You Are My Best Husband

You Are My Best Husband
34. tak mau menyerah



"Wendy? Apa aku perlu tidur di sini untuk menemani mu?" Seru Hendry tak ingin meninggalkan kekasihnya dalam keadaan Sakit.


Namun, Satu pertanyaan itu benar-benar membuat Wendy ingin marah dan membentak Johan, tetapi Wendy urungkan niatnya karena ia harus mengontrol emosinya di depan Johan.


Agar semua tidak ketahuan kalau hal seperti ini terjadi karena Wendy mengkhawatirkan Agra.


"Tidak usah Johan, aku cuma sakit biasa kok. Kamu pulang saja, nanti aku kabari Kalau aku sudah sembuh. Aku lebih mengkhawatirkanmu. Kau itu Sangat sibuk besok, dan kau harus bekerja dengan baik, karena kalau tidak, aku aku akan memarahi mu"


Wendy mencari alasan, tak mau Johan menemaninya, karena ia ingin menangis brutal malam ini.


Perkataan Wendy itu mempu membuyarkan Johan tertawa kecil dan percaya pada Wendy bahwa Wendy pasti akan baik baik saja tanpanya.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Hubungi aku kalau ada apa apa ya?"


Wendy mengangguk, lalu Johan memberikan kecupan di pipi Wendy sebelum ia pergi.


Setelah itu, Johan keluar dari kamar Wendy dan beranjak ke mobilnya. Sedangkan Wendy, ia mengamati Johan dari atas. Meyakinkan bahwa Johan Benar-benar pergi dari rumahnya.


Setelah mengetahui Johan keluar dari gerbang rumahnya. Perlahan-lahan Wendy meneteskan air Matanya. Air mata yang sejak tadi ia ingin tumpahkan tapi ia tahan karena ada Johan.


"Aaaaakkkk" pekik Wendy seraya menjambak rambutnya dengan kedua tangannya.


"Hancur.... hancur hidupku" serunya menyadari hidupnya benar-benar hancur sekarang. Rencana yang sudah ia buat matang-matang, sekarang hancur hanya karena bertemu di restoran yang sama.


Wendy menangis sejadi-jadinya. Ia tak mampu untuk menahan rasa sedihnya. Ia tidak siap menerima kalau Agra sudah benar-benar melupakannya. Apalagi Agra mempunyai calon anak.


"Tidak mungkin.... Tidak mungkin Wanita menjengkelkan itu menjadi Istirnya Agra. Tidak mungkin. Akulah pasangan yang pantas untuk Agra"


Wendy tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya akan kehilangan Agra. Agra begitu sangat berarti baginya.


Karena tak bisa menerima kenyataan, Wendy pun tak mau berhenti di situ saja. Ia kembali bangkit dan harus mendapatkan Agra bagiamana pun caranya.


"Aku tidak boleh kalah. Aku harus menang dari Wanita itu. Aku yang mengenalnya lebih dahulu, jadi aku yang harus memiliki nya" tak sedikitpun Wendy mempunyai rasa bersalah terhadap Agra di masa lalunya. Meskipun dirinya sudah meminta maaf dari Agra, namun ucapan itu tidak tulus. Ucapan maaf itu hanya ia gunakan untuk merayu Agra.


"Memangnya siapa wanita itu, aku harus mencari tahu! Aku nggak boleh kalah!"


Wendy pun akhirnya menggunakan seseorang untuk menguak identitas Alice.


Disaat yang bersamaan, kini Agra dan Alice telah sampai di rumah. Seharusnya malam ini menjadi malam yang bahagia untuk Alice dan Agra, Wendy dan juga Johan. Tetapi malam ini Mereka merasa tidak baik baik saja setelah bertemu.


Sepanjang perjalanan dari restoran sampai di rumah, Alice hanya diam dan tak berbicara apa apa. Tatapannya kosong.


Saat Agra keluar dari mobil, ia hendak memegang tangan Alice. Tetapi Alice sudah berjalan sendiri meninggalkan Agra dari jarak yang jauh.


"Hahhh kenapa dia marah?" Entah sejak kapan seorang Agra jadi Sangat lembut terhadap Alice yang bukan tipe idamannya.


Agra pun berjalan cepat mendekati Alice Seraya memanggili nama Alice.


"Alice, Alice, Alice" seru Agra memangili Alice, tetapi Alice tak menjawab karena melamun. Bahkan ia tak sadar kalau Suaminya sekarang ada di sampingnya.


Agra pun meraih tangan Alice "Alice" panggil Agra sakali lagi dan panggilan itu mampu membuat Alice menoleh, merespon Agra.


"Hm?"


"Kau melamun? Hey! Kau berjalan dengan sangat capat, kau itu sedang hamil sekarang. Kurangi kecepatan jalanmu dan pegang tangan ku" seru Agra kesal dengan Alice.


"Ah, maafkan aku. Aku tidak tahu" balas Alice dengan jujur. Sungguh ia tak merasa jika dirinya berjalan dengan cepat. Alice hanya memikirkan rasa kesalnya terhadap Wendy yang terus menerus menatap lekat Suaminya saat bertemu di restoran tadi.


Setelah itu, Agra kembali menutup pintunya lagi.


"Alice"


"Ya?"


"Kau mau langsung tidur?"


"Em...." Alice terdiam ia tak tahu apa yang harus ia katakan sekarang. Memangnya Kalau tidur sekarang bisa? Lalu... Kalau begitu ngapain?


Belum sempat Alice menjawab pertanyaan Agra, Agra menyuruh Alice untuk duduk di kursi sofa ruang tamu bersamanya.


"Alice... Kemarilah. Duduk di sini" seru Agra mengode Alice Untuk duduk di kursi sofa itu.


Tanpa berfikir panjang, Alice pun duduk di samping suaminya. Lalu kemudian Agra menyuruhnya untuk bersandar di kursi sofa itu.


"Kau pasti sangat lelah ya?"


"Hm? Tidak kok saya senang"


Agra tersenyum lalu, lalu bersandar di bahu Alice "kau pasti sangat terkejut ya dengan kejadian tadi. Baiklah aku akan menceritakan semuanya. Kau mau mendengarkan ceritaku?"


Alice pun mengangguk. Ini hal yang paling ia tunggu-tunggu. Ia ingin mendengar langsung dari suaminya siapa sebenarnya Wendy dan mengapa menatapnya Begitu Lekat dengan penuh kesedihan?


"Sejujurnya Wendy adalah Mentan pacarku. Kami putus karena dia ketahuan selingkuh. Lalu sekarang dia kembali lagi dan mengejarku. Aneh kan, padahal dirinya sudah punya pacar baru"


Pernyataan itu membuat Alice jadi kesal. Entah mengapa ia sangat kesal setelah mendengar bahwa wanita model menyebalkan itu adalah mantan pacarnya.


"Lalu apakah pak Agra masih menyukainya?"


Satu pertanyaan itu membuat Agra tertegun, ia tak tahu harus menjawab apa. Ia tak tahu perasaannya yang sebenarnya.


"Oke, tidak masalah. Tidak perlu di Jawab. Pak Agra pasti masih suka ya, sama cewek cantik model itu"


"Tidak, bukan seperti itu Alice" seru Agra merayu Alice. Ia tak mau Alice marah karena urusan ini.


"Tidak apa apa kok. Pak Agra tak perlu Merasa bersalah. Saya sangat cepek, saya mau ke kamar dulu"


Alice sudah tak tahan lagi bersama dengan suaminya. Melihat pertanyaannya tak di Jawab oleh suaminya membuatnya kesal.


Alice pun masuk ke kamarnya, di situ ia langsung berbaring di atas kasurnya yang empuk itu.


"Hmmm aku sama dia tidak ada bedanya kan? Aku juga wanita yang buruk yang merayu pak Agra demi anakku. Aku juga egois kan?"


Alice tak tahu lagi apa yang harus ja Lakukan sekarang. Ia sendiri baru menyadari bahwa dirinya juga wanita yang buruk.


"Aaaakkkk aku harus bagaimana sekarang! Kenapa harus wanita itu sih.."


...Terima kasih sudah membaca teman teman...


...Maaf kalau banyak kekurangan...


...Jangan lupa Like, Vote, komen, dan Favorit nya...


...Terima kasih...