YOU!

YOU!
#25



Setelah selesai mandi dan berpakaian aku segera turun untuk mengisi perutku yang lapar.


"Uncle!" Suara riang Langit memenuhi seisi ruang makan, aku melihat meja makan disana sudah ada Sarah dan Langit membuatku tersenyum.


Aku berjalan menghampiri mereka dan segera memeluk Langit dan duduk di sebelahnya.


"Langit, mulai hari ini Langit jangan panggil uncle lagi oke, mulai hari ini Langit harus panggil papa." Ucapku mengusap kepalanya lembut.


Anak kecilku itu terlihat bingung dan melihat Sarah untuk meminta kepastian membuatku juga menolehkan kepalaku untuk melihat Sarah. Sarah melihat kami berdua yang sedang menunggu jawaban menghela napasnya pelan dan menganggukkan kepalanya.


"Oke papa." Riang Langit dan memeluk leherku erat membuatku membalas pelukannya dan tersenyum bahagia.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang membuat Sarah berdiri untuk membuka pintu tersebut.


"Kenapa kamu masih disini!" Terdengar teriakan dari depan pintu membuatku tersentak berdiri begitupun dengan Langit yang langsung berdiri dan memeluk kakiku ketakutan.


"Langit tunggu disini ya." Ucapku pelan dijawab anggukan olehnya.


"Tanyakan sendiri kepada keponakan anda." Suara Sarah datar.


"Kamu sudah menandatangani surat itu, aku bisa menuntunmu karena hal itu. Kamu sudah berjanji meninggalkan Kassa untuk membuatnya bahagia." Suara laki-laki di depan pintu itu.


"Aku melakukan apa yang anda minta, aku sudah menjauhinya seperti yang anda minta tetapi sepertinya Kassa tidak dapat mendapatkan kebahagiaannya sendiri sampai dia mencariku lagi." Dingin Sarah, aku masih setia menguping pembicaraan mereka.


"Kamu tahukan aku bisa menghancurkanmu dan anakmu."


"Hidupku bahkan sudah lama hancur, untuk apalagi anda repot-repot merusaknya hm? Aku bisa saja pergi meninggalkan Kassa begitu saja tetapi melihat dirinya sekarang aku tidak akan menyakitinya lagi, aku akan tetap berada di sisinya walaupun harus aku yang terluka jadi anda tidak perlu repot-repot untuk menghancurkan saya." Ucap Sarah yakin.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Apa kamu memerlukan nama Pratama di belakang nama anakmu itu atau kamu menginginkan uang?"


"Aku tidak butuh nama di belakang nama putraku ataupun uang dari kalian. Aku tidak membutuhkan apapun dari kalian, permisi aku harus memberi makan putraku."


Sarah membalikkan tubuhnya sehingga melihatku yang bersembunyi, dia terkejut namun segera disembunyikan keterkejutannya itu dan mengabaikanku, aku menahan tangannya gar dia berhenti.


"Semula aku fikir memulai semuanya dari awal denganmu itu mudah, namun baru permulaan saja aku sudah ingin pergi. Langit tidak butuh nama Pratama di belakangnya dan kami bahkan tidak membutuhkan apapun darimu."


"Sar-"


"Ini terlalu sulit Kassa." Katanya serak menahan tangis, dia melepaskan tanganku yang menahan pergelangan tangannya, aku memejamkan mata dan berjalan menemui Om Royhan.


"Berhenti ikut campur urusanku." Marahku.


"KAU TIDAK BERHAK UNTUK MENGATUR HIDUPKU, KAU TIDAK BOLEH MENGHAKIMI SARAH, HANYA AKU YANG BOLEH MENGHAKIMINYA. JIKA KAU MENYENTUH SARAH WALAUPUN HANYA SEUJUNG KUKU AKU TIDAK AKAN TINGGAL DIAM, AKAN AKU HANCURKAN SEMUA BISNIS PRATAMA YANG SUDAH AKU BANGUN. AKU SERIUS." Marahku padanya.


Aku meninggalkannya diiringin dengan suara pintu yang aku tutup dengan kuat. Sialan.


Aku mengatur emosiku sebelum bergabung dengan Sarah dan Langit di meja makan, aku melihat Sarah yang sedang menyuapkan makanan ke mulut Langit, mereka terlihat bahagia membuat hatiku yang sebelumnya panas menjadi dingin kembali.


Aku ikut duduk bergabung bersama mereka dan menyantap makananku tanpa menggangu interaksi antara mereka, aku hanya merasa tenang saat melihat ikatan kasih sayang di antara mereka.


Kami keluar dari kamar dan menuruni tangga melihat Sarah yang masih menggunakan pakaian yang sama.


"Mama kok belum mandi? Kita kan mau pergi." Ucap Langit.


"Pergi?" Tanya Sarah heran.


"Kita akan pergi jalan-jalan hari ini, mandilla dan bersiaplah kami akan menunggumu." Ucapku membuat Sarah hanya menganggukkan kepalanya.


Saat sedang menunggu bersama Langit menonton kartun di TV, aku lupa bahwa ponselku tertinggal di kamar, aku pun beranjak untuk naik ke kamar mengambil ponselku yang berada di atas kasur, saat itu juga Sarah baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di tubuhnya.


"Keluar." Katanya datar.


Aku tidak mau keluar malah memilih duduk di tepi kasur.


"Kassa." Ucapnya lagi.


"Ganti saja disini aku tidak akan mengintip." Kataku membuat Sarah hanya mendesah kasar, dia melepaskan handuk di tubuhnya yang membuatku menelah salivaku kasar dan segera mengalihkan pandanganku ke arah lain.


Sialan kenapa tubuh Sarah bisa semulus itu.


Dengan upaya yang berat aku mengalihkan pandanganku untuk tidak menoleh ke arah Sarah walaupun dalam hatiku sangat ingin mencuri pandang ke arah tubuhnya, setelah menahan diri agak lama akhirnya Sarah selesai mengganti pakaiannya.


Dengan dress putih bermotif bunga yang terlihat sangat pas di tubuhnya menampilkan kesan sederhana tetapi tetap terlihat cantik membuatku tersenyum kecil. Dia berjalan menuju ke meja rias sambil melihat kearahku.


"Dasar gila." Katanya pelan, aku berdiri dan mendekatinya.


"Gila?" Tanyaku menarik tangannya.


"Lepaskan." Katanya datar, dia mencoba melepaskan tanganku namun gagal, aku semakin mendekatinya membuatnya mundur hingga menyentuh pintu kamar membuatku dapat mengurungnya dengan kedua tanganku.


"Kamu harus baik kepadaku, Sarah." Ucapku. "Dan juga aku lupa memberitahukan kepadamu, mulai sekarang kamu bekerja di kantorku sebagai sekretarisku." Lanjutku, dia hendak protes namun aku menghentikannya dengan bibirku, aku hanya menempelkannya saja tanpa berniat ******* atau mengigitnya.


"Tidak ada penolakan?" kataku menjauhkan sedikit wajahku darinya, dia hanya menatapku datar membuatku gemas, aku cium kembali bibir merah muda Sarah lebih ganas bahkan tanganku juga tidak kubiarkan diam.


"Akh." Erangan tertahan Sarah.


"MAMA, PAPA BUKA PINTU, KENAPA DIKUNCI SIH! LANGIT UDAH NUNGGUIN DARITADI!!" Teriakan Langit dari belakang pintu yang di tahan oleh tubuh Sarah membuatku melepaskan ciuman kami dan mengelap sudut bibir Sarah yang dipenuhi air liur dan menjilat ibu jariku sendiri.


"Iya, ini udah selesai." Ucapku menarik tubuh Sarah pelan dan membuka pintu.


"Ayo kita pergi." Ajak Langit menarik tanganku dan Sarah, kami berjalan beriringan dengan Langit yang berada diantaraku dan Sarah.


Langit berlarian kesana kemari membuatku dan Sarah kewalahan, setelah sampai dikebun binatang kami seolah seperti penjaga Langit, mengikuti Langit kemanapun dia pergi, tetapi aku sama sekali tidak merasa lelah, lima tahu waktu yang aku sia-siakan tidak bersama mereka, membuatku harus memberikan semua waktuku untuk mereka, aku malah sudah berencana untuk mengajak mereka pergi ke tempat lain yang lebih indah dan mungkin disukai oleh Langit dan Sarah.


Bersambung.