YOU!

YOU!
#17



Napasku terengah-engah dengan keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku, mimpi tadi benar-benar membuat tubuhku menggigil hebat, mimpi akan kepala Angkasa yang berada di tangan Bara membuatku benar-benar ketakutan. Kassa aku mohon jangan tinggalkan aku.


Sesuatu mengganggu penglihatanku di saat aku sedang berbicara dengan diriku sendiri, sosok itu berdiri di dekat pintu dengan posisi yang sama seperti di mimpiku. Dalam hati aku berdoa semoga itu bukanlah sosok di dalam mimpiku.


KLIK.


Lampu di kamarku menyala membuat pupil mataku sedikit membutuhkan waktu untuk menyesuaikan terangnya kamarku sekarang. Sosok itu mendekatiku dia membawa sesuatu, kali ini bukanlah kepala seseorang melainkan sebuah amplop berwarna coklat.


“Tanda tangani ini.” Ucapnya melemparkan amplop tersebut di atas kasurku sebelum dia mendudukkan tubuhnya di sofa. Tatapannya kepadaku masihlah terlihat sama setiap kali aku bertemu dengannya, tatapan merendahkan dan menghina. Om Royhan.


Aku membuka amplop di depanku. Surat perceraian?


“A…apa ini?” Tanyaku gugup melihat isi surat di tanganku.


“Itu adalah surat perceraianmu dengan Angkasa, segera tanda tangani itu dan pergi dari rumah ini atau bahkan mungkin dari negara ini, kamu adalah wanita pembawa sial untuk semua orang, setiap orang yang berada di sekitarmu akan tertimpa sialnya, si bodoh Alex bahkan ibumu.” Ucapnya tanpa ada satupun kata-katanya yang dapat aku lawan, semua kata-katanya tidak ada yang salah. Akulah penyebab kematian mereka.


“Aku akan memberikanmu waktu, pikirkan dengan baik apabila kamu menolak untuk menandatanganinya kamu akan tahu akibatnya terhadap orang-orang di panti tempatmu tinggal dahulu dan keputusan itu ada di tanganmu.” Lanjutnya dan berlalu pergi meninggalkanku.


Pundakku bergetar dengan wajah menunduk, memegang kertas ditanganku dengan air mata yang membasahi beberapa titik di kertas tersebut. Apa yang harus aku lakukan.


Kamu bisa menjaga diriku seperti yang sering kamu lakukan, jaga diriku dengan baik seperti biasa, dan aku akan menjaga dirimu seperti kamu menjagaku. Itulah hal yang dilakukan sepasang kekasih, sepasang kekasih yang memutuskan untuk menikah. Kita bisa saling melindungi dan itu adalah yang terbaik. Aku percaya padamu, Sarah.


Aku percaya padamu.


Suara Kassa dengan kata-katanya sebelum kami menikah kembali berputar di kepalaku sampai aku terlelap dengan air mata yang mengering.


Keesokan harinya aku terbangun, aku mengerang pelan saat rasa mual di perutku dan rasa sakit di kepalaku menyerang.


Aku memaksakan tubuhku untuk bangun dan bergegas lari menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku.


Memuntahkan cairan kuning dari dalam mulutku membuat mulutku terasa pahit. Sepertinya aku akan terkena demam.


Aku membersihkan cairan itu dan juga tubuhku di bawah shower untuk menyegarkan tubuhku kembali.


Tepat setelah memakai pakaian, pintu kamar milikku kembali diketuk dari luar.


"Nona Sarah, Sarapan anda telah siap." Teriak salah satu pelayan di rumah Kakek.


"A-aku akan segera turun." Balasku dan suara langkah kaki pelayan itu pun menjauh.


Aku merapikan lagi pakaianku di depan cermin besar dan sekilas melirik amplop coklat di atas tempat tidurku. Apa hal ini adalah pilihan yang tepat untuk aku piih.


Aku tertunduk lesu dan berjalan keluar dari kamarku menuju ke ruang makan.


Beberapa pelayan yang bekerja di rumah kakek menunduk saat aku melewati mereka, sampai di ruang makan aku segera duduk di sebelah kursi kakek, menunduk untuk mengabaikan pandangan tajam dari keluarga Kassa.


Aku pun sarapan dengan tenang dan diam, berusaha gar tidak menimbulkan suara sedikitpun untuk menghindari tatapan lain dari orang-orang di meja makan ini.


Sampai Charles datang dengan tergesa-gesa dan membisikkan sesuatu kepada kakek. Raut wajah kakek terlihat terkejut dan sekaligus mengucap rasa syuku.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Kassa sudah ditemukan."


Ucapan kakek berhasil menggemparkan seisi ruangan termasuk aku yang langsung terduduk lemah. Terima kasih, aku mohon bertahanlah, Kassa.


Mobil-mobil dari perkarangan rumah kakek melaju membelah jalanan yang licin akibat hujan yang baru saja reda, beberapa menit berkendara akhir mobil kami berhenti di sebuah rumah sakit besar, salah satu rumah sakit tempat keluarga Kassa berinvestasi.


Aku berjalan mengikuti seluruh anggota keluarga Kassa, mengikuti dari belakang dengan wajah khawatir dan cemas, berharap Kassa kembali dengan keadaan baik-baik saja. Sampai akhirnya kami tiba di lantai 8 tempat dimana pasien VVIP berada.


Beberapa suster dan dokter sibuk memberikan penjelasan kepada kakek dan anggota yang lainnya. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka, aku mencoba melihat ke dalam ruangan khusus yang ditutupi kaca bening tebal, mencoba mencari tubuh itu, mencari wajah itu.


Sampai aku akhirnya pencarian mataku berhenti pada tubuh yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan luka dan memar di tubuhnya. Mataku beralih menilai dan berakhir pada wajah yang terlihat pucat dan penuh perban, ada sebotol cairan merah pekat yang tergantung di samping infus.


"K-Kassa." Panggilku serak.


Semua anggota keluarga Kassa masuk bergiliran dengan menggunakan pakaian khusus dikarenakan ruangan steril yang ditempati oleh Kassa.


Sampai tiba giliranku untuk masuk sendiri. "Kassa." Panggilku ragu.


Aku menyentuh tangannya yang terasa dingin dan terkejutnya aku saat melihat kelopak matanya terbuka pelan, membuatku semakin erat menggenggam tangannya, sampai akhirnya mata itu terbuka dan kami saling bertatapan satu sama lain. "Ka-Kassa." Panggilku lemah memanggil namanya.


Aku menatapnya sendu yang berusaha membuka bibirnya yang terlihat kering, hatiku terasa sakit melihat tubuhnya terluka seperti ini. Dengan susah payah di mengeluarkan suaranya. "Si-siapa kamu?"


Tubuhku menjadi kaku, pria yang selama ini mengenggam tanganku erat sekarang menepis genggaman tanganku. "Siapa kamu?" Tanyanya lagi dengan suara yang lebih jelas.


"A-aku Sarah." Ucapku pelan menahan tangisku. Aku hanya ingin percaya bahwa ini hanyalah sebuah shock yang dialami olehnya, berharap dia dapat mengingatku lagi, berharap dia akan mengatakan bahwa dia mencintaiku.


"Pergi! Aku tidak mengenalmu." Dia berteriak seperti orang kesetanan membuatku mundur dan menutup mulutku.  Air mata yang sedari tadi kutahan pecah membasahi pipiku.


Untuk hal yang tidak aku pahami, hatiku terasa hancur. Terlihat kemarahan dan ketakutan dari wajahnya. "Keluar!" Marahnya, dia memberontak membuat selang infus ditangannya terlepas. "Pergi atau aku akan membunuhmu." Teriaknya lagi sampai membuat dokter dan suster masuk ke dalam ruangan.


Tubuhku di tarik kasar oleh seseorang yang tidak kuketahui, sampai aku benar-benar berada di luar ruangan. Kassa.


"Sebaiknya kamu pergi dan terima tawaran dariku." Suara berat di depanku membuatku melihat sosok tinggi di depanku.


"A-apa yang terjadi dengan Kassa?" Tanyaku kepada Om Royhan.


"Dia mengalami amnesia akibat cedera kepala yang dialaminya, jadi sebaiknya kamu pergi karena kamu benar-benar pembawa sial untuknya."


Bersambung.