mau pergi dulu, ada mangsa baru!" ujar Viona menghentikan percakapan mereka, lalu mengalihkan tatapannya pada obyek yang ditunjuk Viona.


"Gue ikut!" sahut Sandra yang langsung berdiri dari duduknya di susul dua lainnya kecuali Nara.


"Ayolah Nar, minimal cuci mata" ajak Viona.


"Kalian bener-bener udah ngga waras" mereka bertiga hanya tertawa mendengar cemohan Nara.


***


Tubuh Yana menegang kala Niel menariknya kedalam pelukannya. Dia memejamkan matanya erat saat merasakan sapuan lembut di sekitar lehernya juga hembusan nafas lelaki itu yang terasa hangat. Dia mengepalkan tangannya erat di kedua sisi tubuhnya. Dapat dirasakannya Niel menyibak rambut sepunggungnya yang tergerai indah ke bahunya yang lain.


"Aroma yang memabukkan" ujar Niel.


Untuk sesaat Yana seakan menikmati perpaduan aroma musk juga lavender dari lelaki itu. Tubuhnya yang mungil benar-benar tenggelam dalam pelukan Niel. Yana belum juga membuka matanya bahkan saat lelaki itu melepas pelukannya dan beralih pada pinggangnya. Tangan kekar itu mengusap disekitar pinggangnya sedangkan tangan yang lain mengusap pipinya.


"Buka matamu" Yana membuka matanya secara perlahan mendengar bisikan itu dan bergindik kala Niel menjilat bagian telinganya. Nafasnya mulai terengah-engah dengan pipi yang memerah.


Matanya juga mulai berkaca-kaca membayangkan bahwa sekarang dia benar-benar tidak lebih dari seorang wanita malam di luaran sana. Ibunya akan sangat kecewa padanya jika tau apa yang di lakukannya saat ini. Dia bahkan melupakan nasihat iIbunya tentang no sex before married.


Kayana diam saja layaknya patung ketika Niel menyapukan bibirnya di sekitaran lehernya. Kepalanya sedikit mendongak dan berusaha mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan. Hingga saat lelaki itu menyentuh bibirnya, air matanya luruh begitu saja. Itu adalah first kiss-nya.


Nathaniel hanya menempelkan bibirnya saja tanpa ada pergerakan. Dia mengumpat kala merasakan bibir manis yang sedari tadi ingin di cicipinya itu. Niel baru akan menggerakkan bibirnya tapi terhenti karena melihat air mata Yana. Selama ini tidak seorang pun yang di ciumnya mengeluarkan air mata.


Sialan! Mereka bahkan sama-sama menikmatinya. Tak jarang para wanita itu sendiri yang akan berinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu. Tapi gadis ini, dia bahkan hanya menempelkan bibirnya saja. Mereka bahkan belum masuk ke tahap yang paling di sukai Niel.


"Shit!"


Nathaniel menjauhkan diri dan mengumpat sekerasnya. Dia mengacak rambutnya dengan kasar dan menatap Yana dengan tajam membuat gadis itu ketakutan. Entah berapa kali dia mengeluarkan umpatan dalam tiga puluh menit terakhir karena gadis itu. Niel menghela nafasnya kasar dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Dia meletakkannya di meja.


"Cek kosong. Isi sesuai permintaanmu tadi, sudah aku tanda tangani" setelah mengatakan itu Niel berlalu begitu saja meninggalkan Yana yang meluruhkan dirinya ke lantai lalu menangis dengan keras. Dia tidak peduli bahkan jika sampai lelaki itu mendengarnya.


"Jangan pernah berpikir untuk kabur. Kau sudah menandatangani kontrak. Sekarang dan kedepannya kau adalah miliku, camkan itu"


Kayana mendongakkan kepalanya. Ternyata lelaki itu belum pergi. Dia masih berdiri di depan pintu, membelakanginya. Yana kembali menangis begitu Niel benar-benar pergi.


"Hai, aku Aditya. Sahabat, asisten pribadi dan orang kepercayaan Niel atau apapun sebutan lainnya tentang itu"


Lamunan Yana buyar seketika saat mendengar suara itu. Sekelebat kejadian tadi masih berputar dikepalanya. Dia kemudian menggelengkan kepalanya pelan lalu menatap uluran tangan lelaki itu dengan ragu.


"Kayana" ujarnya pelan tanpa menerima uluran tangan Radi membuat lelaki itu terkekeh.


"Baiklah, kau tidak perlu takut denganku. Aku tidak akan berbuat macam-macam pada apa yang sudah menjadi milik Niel. Aku kesini hanya untuk mengantarmu ke tempat Niel. Tapi sebelumnya kau mungkin harus bersiap-siap karena setelah ini kau akan tinggal di tempatnya. Jadi mungkin kita kerumahmu atau kau mau kesuatu tempat dulu" ujar Radi sambil menyalakan mesin mobil.


"Ke rumahku" sahut Yana pelan dengan meremas ujung jas yang di pakainya.


Jas milik Niel yang lelaki itu lemparkan padanya sebelum dia pergi tadi. Setidaknya lelaki itu masih berbaik hati tidak membiarkanya dengan pakaian yang benar-benar membuatnya hampir telanjang. Yana bahkan dapat mencium dengan jelas aroma lelaki itu di jas yang di pakainya. Aroma yang benar-benar menenangkannya.


Tapi kemudian dia bergindik ngeri kala mengingat ciuman mereka tadi. Benarkah itu sebuah ciuman? Pikirnya.


"Kau ingin masuk?" Tanya Yana begitu mereka tiba di depan rumahnya.


Sebenarnya gadis itu enggan menanyakannya, sebab dia takut jika sampai ada tetangga yang melihatnya dengan Radi. Dia tidak ingin jika sampai mereka berpikir yang macam-macam tentangnya. Meskipun mungkin itu adalah kenyataannya.


Tapi rasanya tidak sopan jika dia harus masuk kerumahnya tanpa mengajak Radi dan membiarkan lelaki itu menunggu di mobil. Yana hanya berharap agar lelaki itu menolak ajakannya, semoga saja. Tapi kalimat pria itu selanjutnya membuat Yana merosotkan bahunya.


"Kalau kau tidak keberatan"


Kayana hanya menggeleng pasrah "tentu saja tidak" tapi sangat keberatan, lanjutnya dalam hati.


Kayana meminta Radi duduk di kursi ruang tengah sementara dia melangkah kedapur mengambil minum untuk lelaki itu.


"Maaf, hanya ini" ujarnya meletakkan secangkir air putih di hadapan Radi. Dia tidak mempunyai persiapan apapun didapurnya. Bukan karena tidak sempat untuk membelinya, tapi karena dia tidak mempunyai biaya untuk membelinya.


Rasa khawatir mulai menghampirinya. Dia akan meninggalkan rumah ini juga Nara. Entah bagaimana nasib Nara setelah dia pergi. Siapa yang akan mengurusnya? Ya Tuhan apa yang sudah kulakukan? Batinnya berkecamuk.


Kayana berlalu ke kamar Nara setelah berbincang sedikit dengan Radi. Setidaknya lelaki itu tidak keberatan dengan apa yang di suguhkannya. Yana duduk di pinggir tempat tidur Nara, mengambil sebuah bingkai foto yang terdapat gambar dirinya juga Nara yang tengah berpelukan.


Foto itu diambil jauh sebelum kejadian itu. Yana tersenyum mengusap foto itu lalu meletakkannya kembali. Diusapnya pipinya yang basah. Dia kemudian beralih pada pena juga mengambil selembar kertas pada buku yang kebetulan ada dia atas meja.


Setelah urusannya di kamar Nara selesai, dia beralih kekamarnya. Membuka lemari dan mengambil tasnya. Dia hanya akan membawa beberapa lembar pakaian saja. Jadi saat Niel melarangnya kembali kerumah dia akan mempunyai alasan. Setidaknya dia harus menyiapkan payung sebelum hujan, iyakan?.


Untuk yang satu itu Yana juga baru tau saat penandatanganan kontrak. Dia pikir urusannya dengan Niel hanya satu malam dan setelah itu semuanya akan berakhir. Tapi dia salah, nyatanya lelaki itu memberinya kontrak yang hanya akan berakhir jika lelaki itu sendiri yang memutuskannya. Terdengar tidak adil, tapi sekali lagi uang ada di atas segalanya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Radi saat mereka dalam perjalanan menuju tempat Niel.


Kayana hanya diam saja tanpa menjawabnya. Lagi pula jawaban apa yang akan di berikannya. Seharusnya lelaki itu tau dan tidak perlu bertanya, karena siapapun yang berada di posisinya saat ini tidak akan baik-baik saja.


"Ini pertama kalinya Niel membawa wanita ke Apart Royal's" ucap Radi kembali memecah keheningan.


"Biasanya dia hanya akan membawa para wanitanya ke hotel biasa. Mungkin kau termasuk yang spesial" lanjutnya lagi. Tapi Yana hanya menatapnya dengan kening berkerut.


"Kau tidak mengerti?" gelengan kepala Yana membuat lelaki itu tertawa. "Baiklah, kau akan tau sendiri nantu. kita sampai" lanjutnya setelah tawanya mereda. Tidak habis pikir dengan kepolosan gadis di sampingnya.


Kayana tidak tau mereka sekarang ada di lantai berapa. Karena selama berada dalam lift, Yana hanya menundukkan kepalanya dan berdiri di pojok seakan menghindari Radi.


Kayana mengikuti lelaki itu masuk begitu pintu terbuka. Dia menatap sekelilingnya dan berdecak kagum. Apartment itu terlihat sangat luas dan juga megah.


Nathaniel memang sangat royal jika itu menyangkut tempat tinggalnya. Apartment yang di tempati Yana sekarang memiliki kolam renang yang luasnya sudah di sesuaikan dengan apartement itu sendiri. Tidak terlalu besar namun tidak kecil juga. Apartment itu juga terdapat tiga kamar yang salah satunya sudah di jadikan Niel ruang kerjanya sekaligus ruang baca.