YOU!

YOU!
#24



Aku turun dari tubuh Sarah dan berjalan mengambil pakaianku yang aku kenakan, aku melepaskan handukku tanpa peduli dengan keberadaan Sarah, lagi pula dia sudah pernah melihat tubuh telanjangku, selesai berpakaian aku berjalan ke arahnya yang membuang muka ke arah lain membuatku hanya menggelengkan kepalaku.


Aku berdiri di hadapannya.


"Satu bulan, setelah satu bulan berlalu semuanya aku serahkan kepadamu apakah kamu akan tetap bersamaku atau pergi dariku." Kataku, kutarik tubuhnya untuk berdiri. "Sekarang kamu akan tinggal bersamaku dan kita akan menjemput Langit sekarang." Lanjutku.


"Aku tidak akan tinggal bersamamu!!" Teriaknya.


"Kamu harus." Balasku datar.


"Kamu tidak bisa seenaknya sendiri seperti ini Kassa!" Bentaknya, aku menarik tubuhnya hingga menempel denganku, bahkan kami bisa merasakan hembusan nafas kami satu sama lain.


"Tentu saja aku bisa Sarah, kamu tahu diriku daripada orang lain." Ucapku yakin, aku membelai pipinya lalu beralih pada lehernya, kudekatkan wajahku ke leher putih miliknya untuk membuat tanda kepemilikan disana, aku mendengar suara ringgisan pelan yang diikuti dengan suara ******* tertahan membuatku tersenyum di lehernya dan menarik wajahku dan menatapnya.


"Mulai sekarang kamu menjadi milikku." Kataku yang membuatny meronta untuk dilepaskan.


"Jangan menyentuhku." Ucapnya.


"Aku tidak yakin bisa karena sekarang yang aku fikirkan hanya ingin memakanmu setiap saat." Bisikku.


Tanganku masuk ke dalam kemeja putih yang dikenakannya, mengelus titik sensitif dengan tonjolan kecil disana.


"Kamu tahu, aku selalu merindukan ini Sarah, ini adalah tempat favoritku sejak dulu dan tidak pernah berubah." Bisikku sensual di telinganya, aku menekan bagian itu membuatnya menggigit bibirnya menahan *******.


"Tenang saja, aku akan memuaskanmu tetapi tidak disini melainkan di kamarku, kamar kita nanti." Tidak ada jawaban darinya membuatku tersenyum dan melepaskan pelukanku.


"Mari kita pulang" Ucapku menarik tangannya, aku membuka pintu kamar dengan key card yang kusimpan dan membuka pintu hotel untuk segera keluar menjemput Langit.


Beberapa kali Sarah mencoba menarik tangannya namu aku semakin menggenggamnya.


"Kamu milikku selama satu bulan ini, ikuti perintahku Sarah, termasuk yang satu ini." Bisikku, kudengar helaan nafas yang dikeluarkannya tetapi kali ini dia tidak menolak genggaman tanganku.


Aku membuka pintu untuknya lalu untuk diriku sendir, di perjalanan Sarah hanya melihat keluar jendela sambil memberitahukan alamat tempat tinggalnya sekarang, selebihnya dia mengabaikan kehadiranku. Aku mengendarai mobilku dengan pelan, kulirik Sarah yang sudah terpejam entah sejak kapan.


Wajahnya terlihat damai.


Tanganku gatal untuk menyentuh wajahnya tetapi aku batalkan niatku itu lalu fokus kembali pada jalanan di depanku, setelah kurang lebih 20 menit mobilku sampai di depan sebuah rumah besar dengan perkarangan hijau di depannya.


Rumah siapa ini.


Aku turun sendiri tanpa membangunkan Sarah, melangkahkan kakiku ke arah pintu dan mengetuknya. Saat ketukan keempat pintu itu terbuka dan menampilkan sosok pria yang aku ingat bernama Dave. Dia terlihat terkejut dengan kedatanganku tetapi setelah itu dia memunculkan lagi raut wajah dinginnya yang membuatku tidak peduli.


"Aku ingin menjemput Langit." Ucapku masih berdiri di hadapannya,


"Apa maksudmu dan dimana Sarah?" Tanyanya melewatiku dan mendongakkan kepalanya ke mobil utnuk melihat keberadaan Sarah namun aku memegang pundaknya.


"Terima kasih." Ucapku membuatnya tersentak terkejut dan menoleh ke arahku. " Terima kasih karena sudah menjaga Sarah dan Langit." Lanjutku.


"Aku melakukannya bukan untukmu." Jawabnya dingin.


Tanpa mempedulikan diamnya aku masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Langit yang ternyata berada di salah satu kamar tertidur pulas.


Aku mendekatinya dan membawanya dalam gendonganku. Papa akan membuat hidupmu bahagia sekarang, papa janjikan itu.


Aku keluar dari rumah dengan Dave yang masih terdiam di depan pintu, aku melewatinya dan memasukkan Langit di kursi belakang mobilku.


"Sekali lagi kau membuat Sarah merasa sedih dan dia datang kepadaku pada saat itu juga aku akan membawanya pergi jauh bahkan kau sendiri tidak akan tahu akan keberadaannya." Ucapnya menatapku tajam.


Aku pun masuk ke dalam mobilku dan menjalankannya menuju apartemenku.


Kali ini aku tidak akan pernah melepaskan dirimu lagi Sarah.


Setelah 45 menit lebih perjalanan akhirnya kami sampai di gedung apartemenku.


"Sarah." Panggilku pelan mengusap pipinya lembut, dia mengerjapkan matanya berkali-kali karena terbangun.


"Kita dimana? Langit." Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kita sudah sampai di apartemenku dan Langit sedang tertidur di belakang." Ucapku membuatnya menoleh ke belakang melihat Langit.


Aku keluar dari mobil menuju kursi belakang dan membawa Langit dalam gendongan tangan kiriku, Sarah ikut keluar dan aku langsung menggengam tangannya dengan tangan kananku tanpa adanya penolakan.


Beberapa orang melihat kami namun aku mengabaikannya sampai kami tiba di apartemen milikku segera membuka pintu. Aku meletakkan Langit di kamar yang dulu pernah digunakannya dengan Sarah.


"Kamu tidur di kamarku." Ucapku menarik tangannya menuju kamarku dan diikuti oleh Sarah yang terlihat pasrah.


Sarah pun duduk di tepi kasur milikku, sementara aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku dan mengganti bajuku.


Saat aku sudah selesai aku pun melihat Sarah yang ternyata sudah tertidur lelap di tempat tidurku dimana dari wajahnya sudah terlihat rasa letih.


Aku pun ikut menidurkan diriku sedniri di sampingnya dengan memeluk tubuhnya. "Good night, Sarah." Bisikku di telinganya.


Untuk pertama kalinya dalam hidupku setelah lima tahun belakangan ini aku merasakan tidur dengan nyaman, kuraba sebelah tempat tidurku tetapi aku tidak menemukan Sarah, segera kubuka mataku dengan cepat dan turun dari kasur mencari keberadaan Sarah, dengan berlari aku segera keluar kamar dan menuruni tangga.


Jika Sarah lari dariku aku benar-benar ak.


"Kamu kenapa?" Suara yang aku kenal, aku melihat Sarah yang meletakkan piring ke meja makan dengan apron yang dia kenakan, dia menatapku heran.


"Tidak." Balasku, aku segera pergi meninggalkannya menuju ke kamarku lagi.


Bodohnya aku sampai sepanik itu, seharusnya aku tidak perlu panik begitu.


Aku memutuskan untuk mandi, harir ini aku akan mengambil cuti untuk pekerjaanku aku akan bermalas-malasan dan tidak pergi ke kantor, mungkin nanti aku akan mengajak Sarah dan Langit pergi jalan-jalan, setelahnya aku harus bertanya kepada Sarah mengapa dia tiba-tiba pergi dariku kemarin hari, aku tahu ini pasti salah satu ulah dari Om Royhan.


Bersambung.