
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Bicara disini saja, aku sibuk dan tidak bisa meladeni wanita sewaan sepertimu." Ucapan Kassa membuat hatiku sedikit berdenyut.
"Terserah, aku akan tetap pergi ke kantormu." Aku segera mematikan sambungan telepon dan memberikan kembali ponsel Arga.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Arga saat melihat wajahku yang tertunduk lesu.
"Aku baik-baik saja." Jawabku pelan, aku melewati Arga dan menuju ke sofa, merebahkan tubuhku yang terasa lelah. Secara fisik Kassa memang tidak pernah menyakitiku namun dia menyakitiku secara verbal dan tidak pernah berubah, selalu mengambil keputusan dan kesimpulan berdasarkan apa yang dilihatnya tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu harus benar-benar menahan Kristal kali ini Arga, aku sudah membuka cela untukmu dan kamu sendiri yang harus menyelesaikannya." Kataku dengan memejamkan mata.
"Apa maksudmu?" Tanyanya.
"Aku memberikan Kristal kepadamu karena kamu begitu mencintainya, tahan Kristal jangan sampai dia kembali lagi ke Kassa, sesuai janjimu bawa dia pergi jauh." Kataku dan mencoba untuk tidur.
"Apa kamu benar-benar melakukan ini semua untukku atau untuk dirimu sendiri? Kamu dan Kassa ada sesuatu bukan? Tatapannya benar-benar memujamu, bukankah kamu menyingkirkan Kristal untuk dirimu sendiri agar kamu bisa mendapatkan Kassa dengan mudah?" Tanyanya pelan, aku hanya diam tidak menjawabnya.
Aku tidak tahu mengapa aku melakukan ini, untuk diriku sendiri atau untuk membantu Arga?
"Apapun itu, aku tetap berterima kasih kepadamu, sebagai gantinya aku akan membuat Kristal tidak akan mengusikmu sedikitpun. Aku janji." Ucapnya.
*
Keesokan paginya, pagi hari sekali aku sudah berada di pinggir jalan untuk mencari kendaraan umum lalu segera pergi menuju ke tempat tinggal Dave. Aku melihat Dave yang teridur bersama Langit, aku tidak ingin membangunkan mereka terlebih dahulu, kuputuskan membuatkan sarapan dan baru membersihkan diriku.
Setelah sarapan selesai aku buat, aku membersihkan diriku dan mempersiapkan diriku untuk menemui Kassa.
"Selamat pagi Sarah." Sapa Dave saat aku sedang pergi ke dapur, dia melihatku heran karena aku sudah berpakaian rapi sekali pagi ini.
"Kamu mau kemana?" Tanyanya mendekat. Aku tidak ingin berbohong kepada Dave, tetapi kalau aku berkata jujur apa dia akan marah?
"A-aku akan pergi menemui Kassa." Kataku pelan yang berhasil membuatnya tersentak, detik berikutnya dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
"Tidak, kamu tidak boleh pergi menemuinya, apalagi yang menjadi alasanmu untuk bertemu dengannya, akhiri hubunganmu kali ini dengannya Sarah" Ucapnya yang terdengar ditelingaku mencoba untuk menahan emosinya.
"Kami sudah tidak memiliki hubungan apapun sekarang, kamu tidak perlu khawatir." Ucapku melepaskan pelukannya.
Dia menghela napasnya pelan dan mengacak-acak rambutnya gusar.
"Baiklah, aku percaya padamu, kalaupun kamu berbohong anggap aku percaya kepadamu. Aku yakin kamu tahu dengan apa yang akan kamu lakukan dan aku tidak dapat mencegahnya." Ucapnya pasrah.
"Terima kasih Dave." Ucapku mencoba tersenyum. Semoga saja aku dapat menjaga kepercayaanmu.
"Aku sudah membuatkanmu dan Langit sarapan. Kali ini aku akan meminta maaf dan meminta bantuanmu lagi untuk menjaga Langit, aku tidak bisa membawanya untuk menemui Kassa." Ucapku dan hanya dijawab olehnya dengan anggukan kepala.
Maafkan aku Dave.
Setelah aku berpamitan dengan Dave dan mempersiapkan semua hal untuk Langit, aku pun pergi ke kantor Kassa, sesampainya aku disana, aku berjalan masuk dan memberitahukan resepsionis tujuan kedatanganku. Setelah mendengar itu dia tergesa-gesa langsung mengantarkanku menuju ke lift khusus yang langsung menuju ke ruangan kantor milik Kassa.
Aku menghela napasku pelan sebelum mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk." Suara dingin itu sempat membuatku gentar untuk membuka pintu di depanku, dalam bayanganku Kassa akan duduk di kursi kebesarannya menatapku dingin dan akan melontarkan kata-kata yang akan menyakitiku.
Tetapi aku tidak bisa mundur lagi.
Aku membuka pintu dan melihat Kassa berdiri tidak jauh dariku membawa seikat bungan mawar merah di tangannya, dia mendekatiku perlahan yang masih terpaku di tempat.
"Ini untukmu." Ucapnya menyerahkan buket bunga di tangannya kepadaku namun aku masih diam.
"Tolong ambillah, aku membelikannya untukmu." Tangannya masih menyodorkan seikat bunga itu kepadaku sampai aku merasakan sentuhan hangat pada tanganku dan meletakkan bunga itu di tanganku untuk menggenggamnya.
Tenangkan dirimu Sarah.
Aku menenangkan diriku dan berjalan meleatinya dan mencoba untuk duduk tenang di sofa, diikuti Kassa duduk di sebelahku.
Aroma tubuhnya.
Aku menatap lurus keluar jendela dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit seolah-olah pemandangan itu lebih menarik dari Kassa yang duduk di sampingku.
"Maaf tentang semalam." Katanya memulai pembicaraan.
Maaf? Seorang Angkasa Pratama meminta maaf? Sulit dipercaya.
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu tetapi aku malah membuat hatimu tersakiti lagi." Katanya, aku masih diam mencoba mencerna semua hal yang terjadi pagi ini.
Dia menghela nafasnya pelan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanyamya.
"Tentang Kristal, calon istrimu." Jawabku. Ini untuk Arga, ya untuk Arga.
"Kenapa dia?" Tanyanya.
"Pria yang bersamaku kemarin, dia adalah ayah dari anak yang dikandung Kristal." Kataku pelan namun aku yakin Kassa mendengarkannya.
"Kenapa kamu memberitahuku?" Tanya lagi.
"Karena...Karena aku ingin membalas budi kepada Arga." Bohongku. Kenapa aku harus berbohong.
Kassa tertawa pelan. "Membalas budi? Karena dia menyewamu selama beberapa hari?" Katanya dingin, sadar akan kata-katanya dia meminta maaf lagi dan kembali melihatku.
"Terserah apa katamu, aku hanya ingin memberitahumu bahwa Kristal hamil anak Arga." Kataku lagi acuh terhadap raut wajahnya yang mengejekku.
"Dan kenapa kamu memberitahuku?" Tanyanya dengan serius.
"Kare..."
"Karena kamu tidak ingin aku menikah dengan orang lain? Atau kamu tidak ingin ada yang menggantikan posisimu di sisiku?"
"Ak..."
"Kalau begitu kembali lagi bersamaku, tinggallah bersamaku dengan itu dapat aku pastikan tidak akan ada yang bisa menggantikan sosokmu sedikitpun, apabila kamu bersamaku kamu tidak perlu cemas mengenai Kristal atau siapapun itu untuk menggantikanmu di sisiku." Katanya menjelaskan kepadaku.
"Aku tidak bisa." Balasku.
"Kalau begitu aku akan mengambil Langit darimu, dia adalah darah dagingku dan aku punya hak untuk mengasuhnya, kamu pasti tahu aku akan mendapatkan apapun yang aku inginkan, jadi jika kamu menginginkan Langit kamu harus tinggal bersamaku, jika kamu tidak mau buang semua anganmu untuk bertemu atau bahkan bersama Langit." Ucapnya.
Dia berdiri berjalan menuju ke arah pintu dan membukanya.
"Sekarang keluar dan pikirkan hal ini baik-baik, jika kita bertemu lagi kamu harus bisa menjawabnya." Perintahnya.
Aku melangkahkan kakiku dan melihatnya sebelum pintu itu tertutup dengan kuat, aku masuk ke dalam lift dan berjalan keluar dari gedung mewah milik Kassa. Aku terus menunduk sampai kulihat seseorang berdiri di hadapanku.
Aku mendongakkan kepalaku untuk melihatnya. Kristal.
Bersambung.