
SARAH POV.
“Sarah, tunggu!” Aku mendengar teriakan Angkasa, membuatku melangkahkan kakiku lebih cepat untuk masuk ke dalam lift sehingga membuat pintu lift yang tadi mau tertutup terbuka kembali, tetapi aku terlambat saat melihat tangan Angkasa menahan pintu lift untuk tertutup kembali.
Angkasa mencari manik mataku dengan spontanitas aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, mengabaikan keberadaannya bersamaku dalam lift kosong ini.
“Maafkan aku.” Katanya dengan wajah tertunduk membuatku melihatnya sekilas dan kembali menatap dinding lift berkilat, sampai tubuh Angkasa bergerak mendekatiku.
Dengan terkejut aku mundur membenturkan punggungku dengan dinding lift di belakangku, tangannya terangkat di kedua sisi tubuhku, membuat aku tidak dapat lari kemanapun.
“Kamu benar-benar membuatku gila.” Katanya membuatku terdiam dan dalam sekejap aku merasakan bibirnya sudah bertemu dengan bibirku, dia menyesap bibir bawahku saat mataku terpejam tanpa adanya perlawanan.
Dia menarik tubuhku lebih dekat dengan tangan pada pinggangku, dengan sekali hentakan tubuhku terangkat bersandar pada dinding lift.
Aku melingkarkan tanganku dengan sengaja pada lehernya agar tidak terjatuh.
“Engh.”
Tanpa sadar desahanku terdengar dengan bibir yang coba aku tutup rapat saat merasakan tangan hangatnya menyentuh titik sensitif di balik kaus putihku.
Angkasa melepaskan jasnya dalam satu gerakan dan mendekatkan kembali wajahnya di leherku, membuatku merasakan basah dan hangat dari bibirnya.
Aku merasakan rindu teramat dalam dengan sentuhan-sentuhannya, aku masih mencintainya. Seberapa keras aku membuang perasaan ini semuanya menjadi sia-sia hanya dengan sentuhannya.
Pertahananku hancur berkeping-keping.
Aku menangkup wajahnya untuk melihat wajahnya lagi lebih dekat, tanpa terasa air mataku jatuh ke pipiku.
“Aku mencintaimu, aku mencintaimu.” Ucapku, membuat sebuah senyuman lebar di wajahnya.
“Aku juga mencintaimu, Sarah Gibran.” Balasnya, menempelkan bibirnya kembali denganku.
Ting!
Pintu lift terbuka, aku turun dari pegangannya dan melangkahkan kakiku dengan cepat saat pintu lift terbuka di depan lobi yang sepi.
Aku tidak mengerti dengan pikiran dan isi hatiku sekarang, aku ingin berbalik melihatnya sekali lagi, tetapi aku membatalkan niatku. Lebih baik aku pulang sekarang ke apartemen Angkasa.
Setibanya aku di apartemen, aku melihat Langit sedang menonton kartun pada layar TV LCD dengan satu piring buah dan segelas susu di depannya.
“Langit.” Panggilku.
Dia menoleh dan berlari kecil dengan mulut penuh makanan. “Pelan-pelan.” Ucapku mensejajarkan tubuhku dengan tingginya sehingga bisa mencium pipinya.
Bel berbunyi membuatku berdiri dan segera membuka pintu. Kristal.
“Kamu lagi.” Ucapnya menghampiriku.
“Apakah kamu sudah lupa dengan janjimu kepada Om Royhan? Atau memang kamu sudah bosan untuk hidup?” Lanjutnya lagi membuatku hanya dapat terdiam. Dia berlalu melewatiku masuk ke dalam apartemen, melihat sekilas kearah Langit.
“Kamu keluar dari sini.” Tunjuknya kepada babysitter Langit yang sedang berada di dapur. Babysitter itu melihatku sebentar dan aku memberikan anggukan untuknya, dia pun keluar dari pintu di belakangku.
Kristal mengitari matanya melihat seisi apartemen milik Angkasa.
“Sekarang pergi dari sini, sebelum aku mengusirmu secara paksa.” Ucapnya.
“Tidak, aku tidak akan pergi lagi. A…aku akan memberitahukan yang sebenarnya kepada Kassa.” Ucapku bergetar
.
“APA?” Dia mendekatiku dengan wajah merah padam.
“AKH.” Teriakku karena dengan tiba-tiba Kristal menarik rambutku.
“Wanita penggoda, kamu ingin mengambil Angkasa lagi dariku sekarang? Tidak akan aku biarkan lagi wanita murahan sepertimu mengganggu hidupku lagi.” Katanya.
Dia melemparkan tubuhku hingga terjatuh keluar apartemen.
“AKH.” Ringisku.
“Jangan sakitin mama.” Teriak Langit dan segera menggigit tangan Kristal.
“APA YANG KAU LAKUKAN, ANAK BERENGSEK!” Teriak Kristal.
PLAK!
“Pergi kalian dari sini, dasar sampah!” Teriak Kristal menunjuk kami. “Bawa pergi anak harammu itu.” Lanjutnya.
“APA YANG KAU LAKUKAN, ******!” Teriakan Angkasa membuat Kristal ketakutan sampai Angkasa mendekatinya dan menarik rambutnya kuat.
“Aw.” Kristal meringis kesakitan membuat Angkasa melepaskan tarikannya dan mendorongnya jatuh ke lantai.
Angkasa menghampiri kami dan melihat pipi Langit yang sedang bersembunyi di belakang tubuhku dengan wajah ingin membunuh.
Aku melihat Kristal yang sedang memegang perutnya dan. Ada darah di kakinya.
“Sakit, Angkasa.” Katanya pelan, Angkasa pun menghampirinya dan mengangkat tubuh Kristal turun ke lobi.
Aku menunduk melihat Langit yang meringis kecil saat pipi merahnya aku pegang.
“Langit gak mau disini.” Isaknya memelukku.
“Kita pergi dari sini.” Ucapku.
Aku membereskan barang-barang kami untuk segera pergi meninggalkan tempat ini bahkan mungkin meninggalkan Angkasa dan pergi jauh dari kehidupannya.
“Langit.” Terdengar panggilan Angkasa saat aku ingin membawa koper keluar kamar.
“Langit gak mau ketemu Uncle!”
“Langit.” Panggil Angkasa lemah.
“Langit.” Panggilku dan ikut berjongkok bersama dengan Angkasa.
“Langit, mama gak pernah ngajarin Langit kayak gini, apa ini yang dinamakan anak baik?Ingat kata-kata mama dulu?” Lanjutku yang di jawab anggukan olehnya.
“Jangan berbuat jahat kepada siapapun, walaupun orang itu berbuat jahat kepada kita.” Ucapnya menunduk.
“Maafin Langit, Uncle. Tapi, Langit tetap tidak mau disini lagi.” Ucapnya dengan air mata terbendung.
Angkasa berdiri hendak mendekati Langit, tetapi aku menahannya.
“Kamu dengar sendiri? Jadi aku mohon lepaskan kami berdua.” Pintaku.
Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak bisa. Aku butuh Langit dan…”Ucapnya menunduk.
Sosok Angkasa yang selama ini terlihat kuat seketika lenyap tergantikan dengan seseorang yang terlihat rapuh.
Aku menghela napasku. “Aku akan membawa Langit untuk sementara, kamu bisa menemuinya kapan saja. Tetapi untuk berada di sisimu aku tidak bisa.” Ucapku. “Jadilah Kassa yang dulu, seorang Kassa yang bertanggung jawab.” Lanjutku dan segera membawa Langit meninggalkannya yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
***
Aku melihat Langit yang tertidur nyenyak di atas kasur membuatku mengecup keningnya.
“Mama akan selalu memberikan yang terbaik untukmu.” Kataku pelan.
Setelah itu aku pergi meninggalkan Langit dan pergi ke ruang tamu dan langsung melakukan panggilan video di layar ponselku.
“Halo, Dave.” Sapaku setelah melihat wajah Dave di layar ponsel.
“Sarah, bagaimana keadaan Langit?” Tanyanya khawatir.
“Dia sedang tertidur di dalam kamar, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu karena telah mengizinkanku dan Langit untuk tinggal disini. Sekali lagi maafkan aku karena selalu merepotkanmu.” Ucapku.
“Hei, jangan berkata seperti itu, kamu tahu kalau aku dari dulu memang menginginkan kalian tinggal bersamaku.” Ucapnya tersenyum dengan keriuhan suara dari tempatnya.
“Bagaimana denganmu? Apa
yang akan kamu lakukan setelah ini?” Lanjutnya.
Mendengar pertanyaan Dave membuatku merenung dengan apa yang akan aku lakukan dengan Angkasa.
Mungkin memang garis tanganku yang tidak ditakdirkan untuk bersama Angkasa, Tuhan benar-benar memang sedang mempermainkan takdirku.
Di saat aku ingin membuka kembali hatiku dan di saat itu juga hatiku dipaksa untuk tertutup kembali dengan terlalu banyaknya halangan untuk kisahku dan Angkasa.
BERSAMBUNG.