
"Nar lo ngga salah kan? Ini beneran Danu pengusaha sukses yang ngga pernah terekspose itu?" tanya Sandra sambil membaca nama yang tertera di kartu nama yang Nara letakkan dengan teliti. Dia bahkan berulang kali mengejanya memastikan dia tidak salah baca.
"Mana gue tau" ujar Nara cuek.
"Terus yang kasih lo ini siapa?" tanya Sandra kembali dengan gemas.
"Danu! Siapa lagi. Gue kan tadi udah bilang"
Jika saja saat ini Nara sedang tidak hamil, mungkin Sandra sudah menendangnya keluar dari rumah. Tidak peduli bahwa dia adalah tamu sedangkan Nara adalah tuan rumah.
"Terus kapan lo mau hubungin dia?" timpal Viona lalu mencemot keripik yang tadi dibelinya di seberang rumah Nara.
Kinara terdiam sejenak lalu mengusap perutnya yang masih rata. "Gue ngga akan hubungin dia. Gue yakin kalau gue bisa ngurusin anak gue sendiri."
"Mau lo kasih makan apa calon anak lo nanti? Makanan lo aja masih kakak lo yang biayain. Lagian kalau emang bapak anak lo Danu si pengusaha sukses itu, untung banyak lo. Maksud gue kaya mendadak lo."
"Bener tuh Nar. Lo bilang lo ngga suka sama Yana, tapi lo masih aja minta duit sama dia. Nah, kalau lo nikah sama Danu lo kan ngga perlu lagi minta uang sama kakak lo" ujar Viona menyetujui ucapan Sandra.
"Oh iya Nar, dari semalam gue mau nanya ini tapi ngga sempat. Si Danu ini ganteng ngga?"
"Gue udah nanya itu semalam tapi ngga ada yang nanggapin" ucap Hani menimpali perkataan Viona.
"Oh gue belum cerita ya?" tanya Nara lalu kemudian tersenyum jahil membuat ketiga sahabatnya menatapnya dengan kening berkerut.
"Cerita apa?" ujar mereka bertiga hampir bersamaan.
"Kalian masih ingat ngga sama lelaki yang nolak kalian malam itu di Club?"
"Iyalah, gue masih kesel ya sama dia. Berani banget nolak gue. Pake lo ingetin segala lagi. Eh, tapi hubungannya dia sama cerita lo apa?" ketus Sandra.
Kinara menaik turunkan alisnya dengan senyum lebarnya membuat Viona membelalakkan matanya, seolah mengerti kode yang diberikan Nara.
"Jangan bilang dia adalah Danu Maheswara itu?" pekik Viona. Nara mengangguk mengiyakan membuat ketiga sahabatnya berdecak iri.
"Beruntung banget lo Nar. Kita yang udah godain tapi dia tolak. Lah, lo? Langsung di buntingin" ujar Hani dengan gamblangnya yang langsung mendapat jitakan manis dari Sandra.
"Bahasa lo!"
Hani mengusap keningnya dengan bibir mengerucut "Kenapa, gue salah lagi ya?"
"Hamil? Siapa yang hamil?"
Suara itu mengalihkan perhatian mereka. Nara menanggapinya dengan memutar bola matanya malas sedangkan ketiga sahabatnya menundukkan kepala pura-pura sibuk dengan urusan masing-masing.
"Aduh Nar, gue balik dulu deh. Nyokap gue tiba-tiba nelpon" ujar Sandra terlebih dahulu sambil berdiri. Disusul Viona yang menaikkan kedua alisnya, memberi kode pada Hani untuk mengikuti mereka.
Tapi dasarnya Hani yang kadang-kadang lemot, wanita itu malah bertanya kenapa, membuat Viona geram dan menariknya dengan paksa.
"Kita pamit pulang tante" pamit Sandra mewakili kedua sahabatnya. Widya mengangguk singkat dan menatap Nara setelah pintu tertutup.
Kesehatan Widya memang sudah membaik dan kembali dari rumah sakit sekitar dua minggu yang lalu. Sebenarnya tiga hari sebelum itu, dokter sudah memperbolehkannya untuk pulang. Tapi tidak karena Widya menunggu setidaknya salah satu putrinya untuk menjemputnya. Namun tak ada satupun yang datang. Bahkan saat baru sadar pasca operasi, tak ada satupun dari mereka yang menunggunya.
Widya juga sudah berualang kali menghubungi Yana lewat telepon rumah sakit, namun hanya suara operator yang terdengar. Membuat Widya di liputi rasa kecemasan. Apalagi saat dokter Ryan mengatakan bahwa Yana terakhir kali datang kerumah sakit itu saat pembayaran lunas biaya operasinya juga rawat inapnya.
Berbagai pikiran negatif memenuhi kepalanya. Pasalnya biaya yang harus dibayarnya itu tidaklah sedikit. Sedangkan gaji dari pekerjaan Yana selama ini hanya cukup untuk biaya sehari-hari mereka. Belum lagi Nara yang hampir setiap hari meminta uang padanya. Dan dokter Ryan mengatakan bahwa Yana sudah membayar lunas semuanya.
Dari mana Yana mendapat uang sebanyak itu? Pertanyaan itu berulang kali melintas dikepalanya. Bahkan Widya berencana akan menanyakan itu terlebih dahulu setelah bertemu Yana nanti.
Tapi lagi-lagi Yana tidak berada di rumah saat dia kembali. Hanya ada Nara yang bahkan tidak menjawab pertanyaannya saat dia menanyakan tentang Yana.
"Jawab pertanyaan ibu, Nara. Siapa yang hamil?" kata Widya kembali mengulang pertanyaannya.
"Ibu bawel deh, Nara yang hamil!" ujar Nara dengan santai seolah apa yang diucapkanya tidak berarti apa-apa.
"Jangan bicara sembarangan. Kamu pikir hamil itu hanyalah sebuah lelucon?" Widya mengeraskan suaranya.
"Siapa yang bicara sembarangan. Emang kenyataannya Nara kok yang hamil" pernyataan Nara membuat Widya memegang dadanya yang terasa sakit namun berusaha ditahannya.
"Ngga tau! Lagian ini ngga ada urusannya sama ibu" ketus Nara.
"Kamu anak ibu. Jadi tentu saja ini adalah urusan ibu juga. Dan apa maksud kamu ngga tau? Pergaulan kamu sudah benar-benar di luar batas, Nara"
"Anak ibu? Bukannya anak ibu hanya Yana, ya? Oh iya, aku lupa. Ibu kan ngga tau Yaa dimana. Mungkin saja dia pergi menjual tubuhnya untuk biaya Rumah Sakit ibu" ujar Nara dengan santai dan mencomot sisa keripik yang tadi di beli Viona.
"Jaga omongan kamu, Nara!" Widya kembali mengeraskan suaranya dengan mata yang berkaca-kaca.
Entah apa yang sudah dilakukannya hingga Nara begitu membencinya juga Yana. Widya tidak pernah merasa melakukan hal yang salah dalam mendidik kedua putrinya. Dia bahkan tidak pernah membedakan keduanya. Air matanya mengalir mengingat kebahagiaan mereka sebelum suaminya meninggal. Sebelum itu Nara masihlah putrinya yang baik dan selalu berkata lembut padanya.
Hingga suara ketukan mengalihkan perhatian mereka. Widya mengusap air matanya lalu menatap Nara sekilas yang terlihat tidak peduli dengan sekitarnya. Putrinya benar-benar telah banyak berubah. Dia menghela nafasnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu.
***
"Ma, apa ini ngga terlalu cepat? Maksudku mengapa tidak besok saja?"
"Kalau begitu mama tanya, apa kamu menghamili si Nara itu ngga terlalu cepat? Mengapa tidak setelah menikah saja?" Danu berdecak mendengar sindiran Azura.
"Sebenarnya siapa wanita yang kamu hamili ini? Apa dia salah satu wanita satu malammu?" lanjut Azura.
"No! Dia wanita yang baik, sangat manis, dan tentu saja sangat cantik. Bahkan saat pertama kali melihatnya, aku merasa ingin sekali memilikinya" Danu tersenyum disamping kemudi membayangkan Nara ketika tertawa bersama ketiga sahabatnya.
Azura berdecak melihat ekapresi putranya. "Ada apa dengan wajah itu? Apa kamu mencintainya Danu?"
"Cinta? Mama bercanda? Aku hanya...hanya... ingin memilikinya, itu saja" jawaban Danu membuat Azura mendengus.
"Ya, kamu mencintainya! Hanya saja kamu belum menyadarinya. Huh, kamu sama saja dengan Niel. Di embat lelaki lain baru tau rasa kamu"
"Tidak akan! Mama lupa, dia sedang mengandung anakku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya dariku"
Bayangan Nara yang pergi bersama lelaki lain waktu itu membuat Danu tiba-tiba merasa sangat kesal. Nara tidak meminta pertanggung jawabannya. Apakah artinya Nara mencintai lelaki yang pergi bersamanya kala itu? Dan lelaki itu juga mencintainya dan mau menerima keadaan Nara sekarang ini
"Sial! Aku tidak akan membiarkannya!" pemikirannya itu tanpa sadar membuat Danu berteriak membuat pasutri yang duduk di belakang tersentak kaget. Begitu juga sang supir yang tengah menyetir.
"Danu, kamu kenapa?! Kamu baik-baik sajakan?" tanya Azura khawatir.
Seakan tersadar akan apa yang sudah di perbuatnya, Danu menghela nafasnya sejenak. Dia berbalik dan menampilkan senyum paksanya pada kedua orang tuanya.
"Tidak apa-apa, Mama. Hanya sesuatu yang tidak penting"
"Lalu kenapa kamu berteriak seperti itu? Kamu sehatkan?"
"Apa sebaiknya kita besok saja perginya?" timpal Bram.
"Tidak perlu pa, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan" ujar Danu lalu menyenderkan kepalanya.
Dia memijit pangkal hidungnya dengan pelan. Pemikirannya itu sungguh tidak masuk akal. Bukankah setiap malam selama hampir sebulan ini dia menjadi penguntit dadakan. Dan tak sekalipun dilihatnya seorang lelaki datang kerumah Nara. Hanya ketiga sahabatnya.
Mungkin saja yang dilihatnya kala itu hanya teman lelakinya. Pergaulan di zaman sekarang sudah sangat melampaui batas. Jadi bisa saja pelukan seperti itu hanya formalitas saja. Lagi pula dia adalah lelaki pertama yang menyentuh Nara. Dia dapat merasakanya. Nara tidak tau saja kalau pada saat itu Danu tidak dalam pengaruh alkohol.
Dia sengaja mengatakan pada Nara bahwa dia juga tidak mengingat apapun. Itu agar Nara tidak mengamuk dan melampiaskan seluruh kesalahan itu padanya. Dia terlalu pengecut untuk mengakui semua itu. Tapi dia akan menjelaskan semuanya secara perlahan setelah menikah nanti, janjinya dalam hati.
"Danu, kamu belum menjelaskan bagaimana kamu menghamili wanita itu" ujar Azura setelah beberapa menit hening.
"Namanya Nara ma. Dan apakah aku harus menjelaskan prosesnya secara rinci? Mama tidak harusnya menanyakan tentang itu karena mama sudah tau jawabannya. Sama halnya jika aku bertanya bagaimana cara Mama dan papa membuat aku dan Niel" ucap Danu menatap Bram dengan menyeringai.
Sebenarnya dia tau bukan itu maksud dari perkataan Azura. Tapi entah kenapa saat ini dia merasa sedang membutuhkan pengalihan dari rasa gugup yang tiba-tiba melandanya kala rumah Nara sudah dekat.
"Danu!" tegur Bram lalu menatap Azura "pertanyaan kamu juga salah sayang"
Azura mendengus dan menatap tajam suaminya membuat Bram ciut seketika. Sedangkan Danu malah tertawa didepan.
"Kasihan! Sepertinya papa harus puasa tiga hari lagi" ujarnya disela tawanya.