
Sarah POV.
“Halo.” Suara pria paruh baya di hadapanku seorang dengan kekuasaan yang dimilikinya membuatku terdiam terpaku.
Kemarin Kristal memintaku untuk menjauhi Angkasa dan seperti dugaanku, suatu saat akan ada seseorang meminta hal yang sama kepadaku, dia adalah Om Royhan.
“Dimana sopan santunmu gadis muda, ada seorang pria tua berdiri di depan pintu rumahmu, tidakkah kamu meminta laki-laki tua ini untuk masuk ke dalam tempat tinggalmu?” Ucapnya dan langsung masuk melewatiku.
Matanya menyapu sebentar ke sekeliling apartemen milik Dave sebelum dia mendudukkan tubuhnya di sofa. “Uhmm, ternyata kelakuanmu masih sama saja, menjadi parasit untuk dapat hidup nyaman dengan laki-laki kaya.” Lanjutnya.
“Apa yang anda inginkan?” Tanyaku setelah berusaha keras untuk mengembalikan suaraku yang tercekat.
Dia tersenyum simpul kepadaku. “Kamu tahu apa yang aku inginkan.” Jawabnya.
Aku mendudukkan tubuhku di depannya dengan saling beradu pandang.
“Apa kamu lupa dengan perjanjian kita?” Ucapnya membuat ingatan 5 tahun itu terulang kembali.
Flashback on.
“Halo, Sarah.” Suara itu, suara yang membuatku ketakutan dan terduduk lemah di tepi tempat tidurku di Paris. Bara.
“Apa kabarmu? Kamu tahu aku sangat merindukanmu.” Lanjutnya lagi membuatku kehilangan kata-kata.
Apa yang sekarang diinginkan oleh Bara, bagaimana bisa dia keluar wdari penjara secepat ini.
Saat aku sedang merasakan ketakutan akan hadirnya kembali sosok Bara, kepalaku seketika memikirkan seseorang. Kassa.
“Di…dimana Kas…Kassa?” Tanyaku.
Terdengar suara tawa Bara yang berhasil membuat telapak tanganku basah karena keringat.
“Kamu masih ingat kata-kata terakhir di pertemuan terakhir kitakan, sayang?” Jawabnya.
“Aku tidak akan dapat melihatmu bahagia dengan orang lain, apabila kamu bertemu lagi dengan seseorang yang menyayangimu lebih dari aku, aku akan kembali Sarah, membunuh orang itu, karena hanya aku laki-laki yang boleh ada di dekatmu.” Ucapnya diikuti dengan nada terputus dari ponselku.
“Tunggu, Bara.” Aku cemas, panik dan gelisah mencoba untuk kembali menghubungi nomor ponsel Bara kembali tetapi aku hanya disambungkan dengan suara operator yang mengatakan bahwa nomor itu tidak aktif.
Aku menelpon nomor lain. “Halo, Charles.”
***
Setelah menghubungi Charles aku meminum air putih dengan gelas yang bergetar di tanganku, aku tidak mau hal yang sama terjadi kembali terhadap Angkasa setelah Indra. Tuhan aku mohon, aku akan melakukan apapun agar Kassa bisa selamat.
Tidak lama kemudian aku mendengar pintu apartemen terbuka menampilkan sosok Charles dan beberapa anak buah Angkasa, mereka terlihat seperti agen mata-mata dengan peralatan-peralatan canggih yang mereka bawa.
Ruang tamu pun di sulap menjadi ruang kantor dengan beberapa laptop di atas meja, semua orang terlihat serius termasuk Charles.
Aku mendekati Charles untuk mendapatkan informasi terbaru tentang keberadaan Angkasa.
“Nyonya, sebaiknya nyonya istirahat, kesehatan nyonya juga sama pentingnya untuk kami dan juga tuan Angkasa.” Ucapnya saat aku sudah berada di depan mejanya.
“Aku tidak akan bisa tidur dengan kondisi sekarang, apa…” Ucapanku terpotong saat salah satu bawahan Angkasa menghampiri Charles, dia menunjukkan layar laptopnya yang menampilkan sebuah tanda lingkaran berwarna merah.
“Sepertinya anda harus mulai membereskan barang-barang anda nyonya.” Ucap Charles.
“Tuan Angkasa sekarang sudah berada di Indonesia.” Lanjutnya lagi setelah melihat dahiku mengernyit.
Tanpa banyak kata, aku pergi ke kamarku dan memasukkan semua barang-barangku di dalam koper. Tunggu aku Kassa, aku mohon bertahanlah.
Semoga aku tidak terlambat.
Sesampainya di bandara, aku langsung dibawa Charles masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh bawahan Angkasa.
Charles ikut masuk ke dalam bersamaku untuk memastikan keamanan diriku.
Penglihatanku hanya aku arahkan di jendela tanpa tahu kemana mobil ini melaju.
“Nyonya, kita sudah sampai.” Ucap Charles membangunkanku dari lamunan.
Pintu mobil di sampingku terbuka sehingga aku bisa melihat rumah mewah yang berdiri kokoh di depanku, rumah kakek Angkasa.
“Sarah.” Panggil kakek membuatku berlari mendekatinya yang sedang berada di kursi roda.
“Kek, Kas…Kassa Kek.” Tangisku pecah dalam pelukannya, air mata yang sedari kemarin aku tahan akhirnya tumpah, aku takut Angkasa akan pergi meninggalkanku selama-lamanya, aku masih ingin melihatnya tersenyum kepadaku, aku merindukan pelukannya, merindukan suaranya yang mengatakan
bahwa dia mencintaiku. Aku merindukannya.
“Tenanglah, Kakek yakin Kassa akan baik-baik saja, sekarang kita masuk dulu.” Ucap kakek menenangkanku dan menepuk lembut punggungku.
Kami masuk ke dalam ruang tamu dengan semua anggota keluarga Pratama yang sudah berkumpul dengan lengkap, menatapku dengan tatapan tidak suka yang berhasil membuatku merasa hina dan rendah.
Suara Langkah sepatu yang mendekat membuatku mengangkat wajahku. Om Royhan.
“Dasar wanita pembawa sial.” Katanya kepadaku. “Aku sudah tahu kalau kamu wanita yang akan membawa kesialan kepada keluarga ini.” Lanjutnya lagi dengan tatapan tajam kepadaku.
“Hentikan, Royhan.” Ucap Kakek yang membuat om Royhan terdiam. “Sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan orang lain, sekarang fokuskan semuanya untuk mencari keberadaan Kassa.” Lanjut kakek.
“Charles, berikan informasi yang kamu dapat kepada kami dan Sarah berisitirahatlah, kesehatanmu juga sama pentingnya sekarang.” Ucap Kakek.
Tidak ada kata bantahan dariku, aku diantarkan oleh salah satu pelayan ke kamarku yang dulu bersama Angkasa, setelah pelayan itu keluar, aku melihat ke sekeliling kamar dimana memori-memoriku saat dulu bersama Angkasa disini berputar-putar di kepalaku.
Wangi tubuh Angkasa bahkan masih bisa terhirup indra penciumanku. Aku mengambil salah satu pakaian Angkasa yang ada di dalam lemari kayu besar di dalam kamar ini. Kassa aku merindukanmu.
Aku membaringkan tubuhku di atas kasur, memeluk erat jas ditanganku sampai air mataku kembali menetes, aku benar-benar merindukannya, dadaku terasa sesak.
Aku ingin melihatnya sekali lagi, aku akan melakukan apapun hanya untuk melihatnya. Apapun itu.
***
Tubuhku terasa sangat lelah dan kepalaku menjadi pusing, aku sama sekali tidak sadar bahwa aku terlelap tidur dengan sendirinya setelah menangis.
Bahkan aku sama sekali tidak tahu sekarang jam berapa karena gelapnya kamar yang aku tempati.
Aku mendudukkan diriku untuk meringankan rasa sakit di kepalaku, setelah rasa sakit kepalaku sedikit berkurang, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar membuatku melihat samar sosok seseorang yang berada di pintu.
Menggosokkan mataku untuk melihat sosok itu lebih jelas sampai tubuhku menjadi kaku, hawa di dalam kamar ini menjadi dingin, leherku serasa tercekat membuatku tidak dapat mengeluarkan suara sedikitpun saat melihat sosok tersebut. Bara.
Bara berjalan mendekatiku dengan seringai jahatnya yang selalu dapat aku ingat, dia membawa sesuatu di tangannya, sesuatu yang aku takutkan untukku lihat, air mataku kembali jatuh membasahi pipiku.
Aku berdoa dalam hatiku semoga itu bukan sesuatu yang aku duga, sampai dia mengangkat benda tersebut yang ternyata adalah kepala seseorang.
“TIDAAKKK!!!”
BERSAMBUNG.