YOU!

YOU!
#7



Angkasa POV.


Aku sudah di depan gedung Day Care tempat Sarah menitipkan Langit, aku melihat Sarah menciumi pipi tembam milik Langit berkali-kali dan pergi.


Aku tahu bahwa hari ini Sarah akan datang ke kator CM Agency karena Calvin memberitahukanku bahwa Sarah lolos untuk audisinya sebagai model.


Setelah itu aku kembali ke kantorku dan menghabiskan waktuku dengan beberapa dokumen dan meeting.


“Charles.” Panggilku kepada asisten pribadiku saat kami berada di ruang meeting.


“Iya, Tuan.” Jawabnya.


“Sudah kamu siapkan proposal untuk CM Agency seperti yang aku minta?” Tanyaku tanpa melihat ke arahnya karena mataku masih sibuk dengan laporan pada laptopku.


“Sudah, Tuan. Pihak CM Agency juga sudah setuju dengan syarat-syarat yang kita ajukan untuk kerja sama ini, hanya saja kita belum menentukan model yang akan kita pilih.” Jawabnya.


Aku tersenyum simpul. “Aku sudah menemukan modelnya.”


Jam ditangan ku sudah menunjukkan pukul 11.30 AM. 30 menit lagi Langit akan istirahat. Aku merindukan anak itu.


Setelah keluar dari kantorku, aku mengendarai sendiri mobilku dan menuju ke gedung Day Care tempat Langit dititipkan.


“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya resepsionis dengan ramah.


“Saya ingin bertemu Langit.” Ucapku dingin membuatnya mengernyitkan alisnya heran. “Saya teman Sarah Gibran.” Lanjutku lagi membuatnya tersenyum dan menunjuk ke arah Langit yang sedang duduk sendiri. Apa dia tidak mempunyai teman?


Aku melihat arah pandangannya. Melihat anak-anak sebayanya makan ditemani oleh orang tuanya, ada sama ibunya atau sama ayahnya saja, seketika hatiku sakit.


“Sky.” Panggilku lembut, berjongkok di depannya untuk menyamai tinggi kami.


“Uncle!!!” Teriaknya senang dan memelukku.


Ada perasaan hangat yang menjalar pada tubuhku, aku membalas pelukannya membuatnya memelukku erat.


“Sky sudah makan?” Tanyaku kepadanya yang sedang memegang kotak bekalnya.


“Belum, kita kan kemarin sudah janjian. Langit bakal kasih uncle bekal makanan Langit, terus uncle bakal beliin Langit makanan apapun yang Langit mau.” Ucapnya dengan senang.


Waktu pertemuanku terakhir dengan Langit di taman itu, aku disuapi oleh Langit nasi goreng buatan Sarah sebagai bekal makan siang Langit dan rasa makanan itu sangat enak membuatku sangat ketagihan dibuatnya.


Aku pun membuat janji dengan Langit bertukar bekal makanannya dengan makanan yang diinginkannya.


Aku menggendongnya dengan satu tanganku.


“Oke, Langit mau makan apa hari ini?” Tanyaku dan mengambil tas punggungnya di loker.


“Hmm, Langit pengen banget makan burger, kentang goreng sama milk shake. Soalnya Langit belum pernah makan makanan itu di restorannya langsung.” Ucapnya.


“Memang mama gak pernah bawa Langit kesana?” Tanyaku dijawab dengan gelengan kepalanya.


“Hmm Langit gak mau susahin mama juga, mama sudah capek-capek kerja buat Langit.” Ucapnya membuatku hatiku sedih dan mengecup pipi gembulnya yang membuatnya kegelian dengan bulu-bulu halus pada wajahku.


“Oke, ayo kita berangkat.” Kataku membuatnya mengangkat kedua tangannya senang.


Setelah izin dengan resepsionis Day Care yang bernama Jean untuk membawa Langit pergi bersamaku, kami pun meninggalkan gedung itu menuju restoran cepat saji yang berada beberapa blok dari sana.


Sesampainya kami di dalam, aku memesan semua makanan yang diinginkan Langit dari burger keju berukuran besar, kentang goreng curly dan milk shake big size. Untukku sendiri?


Aku tidak memesan apapun, aku akan memakan makanan Sarah hari ini yang membuatku sangat ketagihan.


“Oke, sekarang mana bekal makanan Langit?” Tanyaku tidak sabar, dia membuka tasnya dan mengeluarkan bekal makanan dan botol minumannya.


“Ini Langit kasih bonus minumnya juga.” Ucapnya dengan wajah yang dibuat cool membuatku tidak henti-hentinya tersenyum dengan tingkah lucunya.


Aku menyerahkan nampan yang berisi makanan pesanannya, membuat mata yang sama denganku itu berbinar dan membulat.


“Selamat makan.” Ucap kami bersama-sama.


Kami makan dalam keheningan, menikmati makanan kami masing-masing dengan lahap tanpa bersuara.


Sepulangnya aku mengantarkan Langit kembali ke tempat penitipan, mood ku berubah 180 derajat menjadi baik.


Senyuman tidak henti-hentinya terlukis di wajahku sampai aku tidak menyadari ponselku bergetar dan menampilkan nama Kristal di layarnya.


Buat apalagi wanita itu menghubungiku, apa uang yang aku kirim seminggu kemarin sudah dihabiskannya lagi.


Kristal memang adalah wanita yang setia menemaniku selama aku menjalani perawatan psikologiku akibat seringnya mengalami mimpi buruk.


Tetapi wanita itu juga yang selama lima tahun ini selalu meminta uang dariku untuk kehidupannya di Paris.


Sebelumnya aku tidak pernah mempermasalahkannya, tetapi semakin lama tingkah wanita itu semakin membuatku jengah dan entah bagaimana keluargaku bisa-bisanya menyukai wanita itu.


Mobilku melaju menuju gedung CM Agency berada. Tujuanku kesana adalah untuk melakukan MoU dengan mereka, tetapi sebenarnya tujuanku ingin melihat Sarah, wanita yang akan menjadi milikku. Harus menjadi milikku.


Mood ku yang sebelumnya kesal akan Kristal berubah lagi menjadi senang, dengan semangat aku menekan pedal gas mobil sportku.


Sesampainya aku di gedung CM Agency, semua mata melihatku penuh minat namun aku mengabaikannya.


Resepsionis mengantarkan ku menuju ruang meeting setelah aku mengatakan tujuan kedatangan ku.


Saat aku memasuki ruang meeting yang berada di lantai 1, senyumku mengembang melihat sebuah foto baru yang terpasang pada dinding gedung ini.


The New Face of CM Agency Sarah Gibran, kamu memang pantas mendapatkannya.


Dalam meeting kali ini sudah hadir Calvin juga asistennya dan aku beserta Charles yang sudah membawa berkas yang akan kami tanda tangani berdua.


“Oke, Angkasa. Setelah penandatanganan MoU ini, dari pihak Glamour harus menentukan siapa model yang akan kalian tunjuk menjadi model untuk majalah kalian.” Ucap Calvin setelah berjabat tangan denganku.


“James, tolong ambilkan semua portofolio model kita.” Lanjut Calvin kepada asistennya.


“Tidak perlu, aku sudah menentukan siapa model yang aku pilih.” Ucapku. “Sarah Gibran.” Lanjutku lagi membuat Calvin tersenyum melihatku dan aku tidak memperdulikannya.


Aku melihat ruang training dari para model CM Agency yang sedang berlatih setelah menyelesaikan urusanku dengan Calvin.


“Ya, Sarah! Lebih fierce lagi! Tegakkan langkahmu.” Sarah sedang melangkahkan kakinya pada jalur runway telihat kesusahan, rasa paniknya tidak dapat dia sembunyikan di balik wajah fiercenya itu. Aku mengintip dari celah pintu.


Dia terlihat sedikit kesusahan dengan sepatu high heels yang di kenakannya, tetapi walaupun dia hanya menggunakan baju kaos hitam dan celana jeans biru navy, tidak menghilangkan kecantikan dan kharisma yang ditampilkannya di atas jalur runway tersebut. Aku pun tersenyum.


Setelah puas melihat Sarah, aku masuk ke dalam mobil.


“Charles, cari tahu lagi semua tentang Sarah dan Langit, semua hal tentang mereka, aku ingin tahu semuanya.” Perintahku.


“Ba…baik, Tuan.”


Raut wajah Charles yang terlihat berubah membuatku curiga, tetapi aku menepis praduga ku tentang hal itu, aku hanya ingin menghabiskan waktu hari ini untuk berjumpa matahari esok pagi. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu Langit.


BERSAMBUNG.