
Aku sampai di depan rumah yang terlihat rapi dan bersih dengan taman hijau yang terawat.
"Sarah!" Teriakan Dave dari depan rumah dengan pintu yang terbuka memelukku erat. "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya.
"Aku baik-baik saja, Dave. Bagaimana denganmu?" Ucapku tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya, matanya mencari sosok lain yang sednag berlari di taman depan rumahnya.
"Mana ini kesayangannya Uncle Dave?" Teriaknya membuat Langit yang sedang sibuk bermain melihat dan berlari ke arahnya.
"UNCLE!!" Teriak Langit yang langsung disambut pelukan oleh Dave.
"Ayo masuk, aku tahu kalian berdua pasti lelah." Ucap Dave dan mempersilahkan kami melangkah masuk.
Mataku meneliti ruangan di dalam rumah Dave, banyak lukisan-lukisan indah dan beberapa foto yang terpasang di beberapa bagian dinding rumah, bahkan aku melihat ada foto aku, Dave dan Langit yang terpasang di salah satu bagian tembok.
"Kamu istirahat saja dulu, Sarah. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kalian. Aku akan menjaga Langit selama kamu beristirahat." Ucap Dave dan meletakkan Langit di dalam kamar yang sudah berisikan banyak sekali mainan, membuat anak kecil itu sudah sibuk dengan dunianya sendiri.
"Terima kasih, Dave." Aku pun mausk ke dalam kamar yang ditunjuk Dave, merebahkan tubuhku di kasur empuk sampai semua menjadi gelap. Aku benar-benar lelah.
*
Aku keluar kamar tepat saat Dave membangunkanku untuk makan malam, di meja sudah tersedia makanan yang mungkin sudah disiapkan oleh Dave, Langit pun terlihat makan dengan lahap atas makanan yang dimasak Dave.
Aku ikut bergabung bersama Dave dan memulai makan malam kami dalam diam. Setelah selesai makan aku membersihkan semua peralatan makan dan mencucinya. Tidak lama setelah Dave mengantarkan Langit ke kamar karena tertidur, dia bergabung bersamaku.
"Sarah, apa sebenarnya yang sudah mereka lakukan kepadamu?" Tanyanya membuatku berhenti meletakkan piring yang sudah aku bersihkan. Aku tidak mau lagi membahas masalah ini.
"Tidak ada, Dave." Ucapku setelah menenangkan diriku. Aku mengeringkan tanganku dengan handuk di sebelahku dan duduk bersamanya di kursi makan.
"Aku hanya ingin pergi saja dari kehidupan di kota." Lanjutku lagi membuatnya hanya menghela napasnya berat.
"Baiklah, kalau begitu kamu tinggal saja disini bersama Langit. Anggap saja ini adalah rumahmu sendiri." Ucapnya. "Tolong jangan menolak permintaanku ini, ijinkan aku membantumu kali ini." Lanjutnya lagi saat aku ingin membantah kata-katanya.
"Baiklah, terima kasih, Dave. Maaf aku belum bisa membalas semua kebaikanmu. Besok aku akan mencari pekerjaan dan aku juga masih ada tabungan, jadi kamu tidak perlu khawatir dengan kondisi keuanganku." Ucapku yang sebenarnya tidak disetujui Dave untukku mencari kerja, karena dia bisa membiayai semua kebutuhanku, hanya saja aku tidak mau lebih merepotkannya.
Keesokan paginya, aku menitipkan Langit untuk dijaga Dave sementara selama aku mencari pekerjaan. Aku berhenti di sebuah Club di waktu matahari sudah terbenam. Seharian ini aku mencari kerja dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhku, tetapi tidak ada sama sekali tempat yang menerimaku dengan ijazahku yang hanya lulusan SMA.
Dengan ragu aku melangkah masuk dan bertanya kepada penjaga pintu untukku bertemu dengan manager club ini. Aku dibawa ke sebuah ruangan dimana terdapat seorang perempuan yang bernama Sandy dengan rokok di selip jari-jarinya.
Dengan senyuman yang tidak dapat aku artikan dia melihatku yang berdiri di depannya gugup.
"Siapa namamu?" Tanyanya.
"Sa-Sarah." Ucapku.
"Kau mau bekerja disini? Kau tahu kan tempat apa yang kau masuki ini." Tanyanya dengan tersenyum.
"A-Aku mau melamar sebagai pelayan." Jawabku.
"Baiklah, kau boleh bekerja dan kau dapat mulai dari sekarang." Ucapnya dan melempariku pakaian yang terbungkus rapi.
Aku berdiri dan mengucapkan terima kasih dan segera mengganti pakaianku dan turun membantu beberapa pelayan yang lain, aku tersenyum ramah pada mereka dan membawakan minuman ke beberapa meja, ada beberapa laki-laki yang dengan sengaja melihat ke arahku dan menggodaku bahkan ingin menyentuhku. Sampai akhirnya aku dipanggil kembali oleh Sandy ke ruangannya.
"Ada yang menyewamu malam ini secara pribadi, dia sudah mengirimkan uangnya ke rekeningmu." Ucap Sandy.
Ha? Siapa?
Aku hendak protes namun dua penjaga Sandy menarikku dan membawaku ke sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar hotel. Mereka melemparku ke dalam dan menutup pintu di belakangku.
"Hei, keluarkan aku!!!" Teriakku, tetapi mereka mengabaikanku. Apa yang harus aku lakukan.
Aku tersentak karena mendengar suara sepatu yang melangkah di belakangku, aku mencoba untuk membuka pintu namun gagal. Aku mebalikkan tubuhku melihat laki-laki itu yang sudah berdiri di depanku.
"Arga." Suaranya. "Namaku Arga." Ucapnya lagi dan tanpa aba-aba dia menarik tanganku dan menjatuhkan diriku di atas kasur, aku mundur namun dia menarikku hingga aku terduduk di tepi ranjang. "Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin ditemani saja." Ucapnya pelan.
Aku bernafas lega dan mataku beralih kepadanya.
"Aku kehilangan seorang wanita dan juga anakku, dia tengah mengandung anakku." Suaranya lirih, aku tidak berniat mengganggunya dan membiarkannya melanjutkan ceritanya.
"Kami dulu bersahabat, dia datang ke apartemenku dan dia minta berhubungan intiim dengannya, dia memintaku menghamilinya, aku menolak keras namun dia memohon, aku memang mencintainya tetapi aku tidak bisa, dia mencintai orang lain dan dengan kehadiran anak di kandungannya dia bisa mengikat orang itu, tetapi itu anakku, dia hendak menikah beberapa bulan lagi." Lirihnya, dia menatapku lekat.
"Aku melepaskannya untuk bahagia, aku melepaskannya dengan pria yang dicintainya bersama dengan anakku yang dia kandung, aku melepaskannya karena itu yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk melihat orang yang dicintainya bahagia." Lanjutnya masih menatapku, ada luka di matanya.
"Kenapa kamu melepaskannya?" Tanyaku pelan.
"Karena aku mau dia bahagia, dia adalah orang yang aku cintai dan aku ingin orang yang aku cintai bahagia." Ucapnya.
Itu juga yang aku lakukan untukmu, Kassa.
"Tetapi kamu sakit, Arga." Ucapku.
"Aku lebih menyukai aku yang merasakan sakit daripada dia." Balasnya sendu, aku menatapnya lekat, dia benar-benar mencintai wanita itu bahkan sangat mencintainya.
"Dia mirip denganmu, namanya Kristal." Suaranya memberitahuku, aku membeku tak bergerak. "Dan nama calon suaminya Angkasa, Angkasa Pratama." Lanjutnya.
Aku terdiam mendengar fakta itu.
Ti-tidak mungkin.
"Dia akan menjadi ayah dari anakku." Suaranya pilu tertunduk lemah di depanku. Aku mencoba mencerna semuanya, mencerna semua kata-katanya.
Apakah ini semua benar, bagaimana bisa? Jadi Kristal hamil anak Arga bukan Kassa?
BERSAMBUNG.
Author jadi sedikit ragu untuk lanjutin ceritanya dikarenakan tidak ada yg vote atau dukung :(
Jadi bimbang Author buat lanjutin.