
Sedangkan Agra, kini ia sibuk mengelap keringat Alice dengan sangat pelan.
Saat Agra mengelap keringat Alice, ia mendengar suara napas Alice yang sedikit ngos ngosan. Tak hanya itu, Agra juga Melihat Ekspresi Alice yang benar-benar sangat lelah.
"Hmmm kasihan sekali dia,,, pasti karena usia kandungannya yang sudah membesar"
"Tapi,,,, saat ini Alice sedang hamil, jadi ia harus makan teratur, meskipun saat ini dirinya lelah dan ingin tidur"
"Sepertinya aku harus merawat Alice lebih serius lagi"
Agra berbicara di dalam hatinya. Melihat Alice yang seperti itu Agra kehilangan gengsinya untuk memperlakukan baik Alice.
Agra selalu menyangkal dirinya sendiri, selalu menahan, menolak, untuk mencintai Alice.
Tetapi entah mengapa ketika Sekarang melihat wajah Alice, ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ia selalu ingin tersenyum, dan membiarkan dirinya tergoda dengan Alice.
Sedangkan Alice, kini ia hanya diam dan menatap lekat suaminya. Ia masih tak mengerti apa yang sebenarnya Agra lakukan. Ia juga tak tau kapan Agra Bersikap sangat lembut padanya. Yang jelas, sebelumnya ia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari suaminya.
Pikirannya tak bisa berfikir dengan jernih, karena efek rasa lelah dan kantuknya.
"Aku sangat mengantuk, ku juga sangat lelah"
"Tetapi,,, aku sangat merasa nyaman karena sentuhan pak Agra"
"Apakah aku sudah mulai menyukai pak Agra? Apakah baku boleh menyukainya?"
Tak lama dari itu, Agra menarik tangan Alice, menyuruh Alice untuk duduk di sampingnya.
"Duduklah Alice"
Alice diam dan menurut. Ia pun duduk disamping Agra. Lalu ia memegang sendok dan hendak menyuap makanan. Tetapi belum dirinya menyuap makanan, Agra memberikan suapan untuknya.
"Ah, pak Agra tidak apa apa saya bisa,,,,"
Belum selesai Alice berbicara, Agra sudah memotong pembicaraannya.
"Ayolah makan ini"
Entah apa yang ada di dalam pikiran pak Agra, entah itu melihatnya kasihan, atau tulus ingin menyuapinya saat makan, yang jelas Pak Agra tak pernah melakukan hal ini sebelumnya Kepada ku.
Saat Pak Agra menyuapi Alice, Jantung Alice berdebar kencang. Entah Agra merasakan atau tidak, yang jelas perlakuan Agra sekarang Membuat Alice tertawa perasaan.
Perlakuan lembut itu, Alice ingin mendapatkannya setiap hari. Alice ingin menemukan seseorang yang mencintainya, dengan begitu ia juga akan mencintai orang itu. Dan dengan begitu pula, Alice mempunyai kehidupan yang saling mencintai.
Meskipun sudah makan, Alice tak mempunyai energi lagi, ia pun akhirnya mendengkur. Ia tertidur di meja makan.
Lalu Agra yang melihat itu pun semakin sedih dan tidak tega dengan Alice.
"Dia benar-benar lelah sekali ya? Apakah aku terlalu kejam dengannya? Apakah memasak itu berat?"
"Lagi pula,,, aku juga telah menyuruhnya untuk dirumah saja kan? Tetapi mengapa ia begitu sangat lelah?"
Agra bertanya tanya kepada dirinya sendiri. Entah sejak kapan ia takut pada Alice. Takut saat Alice marah, takut saat Alice terlihat sangat lelah seperti ini.
Kini wajah Alice begitu bersinar, wajahnya tanpa make up dan rambutnya yang acak acakan Membuatnya semakin menarik Dimata Agra.
Agra pun menaruh sendoknya, lalu ia menyangga Kepalanya dan memperhatikan Alice yang Tengah Tertidur di meja makan itu.
Agra menatap wajah Alice yang polos itu.
"Hmmm Wanita ini sebenarnya bagaimana? Jial dilihat tanpa make up dia Sangat cantik, tetapi saat menggunakan make up ia terlihat imut"
"Aku menyukai wanita muda, penurut, cantik, dan bisa memberikan keturunan untuk ku, seperti dirinya saat ini"
Kini Agra benar benar membiarkan dirinya tergoda dengan Alice. Ia tak menahan atau tak menyangkalnya lagi.
Saat membelai wajah Alice, ia merasa wajah Alice Sangat lembut. Melihat hal itu, kesombongan Agra kembali memuncak.
"Hmmm ini pasti karena ku berikan uang kan? Lalu ia membeli skincare yang mahal, dan kulitnya jadi Sangat lembut seperti ini" seru Agra benar benar percaya diri bahwa Alice perawatan seratus persen menggunakan uanganya.
Padahal selama ini Alice hanya menggunakan uang dari suaminya untuk kebutuhan rumah dan baju yang mahal supaya mata Agra tak sakit ketika melihat bajunya yang biasa biasa saja itu.
Dan sekarang Alice telah kembali bekerja dan ia mempunyai penghasilan sendiri, lalu ia perawatan dengan uangnya sendiri.
Tak lama dari itu, Agra membangunkan Alice, meskipun Alice tertidur, tetapi malam ini Alice belum makan. Dan karena Alice sedang hamil, jadi Alice harus makan dengan teratur.
"Alice" panggil Agra dengan sangat lembut.
Hanya dengan satu panggilan itu, Alice mendengarnya. Lalu perlahan lahan Alice pun membuka matanya.
"Suara itu, terdengar sangat jelas dan sangat lembut di telingaku"
Meskipun rasa kantuk Alice belum hilang, tetapi ia ingin membuka matanya dan melihat siapa yang memanggilnya. Dan berharap itu adalah pak Agra.
"Deg"
Jantung Alice berdebar, ketika membuka matanya ia melihat wajah suaminya yang sangat tampan.
"Apakah pak Agra memanggil saya?" Seru Alice ingin memastikan bahwa suaminya lah yang memanggilnya dengan lembut itu.
"Hm" Agra mengangguk.
Masih tertidur di meja makan, jantung Alive semakin berdetak kencang. Perasaan Alice senang ketika suaminya memanggilnya dengan lembut.
Lalu setelah itu, Agra menyuruhnya untuk bangun, dan melanjutkan makan malamnya.
"Bangunlah Alice, kau harus makan dengan benar"
Alice pun bangun dari tidurnya, ia duduk tegap. Lalu saat Agra hendak menyuapinya lagi, Agra tersenyum Ketika melihat rambut Alive berantakan.
Lalu Agra pun merapikan rambut Alice.
"Ah, rambut saya berantakan ya pak" seru Alice segera merapikan rambutnya sendiri.
"Puk puk" seru Agra menyuruh Alice untuk bersandar di pundaknya.
"Aku tau kau lelah, maka dari itu bersandarlah di pundak ku"
Alice terdiam, apakah ia tak salah mendengar?
Karena Alice hanya diam, Agra pun meraih kepala Alice lalu menyandarkan kepalanya di pundak nya. Lalu Agra menyuapinya makan.
Saat Alice bersandar di pundaknya, jantung Agra berdetak sangat kencang, ia merasakan hal yang sangat nyaman ketika Alice bersandar di bahunya. Dan lagi lagi Agra membiarkan perasaan nyaman itu.
Begitu pun juga dengan Alice, ia merasa sangat nyaman saat dirinya bersandar di pundak suaminya, ditambah Agra yang menyuapinya makan. Alice tak ingin kehilangan perasaan ini, ia pun membiarkan perasaan senangnya itu.
Keduanya kini tengah merasakan kenyamanan bersama dan jantung mereka terus berdetak kencang karena kenyamanan itu.
"apakah aku sudah mulai menyukai Alice?"
"aku tidak tau, yang penting aku sangat senang dengan posisi saat ini"
...Terimakasih sudah membaca teman teman...
...Maaf kalau banyak kekurangan...
...Jangan lupa Like, Vote, komen, dan Favorit nya...
...Terimakasih...