YOU!

YOU!
#18



Flashback Off.


Sarah POV.


"Kau sudah menandatangani surat ini apa kamu mengerti? Hidupmu dan anakmu tergantung dengan keputusanmu." Suara Om Royhan yang ada di hadapanku, kemarin Kristal mengancamku akan perjanjianku dengan Om Royhan, sekarang disini aku berhadapan sendiri dengan orang tersebut.


Dia menyuruhku untuk perhi menjauh dari Kassa, membawa pergi Langit dari kehidupannya tanpa Kassa tahu siapa sebenarnya Langit untuknya. Aku hanya diam sampai dia bersuara lagi.


*"Aku sama sekali tidak tahu kalau kau bisa membesarkan anak ini sendiri. Anak ini memang mempunyai darah seorang Pratama, tetapi dia bukanlah penerus tahta Pratama Group sebenarnya. Terlebih dia dibesarkan oleh wanita sepertimu." Ucapnya datar, ada rasa sakit yang kurasakan. *Apa keluarga Pratama selalu terlahir untuk menyakiti orang lain?


"Kalau begitu biarkan aku hidup dengan anakku disini, jauhkan saja Kassa dari kehidupanku." Aku berhasil mengeluarkan suaraku walaupun ada rasa sedih dengan kata-kataku sendiri. Pria tua itu menaikkan alisnya dan tertawa merendahkan.


"Angkasa tidak akan bisa dijauhkan darimu untuk sekarang, walaupun dia ingatannya belum sepenuhnya kembali." Suaranya datar. "Dan juga kau sudah tahukan bahwa Kristal sedang mengandung anak Angkasa?"


Hatiku terasa nyeri akan perkataannya.


"Sebenarnya apa yang anda inginkan?" Tanyaku geram.


"Jauhi Angkasa, pergi lagi seperti yang pernah kamu lakukan dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi atau kau dan anakmu akan bernasib sama dengan kakek tua itu."


Ancaman Om Royhan sekarang membuatku berdiri, berhadapan dengan sosok Kassa di ruangannya, bersama dengan orang tua Kristal dan Om Royhan. Terlihat Kassa kebingungan dengan kehadiranku.


Aku berjalan mendekati Kassa, bisa kulihat Kristal yang tersenyum lebar di belakangnya sementara Kassa masih diam tidak berbicara, bahkan saat aku memberikan surat pengunduran diriku dia tetap diam.


Aku berjalan keluar meninggalkan Kassa ada rasa tidak nyaman saat aku melihat perut Kristal. Aku benar-benar harus melepaskanmu, bukan? Aku akan pergi sejauh mungkin darimu.


Beberapa hari kemudian aku sudah berhasil menemukan tempat tinggal sederhana yang jauh dari kota, untuk sementara aku akan tinggal disini terlebih dahulu sebelum menemukan tujuanku. Aku segera masuk ke gedung kecil yang berisikan beberapa kamar kecil.


Aku meletakkan tubuh Langit yang tertidur pulas karena kelelahan di atas tempat tidur kecil, setelah itu tanpa mengganti pakaian aku langsung membaringkan tubuhku di sebelah Langit, mataku terpejam entah kenapa aku menangis, aku terlihat buruk sebagai orang tua yang melahirkan Langit.


Tangisku semakin pecah saat melihat tubuh Langit merasa kedinginan di sebelahku, aku memeluknya erat memberikan kehangatan tubuhku dan memejamkan mataku untuk mulai tertidur melupakan hari ini, berharap jika bangun semua akan kembali seperti semula.


Aku terbagung saat merasakan mataku membengkak akibat air mata semalam, aku berjalan ke kamar mandi kecildan membilas wajahku. Aku segera keluar untuk menyiapkan sarapan pagi, kegiatanku berhenti saat aku menyadari aku menyiapkan sarapan untuk tiga orang. Apa yang aku pikirkan.


Aku tersenyum lirih, beberapa hari kemarin aku terbiasa menyiapkan sarapan pagi untuk Langit dan Kassa, namu sekarang aku tidak punya alasan itu. Jadi aku masukan kembali piring ketiga ke dalam rak lemari. Aku membangunkan Langit untuk mandi dan memintanya untuk sarapan terlebih dahulu.


Aku membersihkan tubuhku untuk menyiapkan diri mencari pekerjaan baru lagi. Setelah semua siap dan aku pun sudah selesai sarapan. Kami keluar dari gedung itu dan segera pergi menuju ke XX Store, dimana aku melihat terdapat lowongan sebagai Office Girl disana.


Sesampainya aku di depan XX Store, aku melihat seseorang berdiri di samping mobil hitam melihat ke arah kami.


"UNCLE!" Teriakan Langit yang langsung berlari ke arah Kassa, membuatku terdiam di tempatku berdiri. Dengan tangan terbuka Kassa memeluk Langit dan menggendongnya. Sampai Kassa mendekatiku dengan tatapan tajamnya. "Aku ingin berbicara denganmu." Ucapnya.


Kassa membawaku masuk ke dalam gedung XX Store, membawaku sampai ke lantai teratas dan meminta seseorang untuk menjaga Langit. Apakah store ini miliknya juga.


Tanpa aba-aba dia menarik tanganku kasar menjauh dari Langit yang sedang bermain, aku meronta mencoba melepaskan genggaman tangannya tetapi dihiraukannya. Dia menyeretku sampai orang-orang yang kami lewati melihat kami.


Dia membuka pintu dan melemparkan tubuhku untuk masuk. Dia menatapku marah.


"Apa?"Ucapku.


"KAMU MENINGGALKANKU TANPA KEJELASAN DAN MEMBAWA LANGIT TINGGAL DI DAERAH YANG BERBAHAYA SEPERTI ITU? APA YANG KAMU PIKIRKAN?" Murkanya kepadaku. Tanpa kejelasan? Seharusnya kamu bertanya dengan keluargamu sendiri.


Aku hanya menatapnya datar saja tanpa berniat menjelaskan apapun kepadanya.


Dia memejamkan matanya dan membukannya.


"Katakan, apa yang Om Royhan lakukan kepadamu?" Tanyanya lembut.


"Aku hanya tidak menyukaimu, aku membencimu, tidak bisakah kamu menerimanya?" Ucapku pelan merasakan sakit saat mengatakan itu.


"APA?"


"Aku muak, aku muak berada di dekatmu, aku benar-benar muak, tidak bisakah kamu mengerti?" Ucapku datar dan berusaha keluar dari ruangannya.


Rahangnya mengeras dia marah, benar-benar marah, tangannya menarik tubuhku hingga tubuh kami hampir bersentuhan.


"Tarik kembali kata-katamu, atau ak-"


"Aku tidak akan menarik kata-kataku karena itulah yang aku rasakan denganmu."


Aku melepaskan tanggannya yang membeku ditempatnya, aku meninggalkannya dengan perasaanku yang kesakitan, menyeka air mataku yang akan jatuh. Aku tidak boleh menangis.


Aku kembali ke lantai paling atas untuk menjemput Langit, sesampainya aku di lantai atas aku duduk di sebuah kursi kayu melihat langit yang sedang terlihat ceria, memejamkan mataku membiarkan rasa sakit yang kurasakan terkikis namu aku gagal, rasa sakitnya semakin besar sampai kurasakan telpon genggamku bergetar di saku celanaku.


"Hei, apa kabarmu?" Sapa Dave di layar handphoneku.


Aku hanya tersenyum melihatnya, mencoba menahan air mataku yang hampir pecah di sudut mataku.


"Kamu tahu, aku lebih suka melihat air matamu daripada senyummu. Dengan airmatamu setidaknya kamu dapat jujur kepadaku dan bisa dikatakan kamu merasa nyaman untuk bicara apapun kepadaku." Ucapnya yang seakan tahu dengan kondisi yang aku hadapi sekarang.


"Aku akan memberikanmu alamat untukmu tinggal sementara, datanglah kesana bersama Langit." Ucapnya lagi.


"Ta-tapi."


"Aku tahu permasalahanmu disana, aku tidak tahu apa yang menjadi alasanmu berhenti bekerja, tetapi aku percaya padamu. Pergilah, tenangkan dirimu dan Langit disana. Aku akan segera menemuimu disana dan kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama." Ucapnya lagi.


"Baiklah." Balasku.


Setelah itu Dave memutuskan panggilan videonya, tidak lama kemudian terkirim pesan ke handphoneku alamat yang dikatakan oleh Dave, sebuah desa terpencil yang berada di pinggiran kota.


Maafkan aku harus meninggalkanmu dan membuatmu sakit seperti ini, Kassa. Mungkin memang kita yang ditakdirkan untuk tidak bisa bersama. Jalani hidupmu dengan bahagia, setidaknya ada salah satu pihak yang bahagia dari kisah kita.


BERSAMBUNG.