YOU!

YOU!
#23



"Masuk, banyak hal ingin aku bicarakan denganmu." Ucap Kristal datar, aku menuruti saja keinginannya. Aku masuk dan duduk di kursi sebelahnya.


Dia mengendarai mobilnya menuju ke sebuah restoran, sesampainya kami disana dia berjalan mendahuluiku dan naik ke lantai 2.


Sepertinya dia sudah memesan tempat privat.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" Kataku langsung.


Dia tersenyum miring, lalu dia mengambil sesuatu di dalam tasnya dan memberikannya kepadaku.


"Tulis berapapun nominal yang kamu inginkan." Katanya kepadaku, aku menatap cek kosong di depanku datar dan mengambilnya, tanpa ragu aku langsung merobeknya.


"Bukankah uang yang akan aku dapatkan akan lebih banyak jika aku bersama Kassa?" Ucapku sinis.


"Dasar murahan, apa kamu masih berfikir Kassa masih mencintaimu?" Tanyanya.


"Jika tidak, kenapa kamu harus takut seperti ini?" Balasku.


"KAU!" Geramnya.


"Kristal, aku tidak pernah mengancam seseorang sebelumnya karena aku tidak punya apapun yang bisa aku gunakan untuk mengancam seseorang seperti dirimu, tetapi sekarang aku mempunyai itu jadi jangan pernah berfikir atau mencoba untuk menjauhiku ataupun putraku dari sisi Kassa karena kamu tentu tahu ikatan antara orang tua dan anak sangatlah kuat, seperti ikatan anak dan ayah sebenarnya yang ada di kandunganmu, jadi berhentilah melakukan hal-hal seperti ini sebelum semuanya terlambat." Kataku berdiri lalu meninggalkannya.


"SARAH!" Dia berteriak membuatku berhenti.


Dia berjalan mendekatiku dengan tangan yang melayang di udara untuk memberikan tamparan di pipiku namun aku menahannya.


"Aku bukanlah wanita seperti dulu lagi Kristal, aku bisa saja menghancurkanmu tetapi aku tidak mau melakukannya karena itu sama saja sia-sia." Ucapku.


Aku melepaskan tanganku padanya dan langsung meninggalkan Kristal, setelah menjauhinya aku menghentikan langkahku dan bernafas lega.


Hari berat ini sepertinya akan terus aku alami.


*


Malam semakin gelap membuat isi di dalam club semakin ramai, aku melakukan pekerjaanku membersihkan gelas-gelas kotor dan mengantarkan minuman yang di pesan oleh tamu-tamu club.


Banyak orang yang datang hanya sekedar untuk melepaskan penat mereka selama seharian penuh bekerja, bau alkohol dan rokok sudah tercium di berbagai sudut club ini, bahkan beberapa pasangan muda mudi sudah sibuk bercumbu di setiap sudut ruangan.


Malam yang semakin larut tidak mengurangi jumlah tamu yang datang, bunyi musik yang menghentak membuat mereka meliukan badan mereka di atas lantai dansa dengan sensual, aku menyelip di antara kerumunan orang itu mengantarkan minuman ke salah satu bilik VVIP.


Sesampainya disana aku ditarik untuk duduk dan dihimpit dua orang pria berperut buncit, mereka mencoba untuk menyentuh paha dan bagian tubuhku yang lain, aku mencoba untuk berdiri namun mereka menarikku lagi dan menghimpit semakin erat.


Bisikan-bisikan sensual dari kedua pria itu tidak luput kuterima di kedua telingaku.


"Aku harus pergi." Kataku pada mereka tetapi mereka tidak melepaskanku, sekalipun aku memohon mereka tidak mendengarkannya, sampai akhirnya aku dipanggil oleh salah satu penjaga club membuatku dapat berdiri dan meninggalkan mereka.


Aku bernafas lega dan segera pergi menuju ke ruangan Shelly.


"Pergi ke alamat ini, dia menyewamu." Katanya menyorokan alamat sebuah hotel tetapi aku tidak mengambilnya.


"Aku tidak mau," Ucapku.


"Lakukan saja, aku sudah mengirimkan uangnya ke rekeningmu." Katanya lagi, aku hanya dapat menghela nafasku berat dan berharap bahwa Arga yang menyewaku malam ini seperti biasanya.


Sesampainya aku di alamat hotel yang dituju, aku menuju ke resepsionis untuk mengambil Key Card yang dititipkan klienku, setelah mengambilnya aku segera menaiki lift dan menuju ke lantai sesuai dengan nomor yang tertera di Key Card di tanganku.


"Halo, Arga?" Panggilku namun tidak ada sautan, aku berjalan sampai ke tengah ruangan sampai aku mendengar pintu kamar mandi terbuka. Seseorang keluar dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


"Ah, kamu sudah datang Sarah." Ucapnya menatapku, aku membeku melihat Kassa yang ada di hadapanku dengan rambut basah yang membasahi dada bidangnya.


Dia berjalan ke kasur dan duduk, sementara aku hanya dapat berdiri membeku menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku gugup.


"Aku menyewamu selama satu bulan penuh, 50 juta dollar sudah aku bayar, jadi sekarang kamu milikku untuk satu bulan ini, kamu harus mengikuti aturan dan perintahku." Katanya padaku, dia menatapku sementara aku masih diam tak bergeming.


Aku menjadi takut sekarang.


"Untuk permulaan kemarilah, cium aku. " Ucap Kassa menepuk pahanya, dia menyuruhku duduk disana, aku menggeleng kuat.


"Aku yang kesana atau kamu yang kesini? Duduk disini dan cium aku sampai aku bilang berhenti baru kamu boleh menghentikan ciumannya." Lanjutnya membuatku mundur selangkah.


Kassa bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahku membuatku mundur sampai tubuhku menabrak pintu dibelakangku, aku ingin membuka pintu itu yang entah kenapa terkunci secara otomatis, aku meneguk ludahku takut saat kurasakan nafas hangat yang membelai pipiku dan juga tangan hangat yang menyentuh punggungku.


Jika aku bergerak lebih aku yakin Kassa akan menarik tubuhku lebih erat kepadanya. Apa yang harus aku lakukan.


"Aku sengaja tidak menutup rapat pintu tadi jadi kamu bisa masuk, setelah dirimu masuk dan menutupnya, maka pintu itu akan terkunci dan hanya bisa dibuka dengan key card yang aku pegang." Bisiknya pelan.


"Kamu yang memilihnya sendiri jadi aku menurutimu untuk menghampirimu, jadi..." Aku merasakan nafas yang membelas leherku. "Jadi selamat datang kembali, Sarahku."


*


Kassa POV.


Sarah terdiam kaku sementara aku menikmati pemandangan yang ada di depanku, wajaha dan mata yang kurindukan benar-benar indah, aku mengurung tubuhnya dan mencekal kedua tangannya yang meronta sedari tadi sehingga aku harus menahan tangannya.


"Kamu sangat keras kepala Sarah, tidak selembut dulu saat aku mengenalmu." Bisikku lembut.


"Semua sudah berubah." Katanya membuatku tertawa melihat keberanian yang sudah dimiliki oleh Sarahku.


"Tidak ada yang berubah, tubuhmu bahkan merindukan sentuhan pemilik aslinya." Bisikku di telinganya, kuraih tubuhnya dan menggendongnya ke kasur lalu menghempaskannya disana, saat sarah hendak berdiri aku menghimpitnya dengan tubuhku sendiri.


Kamu berada di bawahku sekarang benar-benar membuatku hilang kendali.


"Lepaskan aku Kassa." Katanya pelan.


Aku mengabaikan kata-katanya karena tidak tahan akupun mencium bibirnya dan **********, tetapi aku melepaskan tautan kami karena merasakan Sarah yang tidak membalas ciumanku, aku menatapnya datar.


"Benar-benar bukan Sarahku yang dulu." Lirihku.


"Dia sudah tidak ada." Ucapnya menatapku.


"Tidak, dia hanya bersembunyi menjadi sosok yang kuat."


Aku akan menunggumu Sarah, aku akan bersabar untukmu.


Bersambung.