YOU!

YOU!
#9



Angkasa POV.


Setelah menenangkan diriku, aku turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi dengan jam dindingku yang sudah menunjukkan jam 11 malam.


Membuka satu per satu pakaian dan melilitkan handuk pada pinggulku, aku menatap tubuh setengah polos ku depan cermin.


“Kass? Bagaimana dia bisa memanggilku Kass?” Keningku berkerut karena kepalaku menjadi pusing lagi.


Aku memijat kepala bagian belakangku dan merasakan bekas luka 5 tahun lalu saat tubuhku terbaring di rumah sakit.


Dokter mengatakan kepadaku bahwa aku mengalami kecelakaan berat di paris karena mabuk, bahkan mobilku sampai terbakar.


Aku berusaha mengingat kembali ingatanku sebelum terbaring selama satu minggu di rumah sakit itu, tetapi semuanya sia-sia.


Aku tahu Om Royhan mengetahui sesuatu tentang ini, tetapi mengingat bahwa hubunganku dengannya tidak baik membuatku sangat malas untuk bertemu dengannya dan membahas masalah ini.


“Seandainya kakek masih hidup.” Gumamku sedih.


Kakek meninggal saat aku berada di rumah sakit karena serangan jantung. Sekarang sudah tidak ada lagi orang yang aku anggap sebagai keluarga dari keluarga Pratama ini.


Aku membersihkan tubuhku dan ingin menutup mataku segera, aku akan menemui Langit lagi besok pagi, hanya anak itu yang bisa membuatku melupakan semua hal penat yang ada di kepalaku.


Keesokan paginya, aku menunggu di depan Day Care tempat Langit dititipkan.


Sarah dan Langit turun dari angkutan umum, Sarah menggenggam tangan mungil milik Langit dan memasuki gedung Day Care di seberang jalan tempatku memarkirkan mobil.


Setelah itu aku meminta Charles melajukan mobilku menuju gedung Glamour, perusahaan milikku. Tak banyak yang aku lakukan hari ini, hanya melihat foto-foto hasil pemotretan Sarah kemarin sebagai Brand Ambassador yang membuatku sangat puas dengan hasilnya.


Setelah berkutat dengan beberapa proposal dan menanda tanganinya. Aku melirik jam tanganku lalu segera keluar dari kantor dan menaiki mobilku, aku akan mengajak Langit makan siang lagi.


“Siang, Uncle!” Teriak Langit saat aku sudah masuk ke dalam tempat penitipannya.


“Hari ini Langit bawa bekal?” Tanyaku langsung, dia mengangguk bingung membuatku tersenyum. Aku akan memakan masakan Sarah lagi.


“Kita lakukan pertukaran lagi?” Tanyaku.


Dia sempat menggaruk kepalanya seolah berfikir membuatku ingin sekali mencubit pipi gemasnya.


“Hmm, baik tetapi Langit mau makanan seafood.” Tawarnya membuatku mengangguk dengan cepat.


Kami pergi ke salah satu mall terdekat dan tidak lupa juga aku membawa sebuah hadiah yang sudah aku siapkan untuk Langit.


Setelah sampai di restoran, aku memesan makanan yang dipilih oleh Langit. ***** makannya sangat besar sama sepertiku.


Setelah itu kami melahap makanan kami masing-masing dalam diam.


“Langit, Uncle mau kasih sesuatu.” Ucapku, terlihat Langit yang sedang menikmati makanannya tiba-tiba terganggu.


“Apa?”


“Ini.” Aku memberikan kotak yang sudah aku bawa.


Langit menatap kotak itu dengan mata berbinar, dia tersenyum lebar namun dengan segera luntur, dia memberikannya kembali padaku.


“Kenapa gak diambil?” Tanyaku heran.


“Hmm Langit gak ulang tahun, Uncle.” Jawabnya.


“Ini hadiah karena Langit mau main sama Uncle.” Bujuk ku lagi, dengan ragu dia menerimanya namun dia segera tersenyum lebar.


“Terima kasih, Uncle! Akhirnya Langit punya mainan baru. Mama belum bisa beliin Langit tetapi Uncle malah kasih Langit, jadi Langit gak perlu minta lagi sama mama.” Katanya senang.


“Uncle, Langit boleh pegang wajahnya?” Tanyanya membuatku mengangguk dan mendekatkan kepalaku.


Dia menyentuh pipiku dan tertawa geli karena menyentuh bulu-bulu halus pada wajahku, sedangkan aku memejamkan mataku, merasakan kelembutan tangannya.


Tiba-tiba saja elusan pada pipiku berhenti membuatku membuka mata.


“Mama, kok bisa disini? Lihat Uncle beliin Langit mainan baru.” Langit menunjukkan mainan yang aku berikan pada Sarah, dapat aku lihat raut wajah Sarah berubah menjadi sendu.


Sarah tidak mengatakan apapun, dia mengelus kepala Langit dan mencium pucuk kepalanya membuat Langit tertawa kecil.


“Mama kerja dulu.” Pamit Sarah pada Langit, dia berdiri meninggalkan kami berdua.


“Mama marah sama Langit ya om?” Tanya Langit sendu dan meletakkan kembali mainan yang aku berikan di atas meja.


“Enggak kok.” Balasku menenangkannya.


Aku melihat ke arah Sarah dengan kepalanya yang tertunduk sampai menghilang dari pandanganku.


Tidak lama kemudian, aku dan Langit pun pergi meninggalkan restoran karena waktu jam makan siangku sudah habis, tidak lupa Langit membawa mainan yang aku berikan sampai kami tiba di tempat Day Care.


“Uncle jangan kasih Langit mainan lagi.” Ucapnya pelan dan memberikan kembali mainannya kepadaku membuat hatiku menjadi sakit.


“Kalau Langit gak mau terima nanti Uncle marah.” Kataku membuatnya menatapku cemberut lalu mengambil kembali mainan yang ada di tanganku.


“Iya, Langit ambil.” Katanya.


Aku tersenyum lebar dan mengelus kepalanya, aku menunggu Langit masuk ke dalam dan menghilang dari pandanganku.


Setelah itu aku masuk ke mobilku lagi dan meminta Charles melaju cepat menuju ke gedung CM Agency. Aku harus menemui Sarah kali ini.


Aku berjalan menatap lurus ke depan saat sudah sampai di gedung CM Agency. Melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruang training para model.


“Sarah Gibran, ikuti aku.” Kataku dan langsung meninggalkan ruangan itu tanpa perduli dengan keadaan di dalam ruangan itu.


Aku tahu Sarah mengikuti ku dari belakang dan sebisa mungkin dia menjaga jarak.


Aku membawanya menuju ke coffee shop, mencari meja paling sudut di lantai 3 ini.


“Apa maksudmu di restoran tadi?” Tanyaku pada Sarah saat kami sudah duduk dengan dia di depanku.


“Berhenti membelikan Langit mainan dan berhenti menemuinya.” Ucapnya.


“Apa maksudmu?” Aku berdiri dari tempatku duduk begitupun dirinya, karena aku tiba-tiba saja menjadi marah karena dengan beraninya dia melarang ku bertemu dengan Langit.


“Dia sudah aku anggap sebagai anakku sendiri.” Lanjutku.


Plak!!!


Tangan Sarah bergetar setelah menamparku, perasaan marah kembali membakar ku, tidak ada yang pernah menamparku.


“Anak? Dia bukan anakmu, jangan pernah kamu menganggapnya sebagai anakmu. Kamu tidak punya hak untuk itu.” Katanya dengan nada tinggi membuat pengunjung coffee shop melihat kami.


“KA…”


“Apa, kamu ingin melakukan apa padaku? Aku akan melarangmu untuk bertemu dengan Langit walaupun nyawaku sebagai taruhannya.” Ucapnya memotong perkataan ku.


Dia pergi meninggalkanku. Sial.


Aku menendang dengan keras bangku mobil di depanku.


“Sial! Berani-beraninya dia menamparku dan beraninya dia melarangku bertemu dengan Langit, kamu belum tahu siapa aku Sarah Gibran.” Teriakku di dalam mobil.


“Tuan.” Panggil Charles yang aku jawab dengan menatapnya tajam.


“Apakah kita jadi ke bandara sekarang untuk business trip ke Amsterdam?” Tanyanya lagi membuatku mendengus kesal.


“Kita berangkat sekarang.”


Aku akan melakukan perjalanan bisnis ke Amsterdam dalam waktu 14 hari, artinya aku benar-benar tidak akan bisa bertemu dengan Langit dan itu akan membuat hari-hariku bertambah buruk.


BERSAMBUNG.