
Angkasa POV.
Dengan cepat aku menjauhkan Kristal dari pangkuanku dan berlari mengejar Sarah tanpa memperdulikan teriakan dari Kristal di belakangku.
Aku menjadi panik, khawatir, gelisah dan marah. Aku tidak tahu aku marah kepada siapa, diriku sendiri? Kristal? Atau Sarah? Tidak bukan Sarah, aku marah terhadap diriku sendiri, marah dengan kebodohanku yang tidak dapat menahan napsuku kepada Kristal.
Tetapi Kristal adalah tunanganku dan Sarah bukan lah siapa-siapa, tetapi mengapa hatiku merasa aku menghianati Sarah. Apakah aku jatuh cinta padanya?
“Sarah, tunggu!” Aku melangkahkan kakiku lebih cepat saat Sarah masuk ke dalam lift sehingga membuat pintu lift yang tadi mau tertutup terbuka kembali.
Aku masuk ke dalam lift, dia menatap ke arah lain berlawanan dengan arahku yang sedang berdiri di depannya.
“Maafkan aku.” Ucapku menunduk.
Aku tidak tahu untuk apa aku meminta maaf, hanya saja hatiku berkata bahwa aku melakukan kesalahan kepadanya.
Tidak ada jawaban darinya membuatku menatapnya yang sedang melihat dinding lift.
Aku mendekatkan diriku membuatnya mundur dan membenturkan punggungnya pada dinding lift. Aku memenjarakan tubuhnya dengan kedua tanganku.
“Kamu benar-benar membuatku gila.” Aku mendekatkan wajah ku, mempertemukan bibirku dengan bibir berwarna merah miliknya.
Bibirnya terasa manis membuatku candu ingin menyesapnya lebih lama dan lebih dalam.
Tidak ada perlawanan dari Sarah akan perlakuanku kepadanya, bahkan aku mendengar adanya ******* pelan yang keluar dari mulutnya.
Aku merangkulkan tanganku pada pinggangnya yang sempit dan mengangkatnya untuk bersandar pada dinding lift.
Aku memasukkan tangan ku ke dalam kaus putih miliknya, mencari sesuatu yang aku inginkan.
“Engh.”
Erangan pelan darinya membuatku semakin menginginkannya. Aku melepaskan jas dan melonggarkan dasi yang aku gunakan, memberikan tanda kemerahan pada lehernya membuatnya mendesah lebih kuat dari sebelumnya.
Aku merasakan tangannya menyentuh wajah ku membuatku melihat wajahnya. Dia menangis.
“Aku mencintaimu, aku mencintaimu.” Ucapnya membuat jantungku berderbar lebih cepat, waktu di sekitarku terasa berhenti, hidupku terasa berbeda, hidupku seakan mempunyai tujuan hidup yang lain yaitu membahagiakannya.
“Aku juga mencintaimu, Sarah Gibran.” Aku menempelkan bibirku dengannya lebih lembut dari sebelumnya, aku ingin membuatnya merasakan rasa sayangku untuknya.
Ting!
Pintu lift terbuka, Sarah dengan cepat turun dari peganganku, lift kami sudah sampai di lobi kantorku dan beruntungnya tidak ada siapapun yang berada di depan pintu lobi.
Dengan Langkah cepat Sarah keluar dari lift meninggalkanku yang tidak tahu harus berbuat apa sampai pintu lift tertutup dengan sendirinya membuat punggung Sarah menghilang dari pandangan ku.
Lift terbuka kembali di lantai paling atas tempat ruangan kerjaku berada, saat masuk ke dalam ruangan aku tidak melihat keberadaan Kristal disana, tetapi aku tidak peduli.
Aku merapikan berkas-berkas dokumen yang akan aku bawa pulang ke apartemen, aku akan menjemput Langit dan Sarah untuk makan malam.
Sesampainya di depan pintu apartemenku, aku melihat Sarah sedang memeluk Langit dengan baju dan koper yang di lemparkan sembarangan oleh kristal.
“Pergi kalian dari sini, dasar sampah!” Teriak Kristal menunjuk ke arah Sarah dan Langit.
“Bawa pergi anak harammu itu.” Lanjut Kristal.
“APA YANG KAU LAKUKAN, ******!” Teriakku membuat Kristal melihatku takut, aku berjalan mendekat kearahnya dan menarik rambutnya kuat.
“Aw.” Kristal meringis kesakitan membuatku melepaskan tarikan ku dan mendorongnya jatuh ke lantai.
Aku menghampiri Sarah dan Langit yang bersembunyi di balik tubuh Sarah. Aku melihat pipi Langit yang memerah. Dia menamparnya?
Darahku terasa mendidih, kemarahanku benar-benar tidak dapat aku tahan lagi. Aku membalikkan tubuhku ingin sekali membunuh wanita yang dengan berani-beraninya melukai orang berharga untukku.
“KAU…”
Tubuhku menjadi kaku melihat Kristal memegang perutnya menahan sakit dan ada darah segar mengalir di kakinya.
“Sakit, Angkasa.” Katanya pelan, aku menghampirinya dan mengangkat tubuh Kristal turun ke lobi menuju ke mobilku untuk ke rumah sakit.
Aku menjambak rambutku kuat setelah mendengar perkataan dokter tentang kondisi Kristal.
“SIAL!” Teriakku membuat semua orang yang ada dalam lorong rumah sakit melihatku.
Mengabaikan pandangan dan bisikan mereka aku masuk ke dalam ruangan dimana Kristal berada.
“Anak siapa itu?” Tanyaku dingin, Kristal menatapku lalu membuang tatapannya ke jendela.
“Dia anak mu.” Jawabnya, ada perasaan marah dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kristal.
“Kamu akan menjadi ayah dari anak kita.” Lanjutnya.
“Bukan, dia bukan anak ku. Aku tahu kalau kamu punya banyak laki-laki yang tidur bersamamu sebelum bersama ku.” Jawabku.
“Kita melakukan itu berengsek, aku minta kamu bertanggung jawab atas anak ini, dia darah dagingmu, Angkasa! Segera nikahi aku.” Teriaknya.
Aku memejamkan mataku dan segera meninggalkan Kristal menuju ke mobil. Tidak, bukan aku yang menghamili Kristal.
Sarah POV.
“Sarah, selamat! Aku tahu kamu pasti akan masuk menjadi Top 50 Australia’s Next Top Model. “ Ucap Dave dari ponsel yang ada di telingaku.
“Terima kasih, Dave. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa memenangkan kompetisi ini.” Kataku.
Setelah itu kami berbincang tentang kesibukan Dave di Rusia, Dave juga tidak lupa memberikan beberapa tips, video dan juga gambar yang bisa aku gunakan sebagai referensi untuk mengikuti kompetisi ini.
Dave mengatakan bahwa aku akan menghadapi kesulitan fisik dan juga mental di dalam menghadapi setiap tantangan yang ada di dalam kompetisi ini, jadi aku harus benar-benar mempersiapkan kondisi fisik dan mental ku.
Setelah mengakhiri obrolan ku dengan Dave, hati ku masih belum merasa tenang sampai aku melangkahkan kakiku dan memanggil taksi.
“Kantor Glamour Magazine.” Ucapku kepada supir taksi.
Kalau aku takut untuk mengatakan kegemberiaanku lewat telpon, mungkin akan lebih baik aku mengatakannya langsung.
Senyumku tidak henti-hentinya terlukis indah di wajahku, pipiku mungkin berwarna merah merona sekarang karena malu dan juga senang, aku sangat tidak sabar reaksi apa yang akan di tunjukkan oleh Angkasa.
Setelah aku melihat kembali sisi kelembutan Angkasa semalam dengan permintaan maafnya, aku mencoba membuka hatiku kembali, jujur aku jatuh kembali kepadanya, aku jatuh cinta lagi kepadanya.
Sesampainya di depan gedung Glamour Magazine, aku langsung di persilahkan masuk oleh penjaga keamanan di depan pintu masuk lobi, mereka sudah mengenalku semenjak aku menjalin kontrak sebagai Brand Ambassador Glamour Magazine.
Saat masuk di lobi yang dipenuhi dengan potret-potret model terkenal di sepanjang dindingnya, aku menemui perempuan yang menggunakan blazer berwarna biru laut yang duduk di belakang meja dengan tulisan resepsionis diatasnya.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Nona Sarah?” Tanyanya dengan sopan.
“Aku ingin bertemu dengan Tuan Angkasa.” Ucapku.
“Apakah anda sudah membuat janji?” Tanyannya lagi membuatku berpikir. Hmm apa aku berbohong saja, untuk memberikan kejutan kepada Kassa.
“Hmm su…sudah, aku sudah membuat janji dengannya.” Ucapku berbohong.
“Baiklah, saya coba menghubungi Tuan Angkasa dulu Nona, mohon menunggu sebentar.” Ucapnya dengan tangan memegang gagang telepon.
“Tidak usah, kamu tidak perlu menghubunginya terlebih dahulu, karena aku akan memberikan sebuah kejutan untuk Tuan Angkasa.” Kataku. Resepsionis itu terlihat berpikir sebentar.
“Baiklah.” Ucapnya, aku dengan bergegas menuju lift VIP, lift yang biasa digunakan para petinggi dari perusahaan ini, setelah pintu lift tertutup aku langsung menekan nomor lantai paling atas dari gedung ini, lantai dari pemilik perusahaan ini yaitu ruangan Angkasa.
Tidak henti-hentinya aku tersenyum selama lift ini menuju ke atas, aku akan sangat penasaran dengan reaksi Angkasa nanti.
TING!
Pintu lift terbuka membuatku melangkahkan kakiku menuju pintu dengan nama Angkasa Pratama tergantung di depan pintu itu.
Aku membuka pintu berwarna coklat di depanku dan langsung menutup segera pintu itu kembali setelah melihat apa yang di lakukan oleh Angkasa bersama seorang wanita di dalam ruangannya.
Aku berlari menghalangi pintu lift yang mau menutup kembali, menekan kasar tombol lobi dengan kasar sampai aku merasakan pipiku menjadi basah. Bodoh kamu Sarah, bodoh.
BERSAMBUNG.