
Kassa POV.
Kegiatan pagiku kali ini terasa berbeda seperti hari-hari sebelumnya, sudah hari kelima aku tidak melihat Sarah dan Langit. Sepi yang terasa karena biasanya mendengarkan suara mereka di setipa paginya, bahkan sarapan pagi yang biasanya sudah siap tersedia di atas meja makan pun sudah tidak pernah aku rasakan lagi.
Aku terduduk di atas tepi kasur, mengusap kasar wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku merindukan mereka.
Aku menghela nafas pelan, lalu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku, setelah selesai dan rapi berpakaian aku pun menuju ke ruang makan. Saat menuruni tangga aku mendengar bel berdering dengan segera membukakan pintu, disana berdiri Kristal dengan bekal kotak plasti yang dia bawa.
"Aku membuatkan sarapan untukmu." Katanya riang, aku menatapnya datar tanpa dipersilahkan masuk Kristal mendahuluiku, dia berjalan menuju dapur dan meletakkan makanan yang dia bawa ke piring.
"Keluar." Suaraku datar, dia menatapku lalu menduduki salah satu bangku, aku berjalan kearahnya dan menarik tangannya untuk berdiri.
"Aku lelah, biarkan aku duduk dulu." Ucapnya tetapi aku mengabaikannya, aku tetap menarik tangannya hingga dia berdiri dari duduknya.
"Pulang." Ucapku dan menutup pintu sebelum mendengar kata apapun dari Kristal.
Aku membuat kopi untukku sendiri dan duduk di salah satu bangku, mengambil makanan yang dibawakan Kristal dan membuangnya ke tempat sampah.
Setelah kopi di gelasku tandas, aku keluar dari apartemenku dan menuju ke basemen, masuk ke mobil dan melajukannya pelan.
Pikiranku hanya memikirkan cara agar Sarah balik kepadaku, namun aku sama sekali tidak dapat menemukan cara apapun, sampai mobilku berhenti di CM Agency.
Aku bertanya ke setiap orang disana, tetapi aku sama sekali tidak menemukan jawaban apapun, mereka sama sekali tidak tahu akan keberadaan Sarah. Dengan gusar aku mengambil ponselku dan menghubungi Charles.
"Cari alamat dimana keberadaan Sarah dan Langit sekarang."
Tanpa menunggu jawaban Charles aku mematikan sambungan telepon itu dan memasukkannya kembali ke dalam jas, aku mengendarai lagi mobilku menuju ke tempat kerjaku, sesampainya di ruang kerjaku, aku melihat Kristal sedang duduk di sofa dengan beberapa majala yang dia pegang.
Seolah merasakan kehadiran seseorang Kristal mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar kepadaku, dengan heels tingginya dia menghampiriku yang tengah berjalan ke arahnya juga.
"Desain seperti apa yang kamu inginkan untuk undangan kita, Kassa?" Tanyanya menarik tanganku dan duduk di sebelahnya, dia memberikan beberapa contoh undangan pernikahan di depanku.
"Mana yang kamu suka?" Tanyanya lagi tetapi aku hanya menatap contoh undangan itu datar.
"Aku tidak akan menikahimu." Jawabku, aku menatap Kristal datar lalu segera berjalan meninggalkannya menuju ke mejaku, aku mengabaikan keberadaan Kristal dan menandatangani beberapa dokumen di atas mejaku.
Setelah dokumen-dokumen itu selesai aku tanda tangani, aku mengambil ponselku dan melihat lagi foto wanita yang melihat kearah menara eiffel sampai kepalaku terasa sakit. Beberapa potongan ingatan menyerang kepalaku dan membuat kepalaku terasa sangat sakit.
Ingatan-ingatan memperlihatkan kebersamaanku dengan seorang wanita dengan latar sebuah pantai.
"Aku mencintaimu, Kassa. Berjanjilah kamu tidak akan pernah meninggalkanku."
Suara itu.
Aku dengan tergesa-gesa mengambil ponselku dan menelpon sesorang.
"Ke ruanganku, segera!!!" Teriakku dan memutuskan panggilan telepon itu.
Tidak lama kemudian, orang yang aku panggil masuk ke dalam ruanganku dengan wajah ketakutan.
"Lepaskan tangan kotormu. Kassa apa yang kamu lakukan?" Teriak Kristal yang tidak aku hiraukan. Setelah Kristal dibawa pergi, orang itu kembali balik menghadapku.
"Aku percaya kepadamu selama bertahun-tahun ini dan aku sangat yakin kamu pasti tahu apa sebenarnya yang terjadi kepadaku lima tahun yang lalu, jadi sekarang ceritakan kepadaku semuanya, Charles." Kataku.
Aku duduk di kursi kebesaranku, memejamkan mataku mendengarkan setiap detil kata-kata Charles, sampai tidak terasa air mataku jatuh dengan sendirinya. Ada rasa sakit yang berkali-kali terasa di dalam hatiku, perasaan sakit itu semakin besar sejalan dengan setiap peristiwa yang diceritakan oleh Charles.
Aku marah, aku marah pada diriku sendiri. Sungguh sangat bodoh aku tidak dapat mengenal bahkan mengingat orang yang sangat aku cintai. Hatiku merasakan sakit saat mengingat hal-hal yang buruk terjadi pada Sarah di saat aku tidak dapat melakukan apapun.
Aku tahu aku tidak dapat mengingat momen-momen indahku bersama Sarah, tetapi hatiku tidak dapat berbohong saat aku berada di dekatnya, saat aku melihat matanya. Sarah maafkan aku, Langit maafkan papa.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak dapat berbuat apa-apa di karenakan ancaman dari Tuan Royhan." Ucap Charles penuh rasa bersalah.
"Sekarang dimana Om Royhan?" Tanyaku.
"Tuan Royhan sudah kembali lagi ke Indonesia tadi pagi, Tuan." Ucap Charles.
Baiklah untuk sekarang aku akan mengabaikan tua bangka itu, untuk sekarang aku harus menemukan keberadaan Sarah dan Langit terlebih dahulu.
"Apakah kamu sudah mengetahui keberadaan Sarah?" Tanyaku kepada Charles.
"Untuk sekarang posisi terakhir Nona Sarah ada di daerah Y, Tuan." Jawabnya.
Tanpa berpikir aku langsung mengambil jasku dan berjalan menuju pintu. "Antar aku kesana."
*
Setelah hampir satu hari penuh aku mengelilingi daerah X bahkan mencari ke setiap toko atau perusahaan yang mungkin menjadi tempat Sarah bekerja, aku sama sekali tidak dapat menemukannya. Sampai aku tiba di sebuah club malam, aku sangat yakin tidak akan menemukan Sarah di tempat seperti ini karena Sarah tidak mungkin menginjakkan kakinya disini.
Aku hanya ingin melepaskan penat dan menenangkan pikiranku dengan sebotol alkohol di tempat ini, setelah memarkirkan mobil, aku meninggalkan Charles.
Aku diarahkan menaiki lift dan disambut dnegan dentuman musik keras dan lampu berkedap-kedip, aku melangkahkan kakiku ke meja bartender dan mendudukkan diriku di depannya, memesan minuman dan langsung menyesapnya.
Beberapa wanita dengan terang-terangan menggodaku, bahkan tak jarang mereka menyentuh tanganku yang membuatku dengan cepat menghentakkannya.
Aku mendengarkan sorak tepuk tangan ramai dengan penasaran aku memutar kursiku melihat apa yang diributkan. Aku bisa melihat dari sini karena mereka tidak terlalu menutupinya.
"Akan aku beri 500.000 dollar kalau kamu mau menari striptis di depan kami." Suara seseorang berteriak di depan seorang wanita dengan pakaian pelayan, mereka mengelilingi wanita itu dengan raut wajah hewan mereka.
Aku tidak dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu, hanya saja tanpa aku sadari aku menegakkan tubuhku dan mendekati kerumunan itu, dengan penasaran aku menyelip diantara kerumunan itu hingga aku beridi paling depan.
SARAH!
Sarah menatap orang-orang itu secara datar lalu dia menulusuri sekeliling ruangan dan saat itu juga pandangan kami bertemu.
BERSAMBUNG.