YOU!

YOU!
#10



Angkasa POV.


Dua minggu terasa sangat lama bagiku, sesampainya kakiku menginjak tanah di Australia pada pukul 7 pagi, aku langsung menancapkan gas mobil sportku dan menuju ke tempat penitipan Langit. Aku ingin bertemu dengannya.


Aku menunggu Sarah dan Langit didepan gedung Day Care, tetapi mereka tak kunjung datang padahal jam tanganku sudah menunjukkan pukul 11 siang, karena tidak tahan menunggu aku mencoba mencari dimana tempat tinggal Sarah.


“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang penjaga keamanan gedung tempat tinggal Sarah dan Langit.


“Hmm Sarah Gibran, dia tinggal di nomor berapa?” Tanyaku.


“Oh, Ms. Gibran, dia sudah pindah beberapa minggu yang lalu.” Ucapnya membuat darahku mendidih. Dia benar-benar ingin menjauhkan ku dari langit.


Tanpa mengucapkan terima kasih aku segera menuju mobil untuk menuju ke tempat Langit dititipkan lagi.


Sesampainya disana aku segera masuk dan menuju ke meja resepsionis.


“Langit, Langit Gibran?” Tanyaku langsung.


“Oh Langit sudah dibawa Sarah pindah dari tempat ini, Sarah juga sudah memberhentikan penitipan Langit disini.” Jelasnya.


Aku segera pergi dan masuk ke dalam mobilku lagi, memukul setir mobil dengan kuat. “Sial Sarah kamu benar-benar belum mengetahui siapa aku!” Teriakku.


Aku mengambil ponselku dan menghubungi Calvin.


“Halo, Calvin.” Kataku mencoba untuk tenang.


“Oh Angkasa, ada apa?” Jawabnya.


“Apakah Sarah ada disana?” Tanyaku.


“Oh ada, Sarah sedang berlatih disini.” Aku langsung menutup sambungan telepon itu dan melajukan mobilku menuju ke gedung CM Agency.


Mobilku berhenti di depan lobi CM Agency membuat semua orang melihat ke arahku karena suara decitan ban mobilku.


Aku melangkahkan kakiku menuju ke lantai 2 dimana Sarah sedang melihat salah satu pelatihnya memberikan arahan kepada semua model, aku membuka pintu dengan keras membuat semua orang di dalamnya terkejut.


Dengan segera aku menarik Sarah untuk mengikuti ku, aku menarik tangannya dengan kuat tanpa memperdulikan dia yang meronta untuk di lepaskan, aku membawa Sarah ke dalam mobilku dengan paksa dan dengan cepat melajukan mobilku.


Sarah diam tidak berkata apa-apa karena aku yakin dia sangat tahu mengapa aku bisa sampai semarah ini kepadanya.


Mobilku pun berhenti di depan gedung apartemen ku.


“Turun.” Ucapku setelah membuka pintu mobilnya tetapi dia mengabaikanku.


Tanpa pikir panjang aku menggendong tubuhnya di pundakku masuk ke dalam apartemenku, menghiraukan semua pandangan orang-orang yang melihat kami.


Sarah meronta berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari gendonganku, tetapi tenaganya sangat kalah jauh dariku, sehingga membuat usahanya sia-sia.


Sesampainya di dalam apartemen, aku mengunci pintu dan mendekatinya dengan tatapan tajam.


“Mengapa kamu pindah dan tidak memberitahukan ku apa-apa?” Teriak ku marah.


Dia hanya menatapku datar.


“Aku tidak punya kewajiban untuk memberitahukanmu dan kamu juga tidak punya hak untuk itu.” Jawabnya membuatku melempar satu buah vas bunga yang terletak di atas meja makan ke lantai.


Dia tersentak dari tempatnya berdiri tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Kamu benar-benar menantangku Sarah Gibran.


Aku berjalan menuju meja kerja ku, membuka laci dan mengambil satu buah map kertas dan


melemparkannya di hadapan Sarah.


“Tanda tangani itu.” Ucapku dingin.


Dia membuka map itu. “Apa ini?” Tanyanya heran.


“Itu adalah surat perjanjian bahwa kamu dan Langit sepenuhnya akan berada dalam pengawasanku dan menjadi milikku seutuhnya." Jawabku menuangkan vodka pada gelas dan langsung meneguknya.


“Bagaimana kalau aku tidak mau menandatanganinya?” Tanyanya, aku berjalan santai ke depannya dan menatapnya tajam.


“Aku akan membunuh semua orang yang ada di dekatmu termasuk pacar modelmu itu, dan kalau aku memang benar-benar tidak dapat memilikimu dan Langit, aku juga akan membunuh kalian berdua.”


14 hari ku terasa sangat tentram tanpa adanya gangguan dari Angkasa, aku membawa pergi Langit dari tempat tinggalku dan pindah sementara di rumah Ms. Rose. Begitu pun juga tempat penitipan Langit.


Aku pikir dengan cara ini Angkasa akan benar-benar menyerah untuk mendekatiku dan Langit, tetapi ternyata tidak.


Hari ini aku benar-benar dibuat tidak dapat berkata-kata dengan apa yang dilakukan oleh Angkasa, dia membuat sebuah surat perjanjian untukku, atau dia akan menyingkirkan semua orang yang dekat denganku termasuk diriku dan Langit.


Dia kembali menjadi Angkasa yang dulu, Angkasa yang jahat dan kejam.


Aku berlari menuju pintu keluar dan langsung memanggil taksi, tubuhku terasa lemas, bahkan tanganku masih bergetar setelah menandatangani surat perjanjian itu.


Rasa takut, sedih menjadi satu, seharusnya takdir tidak mempertemukan aku lagi dengannya.


Aku menuju ke rumah Ms. Rose dan meminta izin kepada Calvin untuk pulang lebih cepat dengan alasan tidak enak badan.


Aku melihat Langit yang masih bermain dengan mainan yang diberikan oleh Angkasa, dia terlihat senang sekali.


“Langit.” Panggilku.


Dia menatapku tersenyum, berdiri dan berlari menghampiriku untuk memelukku. Langit menggandeng tanganku sampai menuju di sofa. Aku menempatkan tubuhku duduk bersebelahan dengannya.


“Mama.” Sapa Langit riang membuatku menoleh ke arahnya.


“Mama kenapa gak pacaran aja sama Uncle Angkasa, Langit suka banget sama Uncle Angkasa.” Lanjutnya membuatku menghentikan elusan tanganku pada kepalanya.


Aku menyandarkan tubuhku di sofa dan memijat pelipisku.


“Mama.” Panggilnya sendu. Dia memelukku erat. “Mama capek ya? Mama jangan banyak kerja ya, Langit janji nanti kalau Langit sudah besar, Langit bakal cari uang yang banyak buat mama. Mama Cuma perlu nungguin Langit pulang aja, oke?” Ucapnya melihatku.


Aku mengecup keningnya dengan lembut.


“Oke, tetapi sekarang langit harus jadi anak yang baik dan nurut sama mama, janji?” Kataku menyodorkan jari kelingkingku.


“Langit janji.” Ucapnya menautkan jari kelingkingnya denganku.


Tidak lama kemudian terdengar suara bel dari depan pintu membuatku sedikit berlari kecil untuk membukanya. Kassa.


Angkasa berdiri di depanku dengan tatapan tajamnya, seketika aku menundukkan kepalaku ketakutan.


“Uncle?” Suara Langit di belakangku yang sadar akan kehadiran Angkasa.


“Uncle kenapa kesini?” Tanya Langit. Angkasa hanya diam dan menatapku.


“Uncle kesini mau jemput Langit.” Jelas Angkasa, aku hanya diam di tempatku.


“Mulai saat ini kalian akan tinggal bersamaku, ini bukan tawaran melainkan perintah.” Ucapnya kepadaku.


“Ta…”


“Bereskan barang-barang kalian.” Kata Angkasa dingin dan menggendong Langit.


Aku berjalan ke kamar untuk membereskan barang-barang ku dan Langit, tidak lupa juga aku menelpon Ms. Rose untuk mengucapkan terima kasih dan izin untuk pamit dari tempat tinggalnya.


“Mama, kita akan tinggal di tempat Uncle Angkasa?” Tanya Langit dengan riang dikursi belakang, aku hanya diam menatapi jalanan tanpa memperdulikan Angkasa yang menjawab


pertanyaan Langit.


Sesampainya di apartemen Angkasa, Langit berlarian kesana kemari di dalam apartemen yang sudah bersih dari pecahan kaca vas bunga yang di pecahkan oleh Angkasa sebelumnya.


“Apartemen Uncle Angkasa besar.” Riang Langit, sementara Angkasa hanya tersenyum melihat tingkahnya.


“Kamar kalian ada di sana.” Ucap Angkasa menunjuk ke arah kamar yang berada di sebelah kamarnya, aku menuju ke kamar yang di tunjuk Angkasa dan meletakkan barang-barang kami di dalamnya.


Tubuhku terasa sangat lelah membuatku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.


Aku melihat cincin pernikahan ku dulu yang masih aku pakai, walaupun kehidupan ku bersama Langit sangat sulit, aku sama sekali tidak ada rencana untuk menjual cincin ini, karena cincin ini adalah tanda bahwa aku dulu pernah bahagia walaupun hanya sementara.


BERSAMBUNG.