
Berikutnya tayangan videonya.
*Saat ditangkap polisi*
"Hahahha! Alvaren bodoh! Benar-benar bodoh! HHAHAHA!" Tertawa seperti orang gila.
*Live*
"Yohan! Maafkan Ayah!''
***
Meski wajahnya tak dikenali, diduga korban dari pembunuhan itu adalah Ibu dari Reyhan Dirgantara, anak tunggal perusahaan keluarga Dirgantara.
Blablablaa...
Yohan tercengang. Saat itu juga Yohan menjatuhkan remote yang sedang dipegangnya.
Tanpa berpikir panjang, Yohan segera mematikan tv nya dan pergi ke kantor polisi xxx.
...****************...
"Mau apa kau mendatangiku?" Tanya Alvarendra sinis dibalik sekat yang membatasi dirinya dengan Yohan.
Apa ini kepribadian lain Ayah juga? Batin Yohan terkejut.
"Ayah, bagaimana kabar Ayah? Kenapa Ayah bisa membunuh orang? Ayah orang yang baik kan.." Ucap Yohan lembut sambil menatap sendu Alvarendra.
"Ya mana kutahu. Sudahlah aku ingin sendiri." Ucap Alvarendra ketus lalu berdiri meninggalkan Yohan.
"Gue pengen inget semua masa lalu gue, apa yang menyebabkan Ayah memiliki kepribadian ganda? Apa sebab Ayah membunuh Ibu? Gimana gue bersaudara sama Haidar? Ah," Batin Yohan sambil menunduk.
Lalu ia beranjak pergi dari kantor polisi dan pulang kembali ke rumah.
...****************...
"Tunggu. Setelah di pikir-pikir, Reyhan itu orang yang sekelas sama gue dan benci gue?" Ucap Yohan sambil menonton tv.
Yohan menghela napas panjang.
Kenapa ya Ayah bisa gitu? Nanti sore coba kunjungi lagi ke kantor polisi aja? Gue mau tanyain langsung aja, gak usah basa-basi lagi. Batin Yohan.
Seperti biasa, tiba-tiba Yohan merasa kepalanya sakit dan berdenyut. Entah mengapa perasaannya menjadi aneh.
Akhir-akhir ini, Ia menjadi tak selera makan, sering mengantuk dan terkadang tangannya mati rasa.
"Ugh..." Yohan memegangi kepalanya sambil memejamkan mata.
Yohan membuka hp nya dan mengirim pesan kepada Haidar.
Yohan memutuskan untuk memberitahu bahwa ia bersaudara dengan Haidar.
Beberapa menit kemudian Haidar sampai dirumah Yohan dan langsung menanyainya tentang berita yang baru saja ditayangkan.
"Kok aneh sifat Ayah lo?!"
"Kagak tau gue..." Yohan berusaha membuat ekspresi normal disaat ia masih menahan sakit kepalanya, terkadang ia memukul kepalanya.
"Lo kenapa?"
"Nggak."
"Apa yang mau lo omongin?"
"Lo tau gak, kalo sebenernya kita sedarah?"
Haidar tertegun. Ia tak tahu harus menjawab apa.
"HAH?"
"M-maksud lo?"
"Ya, kita sedarah. Ayah lo sebenernya Ayah gue, dan lo kakak gue. Kita cuma beda Ibu." Balas Yohan blak-blakan membuat Haidar semakin terdiam.
"Lo tau darimana?"
"Sebenernya selama ini gue gak inget masa lalu samsek, terkadang ingatannya muncul dan suka ngeliatin fakta-fakta."
Meski Haidar tidak mengerti, ia tetap bertanya lebih lanjut.
"Berarti Ayah gue Ayah tiri?"
"Iya"
"Apa gue tanyain ya ke Ibu gue?"
"Lihat situasi kondisi aja dulu, kalo sembarang nanya bisa-bisa dicoret dari KK."
"Gue masih gak percaya"
"Ya, percaya gak percaya terserah lo sih"
"Iya tapi gimana ceritanya?"
"Menurut apa yang gue inget, kayaknya Ayah gue duluan nikah sama Ibu lo, terus gak lama lo ada, disusul gue. Gak tau gimana jelasnya juga sih"
Haidar terdiam. Ia masih berusaha mencerna semua ucapan Yohan yang terdengar tidak masuk akal. Namun dia tahu, bahwa Yohan tidak mungkin berbohong.
"Sorry kalo gue blak-blakan gini. Gue cuma mau lo tau kebenarannya. Gue gak mau lo akhirnya tau dari orang lain dan malah salah paham sama gue." Ucap Yohan.
"Gak apa-apa kok. Gue cuma masih kaget dan bingung." Jawab Haidar sedikit canggung.
Mereka berdua terdiam cukup lama. Tidak ada yang membuka suara, hingga akhirnya Haidar memutuskan untuk memecah keheningan.
"Jadi kita ini adek kakak nih?" Tanyanya berusaha bersikap normal lagi. Yohan menanggapi itu dengan anggukan singkat dan senyuman tipis.
"Hmm... Tapi kita gak ada mirip-mirip nya," Haidar meneliti wajah Yohan.
"Iyalah, kayaknya lo lebih mirip Ibu lo, sedangkan gue lebih mirip Ayah."
"Fakta yang mengejutkan" Ujar Haidar sambil berlagak ala-ala detektif.
"Ya, udah sih itu doang."
"Kalo lo adek gue.. Muach" Tiba-tiba Haidar mencium kepala Yohan membuat Yohan terlonjat kaget.
"Apa-apan lo?!!"
"Kan kakak harus sayang sama adek."
"Gak gitu!"
"Haha, iya iya... Itu aja yang mau lo omongin?"
"Hm."
"Lo mau gue temenin disini? Lo pasti masih syok karena berita ayah lo."
"Gak usah gue gak apa-apa."
"Tapi lo sendiri di rumah."
"Gak apa-apa. Gue mau sendiri dulu, hehe..." Yohan menampilkan deretan giginya kepada Haidar hingga membuat Haidar mau tak mau menurutinya.
"Yaudah gue pulang dulu ya! Kalo lo butuh apa-apa, telpon aja gue langsung! Kakak lo ini bakal langsung meluncur!" Seru Haidar semangat.
Yohan terkekeh pelan, lalu melambaikan tangannya sampai Haidar sudah menjauh dan tak terlihat di pandangannya. Sesekali Yohan memegangi kepalanya karena sakit kepalanya tak kunjung menghilang.
"Makin lama makin sakit..." Gumam Yohan diiringi sedikit ringisan.
Saat Yohan berbalik hendak masuk kedalam rumahnya, sebuah batu bata mendarat di kepalanya secara mendadak hingga membuatnya terjatuh.
"S-siapa.." Matanya menangkap seorang lelaki berpakaian serba hitam dilengkapi topi, masker dan sarung tangan hitam.
Satu batu bata lagi mendarat di kepala Yohan membuat pandangannya mulai mengabur dan tubuhnya terasa lemas.
Yohan yang sakit kepalanya belum hilang ditambah lemparan dua buah batu bata membuat kepalanya terasa berputar-putar dan sangat sakit.
"Argh!"
Dan akhirnya mata Yohan terpejam.
......................
Yohan membuka kedua matanya perlahan, ia merasa dirinya sangat lemas dan sakit kepalanya hanya berkurang sedikit. Ternyata tubuhnya diikat disebuah kursi dan tangan kanannya lagi-lagi mati rasa.
Seorang lelaki yang terakhir kali ia ingat datang menghampiri Yohan. Tanpa aba-aba orang itu menonjok pipi kiri Yohan dengan keras membuat pipi kanan Yohan terantuk dengan ujung kursi yang ia duduki.
"Argh!" Sudut bibir Yohan sampai sedikit berdarah karena pukulannya yang sangat keras.
Lalu dengan kasar orang itu memotong tali yang mengikat Yohan lalu menarik Yohan dari kursinya membuatnya terjatuh.
Setelah itu orang itu menendang Yohan sampai terguling-guling, lalu ia berjongkok dan menarik kerah Yohan dengan kasar dan menonjok pipi kanan Yohan sama kerasnya dengan tonjokan tadi.
Yohan hanya bisa merintih kesakitan, tubuhnya terasa remuk dan tangan kanannya masih mati rasa.
Aura orang itu sangat menyeramkan dan tatapannya seperti siap akan membunuh kapan saja.
"S-siapa..." Gumam Yohan pelan sambil melihat matanya dengan seksama.
Orang itu melepas maskernya dengan kasar dan terlihat aura kebencian yang mendalam. Yohan terkejut melihat siapa orang itu, ternyata Reyhan.
"Rey..Han?"
Reyhan semakin menguatkan cengkraman tangannya pada kerah Yohan.