
Sarah POV.
“Ma, mama.” Aku terbangun saat suara Langit membangunkanku yang ternyata sempat tertidur.
Aku mendudukkan diriku dan melihat ke arah Langit yang sedang memegang perutnya dengan bibir yang di majukan.
“Langit lapar, Ma.” Ucapnya membuatku sadar bahwa Langit belum makan malam, dan waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Aku keluar dari kamar dan melihat Angkasa tertidur di sofa dengan televisinya yang masih menyala.
Aku mendekatinya dan melihat wajah damainya yang sedang tertidur dengan tenang.
“Ja…jangan tinggalkan aku.” Suara Angkasa dengan mata yang masih terpejam. Dia bermimpi.
Keringat dingin mulai sedikit memenuhi wajahnya dan dia menangis.
“Aku mohon jangan tinggalkan aku.” Ucapnya lagi, melihat kondisi Angkasa yang terlihat sangat ketakutan membuatku mendekatinya, aku menyentuh keningnya. Panas, dia sakit?
Aku mencoba membangunkannya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya.
“Angkasa.” Panggil ku lembut.
“Ahh.” Jawabnya bangun dari tidurnya dan membenarkan posisi duduknya. “Ada apa?” Tanyanya.
Ingin aku bertanya apakah dia sakit atau tidak, hanya saja masih ada rasa takut dalam diriku terhadapnya.
“Hmm, boleh kah aku meminjam dapur? Langit belum makan.” Kataku.
“Oh silahkan.” Ucapnya dan berlalu pergi dari hadapan ku dan masuk ke dalam kamarnya dengan wajah pucat.
Aku menghela napas ku, “Dia sama sekali tidak berubah, masih berpura-pura kuat saat sedang sakit seperti ini.” Gumamku.
Aku menuju ke dapur dan mengecek isi kulkas besar Angkasa.
“Mungkin aku bisa memasak sup untuknya.” Setelah menyelesaikan masakan ku dan menyiapkannya di atas meja makan, aku memanggil Langit yang sedang menonton televisi di ruang tamu bersama Angkasa, sesekali mereka bermain membuat Langit
tertawa gembira.
Aku berpikir bahwa selama ini Langit memang membutuhkan papa nya.
Kami sudah duduk di meja makan, aku hanya menatapi Angkasa dan Langit yang tampak menikmati makanan mereka.
Mereka benar-benar sangat mirip bahkan saat sedang makan seperti ini. Setelah selesai makan, aku membereskan bekas makan mereka dan mencucinya.
“Langit ngantuk.” Ucap Langit yang memeluk kaki ku di saat aku sedang mencuci piring.
Tiba-tiba saja Angkasa datang dan menggendong Langit. “Uncle yang bawa Langit ke kamar ya.” Ucapnya dan pergi menuju ke kamar ku dan Langit.
Tidak lama kemudian Angkasa keluar dari kamar dan duduk lagi di sofa ruang tamu.
Aku yang sudah selesai mencuci piring membawakannya satu gelas air jahe.
“Minumlah.” Ucapku meletakkan gelas itu di atas meja.
“Kita bicara sebentar.” Tanyanya saat aku berlalu pergi untuk ke kamar.
Aku berhenti dari langkahku dan menganggukkan kepalaku melihatnya dalam posisi berdiri.
“Mulai sekarang kalian akan tinggal disini.” Katanya, aku hanya mendengar perkataannya tanpa berkata apapun.
“Aku akan mencari baby sitter, jadi dia tidak perlu ke Day Care lagi.” Lanjutnya.
“Dan…maafkan aku.”
Aku melihatnya tertunduk dan aku tahu bahwa dia menyesal akan perbuatannya kepadaku hari ini, tetapi ada satu hal yang membuatku harus menjauhinya karena semua ini berhubungan dengan keselamatan ku dan Langit.
Aku meninggalkannya tanpa berkata apa-apa menahan air mataku agar tidak terjatuh.
“Tidak bisakah kamu memaafkan ku dan memulai semua ini dari awal?.” Ucapnya. Maafkan aku Kass, aku tidak bisa.
Angkasa POV.
Aku memejamkan mata dan mencoba mengendalikan diriku, mendekati Sarah sangat amat membutuhkan kesabaran, biasanya setiap wanita akan dengan mudah takluk di hadapan ku, tetapi tidak dengan Sarah.
Aku melihat minuman yang diberikannya kepadaku di atas meja, aku mengambil dan menyesap minuman jahe yang dibuatkannya untukku, tubuhku terasa sedikit segar kembali setelah tadi aku merasakan sedikit kedinginan.
“Mungkin aku memang sudah saatnya membutuhkan seseorang yang merawatku.” Gumamku.
Aku berjalan mendekati kamar Sarah dan Langit, dengan perlahan aku membuka pintu kamar mereka dan menatap mereka dari ambang pintu, setelah yakin mereka tidak menyadari kehadiran ku dan melihat mereka sudah tertidur, aku berjalan mendekati mereka.
Aku melihat Sarah memeluk Langit dengan erat seakan tidak mau melepaskannya.
Kamu tahu Sarah, aku tidak akan pernah memisahkan kalian berdua, tetapi jangan paksa aku, aku mohon.
Aku mengecup kening Langit dengan lembut dan pelan agar tidak membangunkannya.
Aku kembali ke kamarku, mencoba untuk tidur dan berharap akan bermimpi indah.
***
Tidak seperti pagi biasa yang aku lewati, apartemen tempat ku tinggal pagi ini terasa ramai, aku mendengar suara teriakan Langit membuatku terbangun dan tersenyum senang.
Aku melihat jam dinding di depan tempat tidur ku yang menunjukkan pukul 7 pagi. Satu jam lagi aku akan pergi ke kantor karena ada meeting dengan beberapa klien ku.
Aku turun dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
Selesai mandi dan mempersiapkan diriku, aku keluar dari kamarku.
“Selamat pagi, Langit.” Sapaku dan duduk di sebelah Langit dengan mulut yang penuh dengan nasi gorengnya.
Dia tersenyum dan membalas sapaanku.
“Langit tidur nyenyak semalam?” Tanya ku.
“Iya, Uncle.” Jawabnya membuatku tersenyum bahagia.
Sarah tiba dengan membawa sepiring nasi goreng dan diletakkan di depanku.
“Terima kasih.”
Kami kembali diam, hanya terdengar suara celoteh Langit, aku menatap wajah Sarah yang melihat Langit dengan penuh rasa cinta.
Seandainya dia tidak sekeras kepala sekarang dan bisa sedikit saja membuka hatinya untukku, aku akan memberikan segalanya yang dia butuhkan dan inginkan di dunia ini bahkan nyawaku.
Aku pertama kali selesai menghabiskan sarapan berdiri meninggalkan mereka berdua.
“Angkasa.” Suara Sarah memanggilku membuatku menghentikan langkahku di depan pintu.
Dia menyerahkan satu buah bungkusan kepadaku.
“Kamu tidak perlu lagi untuk menukarkan makan siangmu kepada Langit, dan aku juga tidak mau Langit terlalu banyak makan makanan yang tidak sehat di luar sana.” Ucapnya membuatku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Dia tahu.
Dia mendekatiku membuat detak jantungku berdebar cepat dan membenarkan dasi ku.
“Ehem, hari ini kamu akan ke CM Agency lagi?” Tanyaku mencoba mengalihkan perhatian ku.
Dia menganggukkan kepalanya dan mundur beberapa langkah setelah membenarkan letak dasi ku.
“Sebentar lagi Baby Sitter Langit akan datang, setelah itu kamu boleh pergi.” Ucapku dan aku pun pergi meninggalkan apartemenku dengan penuh senyuman dan menggenggam erat bungkusan bekal makan siang ku.
Sesampainya di kantor ku, aku langsung menuju ke ruangan ku. Beberapa orang menyapa ku dengan ramah namun seperti biasa aku mengabaikannya, aku masih tetap memegang bungkusan bekal makanan yang diberikan oleh Sarah, bahkan Charles yang menawarkan bantuan untuk membawa bekal
makanan ini aku tolak dengan keras.
Aku tidak mau siapapun menyentuh barang berharga milikku.
Aku masuk ke dalam ruanganku dan sedikit terkejut akan sosok seorang wanita yang berdiri di hadapan ku.
Dia berjalan mendekati ku dengan langkah anggunnya membuat sepatu berhak tinggi yang digunakannya terdengar jelas di telingaku, dia tersenyum dan mengecup pipiku dengan bibirnya yang berwarna merah.
“Halo, Sayang.” Ucapnya.
Kristal.
BERSAMBUNG.