
"A-ayah?"
Cairan merah semu kehitaman mengalir dari perut Yohan, Yohan melihat perutnya sedangkan Alvarendra masih menancapkan cutter nya, masih dipegangnya juga.
"Hm hmm hmm~" Alvarendra bersenandung dan mulai menyeringai.
"Ayahmu yang bodoh ini benar-benar bodoh. Bahkan dia membiarkan kita hampir setiap hari menguasainya~"
Kreeek!
Alvarendra mendorong pengunci cutternya sampai mentok di paling atas dan menekan cutternya lebih dalam hingga mata cutternya tak terlihat.
"Uhuk!"
"AAARGGHHH!" Yohan mengerang kesakitan sambil terbatuk yang mengeluarkan darah, karena cutternya terus ditekan, Yohan juga bersusah payah menahan tangan Alvarendra, namun tenaganya tidak main-main.
Bahkan Yohan sudah lemas, pandangannya mulai kabur dan sesak napas. Ia tidak punya tenaga lagi, akhirnya perlahan hilang kesadarannya dan terjatuh kebawah.
"Yahh anak sama bapak sama-sama lemah~" Ujar Alvarendra tersenyum miring lalu melepaskan genggaman tangannya dari cutternya, namun cutternya masih menancap di perut Yohan.
"Argh!" Alvarendra berteriak karena merasakan sakit kepala yang hebat, lalu ia tersadar kembali dan terkejut melihat pemandangan Yohan yang perutnya berlumuran darah.
"YOHAN!!"
...****************...
Yohan mulai membuka matanya perlahan dan ia mulai melihat sekelilingnya.
Yohan melihat Haidar, Marvin dan Yandhi sedang mengobrol di samping kasur Yohan.
"A-ya..h.." Lirih Yohan dan mereka langsung menatap Yohan.
"Lo udah bangun?!" Seru Haidar sambil segera lebih mendekati Yohan dan matanya berkaca kaca.
"BANG!" Marvin langsung memeluk Yohan perlahan dan menitikkan air matanya.
Yohan tersenyum dan memeluk balik Marvin dengan perlahan.
"Lo kenapa sih selalu terluka?" Tanya Yandhi sambil berkaca kaca.
"Gue.. Ga..papa.." Yohan tersenyum kembali membuat mereka mendadak menitikkan air matanya.
"A-ayah lo katanya gamau bahayain lo, jadi dia pergi gatau apa maksudnya." Ucap Yandhi lalu Yohan menatap langit-langit atap sendu.
"Gue bakalan selalu nemenin Abang!" Ucap Marvin dengan sangat yakin dan Yohan hanya tersenyum.
"G-gue.." Gantung Yohan.
"Kenapa kenapa? Ada yang sakit??" Tanya Haidar.
"Pengen... Pulang.."
"Yeuu dikira ada apa, baru aja kemaren dijahit heh. Udah gak betah aja, gue malah suka karena di rumah sakit tuh adem,"
"Bau.. rumah sa-sakit..." Yohan tiba-tiba merasa sakit kepala yang berdenyut dan samar-samar masa lalunya kembali terputar.
"Yo-yohan! Apa yang sakit?!" Mereka bertiga panik karena Yohan sesekali meringis kesakitan.
...----------------...
"Pokoknya, apapun yang orang lain lakukan padamu tidak baik, kamu harus tetap berbuat baik kepada mereka, ya? Janji sama Ibu?"
"Iya! Janji!"
Yohan kecil dan Ibunya (Clarissa) mengaitkan kelingking mereka dan tertawa bahagia.
...----------------...
"Laki-laki harus berani dan kuat! Oke?"
...----------------...
"Buatlah orang lain bahagia, karena sebenarnya itu pun membahagiakan dirimu."
...----------------...
"Kau harus tetap tersenyum walau sedang sedih."
...----------------...
"Kau harus tetap sayang meski mereka meninggalkan atau membencimu."
...----------------...
"Yohan!" Seru Haidar karena Yohan terdiam namun ia merasa kesakitan.
Saat Haidar akan menekan bel untuk memanggil perawat, Yohan menahannya.
"J-jangan."
"T-tapi lo..!"
"Jangan!"
Semuanya menatap Yohan khawatir, namun Yohan tetap tersenyum meski terlihat dipaksakan, sambil menahan sakit kepalanya.
...----------------...
"AARRGHH!! LAMA LAMA AKU BISA GILA KARENA SI BRENGSEK ITU!"
"Ibu, tenanglah..."
"DIAM KAU! JANGAN MEMBUAT ORANG SEMAKIN EMOSI!!" Clarissa menghempaskan tangan Yohan yang memegang baju nya.
"GARA-GARA KAU..! GARA-GARA KAU AYAHMU JADI MENYALAHKAN AKU! KENAPA KAU SELALU GAGAL! KENAPA BUKANNYA PERINGKAT 1 MALAH PERINGKAT 2?!"
"AKU YANG KENA MARAH GARA-GARA KAU BODOH!"
Yohan kecil diam saat kata-kata yang ia tidak pernah dengar dari Clarissa diteriakkan di hadapannya.
"Aku udah berusaha semaksimal mungkin, Bu.." Ujar pelan Yohan kecil sambil menatap Santi dengan tatapan takut.
"...Aku tidur duluan." Ujar Yohan kecil sambil berjalan menuju kamarnya.
Namun lengannya dicekal oleh Clarissa.
"Haah.... Maafkan Ibu Nak.." Clarissa menghela napas lalu memeluk Yohan dan mulai sedikit terisak.
"I-ibu udah kelewatan.. M-maafkan Ibu..." Tangan Clarissa mengeratkan pelukannya dan Yohan kecil hanya diam dan menangis namun tak bersuara.
"Ibu gak salah.." Lalu Yohan kecil membalas pelukan Clarissa.
...----------------...
Wajah Yohan berkeringat, ia menjatuhkan air matanya dan membuat teman-temannya terkejut.
"Bang.. Bang kenapa?!" Tanya Marvin khawatir.
"Ah? B-bukan.. apa-apa." Jawab Yohan linglung.
"Bang.." Gantung Marvin sambil menatap Yohan dengan mata yang bergetar.
"Ya?" Tanya Yohan.
"Bisa gak sih.. Kalo lo lagi gak baik-baik aja tuh jujur aja?" Yohan tertegun mendengar pertanyaan Marvin.
"Mak..sudnya?"
"Abang jujur aja kalo lo lagi nahan sakit kan? Jangan bohong...!" Ucap Marvin, penuh penekanan dan lumayan berteriak di kalimat akhir.
"Vin.."
"G-gue.." Marvin menggantung kalimatnya lalu air matanya mulai keluar kembali, ia segera menyusutnya.
"Gue gak suka lihat orang yang pura-pura baik-baik aja, padahal aslinya dia sangat gak baik-baik aja..." Marvin mulai menangis dan menempelkan wajahnya di kasur Yohan.
Haidar dan Yandhi yang mendengar ucapan Marvin ikut sedih mendengarnya..
"E-eh? M-maafin gue.. Tapi gue u-udah gapapa,." Yohan merasa bersalah karena membuat teman-temannya menangis.
"Yohan.. Plis deh jangan suka ngomong 'gapapa', gue muak dengernya," Ucap Yandhi sambil melihat kearah lain dan mengangkat kepalanya membendung air matanya agar tidak keluar.
Tok
Tok
Tok
"Permisi, mau ganti cairan infus." Seorang perawat masuk membawa kantong infusan sambil memeriksa Yohan. Mereka bertiga sontak berdiri dan menyisi ke tembok.
"Ada keluhan nggak?" Tanya perawat itu setelah beres mengganti infusnya, lalu memeriksa suhu Yohan.
"Nggak," Balas Yohan singkat sambil menatap mereka dengan tatapan tajam seperti memberi kode 'diam kalian jangan ngomong!'
Haidar baru tersadar, tadi Yohan terlihat kesakitan.
"Sus-" Namun Yohan semakin menatapnya tajam.
"Ya? Kenapa?" Tanya perawat itu dengan ramah.
Akhirnya Haidar tidak mempedulikannya dan tetap berbicara pada perawat itu.
"Tadi dia kayak kesakitan gitu, gak tau apa yang dia rasain." Ujar Haidar sambil menatap Yohan dengan tatapan tajam juga.
"Suhu kamu juga lumayan tinggi, 38°C. Bagian mana yang sakit?" Tanya perawat itu pada Yohan.
Mau tak mau Yohan jujur.
"T-tadi sih, sakit kepala.. Tapi sekarang udah nggak,"
"Sering ngerasain atau baru sekarang aja?"
Yohan terdiam, ia ingin bilang baru kali ini ia merasakannya namun Haidar berbicara duluan.
"Sering sus, dari abis demam juga dia suka tiba-tiba kayak sakit gitu.." Sahut Haidar.
"Tapi biasanya kalo lagi demam suka sakit kepala," Timpal Yohan, memang benar.
"Baiklah, nanti dikasih obat pereda nyeri." Perawat itu tersenyum lalu keluar.
"Lo ngapain dibilangin?!" Yohan merasa lumayan kesal.
"Lah emang bener kan, sekalian di rumah sakit periksain aja.. Gereget gue dari dulu pengen ngomong."