
"Oke baiklah aku akan kesana"
Setelah mematikan teleponnya, Wendy membuang ponselnya ke belakang, ia kesal dengan Johan, ia bisa memberikan tubuhnya pada Johan, tetapi Johan tak bisa memberikan apa yang ia mau.
Tetapi untuk sekarang Wendy masih rela untuk bertahan dengan Johan. Meskipun masih tak mendapatkan promosi dari perusahaan Johan, tetapi lumayan hanya berpacaran dengan Johan, ia bisa membeli baju dan makan direstoran mewah dengan Gratis, dengan begitu, Wendy bisa menghemat uangnya yang semakin menipis.
"Baiklah Johan, ternyata kau tak bisa memenuhi permintaan ku"
"Haruskah aku mencari pacar lagi?" Gumamnya
Wendy pun memakai kacamata nya yang hitam dan terlihat mewah itu, lalu ia menyalakan mobilnya dan berjalan menuju ke hotel.
Tak lama dari itu, Wendy telah sampai di hotel. Wendy pun langsung memarkirkan mobilnya.
"Huh! Kenapa aku jadi kesal dan malas? Padahal seharusnya aku senang karena akan melakukan sesuatu bersama Johan, tetapi.... Kenapa aku malah seperti ini? Apa karena Agra menolakku tadi?"
"Tapi... Kalau di lihat-lihat tadi... Sudah sangat jelas bahwa Agra belum bisa move on dariku" seru Wendy mengukir senyuman di bibirnya
"Hm... Aku akan terus mengejarmu sampai mendapatkanmu, dan... Kau akan menjadi milikku lagi. Dan kita hidup bahagia berdua hahahahah memikirkan itu ternyata cukup membuat ku bahagia"
Wendy yang tadinya kesal karena malas bertemu dengan Johan, kini ia kembali tersenyum bahkan terkekeh mengingat wajah Agra yang sepertinya belum bisa move on darinya.
Tetapi tak lama dari itu senyuman Wendy jadi hilang seketika, saat melihat seseorang yang kembali menelfonnya.
"Triiinggg"
"Ahhh laki-laki sialan!" Umpatnya seraya menatap tajam ponselnya. Lalu Wendy pun langsung mengangkat telepon dari Johan.
"Halo"
"Sayang, kau belum sampai? Kenapa lama sekali? Apakah terjadi macet?"
"Hmm iya, tadi mendadak macet, tapi sekarang aku sudah sampai. Kau di lantai berapa? Akua akan segera kesana"
"Ah syukurlah kalau sudah sampai. Aku ada di lantai 5 Nomor kamarnya 350"
"Baiklah aku akan kesana" seru Wendy dengan senyuman palsu, lalu ia mematikan teleponnya.
Mendengar telepon dari Johan membuatnya tambah Semakin emosi. Tetapi karena sudah sampai, mau tak mau Wendy harus segera menemui Johan agar tak ada yang mencurigakan sedikit pun.
"Huh Dasar tak sabaran! Menyebalkan! Awas saja kalau sampai tidak satu jam hari ini, aku tak akan main lagi dengannya" keluh Wendy benar-benar kesal.
Tak lama dari itu, Wendy telah sampai di depan pintu kamar 350. Dan sejak sedari tadi Johan telah menunggunya di depan pintu, karena mendengar suara langkah Wendy, ia pun langsung membuka pintunya.
"Tadaaa silahkan masuk" seru Johan memberikan surprise untuk Wendy dengan senyuman yang tulus terukir di bibirnya.
Biasanya Wendy juga akan senang ketika dirinya memberikan surprise di hotel. Tetapi seorang, Wendy tak mengekspresikan apapaun, ekspresi nya hanya datar. Lalu Johan senyuman Johan pun perlahan-lahan hilanh melihat Wendy yang sepertinya tak bahagia.
"Wendy? Ka kau... Kenapa?" Tanya Johan merasa khawatir dengan Wendy,bia berfikir apakah kali ini Wendy tak suka dengan suprise nya?
Tanpa sepatah kata pun Wendy langsung masuk ke kamar Johan, dan duduk di atas di kasur emosi bertaburan bunga mawar merah itu.
Lalu Johan pun juga langsung duduk di samping Wendy.
"Kau kenapa?"
"Huh! Aku sangat kesal karena macet tadi, sepertinya dandananku juga berantakan ya karena ngebut saat tidak macet agar cepat sampai"
"Ah, tidak kau masih sangat cantik, kalau begitu aku mau minum yang segar segar?"
Wendy mengangguk. Lalu Agra pun memesan minuman yang dingin dan segar.
Tak lama dari itu, minuman pun telah datang, lalu juga ada pizza dan Makanan lainnya. Melihat pizza dan minuman segar membuat Wendy kembali mengukir senyumannya.
"Wahhh aku memesan makanan?"
"Hm... Sepertinya kau badmood karena laparkan"
"Sialan! Menjijikkan sekali! Norak!" Batin Wendy
Lalu kemudian, Johan menggendong Wendy dan merebahkan tubuh Wendy ke atas kasur.
"Kau sudah siap?"
Wendy mengangguk. Mereka pun melanjutkan kegiatan mereka di atas kasur itu.
***
Malam pun tiba
Kini Agra baru saja selesai bekerja, ia pun langsung mematikan komputernya dan kembali merapikan mejanya. Ia pun berjalan keluar dari ruangannya dan berjalan memasuki lift untuk tiba di lantai satu.
Senyuman terus terukir di bibir Agra, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Alice, dan makan malam bersama dengan tenang.
"Ting"
Tak lama dari itu Agra telah sampai di lantai satu. Ia pun langsung keluar dan di depan sudah ada mobilnya yang sudah di siapkan oleh Adam.
Adam pun membukakan pintu untuk Agra dan Agra langsung masuk, lalu mereka segera pergi ke kediamannya Agra untuk menjemput Alice.
"Dam, setelah ini kau pulang saja, aku mau makan malam di luar dengan Alice"
"Baik pak"
Tak lama dari itu, Agra telah sampai ke kediamannya. Agra pun langsung turun, lalu Adam pun langsung pamit dengan Agra untuk langsung pulang.
"Kalau begitu saya pamit pulang duluan pak"
Agra mengangguk. Lalu ia masuk ke dalam rumahnya. Ia mencari cari Alice, dan tak lama dari itu Alice keluar dari kamar.
"Pak Agra sudah pulang?"
Tanpa sepatah kata pun Agra menatap lekat Alice. Menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Alice terlihat sangat cantik, anggun, rapi, dan wajahnya juga tampak bersinar.
"Apakah yang ia lakukan selama ini adalah perawatan? Wajahnya begitu sangat bersinar, cantik sekali"
"Emm.. pak Agra kenapa menatap saya seperti itu? Apakah saya terlihat aneh dengan baju ini?"
Pertanyaan Alice pun mampu membuyarkan lamunan Agra yang sejak sedari tadi menatapnya. Melihat Alice yang jadi semakin cantik membuatnya iri.
"Alice terlihat sangat cantik malam ini, aku tidak boleh terlihat jelek"
"Ah, tunggu aku sebentar, cuaca hari ini sangat panas, aku ingin mandi dulu. Apa aku bisa menunggu ku?"
"Ah, iya aku akan menunggu pak Agra"
Agra pun langsung berjalan memasuki kamarnya. Di dalam kamarnya, ia langsung melihat wajahnya di cermin, dan wajahnya sangat terlihat kusam dan rambutnya terlihat tidak rapi.
"Tidak aku tidak boleh terlihat seperti ini. Aku harus terlihat tampan dan segar"
Agra pun langsung mandi secepat kilat, lalu setelah itu ia kembali ke kamarnya, laku merapikan dirinya. Dan yang terakhir, ia menyemprotkan parfum yang sangat Wangi dan tahan lama. Setelah merasa semua beres, ia pun langsung keluar dari kamar.
"Alice maaf menunggu lama, kau sudah siap?"
...Terima kasih sudah membaca teman teman...
...Maaf kalau banyak kekurangan...
...Jangan lupa Like, Vote, komen, dan Favorit nya...
...Terima kasih...