
Sarah POV.
Seperempat ruang studio gelap gulita. Berbanding terbalik dengan seperlima bagian yang menjadi spot pemotretan berlatar putih.
Fotografer sedang membersihkan lensa, memasangnya hati-hati pada bodi film dan mengencangkan bulatan lensa.
Aku mengatur nafasku seirama dengan alunan musik yang dimainkan oleh sang fotografer.
Aku berdiri ditengah layar putih dengan baju berwarna putih dan jaket kulit biru disandangkan pada pundak ku.
Hari ini adalah hari pemotretan perdanaku sebagai model Brand Ambassador majalah Glamour, salah satu perusahaan milik Angkasa.
Pertama kali Calvin memberitahukanku tentang kontrak kerja dengan Glamour sebagai Brand Ambassador membuatku terkejut.
Bukannya aku tidak bersyukur karena mendapatkan kerja sama yang sangat amat jarang sekali di dapatkan oleh semua model, terlebih lagi model amatir sepertiku.
Apalagi ini adalah perusahaan milik Angkasa, aku tidak tahu apakah Angkasa sengaja melakukan ini atau karena materi yang aku miliki sebagai model. Atau Angkasa sudah mengetahui semuanya?
“Kita mulai.”
Suara fotografer membangunkanku dari lamunanku. “A…aku siap.” Ucapku gugup.
Ruangan berubah menjadi tidak segelap gulita sebelumnya, aku dapat melihat beberapa wajah kru CM Agency, Calvin dan beberapa model dari CM Agency yang merasa penasaran dengan debut perdana The New Face of CM Agency.
Model amatir yang tiba-tiba namanya dikenal oleh semua orang dan langsung menjadi Brand Ambassador dari majalah terkemuka.
Debut pertama yang akan membuktikan apakah aku pantas menyandang gelar ini.
Intro musik mulai terdengar, pose pertama aku lakukan.
Menatap langsung lensa kamera yang di genggam oleh sang fotografer, sedetik kemudian lampu blitz kamera menyala.
Jepretan kedua aku memposisikan diiriku untuk mengangkat sedikit daguku sesuai dengan latihan yang aku ikuti satu minggu kemarin.
Aku mengingat kembali majalah Vogue yang baru saja aku baca tadi pagi, dimana seorang model wanita menampil sebuah baju kantor dengan kulitnya yang berwarna coklat, tetapi semua pakaian bahkan riasan wajahnya terlupakan karena matanya.
Aku dapat merasakan interaksi dari matanya yang penuh dengan ekspresi. Aku membutuhkan itu.
Aku memejamkan mataku. 1…2…3.
Aku membuka mataku menatap tajam lensa kamera yang membidikku.
***
Calvin menampilkan hasil-hasil foto yang aku hasilkan.
Aku tidak mengerti apakah foto yang aku hasilkan sangat bagus atau sangat buruk saat semua orang yang ada di dalam ruangan ini hanya terdiam dan tidak berkedip.
Aku mendengar beberapa suara bisikan di belakangku membuatku menjadi sangat gelisah dengan apa yang akan di katakan oleh Calvin.
“Ehem.”
Suara dehaman Calvin membuat ruangan menjadi hening kembali.
“Harusnya aku meminta bayaran lebih kepada Glamour untuk kali ini.” Kata Calvin mengalihkan pandangannya dari layar monitor kepadaku.
“Sarah, hasil fotomu sudah sangat pantas ada di sampul majalah fashion, bukan hanya sekelas Glamour tetapi sekelas Vogue. Semua agensi lawan akan menjadi gelisah setelah melihat hasil fotomu ini dan aku juga meminta izinmu untuk memasukkan fotomu ini di dalam portofolio mu dan dipajang di situs CM Agency.” Lanjutnya lagi.
Calvin mendekatiku dengan senyuman.
“Selamat, Sarah.”
Aku membalas jabatan tangannya dengan menahan kristal air mata pada mataku. Langit, mama bisa, mama akhirnya bisa membahagiakanmu.
***
“Selamat, Sarah. Aku tahu kamu pasti bisa, aku sudah melihat hasil-hasil fotomu, aku memintanya kepada Calvin.”
Suara Dave dari ujung ponselku membuat hatiku bertambah senang, aku tidak tahu lagi dengan siapa aku berbagi kebahagiaanku.
“Terima kasih, Dave. Terima kasih untuk semuanya, kamu sudah sangat banyak membantuku.” Ucapku serak.
“Hei, ini semua adalah hasil kerja kerasmu sendiri dan aku tahu kamu pasti sangat bisa menjadi model terkenal.” Balasnya.
“Kapan kamu pulang, Dave?” Tanyaku.
“Hmm apakah kamu merindukanku?” Tanyanya balik dengan tawanya.
“Dave.” Geramku.
2 bulan? Artinya.
“Berarti kamu tidak akan disini saat aku mengikuti Australia’s Next Top Model?” Tanyaku.
“Ya, kemungkinan besar aku tidak akan berada disana. Tetapi kamu masih bisa menghubungiku apabila kamu membutuhkan bantuan, oke.” Ucapnya.
“Sarah, aku harus melanjutkan lagi pemotretan ku, kita sambung lagi nanti ya, kirimkan salamku untuk Langit.” Lanjutnya lagi dan mematikan sambungan telpon kami.
Aku mengemas barang-barang ku untuk pulang menjemput Langit karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Setelah berpamitan aku pun keluar dari gedung CM Agency.
Aku mengambil ikatan rambutku dan mengikatnya pada rambutku.
“Halo, Sarah.” Suara bariton di sebelahku membuat tubuh ku terpaku dari tempatku berdiri.
Angkasa berdiri melepaskan kaca matanya dengan mata hitamnya yang menatapku dengan tajam, dia berjalan mendekatiku dan mengambil ikatan rambut yang ada di kepalaku membuatku dapat mencium wangi parfum mint yang aku rindukan.
“Aku lebih menyukai rambutmu saat terurai.” Ucapnya.
Aku mengigit sebelah bibirku, detak jantungku bergerak lebih cepat.
“Kamu takut padaku?” Bisiknya di telingaku.
Otot-otot wajahku mengeras sampai tidak menyadari tangan Angkasa menarik daguku, membuatku menatap matanya mata yang aku rindukan.
Bibir tebalnya terbuka menghembuskan napas hangat pada wajahku.
“Tahukah kamu bahwa apapun yang kamu lakukan selalu terlihat seperti menggodaku?” Ucapnya.
Bibir itu semakin mendekati bibirku yang terasa kering sekarang, tetapi bibirnya berpindah ke leherku dan memberikan sebuah kecupan kecil disana.
“Kass…”
Tiba-tiba saja aku merasakan bibir hangat laki-laki itu menjauh dariku.
“Kamu memanggilku apa?” Tanyanya membuatku membuka mataku.
Dahinya berkerut dengan alis yang saling bertautan.
Aku menutup mulutku dan segera berlari meninggalkannya. Apa yang aku lakukan.
Angkasa POV.
Kepalaku tiba-tiba saja menjadi pusing, ingin sekali aku mengejar Sarah, hanya saja entah mengapa kepalaku terasa berat.
“Tuan!”
Langkah kaki Charles berlari terdengar olehku sampai semua menjadi gelap.
Aku merasakan hembusan angin saat tanganku sedang sibuk menggerakkan layar kapal di tengah laut eropa.
Aku melepaskan kacamata hitamku melihat wanita itu lagi sedang berdiri di ujung kapal.
Baju putihnya melayang terkena hembusan angin.
Aku tidak dapat melihat wajahnya karena silaunya matahari mengenai mataku, tetapi kali ini aku melihat sesuatu yang berbeda. Dia tersenyum.
Aku terbangun.
Aku mendudukkan diriku pada kepala tempat tidur, memikirkan mimpiku tadi dan senyum di wajahku terukir. “Dia tersenyum.”
Perasaanku bercampur aduk, ini pertama kalinya dalam mimpiku selama 4 tahun ini tentang wanita itu.
Senyumanku pun ikut terukir tetapi air mataku ikut jatuh.
Aku tidak pernah menunjukkan sisi lemahku seperti ini kepada orang lain.
Hanya saja wanita itu benar-benar memporak-porandakan kehidupanku.
Ada rasa dendam dalam diriku apabila mengingat wanita itu karena dengan berani-beraninya meninggalkanku seperti ini tanpa penjelasan.
Tetapi…
Ada rasa rindu yang teramat dalam, aku merindukannya, aku rela memberikan nyawaku untuk sekedar bertemu dengannya. Siapa kamu?
BERSAMBUNG.