
Setelah beberapa menit kepergian Azura, Niel dengan cepat berlari menyusulnya. Sial saja karena dia baru menyadari satu hal. Azura tidak akan tinggal diam akan apa yang sudah diperbuatnya. Saat sampai di lobi, Niel mencak-mencak karena tidak menemukan Azura dimanapun.
Dengan langkah lebarnya Niel berjalan kearah lexus-nya. Dia langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh tanpa terlebih dahulu memakai sabuk pengaman. Klakson dibunyikannya berkali-kali kala ada mobil didepannya. Dia bahkan mengabaikan protesan dari pengendara lain yang disambungnya begitu saja.
Saat sampai di tempat tujuan, Niel lagi-lagi di buat tercengang melihat para Bodyguard-nya yang sudah dalam keadaan babak belur. Dia melebarkan matanya kala mengingat wanita yang di tinggalkannya begitu saja dalam kamarnya.
"Kayana!" panggilnya keras saat melewati pintu. Dia dengan cepat berjalan kearah kamarnya yang sudah terbuka. Dia mengumpat beberapa kali ketika tidak juga menemukan wanita itu diatas ranjangnya. Niel mencarinya hampir diseluruh ruangan namun tidak juga menemukan wanita itu.
"Yana! Jangan main-main denganku!" teriaknya untuk kesekian kalinya. Niel keluar apartement menghampiri salah satu Bodyguardnya.
"Dimana Yana?!" tanyanya dengan menggeram.
"Maaf Sir, nyonya Azura datang bersama beberapa pengawal dan membawa nona pergi"
"Dasar tidak becus! Sudah kukatakan untuk tidak membiarkan siapapun masuk, sialan!"
"Maaf Sir, tapi kami kalah jumlah oleh pengawal nyonya Azura" ujar salah satu pengawal yang ada dibelakang Niel.
"Brengsek! Kalian semua pergi dari sini dan jangan kembali lagi! Kalian saya pecat!"
"Maafkan kami Sir"
Nathaniel berlalu tidak mengindahkan mereka. Dia kembali ke Basement lalu memasuki mobilnya. Di pukulnya stir mobilnya berkali-kali untuk menyalurkan emosinya yang memuncak.
Niel tidak pernah merasa sekacau ini, apalagi hanya karena seorang wanita. Tapi sejak bertemu Yana, dia seolah tidak menjadi dirinya sendiri. Banyak hal yang di lakukannya yang sebelumnya bahkan tidak pernah di lakukannya.
Nathaniel berulang kali mengingatkan dirinya, bahwa Yana hanya sekedar pemuas nafsunya belaka. Wanita itu tidak memiliki arti apa-apa dalam hidupnya. Jadi saat ini seharusnya dia merasa baik-baik saja. Tapi entah mengapa di sudut hatinya yang paling dalam dia seolah merasa kehilangan. Dia seolah tidak rela Yana pergi begitu saja.
Kontrak!
Ya, Niel meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia melakukan semua ini hanya karena kontrak itu. Mereka telah menandatanganinya jadi Yana tidak seharusnya pergi begitu saja tanpa ada pemutusan kontrak terlebih dahulu. Karena itu sama saja dengan wanita itu membawa kabur uangnya.
Tapi Yana tidak kabur, Azura yang membawanya. Sial! Dia tidak akan bisa menemukan Yana jika yang dihadapinya adalah mamanya sendiri. Karena seberkuasa apapun Niel, Azura lebih darinya.
Nathaniel menghubungi ponsel Azura untuk kesekian kalinya, namun tetap saja hanya suara operator yang terdengar. Dia baru saja dari mansion beberapa menit yang lalu. Tapi Azura tidak ada disana. Itu artinya Azura pergi ketempat dia menyembunyikan Yana saat selesai menemuinya.
Dipijitnya pangkal hidung mancungnya. Entah mengapa saat ini Niel merasa sangat lelah. Bayangan bagaimana dia memperlakukan Yana berputar dikepalanya bagai sebuah film. Dia tidak bermaksud meninggalkan Yana begitu saja setelah apa yang dilakukannya.
Nathaniel hanya merasa... Shit! Apa yang kupikirkan. Yana pantas mendapatkan itu. Batinnya menyeringai. Tapi itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakannya.
Nathaniel kembali mendongakkan kepalanya kala mengingat sesuatu. Tidak ada yang tau apa yang di lakukannya dengan Yana. Kecuali sahabat sekaligus orang yang menjabat sebagai asistennya.
"Brengsek! Pasti Radi yang bodoh itu yang sudah mengatakan semuanya pada mama. Jadi besar kemungkinan dia juga tau dimana Yana. Sial! Mengapa aku baru mengingat itu sekarang!" Geramnya. Meraih ponsel yang tadi di lemparnya di kursi samping kemudi. Jari-jarinya menari dengan cepat diatas layar ponselnya.
Helaan nafas leganya terdengar begitu panggilannya dijawab "Lo lagi sama mama kan?"
"Apaan sih! Gue lagi sama Sony, orang yang lo tonjok beberapa jam lalu. Gila lo, sahabat sendiri lo bonyokin!"
"Jangan sebut nama bajingan itu saat lo bicara sama gue. Dan gue ngga peduli siapa dia. Dia udah berani menyentuh Yana gue!"
"Lo beneran ngga ingat sama Sony? Wah parah lo!"
"Jadi lo ngga lagi sama mama?" tanya Niel balik, tidak mengindahkan orang yang bernama Sony itu. Dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan siapa Sony. Lagi pula tidak ada yang lebih penting saat ini dari pada Yana, benarkan?
"Nggalah! Gue masih di klinik ini"
"Lo yang sudah mengatakan semuanya sama mama" pernyataan dari Niel membuat lelaki di seberang telepon terdiam sejenak.
"Gue ngga sengaja. Mama... Maksud gue tante Azura tadi tiba-tiba nelpon dan yah... Lo tau gue kan. Gue ngga mungkin bisa nyembunyiin apapun dari mama. Eh tante Azura"
"Dia mama lo juga Rad" sahut Niel dengan spontan. Dia sebenarnya sudah lama ingin mengatakan itu pada Radi, tapi lagi-lagi egonya menghalangi.
Untuk sesaat Niel terdiam. Dia tau itu. Radi adalah anak yatim piatu dan diasuh oleh mamanya sejak kecil. Azura bahkan kerap kali meminta Radi untuk memanggilnya mama sama seperti dirinya juga Danu. Tapi Niel terlalu egois, dia tidak ingin berbagi ibu selain dengan Danu. Yah, walaupun itu terpaksa. Karena biar bagaimanapun Danu adalah saudara kandungnya.
Tapi Radi menanggapi semua itu dengan bersikap dewasa. Azura menyayanginya sama seperti putranya sendiri. Begitupun sebaliknya, Radi juga sangat menyayangi Azura. Karena baginya Azura adalah segala-galanya. Wanita itu yang memberinya pelukan hangat saat kedua orang tuanya meninggalkannya untuk selamanya.
"Gue harap yang lo katakan barusan itu benar. Karena kalau sampai gue tau lo ikut andil sama apa yang mama lakukan. Habis lo sama gue!" lanjutnya penuh penekanan membuat Radi di seberang telepon menelan salivahnya susah payah. Namun rasa takut itu di barengi rasa bahagia saat mendengar kalimat Niel sebelumnya.
Apa yang di katakan Niel bukanlah ancaman semata. Dimata publik Niel memang terkenal dengan sifat baik juga ramahnya selain karena dia playboy. Tapi sifatnya yang satu itu seolah tidak mempengaruhi apapun. Niel memang sangat pandai menyembunyikan watak aslinya. Tapi tidak bagi orang-orang terdekatnya.
"Gue udah tau apa yang udah lo lakuin ke Yana" Radi menghela nafas sejenak. "Niel, apa ngga ada rasa penyesalan sedikit saja di hati lo, karena perbuatan lo ke Yana?" lanjutnya dengan suara yang terdengar hati-hati.
Nathaniel terdiam, tidak menanggapi. Menyesal? Niel menggelengkan kepalanya lalu tertawa garing. Tidak! Dia menekankan kata itu berkali-kali pada dirinya sendiri. Dia hanya tidak suka dengan apa yang di lakukan Azura. Kontrak mereka belum selesai. Dan Niel masih belum puas dengan tubuh Yana.
"Kalau lo memang ngga merasa menyesal, lo harusnya baik-baik saja. Jadi lo ngga perlu mencari Yana, iyakan? Dan untuk kontrak, lo tenang aja karena gue ngga mengatakan itu sama mama Azura. Kalau memang ada konpensasi yang harus Yana bayar, nanti biar gue yang urus semuanya" lanjut Radi setelah beberapa menit hening.
"Lo terdengar peduli banget sama Yana" tukas Niel penuh sindiran.
"Itu karena gue udah anggap Yana sama kayak adek gue sendiri"
Nathaniel berdecih mendengarnya "Jadi lo pasti tau dong dimana adek lo berada" pancingnya.
"Kalau itu gue juga ngga tau. Mama ngga mengatakan apapun tentang keberadaan Yana"
"Pembohong!" geram Niel lalu menutup teleponnya.
Tidak masalah kalau Radi tidak ingin mengatakannya. Dia bisa mencari tahunya sendiri. Meakipun dia tidak yakin dengan hasilnya nanti. Apalagi yang dihadapinya adalah mamanya sendiri. Belum lagi kalau Bram, papanya ikut membantu Azura.
Sial! Dia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya. Bram tidak akan mengampuninya jika tau apa yang sudah diperbuatnya. Niel hanya berharap agar mamanya tidak atau mungkin belum mengatakan apapun pada Bram. Beruntung karena saat ini papanya sedang dalam perjalanan bisnis. Tapi tidak menutup kemungkinan dia akan pulang tanpa menyelesaikan urusannya jika tau apa yang sudah Niel lakukan.
***
"Siapa yang menghubungimu, apa itu Niel?"
"Ya, dia menanyakan tentang Yana. Tapi mama tenang saja karena aku tidak mengatakan apapun" Azura mengangguk.
Saat ini mereka dalam perjalanan menuju Bandung. Azura memilih membawa Yana ke Bandung karena tidak ingin Niel menemuinya dan malah memperburuk keadannya. Azura sudah mengurus semuanya dengan sangat baik. Ketidakhadiran suaminya membuat semuanya jadi lebih mudah.
Azura juga tidak berniat untuk mengatakan apapun pada Bram. Bagaimanapun juga Niel adalah putranya. Dia masih memiliki hati untuk tidak membuatnya berurusan dengan Bram. Suaminya memang sangat menyayangi para putranya. Tapi dia juga akan bersikap tegas jika putranya berbuat salah.
Azura mengusap rambut Yana yang tengah bersandar di pundaknya dengan kedua mata terpejam. Dia sebenarnya tidak berniat untuk membawa Yana pergi. Azura hanya ingin Niel menyadari perasaannya jika memang putranya itu memiliki rasa untuk Yana dan bukannya nafsu semata. Dia juga ingin membuat putranya menyesali apa yang sudah di lakukannya.
Sengaja dia mematikan ponsel yang sering Niel hubungi dan mengaktifkan ponsel lain yang khusus untuk menghubungi Bram. Azura tidak ingin jika sampai suaminya khawatir tentangnya dan malah tidak fokus dengan pekerjaannya. Biar bagaimanapun Azura adalah seorang wanita sekaligus istri yang tidak bisa jika harus jauh dari suaminya dalam waktu lama.