You Are My Best Husband

You Are My Best Husband
33. Bertemu lagi



Saat mereka berjalan menuju ke pintu, saat itu juga mereka bertemu dengan Wendy dan Johan di depan mereka.


Wendy terkejut melihat ada Agra di depan Matanya. Wendy melihat meneliti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ada satu hal yang ia temukan yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang, yaitu tangan.


Ya, tangan Agra saat ini yang tengah menggandeng Alice. Lalu perlahan-lahan Wendy mulai menatap Alice. Napas Wendy tiba tiba menjadi sesak. Ia bisa menebak siapa Seseorang yang ada di samping Agra.


Mungkin kah... Itu Istirnya. Tetapi Wendy menyangkalnya. Ia tak mau berfikir lebih dalam soal Agra dan Wanita menyebalkan yang ada di depan matanya sekarang itu.


Yang ia khawatirkan lebih dari itu adalah, kini dirinya ketahuan juga tengah berkencan dengan Johan.


"Mampus gue" batin Wendy.


Ia menatap lekat Agra penuh dengan harapan bahwa Agra akan memaafkannya lagi. Tetapi Agra malah memberikan senyuman yang membuat Wendy bigung apa arti dari senyuman itu.


Apakah Agra kecewa? Atau Agra biasa biasa saja? Yang Artinya Agra sudah melupakan dirinya?


Tapi di satu sisi, Alice juga memperhatikan detail dari raut wajah Wendy yang terus menatap suaminya. Alice pun juga bingung, mengapa Wanita menyebalkan itu menatap suaminya terus?


"Ehem! Nona Model yang cantik. Ternyata kita bertemu kembali" seru Alice itu mampu membuyarkan lamunan Wendy yang sedari tadi menatap Agra.


"Loh ternyata kalian saling kenal?" Sahut Johan


"Iya, kami pernah bertemu di toko Weer"


Lalu Wendy pun menatap tajam Alice dengan isyarat penuh kesal. Ia tak menyukai Alice. Seharusnya yang di samping itu adalah Wendy tetapi malah wanita gendut menyebalkan itu.


"Oh, Johan lama tidak bertemu. Kalian.... Pacaran ya?" Seru Agra juga membuat jantung Wendy berdegup kencang, karena sudah tahu Johan pasti akan menjawab iya.


"Iya kami pacaran" yang benar saja Johan menjawabnya iya. Hal itu sangat membuat Wendy kesal.


"Lalu siapa ini Agra? Apakah ini..." Belum sempat Johan menebaknya, Agra sudah menjawab tebakan Johan.


"Iya, ini istriku. Dan ini calon anakku" seru Agra seraya mengelus perut Alice mengode Johan anak yang ada di dalam kandungan Alice adalah anak Agra.


Saat itu juga Wendy Sangat sakit hati mendengar pengakuan dari Agra yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Wendy tak kuat rasanya ia ingin mati begitu saja. Tangan Wendy begitu sangat dingin.


"Wahhh selamat. Semoga diberikan kelancaran saat melahirkan nanti"


"Terima kasih Johan, kalau begitu kami pamit pulang"


"Ah, baiklah hati hati ya"


Sebelum keluar dari restoran itu, Agra menundukkan kepalanya memberikan salam kepada Wendy, begitu pun juga dengan Alice.


Wendy pun membalas salam mereka dengan menundukkan kepala juga.


"Ya sudah sayang, ayo kita cari tempat duduk" Seru Johan mengajak Wendy untuk cari tempat duduk yang nyaman.


Sejujurnya, Wendy sudah tidak mood. Nafsu makannya telah hilang sejak bertemu dengan Agra tadi.


"Sayang mau makan apa?"


"Emm... Aku ingin memesan makanan yang sama seperti kamu" seru Wendy berusaha untuk merespon Johan sebaik mungkin.


Tak seperti biasanya Wendy yang memesan makanan sendiri, tetapi kali ini ia memesan makanan sama seperti Johan. Hal itu dikarenakan Wendy yang sudah tak nafsu makan, bahkan apa yang akan ia makan saja tak tahu.


"Kenapa?"


"Karena aku ingin couple"


Johan hanya senyum. Ia pun memesan dua Makanan yang sama. Johan merasa ada yang aneh dengan Wendy kali ini. Sejujurnya sejak sedari tadi Johan sudah memperhatikan Wendy yang terus menatap Agra.


Johan pun mulai curiga bahwa sebenarnya Wendy belum bisa move on dengan Agra.


"Ah, tidak mungkin. Kenyataannya dia meminta maaf padaku. Mengejar ngejar diriku. Lalu sampai kembali berpacaran seperti ini"


Tak lama dari itu, Makanan pun datang. Lalu Wendy dan Johan pun langsung mulai menyantap makanan yang sudah ada di depan mata mereka sekarang.


Wendy kini makan dengan tatapan yang kosong. Ia makan tetapi makanan itu rasanya hambar. Pikirannya di penuhi pertanyaan tentang status Agra sekarang yang sebenarnya.


Disaat yang sama, kini Agra dan Alice sedang perjalanan menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan, Alice hanya diam. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tetapi lebih nyaman lagi jika bertanya di rumah saja.


Tetapi ia tak menyangka justru Agra malah bertanya lebih dulu pada Alice.


"Alice... Kau kenal dengan wanita itu?"


"Emm iya" Alice selalu berbicara lembut dengan Agra.


"Kau harus berhati hati dengan Wanita itu Alice. Mulai sekarang, jangan kemana-mana kecuali bersama ku"


"Kenapa? Apakah pak Agra berfikir aku akan kalah dengan nya?" Seru Alice Membuat Agra tertegun.


Memang benar yang di maksud Agra adalah karena Alice tak mempunyai kekuatan apapun. Alice seorang wanita biasa saja, dan berfikir Wendy jauh lebih kuat di bandingkan dirinya.


"Kita bicara saja di rumah ya"


"Baikalah" hanya kata itu yang Alice ucapkan. Sejujurnya Alice sendiri merasa kesal saat suaminya di tatap lekat oleh wanita yang menyebalkan tadi.


Disaat yang bersamaan, kini Johan tengah memperhatikan Wendy makan. Ia melihat Wendy seperti orang yang tak nafsu makan. Sejak sedari tadi tanpa sadar Wendy hanya mengaduk aduk Makanan itu.


"Wendy? Kau tidak suka dengan makanan itu karena tidak menarik atau kau memikirkan Agra?"


Pertanyaan itu mampu membuat Wendy terkejut. Ia pun langsung menatap Johan.


"Kenapa? Jawab saja. Apa kau benar-benar masih menginginkan Agra?"


Sesaat Wendy baru sadar jika dirinya sekarang tengah bersama Johan. Ia tak sadar jika dirinya mengabaikan Johan.


"Gawat aku tidak boleh seperti ini"


Karena tak mau Johan memarahinya, Wendy pun tersenyum, lalu meraih tangan Johan lalu menempelkan tangan Johan ke pipinya.


"Lihatlah, kau yang tidak memperhatikan ku dari tadi. Bukankah aku demam sekarang?"


Johan pun bisa merasakan rasa panas di wajah Wendy. Ia pun langsung khawatir, dan meminta maaf pada Wendy.


"Maaf Wendy, kalau begitu ayo kita pergi ke rumah sakit" Johan hendak membawa Wendy pergi ke rumah sakit, tetapi Wendy menolak, ia ingin di antarkan pulang saja.


Johan pun akhirnya mengantarkan Wendy pulang. Dalam hati Wendy ia sangat plong karena akhirnya Johan mau menurutinya.


Sejujurnya sejak tadi Wendy sudah sangat takut jika Johan mencurigainya. Tetapi syukurlah sekarang ia bisa mengalihkan pembicaraan itu.


Tak lama dari itu, Johan telah sampai di depan rumah Wendy. Ia pun mengantarkan Wendy sampai ke dalam rumah.


"Wendy? Apa aku perlu tidur di sini untuk menemani mu?"


...Terima kasih sudah membaca teman teman...


...Maaf kalau banyak kekurangan...


...Jangan lupa Like, Vote, komen, dan Favorit nya...


...Terima kasih...