
"Enak?" Tanya Sonya.
"E..nak..." Balas Yohan masih terbata-bata, sambil menyuapkan puding nya kembali dengan tangan yang bergetar.
Sonya tak berhenti menatap Yohan dengan senyuman yang terus merekah.
"Bucin mulu," Gumam Haidar yang memperhatikan mereka namun terdengar Sonya.
"Iri? Sama Wilona tuh, masih jomblo. Hehe, hahaha..! Sonya meledek Haidar membuat Haidar kesal.
"Wilona deket ma Yandhi, masa nikung ae, lagian gue gak tertarik ma siapa-siapa." Ucap Haidar ketus.
"Hmmm?? Apa iya??" Goda Sonya.
"Dahlah gue keluar dulu mau cari angin" Haidar beranjak pergi keluar.
Yohan yang melihat itu hanya tersenyum.
"Ada-ada aja Haidar." Gumam Sonya.
****************
Satu minggu kemudian, Yohan sudah merasa tidak terlalu lemas dan sudah bisa makan sendiri, ia mencoba turun dari tempat tidur namun ternyata.. Kakinya tak bisa digerakkan.
"Ini efek nya kayaknya," Gumam Sonya sedih sambil membantu menurunkan Yohan dari kasur ke kursi roda.
"Mau kemana?" Tanya Sonya.
"Ke... Taman aja?" Balas Yohan sambil duduk di kursi roda.
"Okee..!!!" Sonya mulai mendorong Yohan menuju taman gedung ini yang berada di lantai itu.
"Haaah.... Akhirnya gue bisa ngehirup udara seger," Ujar Yohan lega saat tiba di taman.
"Mau dibawah pohon atau berjemur?" Tanya Sonya.
"Padahal gue bisa sendiri bawa kursi rodanya," Gumam Yohan tiba-tiba dan mencoba memegang roda.
"Gak apa-apa biar gue aja..!" Sonya mengembalikan tangan Yohan keatas pahanya kembali.
"Bawah pohon," Lanjut Yohan singkat dengan nada yang lumayan lesu.
"Jangan ngambek dong..." Sonya mencubit pipi Yohan membuat Yohan terkejut.
Yohan tak bisa menyembunyikan wajah memerahnya lagi, akhirnya ia menoleh kebelakang menatap Sonya.
"Padahal gue juga bisa sendiri." Ucap Yohan gemas kini membuat Sonya yang berdebar.
"Udah ah!" Sonya tertawa sambil mendorong kursi roda menuju bawah pohon dekat kursi panjang.
..........
Banyak pasien berlalu lalang mencari angin disini, hingga mata Sonya menangkap seseorang seperti Haidar dari pintu masuk.
Ternyata benar, Haidar berjalan menuju mereka dan dibelakang nya ternyata ada Yandhi, Wilona, Marvin dan... Reyhan?
Mereka berlari menghampiri Sonya dan Yohan.
"Baaang!!" Marvin berlari dan langsung memeluk Yohan membuat Yohan terkejut.
Yandhi ikut memeluk leher Yohan perlahan dengan sebelah tangannya diiringi senyuman lega nya.
Yohan sedikit tertawa melihat mereka, lalu Yohan tersenyum balas memeluk mereka dengan erat.
Wilona memeluk Sonya seperti sahabat yang sudah lama tak bertemu. Sedangkan Haidar hanya tersenyum.
Reyhan hanya diam disamping Haidar sambil tersenyum tipis.
Selama satu minggu ini, selain Sonya dan Haidar belajar biasa di sekolah dan terkadang mengunjungi Yohan beberapa kali. Mereka juga sudah mulai sibuk.
"Gak ikut?" Celetuk Haidar membuat Reyhan terkekeh.
"Gue gak seakrab itu, lo juga kagak tuh?"
"Lagian penuh, hahaha."
"Ya, akrab in aja." Lanjut Haidar.
"Sebenernya gue masih malu, cuma lebih gak tau diri lagi kalo gue pura-pura gak tau kalo Yohan sakit," Ucapan Reyhan membuat Haidar terkekeh.
"Tau diri juga, lo."
"Gue sebenernya gak pantes buat Yohan yang terlalu baik sama orang."
"Dah ah jangan ngomong gitu."
Sesi pelukan mereka pun selesai, dan Yohan baru menyadari bahwa ada Reyhan disamping Haidar karena saat datang Reyhan tak terlihat.
"Reyhan?" Tanya Yohan.
Reyhan terkejut. "A-ah, iya.. Apa kabar, Han?" Reyhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan sesekali mengalihkan pandangan.
"Pfftt!!" Suara tertahan Haidar terdengar begitu jelas membuat atensi mereka teralihkan.
"HAHAHA-" Haidar tertawa kencang namun mulutnya segera dibekap oleh Yandhi.
"Woe Anjir lo kenapa? Apa yang lucu? Disini banyak pasien! Yang lain tenang-tenang aja tuh?!" Bisik Yandhi penuh penekanan.
Haidar melepaskan tangan Yandhi.
"Gue ngakak aja, wkwkw" Haidar pun berlalu pergi menjauh dari mereka sambil menyeret tangan Yandhi.
"Mau kemana kalian?!" Teriak Wilona saat mereka menjauh.
"Diem aja lo!"
Wilona cemberut dan ditertawakan Sonya.
Yohan mengkode Sonya lewat matanya agar Sonya sedikit menjauh dari Yohan, untungnya ia mengerti dan langsung pergi bersama Wilona menghampiri Haidar yang berada dekat pintu.
Kini Reyhan semakin gugup dibuatnya.
"Ah, gue.. baik." Balas Yohan atas pertanyaan Reyhan tadi.
"Anu, gue minta maaf... waktu dulu gue ngebenci lo dan sering nyakitin lo. Gue jadi ngerasa bersalah, lo sakit bahkan sampe dioperasi..." Ucap Reyhan akhirnya panjang lebar.
"Iya, gue dari dulu udah maafin.. Cuma lo jangan ngerasa bersalah karena gue sakit gara-gara lo, gue sakit emang udah takdir, Han..." Jelas Yohan.
Entah kenapa Reyhan merasa dirinya benar-benar brengsek saat ini, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Reyhan memalingkan wajahnya.
Yohan yang mengerti hanya tersenyum.
"Sini," Reyhan terkejut mendengar kata yang keluar dari mulut Yohan. Lantas ia segera menatap Yohan kembali.
Yohan menarik lengan Reyhan membuat Reyhan terjongkok didepan Yohan.
Yohan pun memeluk leher Reyhan membuat Reyhan terkejut.
"Y-yohan?"
"Gak apa-apa, gue gini biar lo gak nyalahin diri sendiri mulu. Jangan salah paham!" Ucap Yohan lembut namun di kalimat akhir terdengar lucu.
Seketika Reyhan teringat waktu ia pertama kali dipeluk Yohan saat di toilet sekolah.
Reyhan pun memeluk balik Yohan.
Setelah itu, hari semakin terik dan Yohan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Mereka masih berbincang didekat pintu.
Yohan memegang roda nya dan hendak menggelindingkannya, namun kursinya dicekal duluan oleh Reyhan.
"Lo mau kemana?"
"Mau balik ke kamar, panas."
Yohan hendak maju kembali namun dicekal kembali.
"Jangan gitu."
Reyhan pun menyimpan kembali tangan Yohan keatas paha Yohan lalu mendorong kursinya.
"Makasih." Ujar Yohan.
................
"Saya kira kemana aja, kalian lama. Kemana?" Saat mereka memasuki ruangan, seorang perawat sudah berada didalam.
"Banyak banget ini temennya?" Gumam perawat itu nampak kagum.
"Dari taman. Ada apa Dok?" Tanya Haidar.
"Oh, ini... Apa kaki Yohan tidak bisa digerakkan?"
"Iya Dok.." Jawab Yohan.
"Karena pengambilan tumor yang besar mengakibatkan kerusakan saraf untuk menggerakkan kaki mu. Kamu bisa latihan berjalan kapan pun di ruang rehabilitasi."
"Dan juga, keadaanmu sejauh ini membaik. Tetap semangat ya. Kalian semangatin Yohan juga biar cepat sembuh."
Mereka semua hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.
"Itu aja kata Dokter Aris, saya pamit dulu permisi..." Perawat itu tersenyum lalu keluar.
"Gue kesana." Ucap Yohan tiba-tiba.
"Rehabilitasi?" Tanya Yandhi dan diangguki oleh Yohan.
"Yodah yok!"
"Eh tapi gue pengen sendiri, lagian gak akan kenapa-napa. Gue bukan anak kecil" Yohan keluar kembali dari ruang rawatnya dan mulai menggelindingkan roda nya ke tempat rehabilitasi.
"Kalian tunggu aja, gue nemenin Yohan sendiri biar dia gak ngamuk." Haidar lalu menyusul Yohan.