You Are My Best Husband

You Are My Best Husband
38. meskipun belum bisa move on



Disaat yang bersamaan


Kini Agra baru saja sampai di rumah. Ia tengah menyalin bungkusan bubur itu ke mangkuk. Ia membeli bubur sebelum pulang untuk istirahat yang tengah sakit sekarang.


Lalu setelah itu, ia langsung beranjak ke kamar Alice. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Agra langsung masuk saja.


Saat dirinya masuk ke kamar Alice, ia melihat Alice yang tengah berbaring di kasurnya. Agra pun langsung mendekati Alice dan menaruh bubur itu di meja. Lalu kemudian ia berjongkok di depan Alice.


"Alice... Ayo bangun. Kau harus makan"


Suara itu terdengar di telinga Alice, Meskipun kini dirinya tengah tertidur. Alice pun perlahan-lahan membuka matanya. Lalu ia melirik ke kanan dan melihat ada Suaminya.


"Pak Agra" serunya langsung bangkit dan bersandar di headboard kasurnya itu. Agra pun membantu Alice untuk duduk di atas kasur dan bersandar di sandaran punggung kasur tersebut.


Lalu kemudian, Agra juga duduk disamping Alice. Lalu ia mengambil mangkuk yang berisi bunu hangat, dan menyuapkan bubur itu ke Alice..


"Aaa, kau harus makan" seru Agra menyuruh Alice untuk membuka mulut. Tetapi Alice malah diam saja dan menatap sendok dan wajah suaminya secara bergantian.


"Kenapa? Kau tidak suka buburnya?"


Alice menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak napsu makan. Aku tidak mau makan."


Meskipun Alice tidak mau makan, tetapi Agra terus memaksa Alice Untuk makan. Tetapi juga tak ada perubahan apapun. Alice tetap tidak mau makan.


Agra pun menyetujui permintaan Alice yang tidak mau makan. Ia pun menaruh kembali bubur tersebut ke meja.


"Bisa geser sedikit?" Perintah Agra, ia ingin duduk bersandar di kasur seperti Alice.


"Pak Agra mau apa?"


Tak mau banyak memberi Alasan Agra memaksa Alice untuk bergeser. "Bergeserlah"


Tanpa sepatah kata pun Alice langsung bergeser. Lalu kemudian Agra duduk di samping Alice dan meluruskan kakinya.


"Kesini. Tidurlah di pangkuan ku" perintah Agra menyuruh Alice untuk tidur di pangkuannya dengan menepuk pahanya itu.


"Em, ke kenapa?" Tanya Alice, ia bingung mengapa harus tidur di pangkuan suaminya?


Tanpa menjawab pertanyaan Alice, Agra memegang pundak Alice lalu merebahkannya ke pangkuannya.


"Berbaringlah yang nyaman"


Lalu kemudian, Agra mengelus rambut Alice dengan sangat lembut. Sentuhan itu mampu membuat jantung Alice berdetak. Ia sangat nyaman dengan sentuhan ini. Hatinya yang semula membeku karena ngambek, kini ia luluh dengan sentuhan tersebut.


"Kau tahu Alice, bagaimana sulitnya mencinta dan move on?" Pertanyaan itu terdengar menarik di telinga Alice. Ia jadi penasaran dengan apa yang akan di bahas oleh suaminya kali ini.


"Bagiamana?" Sahut Alice dengan sangat lembut.


"Move on memang tak segampang itu bagi orang yang masih mencintai. Tetapi move on mudah bagi orang yang sudah bosan. Dan mencintai Sangat Sulit bagi seseorang yang belum bisa move on. Tetapi ada proses Seseorang yang bisa membuatnya move on dan mencintai orang baru"


"Mungkin aku bisa move on sepenuhnya. Tetapi kau, mampu membuatku move on dengan masa lalu, bahkan tidak trauma lagi untuk jatuh cinta. Dan kau mampu membuat ku menyukaimu, memberiku keluarga. Saat pertama kali aku melihat mu aku tidak menyukaimu karena kau orang asing bagiku. Tetapi sekarang, aku bisa mengenalmu."


"Aku sangat menghargai mu. Daripada memikirkan masa lalu. Lebih baik memikirkan masa depan. Ayo membangun keluarga yang benat bersama Ku. Anak kita sudah hampir lahir. Mari kita membangun rumah tangga yang benar. Kau mau?"


Mendengar ucapan itu, Alice jadi terharu dan sadar atas kemarahannya dengan suaminya. Ia sadar bahwa dirinya sangat egois, ia menjadi seolah korban, namun pada akhirnya pak Agra lah yang akan lebih sakit hati jika mengetahui semua kebenarannya nanti di bandingkan dengan dirinya.


"Ayolah sadarlah Alice?" Bantin Alice Seraya menatap lekat wajah Agra.


"Aku tidak boleh egois. Ini adalah kesepakatan ku"


Alice pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu Agra pun ikut tersenyum Melihat wajah manis Alice yang tersenyum. Lalu kemudian, Agra meraih tangan Alice dan mengecupnya.


Cup.


Alice pun bahagia mendapatkan perlakuan romantis dan lembut itu.


"Sekarang, ayo makanlah meskipun cuma 3 sendok. Kita harus punya bayi yang sehat bukan?"


"Hm" Alice mengangguk. Lalu ia Bangun dari pangkuan Agra dan kembali bersandar di sandaran punggung itu.


Lalu kemudian Agra kembali mengambil mangkuk itu dan menyuapi Alice makan.


Disaat yang bersamaan


Johan benar-benar gelisah sekarang. Ia tak bisa menunjukkan ekspresi kebahagiaan malam ini. Malam ini adalah malam yang paling hancur baginya.


Saat dirinya sudah hampir sampai di rumah Wendy. Ia Melihat Wendy tengah membuang sampah dari jarak kejauhan. bahkan tempat sampah itu sangat jauh dari rumah Wendy.


Johan pun curiga. Mengapa Wendy membuang sampah sejauh itu? Padahal di depan rumahnya ada tong sampah yang besar. Memangnya apa yang ia buang?


Karena penasaran, Johan pun mencoba melihat apa yang di buang oleh Wendy. Setelah Wendy pergi jauh, Johan langsung mendekati tong sampah itu dan mengorek sampah itu.


Dan ternyata adalah sampah bekas Makanan yang tertulis nama Wendy, daging steak. Melihat hal itu, Johan jadi kecewa. Padahal Wendy berkata bahwa ia akan memasakkannya. Tetapi apa yang terjadi, Wendy malah membeli makanannya dari Restoran.


Di situ terlihat sekali kebohongan Wendy dengan Johan. Tetapi pada akhirnya Johan tetap datang ke rumah Wendy untuk menghargai usaha Wendy untuk Dinner bersamanya.


Dan, saat tiba di rumah Wendy. Ia tak bisa mengekspresikan kebahagiaan dari dalam dirinya itu. Ia terus gelisah dan Sangat sedih.


Sedangkan Wendy, ia merasa aneh dengan sikap pacarnya sekarang. Tak seperti biasanya Johan yang selalu bahagia saat bersama Wendy. tetapi kini Johan hanya diam dan berekspresi sedih.


"Sayang, kenapa? Kamu nggak suka ya?" Tanya Wendy


"Ah, tidak kok. Aku sangat suka. Lihatlah dagingnya menggoda sekali. Aku hanya terkejut malam ini kau sangat cantik. Dan kau sangat niat untuk membuat dinner bersama ku"


Senyuman palsu itu terukir di bibir Johan. Meskipun saat ini ia sedih, lebih baik ia tersenyum saat bersama Wendy. Supaya makan malam ini berjalan dengan lancar.


Lalu kemudian, Wendy membuka kaleng bir itu dan menuangkannya ke gelas Johan dan gelasnya sendiri.


"Bersulang, ting"


"Gluk gluk gluk"


"Malam ini aku hanya akan minim satu gelas saja. Tidak boleh mabuk, karena aku harus bangun pagi dan bekerja keras"


"Baiklah. Memang kau harus bekerja keras untukku."


...Terima kasih sudah membaca teman teman...


...Maaf kalau banyak kekurangan...


...Jangan lupa Like, Vote, komen, dan Favorit nya...


...Terima kasih...