
Sarah POV.
“Mama.” Teriak Langit saat aku turun dari mobil Dave. Dia berlari kecil dan langsung memelukku erat.
“Bagaimana hari Langit hari ini, kelihatannya Langit seneng banget.” Ucapku menunduk mensejajarkan tinggiku dengannya.
Dia hanya tersenyum senang membuatku mengusap kepalanya lembut.
“Uncle Dave kenapa?” Tanya Langit melihat Dave dengan wajah murung di sebelahku.
Dave ikut mensejajarkan tingginya dengan kami. “Uncle Dave hanya butuh pelukan Langit.”
Langit dengan cepat langsung memeluk Dave dan menepuk pelan pundaknya.
“Uncle Dave jangan sedih, tenang aja disini ada Langit, siapa yang jahatin Uncle biar Langit temuin.” Ucap Langit yang membuatku dan Dave tertawa.
“Enggak, Uncle hanya kecapean aja hari ini, ya sudah Langit sudah makan?” Tanya Dave.
“Sudah kok, Uncle. Mama kita pulang aja ya, nanti aja jalan-jalannya, Langit capek.” Ucapnya membuatku heran karena tidak biasanya Langit langsung meminta pulang saat aku jemput, tetapi aku menghilangkan prasangka ku karena tubuhku juga merasa sangat lelah karena audisi yang aku lakukan.
Kami masuk ke dalam mobil dengan Dave yang masih diam karena pertemuannya dengan Angkasa.
Mobil berhenti di depan gedung tempat tinggalku. Dave membawa Langit yang sudah tertidur di dalam kamarnya.
Aku menuju dapur membuat dua cangkir jasmine tea hangat. Aku tahu malam ini akan menjadi obrolan panjang untukku dan Dave.
Aku membawa dua cangkir teh ditangan ku ke ruang tamu dimana Dave sudah duduk dan melamun.
Suara cangkir dengan meja kaca membuat Dave tersentak kaget. “Sar.” Ucapnya. “Minum, Dave.”
Dave mengambil cangkir di depannya dan menyesap pelan teh yang aku buat. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanyaku, meletakkan cangkir tehku yang masih mengeluarkan uap panas.
“Aku akan membawamu pergi dari sini, dari negara ini.” Ucapnya tanpa menatapku.
“Dave.” Kataku lembut membuatnya menatap mataku. Ada ketakutan dan kemarahan pada manik matanya.
“Aku tidak akan membiarkan dia membawamu kembali dariku.” Melihat Dave seperti ini membuatku memejamkan mataku.
Aku tidak ingin mengecewakan laki-laki di depanku ini. Dia sudah banyak membantuku setelah kepindahan ku disini, sudah banyak pengorbanan yang dilakukannya untukku.
Bahkan dia sudah menganggap Langit yang bukan anak kandungnya sudah seperti anaknya sendiri.
Hanya saja hatiku berkata lain. Angkasa berhasil memporak-porandakan hatiku kembali. Rasa sakit itu masih ada, tetapi tidak lebih besar dengan rasa rinduku.
Aku merindukannya dan ini bukan kesalahannya. Ini kesalahanku, keegoisanku, seandainya waktu aku memintanya untuk tidak pergi, semua hal ini tidak akan terjadi.
“Dave, kemanapun kita pergi, Kass…maksudku dia pasti akan menemukan kita kemanapun kita pergi, apalagi apabila kita pergi secara tiba-tiba, itu akan membuatnya curiga.”
Aku sangat tahu dengan sikap keras kepalanya.
Dave menghela napasnya berat.
“Sarah, berjanjilah jangan tinggalkan aku. Apapun yang terjadi aku mohon jangan kembali kepadanya, walaupun nanti dia akan mengingatmu kembali.”
Aku terdiam mendengar permintaan Dave. Apa yang harus aku lakukan.
“Sarah, berjanjilah.” Aku mengangguk. Maafkan aku Dave.
Ponsel yang aku letakkan di atas meja bergetar satu kali menandakan adanya sebuah pesan yang masuk.
“Dear Sarah Gibran. Terima kasih untuk ketersediaan anda mengikuti audisi di CM Agency dan selamat anda lolos menjadi salah satu model CM Agency. Mohon untuk datang besok pukul 10 AM di lantai 2 gedung CM Agency. Terima kasih.”
Aku tidak tahu apa yang aku rasakan setelah membaca isi pesan di ponselku.
“Aku tahu kamu akan lolos Sarah. Kamu mempunyai kriteria dan kharisma sebagai seorang model.” Ucapnya.
Dave mengulurkan tangannya. “Selamat, aku harap Langkah awal ini adalah jalan terbaik untuk kamu dan Langit, setelah ini semua ada di tanganmu, aku hanya dapat membantumu sampai ini saja.” Ucapnya.
Aku memeluk Dave erat dan tidak terasa air mata bahagiaku pun mengalir.
“Terima kasih, Dave. Aku tidak tahu lagi bagaimana membalas jasa-jasamu selama ini untukku dan Langit.” Kataku sendu.
“Aku hanya ingin melihat kamu dan Langit bahagia, dan tetaplah bersamaku apapun yang terjadi.” Ucapnya membuatku menelan salivaku. Apa yang harus aku lakukan.
Keesokan harinya, setelah mengantarkan Langit ke tempat Day Care, aku pergi ke tempat kafe ku bekerja dulu untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai pelayan di Padre Cafe.
Ms. Rose mengatakan sangat berat untuk melepaskan ku dari kafe miliknya begitu pun dengan diriku.
Padre cafe adalah rumah kedua bagiku, aku banyak dibantu oleh sesama rekan kerjaku disana, begitu juga dengan Ms. Rose.
Dia sudah aku anggap sebagai kakak kandungku, tetapi dengan keputusan yang telah aku pikirkan dengan baik, aku harus rela melepaskan pekerjaanku disana.
Sekarang aku sudah berdiri di depan gedung CM Agency. Berharap ini adalah keputusan terbaik untukku dan Langit ke depannya. Aku pasti bisa.
Aku membuka pintu kaca yang bertuliskan CM Agency. Apa yang terjadi?
Semua mata pada lobi melihatku, mengamati diriku dari atas sampai bawah membuatku berjalan dengan kikuk dan menunduk, aku tidak ditemani oleh Dave hari ini karena Dave sudah berangkat ke Rusia untuk pemotretan.
Aku mendekati meja resepsionis tempatku kemarin mendaftar.
“Pagi, Ms. Gibran.” Sapa wanita cantik dengan pakaian kantor berwarna hitam yang terlihat pas pada tubuhnya. “Pagi.” Jawabku.
“Kedatangan anda sudah di tunggu oleh Mr. Calvin di lantai 2.” Ucapnya sopan, aku menganggukkan kepalaku. “Terima kasih.”
Saat aku melangkahkan kakiku untuk menaiki tangga ke lantai 2, terlihat sebuah foto baru yang terpasang berdampingan dengan foto milik Dave.
The New Face of CM Agency Sarah Gibran.
“Apa ini?” Gumamku kecil.
Foto audisiku terpasang dengan beraninya menatap semua orang di dalam lobi CM Agency.
“Sarah.” Suara Calvin di belakang mengejutkanku.
“Ehmm pagi Mr. Calvin.” Sapaku gugup.
“Call me Calvin, Sarah.” Ucapnya.
Aku menganggukkan kepalaku dan melihat lagi fotoku pada dinding khusus di depanku. Aku menelan salivaku.
“A…apa ini, Calvin?” Tanyaku melihat foto seorang wanita yang tidak aku sangka adalah diriku.
“Foto ini sangat mengagumkan, Sarah. Di dalam foto ini kamu sangat dapat menghargai desainer yang merancang baju itu, memperlihatkan sisi yang memang ingin ditampilkan baju tersebut.” Jawab Calvin melihat fotoku dengan tersenyum.
“Caramu duduk dan meletakkan tanganmu seperti itu terlihat sangat natural, bahkan ekpresi wajahmu so fierce.” Lanjutnya lagi.
Dia sekarang menghadapku.
“Tetapi jangan sampai puas dengan hasil yang ada. Kamu melakukan pemotretan ini sebanyak 20 kali take dan hanya 2 foto yang menurutku sangat layak untuk dikatakan foto seorang model, tetapi aku dapat melihat bahwa kamu mempunyai potensi untuk menjadi model yang terkenal Sarah, jadi berjuanglah.” Lanjut Calvin dengan tersenyum, setelah itu dia pergi meninggalkanku dengan semangat membara yang diberikannya.
Aku bisa, pasti bisa.
BERSAMBUNG.