YOU!

YOU!
#15



Angkasa POV.


Aku kembali ke kantor seperti hari biasa, terkadang aku masih menemui Sarah di CM Agency namun tidak sekalipun aku bertemu dengan Langit walaupun harus mengikuti Sarah dari pagi sampai menjelang malam.


Aku tidak berniat bertanya kepada Sarah karena semua butuh proses, masalahku dengan Kristal semakin besar. Wanita itu semakin sering menemuiku di kantor dan mencecarku dengan pernikahan yang membuat kepalaku sakit.


Hari ini aku ada pertemuan dengan CM Agency yang mengharuskan diriku untuk kesana. Saat hendak masuk ke dalam gedung tempat bernaungnya model-model terkenal di Australia, aku melihat Kristal dan juga Sarah duduk bersama di dalam lobi.


Aku berjalan dan menghampiri mereka, melewati Sarah dan segera menarik Kristal untuk ikut bersamaku keluar.


“Apa maksud kedatanganmu kesini? Dan apa yang kalian bicarakan?” Tanyaku langsung kepada Kristal yang sedang memperhatikan kuku-kukunya.


“Membicarakan apapun kesukaan calon suamiku selama dia tinggal di apartemenmu yang mungkin belum aku ketahui.” Jawabnya dan tersenyum lebar di depanku, Aku menggeram marah menatapnya tajam.


“Aku pergi dulu.” Ucapnya dengan santai meninggalkanku, aku mencari sosok Sarah di dalam lobi namun tidak aku temukan, sebelum kakiku melangkah menuju ke lantai 2 gedung ini, Calvin sudah memanggilku membuatku harus menunda pencarianku.


Selama rapat bersama Calvin, pikiranku tidak henti-hentinya memikirkan Sarah sampai rapat itu selesai dengan terburu-buru aku mencari Sarah di setiap sudut gedung ini namun aku sama sekali tidak menemukannya.


Aku kembali ke apartemenku dengan perasaan kalut.


“Uncle.” Aku melihat ke belakang dan melihat Langit tersenyum berlari menghampiriku, dengan segera aku memeluknya erat.


“Langit kangen Uncle, maafin Langit.” Ucap Langit dengan sendu.


“Uncle yang minta maaf sama Langit, Uncle kangen banget sama Langit.” Balasku menciumi pipi chubbynya.


“Aku pergi dulu, aku akan menjemputnya nanti malam.” Kata Sarah berbalik pergi meninggalkan kami.


“Tunggu.” Ucapku menarik tangannya. “Ikutlah makan malan bersamaku dan Langit malam ini, aku mohon.” Ucapku menatapnya lekat.


Dia melihat Langit dan beralih melihatku kembali. “Baiklah.” Ucapnya membuat hariku setidaknya berubah menjadi bahagia.


Aku membawa mereka ke sebuah restoran di Kawasan perth yang terkenal dengan menu-menu makanannya yang menarik dan lezat, Lulu La Delizia.


Restoran ini dikenal dengan menu pasta buatan tangannya yang terkenal dengan resep warisan keluarga turun temurun dari keluarga Luigia.


Koki pemilik restoran ini adalah salah satu kolega bisnisku di Australia yang berasa dari Italia yaitu Logan.


“Halo Angkasa, selamat datang kembali.” Ucap Logan saat kami sudah masuk ke dalam ruangan yang di dominasi interior berwarna coklat kayu dengan harum makanan yang menggugah selera.


“Dan siapa laki-laki tampan ini.” Ucap Logan kepada Langit yang berada dalam gendonganku


“Langit, Uncle.” Kata Langit dengan senyum lebarnya.


“Waw Langit, apakah kamu mau es krim?” Tanya Logan membuat mata Langit berbinar-binar.


Langit melihat ke belakangku kepada Sarah untuk meminta persetujuannya.


“Mau, Uncle.” Jawab langit semangat setelah mendapat persetujuan Sarah. Logan yang sedari tadi tidak sadar akan kehadiran wanita di belakangku terlihat terkejut saat melihat Sarah yang sudah berdiri di sampingku.


“Sa…Sarah?” Ucap Logan terbata-bata dan Sarah yang terlihat gelisah di tempatnya.


“Kamu mengenal Sarah, Logan?” Tanyaku memperhatikan raut wajah terkejut dari Logan.


“Halo, Logan. Lama tidak bertemu, dia adalah teman dari salah satu model temanku di agensi.” Ucap Sarah menarik lenganku untuk segera masuk ke dalam restoran.


“Ayo masuk, aku sudah lapar.” Lanjut Sarah.


“Ma…Maaf.” Ucap Sarah menarik tangannya dari lenganku. “Hmm, aku permisi ke toilet.” Lanjutnya.


“Kamu mau pesan apa?” Tanyaku sebelum dia pergi. “Aku mengikuti saja pilihanmu.” Ucapnya dan berlalu pergi dengan terburu-buru menuju toilet.


Aku pun memesankan pasta yang di beri campuran daging udang, vermouth putih dan biji fennel untuk kami bertiga sebagai menu utama.


Tidak lama kemudian Sarah sudah kembali lagi dengan Logan di belakangnya yang membawa satu gelas es krim untuk Langit.


“Ini es krim spesial untuk jagoan kecil.” Ucap Logan.


“Aku akan menyiapkan makanan untuk kalian mohon tunggu sebentar.” Ucap Logan dengan tatapan kearah Sarah.


Tidak lama kemudian makanan-makanan mengusik perut datang membuat kami makan dalam diam dimana hanya terdengar ocehan Langit dan cerita-ceritanya.


Perut penuh dan sejuknya pendingin di dalam mobil Langit yang duduk di kursi belakang tertidur pulas, sementara aku dan Sarah terdiam tanpa ada satu pun dari kami yang membuak obrolan.


“Apakah kamu dan Kristal akan segera menikah?” Tanya Sarah memecah keheningan dengan tatapan ke jendela.


Mulutku terasa kering, aku meliriknya dari sudut mataku yang sedang melihatku sekarang.


“Aku harap kamu akan hidup bahagia nanti.” Ucapnya dengan suara bergetar, dia mengalihkan pandangannya kembali ke jendela.


Ada sesuatu didalam dadaku, sesuatu yang membuat dadaku terasa nyeri.


“Apakah kamu mencintaiku, Sarah?” Tanyaku. Dia melihatku dan memberikan senyumannya.


“Apakah itu penting untuk sekarang? Aku tidak tahu dengan apa yang aku rasakan, tapi…aku akan selalu ikut bahagia dengan kebahagiaanmu.” Ucapnya.


“Berjanjilah padaku bahwa kamu akan bertanggung jawab dengan apapun yang kamu lakukan.” Lanjutnya.


“Hm.”


Diam kembali menyelimuti kami di keramaian malam di Perth, Australia.


Keesokan paginya di kantor aku terkejut saat melihat ruanganku sudah dipenuhi oleh beberapa orang dimana terdapat Om Royhan dan orang tua Kristal, aku menatap Kristal yang tersenyum lebar padaku dan mengambil duduk di sebelahku.


“Pernikahan kalian akan digelar 5 minggu dari sekarang. Kehamilan Kristal semakin membesar akan lebih baik pernikahan kalian segera dilaksanakan.” Suara Om Royhan memecahkan kesunyian di ruangan ini.


“Aku setuju saja, lebih cepat lebih baik.” Balas orang tua Kristal.


Terdengar suara ketukan pintu dan memperlihatkan sosok Charles. “Maaf Tuan Angkasa, ada Nona Sarah ingin menemui anda.” Ucapnya, terlihat Sarah berjalan mendekati kami tertunduk dan matanya terlihat bengkak seperti orang habis menangis.


“Halo, Sarah.” Sapa Kristal mengeratkan lengannya kepadaku yang sedang berdiri menghampiri Sarah.


Sarah tidak membalas sapaan itu dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dia menyerahkan sebuah amplop kepadaku. “Apa ini?” Tanyaku mengambil amplop dari tangannya.


“Aku ingin mengundurkan diri sebagai Brand Ambassador Glamour Magazine dan model di CM Agency.” Ucapnya membuatku terdiam kaku menatap Sarah meminta penjelasan, tetapi dengan cepat dia berbalik meninggalkan kantorku bahkan tanpa menoleh.


Aku menahan tangannya.


“Sarah, apa maksudmu?” Tanyaku.


“Lepaskan aku, Kassa. Lepaskan aku mohon, hidup bahagialah dengan Kristal. Aku akan menjauh darimu sejauh mungkin, jadi aku mohon lepa…skan aku.” Suara seraknya berhasil membuat genggaman tanganku terlepas, membuatnya pergi dengan punggung bergetar. Sarah.


BERSAMBUNG.