
Sarah berdiri kaku saat aku menatapnya tajam membuatnya menatap ke arah lain.
"Oh ayolah, tunjukkan tubuh indahmu pada kami, aku penasaran seperti apa bentuk tubuhmu, semua orang disini juga sangat penasaran dengan apa yang ada di balik pakaianmu." Teriak salah satu orang dari kerumunan itu.
Ada rasa marah dan benci saat mendengarkan kata-kata itu, aku masih menatap Sarah yang diam tidak berhgerak, saat tangannya dipegang orang lain aku masih diam karena dia menolak dan menarik tangannya.
Saat seseorang maju berada di dekatnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah, aku mengumpat kasar sehingga mereka meperhatikanku, aku berjalan berdiri ke arah Sarah dan menariknya menjauh dari sana.
Sialan, apa yang kamu lakukan disini.
Aku menahan amarahku dengan tetap menarik tangan Sarah yang meronta namun aku semakin mencengkram tangannya, aku menariknya sampai masuk ke dalam lift.
Aku masih menahan tangannya saat dia hendak kabur dariku, sehingga aku menghimpit tubuhnya di sudut lift sampai pintu lift benar-benar tertutup.
Dia meronta dalam himpitan tubuhku, aku sama sekali tidak mempedulikan dengan pukulannya kepadaku sampai pukulan itu berhenti karena dia mendengar isakan tangisku.
"Maafkan aku, aku mohon pulanglah kepadaku, aku membutuhkanmu. Aku akan mengurus semuanya, kita mulai semua dari awal."
*
Sarah POV.
Aku menatap Kassa yang ada di hadapanku dengan terkejut, kedua tangannya yang menghimpit tubuhku dengan air mata yang jatuh ke pipinya membuatku meringis sakit.
Aku tidak ingin melihatnya menangis, hatiku terasa sakit.
"Bisakah kita memulai semuanya dari awal? Aku sudah mengetahui semuanya." Ucapnya membuatku menatap wajahnya, tiba-tiba saja ancaman Om Royhan membuatku mengalihkan pandanganku ke samping.
"Apa yang pernah diakhiri tidak akan pernah bisa dimulai kembali." Jawabku membuat kedua tangan Kassa yang mengurungku terhempas ke tempat semula bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
Aku melangkahkan kakiku keluar dari lift itu. "Kali ini aku tidak akan membiarkanmu terluka, aku akan melindungimu dan Langit, aku mohon percaya padaku." Katanya meyakinkanku saat tangannya hendak mengambil tanganku namun kulepas.
"Kassa tidakkah kamu mengerti? Seberapa keras kita berdua untuk bersama tetapi takdir selalu berkata sebaliknya kita tidak mungkin bisa bersama. Hidupku sudah sulit, aku mohon jangan mempersulitnya lagi." Lirihku, aku sebisa mungkin menahan air mataku agar tidak tumpah, aku tidak boleh menangis di depan Kassa, tidak lagi.
Aku segera berjalan lagi masuk ke dalam club karena pekerjaanku belum selesai namun Kassa menahan pergelangan tanganku, dia menarik tubuhku kuat hingga aku berada dalam pelukannya, aku diam tidak memberontak dan tidak menikmatinya.
"Kali ini aku berjanji kita akan bersama sampai maut benar-benar memisahkan kita, aku berjanji tidak akan menyakitimu, setidaknya lakukan demi Langit, aku ingin dia memiliki kasih sayang kita berdua, aku mohon." Lirihnya, aku menggeleng kuat.
"Lepaskan." Bentakku kuat namun Kassa sama sekali tidak akan melepaskan pelukannya kepadaku.
"Ehem." Kudengar suara orang berdeham di belakangku, lalu detik berikutnya kurasakan tubuhku ditarik kuat hingga pelukan Kassa terlepas dariku dan kulihat Arga menyembunyikan tubuhku dibelakang tubuhnya.
"Senang bertemu langsung denganmu Tuan Angkasa Pratama." Ucap Arga.
Apakah Arga akan mengatakan semuanya?
"Berikan Sarah kepadaku." Kata Kassa mengabaikan Arga, Arga menoleh ke arahku sebentar lalu kembali pada Kassa.
"Aku sudah menyewanya untuk malam ini, cari orang lain saja." Aku membeku di tempatku berdiri mendengar perkataan Arga, aku melirik ke Kassa yang tiba-tiba menatapku untuk meminta penjelasan namun aku membuang muka ke arah lain tidak menatapnya.
"Apa kau bilang?" Gerasm Kassa.
"Cari malam lain saja, aku sudah menyewa penuh Sarah untuk hari ini." Ulang Arga santai.
Tanpa sepatah katapun Arga menarikku menjauhi Kassa yang terlihat menahan amarahnya, dia buruk sekali dalam hal seperti itu.
Saat hendal memasuki mobil Arga, aku menahan tangannya untuk meminta penjelasan. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Kamu ingin bersamaku atau Kassa?" Tanyanya pelan, aku akhirnya masuk ke dalam mobil Arga. Untuk sekarang lebih baik aku bersama Arga daripada Kassa.
"Jadi siapa Kassa?" Tanya Arga yang sedang menyetir di sebelahku. Aku menghela napas kasar dan melihat ke arah jendela.
"Hanya teman." Jawabku.
"Aku tidak yakin." Ucapnya.
Aku menolehkan kepalaku untuk melihatnya yang sedang melihatku. "Itu bukan urusanmu Arga." Ucapku dan melihat ke arah jendela lagi.
Setelah itu hening yang menyelimuti kami sampai kami tiba di hotel Arga.
"Boleh aku menciummu?" Ucap Arga saat kami berada di dalam kamar hotel miliknya.
Aku tersentak kaget karena beberapa kali aku di sewa oleh Arga, dia tidak pernah sekalipun menyentuhku.
Saat wajah Arga mendekat dan aku dapat merasakan napas hangatnya menyapu wajahku aku memundurkan tubuhku. "Aku mohon, jangan." Ucapku dan segera duduk di tepi kasur.
Aku mendengar Arga menghembuskan napasnya pelan dan mengikuti duduk di tepi kasur di sebelahku.
"Hari ini aku menemui Kristal." Ucapnya. "Dia mengusirku sebelum sempat mendengarkan apa yang ingin aku katakan, dia pergi membawa mobilnya entah kemana." Lanjutnya lagi, dia menatapku.
"Apa aku tidak berhal untuk bertemu dengan calon bayiku?" Lirihnya. "Aku hanya ingin mengurus mereka dan memastikan mereka dalam kondisi baik tanpa kekurangan apapun." Lanjut Arga.
"Jadi apa yang kamu inginkan Arga? Kamu bisa saja memberitahukan Kassa tentang ini." Ucapku.
"Tidak semudah itu Sarah, Kassa bukanlah orang yang mudah untuk diajak bicara." Ucapnya lagi.
"Seberapa besar kamu mencintai Kristal?" Tanyaku pada Arga, dia menengadahkan kepalanya melihat langit-langit kamar dengan sendu.
"Sebesar aku mencintai bayiku, Kristal adalah perempuan yang aku cintai setelah mamaku." Jawabnya lalu tersenyum lebar, aku menepuk pelan punggungnya.
"Jika Kassa melepaskan Kristal, apakah kamu akan menjaga dan menahan Kristal untuk tidak kembali kepada Kassa?" Tanyaku lagi.
"Tentu saja, aku akan membawa Kristal pergi jauh." Jawabnya cepat.
"Bagaimana dengan orang tuanya?" Tanyaku lagi.
"Mereka sudah mengetahui bahwa aku yang menghamili Kristal, aku yang memberitahukan mereka karena itu Kristal mengusirku kemarin." Jawabnya.
"Dan reaksi mereka?" Tanyaku.
"Menolak dan menerima, mereka sangat menyayangi putri mereka sehingga mereka tidak memaksakan kehendak mereka kepada Kristal, jika aku berhasil menahan Kristal, aku yakin kedua orang tuanya tidak akan masalah." Jawab Arga yakin.
Aku menghela napasku berat. "Baiklah, boleh aku pinjam ponselmu?" Tannyaku dan Arga pun memberikan ponselnya kepadaku dan segera aku ambil.
"Tunggu disini." Kataku, Aku berdiri dari dudukku dan pergi menjauh dari Arga. Aku mengingat nomor di kepalaku dan menekan beberapa digit nomor tersebut di ponsel Arga.
"Halo." Suara dingin itu sempat membuatku bergetar dan menggigit bibir bawahku.
"Kassa." Ucapku yang membuat penerima telpon itu terkejut.
"Sarah, ada apa?" Ucapnya dingin.
"Besok aku akan menemuimu di kantor, aku harap kamu dapat meluangkan waktumu, ada yang ingin aku bicarakan." Ucapku.
Bersambung.