
"Bersulang, ting"
"Gluk gluk gluk"
"Malam ini aku hanya akan minim satu gelas saja. Tidak boleh mabuk, karena aku harus bangun pagi dan bekerja keras"
"Baiklah. Memang kau harus bekerja keras untukku."
Setelah meneguk bir itu, Johan langsung memotong steak yang ada di depannya itu. Awalnya, Johan ingin sekali menikmati steak buatan Wendy. Tapi, ia tak bisa menikmati steak itu karena bagi Johan tidak ada yang spesial dari steak yang ia makan sekarang.
Sembari makan, Wendy mengajak Johan berbincang-bincang seperti biasanya.
"Sayang, kamu tahu nggak kenapa aku mengajak kamu makan malam?" Tanya Wendy dengan penuh keceriaan
"Emm... Karena ini pertama Kalinya kamu masak"
"Salah. Ini semua hadiah untuk kamu. Kamu kan sudah memberiku hadiah"
Johan nampak kebingungan mendengar ucapan itu. Hadiah? Apa yang di maksud dengan Wendy?
"Hadiah?"
"Iya. Kamu kan akan jadiin aku Model Brand ambassador kali ini kan? Aku dengar dari karyawanmu katanya kekurangan model?" Jelas Wendy
Benar, tadi siang setelah meeting selesai Wendy sempat ke perusahaan untuk menemui Johan. Tetapi saat dirinya hendak berjalan ke ruangan Johan, ia mendengar para karyawan Sangat penasaran siapa yang akan di jadikan model brand ambassador kali ini?
Mendengar hal itu Wendy bertanya langsung kepada salah satu karyawan. Dan salah satu karyawan itu memberitahu Wendy bahwa sepertinya akan ada model baru di perusahaan ini. Dan mereka penasaran.
Wendy pun tersenyum, ia berfikir bahwa dirinya lah kali ini yang akan di jadikan model. Sebab dulu ia pernah meminta Johan untuk menjadikannya seorang model di perusahaannya, model apapun itu. Namun, saat itu Johan belum membutuhkan model. dan semuanya berjalan dengan lancar.
Dan mungkin kali ini Wendy adalah model selanjutnya unik peluncuran produk baru.
"Astaga, ternyata karena itu dia mengajakku makan malam? Sepertinya Wendy benar-benar berharap kalau dirinya akan menjadi model di perusahaan ku" batin Johan
"Gimana sayang?" Tanya Wendy sekali lagi? Ia bingung mengapa Johan tak menjawabnya
"Em... Aku belum memutuskannya. Dan semua orang juga sedang menunggu keputusan ku sekarang. Jadi, kau juga tidak boleh tahu. Ini rahasia." Balas Johan ia sendiri bahkan belum memutuskannya.
Ini benar-benar perlu di pikir dua kali.
"Hhaha baiklah. Kamu kenapa jadi menggemaskan seperti ini? Sejak kapan kamu menutupi rahasia ini" seru Wendy berpura-pura tenang di depan Johan. Padahal sebenernya dirinya geram karena Johan tak memberitahunya.
"Kurang ajar! Kenapa pakai rahasia-rahasia segalah sih!" Batin Wendy
Sedangkan Johan, ia baru ngeh bahwa sejak kapan dirinya mempunyai rahasia kepada Wendy. Mulai hari ini.
Ya, mulai hari ini Johan mempunyai rahasia kepada Wendy. Dari dulu, Johan tak pernah melewatkan satu informasi kepada Wendy. Apapun yang Johan alami setiap hatinya, Johan selalu bercerita kepada Wendy. Karena Johan menganggap Wendy adalah satu satunya teman hidupnya sekarang.
Tetapi siapa yang sangka bahwa Wendy hanya memanfaatkannya. Wendy tidak benar-benar mencintainya. Dan yang lebih menyedihkannya lagi Johan baru sadar.
Ia terhipnotis dengan rasa cintanya yang besar terhadap Wendy. Dan juga terhipnotis dengan kebaikan Wendy.
Tak lama dari itu, Johan telah menghabiskan steak tersebut. Johan pun tersenyum pada Wendy.
"Terima kasih atas niat baikmu. Aku sangat suka dengan steaknya"
"Syukurlah kalau kamu suka. Itu steaknya aku yang buat sendiri loh. Dan kamu orang pertama yang mencoba masakan buatanku" balas Wendy
Perkataan itu membuat jantung Johan berdegup habat. Bukan karena senang, namun sedih. Kenapa Wendy harus berbohong? Padahal Sudah jelas Bahwa tadi Wendy membeli dua steak itu.
Tetapi Johan tak boleh terlihat sedih. Ia harus terlihat baik baik saja. Ia tak mau Wendy curiga dengan sikapnya yang malam ini tampak berbeda.
Wendy termasuk wanita yang tak kalah pandai. Jadi ia harus berhati-hati, agar misinya yang lagi Mencari tahu satu persatu kebusukan Wendy itu tidak di ketahui oleh Wendy.
Johan sudah tak tahan di rumah Wendy. Ia ingin segera pulang ke rumah. Ia pun melihat jam tangan di tangannya untuk alasan dia hari ini.
Wendy pun sedikit curiga dengan Johan. Tak seperti biasanya Johan yang selalu ingin berlama-lama dengannya. Tetapi kali ini Johan terlihat buru-buru.
Padahal ia pikir Ia akan bermalaman dengan Johan. Bahkan ia menyedihkan bir yang banyak. Tapi Johan malah terburu buru pulang.
Ya sudahlah. Tak masalah juga bagi Wendy. Karena dirinya juga tidak terlalu menginginkan Johan. Yang ia inginkan adalah Agra.
"Oh, baiklah. Sepertinya kamu benar-benar sibuk ya. Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku ya." Seru Wendy
"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih atas makan malam ini" Johan pun langsung berdiri dan memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari rumah Wendy.
Wendy pun mengantarkan Johan sampai di depan rumah. Lalu setelah mobil Johan pergi, ia kembali masuk ke rumah.
Sedangkan Johan, ia memukul-mukul stirnya berkali-kali. Melampiaskan kemarahannya yang sejak sedari tadi ia tahan di rumah Wendy.
Sakit, Sangat sakit dan menyedihkan. Di bohongi oleh seseorang adalah hal yang paling ia benci. Selama ini ia sangat percaya kepada Wendy. Ia ingin membangun hubungan yang tenang dengan Wendy. Tapi Wendy malah membohonginya.
Memikirkan hal itu tiba-tiba dirinya teringat kata kata Agra saat minum bersamanya. Mungkin Agra tahu Lebih banyak tentang Wendy.
Johan pun akhirnya menghubungi Agra mengajak Agra untuk bertemu.
***
Disaat yang bersamaan
Kini Agra tengah menemani Alice yang lagi sakit. Ia membalia rambut Alice yang tengah tertidur di pahanya itu.
Namun, Tiba tiba ponselnya berbunyi membuat tangan Agra berhenti membalas rambut Alice. Berganti dengan memegang ponselnya.
Setelah membaca pesan itu, ia meminta izin kepada Alice untuk pergi keluar.
"Alice... Aku akan bertemu dengan temanku sekarang"
"Sekarang?" Alice bangun dari tidurnya.
"Iya, aku akan meminta Adam untuk menjagamu. Kau tidurlah sekarang. Kau harus istirahat yang cukup."
"Em baiklah. Hati-hati"
Agra tersenyum lalu keluar dari kamar Alice.
***
Sesampainya di Cafe Ramyeon. Agra langsung masuk ke cafe itu dan mencari Johan. Johan yang mengetahui kedatangan Agra pun melambaikan tangannya.
Lalu Agra pun berjalan mendekati Johan dan duduk satu meja dengan Johan.
"Kau sudah gila ya. Jam berapa ini kau mengajakku bertemu?"
Johan tersenyum. "Kenapa? Kau sedang berduaan dengan istrimu?"
"Tentu saja!"
"Waawww irinya aku"
...Terima kasih sudah membaca teman teman...
...Maaf kalau banyak kekurangan...
...Jangan lupa Like, Vote, komen, dan Favorit nya...
...Terima kasih...