
"Reyhan, Reyhan. Lo tuh berlagak kayak orang gak ada salah aja anj**g!" Teriak Reyhan membuat Yohan kembali terdiam.
"Kenapa.. Kenapa Ayah lo bunuh Ibu gue?!!"
"Ibu gue salah apa sama kalian?!!"
Ternyata ini alesannya ngehajar gue.. Kebayang besok di sekolah gimana. Batin Yohan.
Yang penting Reyhan ngelampiasin nya ke gue gak ke Ayah. Batin Yohan dan tanpa sadar tersenyum tipis.
"APA YANG LUCU HAH?!!" Reyhan berteriak kencang sekali didepan wajah Yohan.
"Nggak, kalian gak ada salah apa-apa... Lampiasin aja semuanya ke gue." Yohan tersenyum lagi dengan tatapan teduh, Reyhan yang melihat itu tertegun.
"Ah! Anj**g! Awas aja lo besok di sekolah!" Reyhan melepaskan cengkramannya membuat Yohan terbentur cukup keras, lalu Reyhan pergi begitu saja.
Yohan sedikit meringis lalu berusaha berdiri dengan sedikit tertatih-tatih.
Yohan memegangi kepalanya lalu menggelengkan kepalanya berusaha menetralkan pandangannya.
....
Yohan pulang ke rumah menjelang malam, ia tidak jadi kembali ke kantor polisi karena sakit kepalanya terasa sangat sakit.
"Gue kenapa..." Yohan memukul-mukul kepalanya dengan frustasi.
Yohan merasa sangat mengantuk dan akhirnya ia tertidur.
****************
"Ayahnya bunuh Ibunya Reyhan!"
"Keluarga monster!"
"Kasian Reyhan, apalagi dia paling dekat dengan Ibunya,"
"Katanya Ibunya juga dulu dibunuh."
"Iyakah?!"
"Untung gak deket sama dia."
"Pasti itu muka sama si Reyhan."
Bisikan benci orang-orang terdengar saat Yohan melewati koridor sekolah.
Yohan datang ke sekolah dengan pipi yang lumayan lebam dan bibir yang sedikit sobek bekas kemarin malam.
Udah gue duga. Batin Yohan diiringi helaan napas.
Sesampainya di kelas, semua orang menatapnya dengan tatapan tidak percaya, namun Yohan mengabaikannya dan segera menuju bangkunya.
Reyhan masih memperhatikan Yohan dengan tatapan dendam yang sangat dalam.
Sonya menghampiri Yohan dan duduk di sebelahnya.
"Yohan.. Jangan dengerin kata mereka." Ucap Sonya memegang tangan Yohan dibawah meja membuat jantung Yohan berdetak cepat.
Yohan membalasnya dengan senyuman dan anggukan membuat jantung Sonya berdebar juga.
Lalu Haidar berlari dari luar kelas dengan tergesa-gesa dan langsung mengetahui suasana saat ini. Haidar masuk ke kelas dan menatap semuanya satu persatu terutama Reyhan.
Sebelum berbicara, Haidar menghela dan menarik napas panjang dahulu.
"Kalian... Jangan natap gitu sama Yohan, jangan ngomongin juga, Yohan gak salah apa-apa... Dan Ayahnya gak berniat beneran bunuh Ibunya Reyhan." Ujar Haidar dengan nada yang terdengar bermaksud menenangkan semuanya.
Reyhan naik pitam dan menghampiri Haidar dengan ekspresi yang terlihat sangat marah lalu menarik kerah Haidar dengan kasar.
"Lo.. Lo siapa berani ikut campur?! Ayahnya yang udah bunuh Ibu gue!! Lo gak tau ya rasanya kehilangan orang yang paling disayang apalagi itu Ibu bukan pacar atau siapapun!!" Ucap Reyhan pelan dengan suara bergetar dan penuh penekanan.
"Gue ngerti perasaan lo,"
Yohan yang melihat itu langsung menghampiri mereka dan melepaskan cengkraman tangan Reyhan dari kerah Haidar.
Sonya ikut berdiri dan mengikuti Yohan.
"Lo kalo mau ngelampiasin ke gue aja!" Ucap Yohan dan menarik Reyhan keluar dari kelas namun tangan Yohan dicekal Haidar dan Sonya.
"Yohan... Jangan sembarangan.." Ucap Sonya khawatir.
"Lo jangan ngapa-ngapain.. Jangan ngebahayain diri..!" Ucap Haidar pelan sambil melihat Yohan khawatir, namun Yohan hanya tersenyum dan mengangguk lalu pergi meninggalkan kelas dengan Reyhan.
*
"Apaan lo narik-narik gue!" Reyhan marah saat mereka tiba di kamar mandi lalu menghempaskan tangan Yohan dengan kasar dan menonjok dengan tiba-tiba ke pipi kiri Yohan namun ia tidak menghiraukannya.
Emosi Reyhan sudah meluap-luap, ia menendang Yohan dari depan dengan keras sampai Yohan terjatuh dan wajahnya terbentur cukup keras, namun Yohan segera duduk dan sedikit meringis.
Yohan melihat Reyhan seperti ada dua, penglihatannya kabur dan membuat apa yang dilihatnya membayang.
"GUE KESEL AN***G!" Teriak Reyhan mengejutkan Yohan yang sedang berusaha melihat Reyhan dengan jelas. Lalu ia berdiri dan mendekati Reyhan.
"Lo tenang dulu, jangan langsung marah gitu, kontrol dulu emosinya... Please jangan lampiasin ke orang lain selain ke gue!" Ucap Yohan dengan tatapan sedikit memohon.
"GIMANA GUE BISA TENANG?! SEDANGKAN DIA IBU GUE!! IBU!! IBU ADALAH ORANG YANG PALING SAYANG SAKA GUE DAN MENDERITA! AYAH GUE GAK PEDULI SAMA KITA DAN DIA CUMA BISA NYURUH KITA TERUS NGELAKUIN APA YANG DIA MAU! GUE CAPEK! DAN SEKARANG IBU GUE NINGGALIN GUE!" Teriak Reyhan yang sudah mengeluarkan air matanya.
Yohan yang mendengarnya ikut sedih karena Ibunya pun sudah tidak ada dan keadaan keluarganya mirip dengan keluarga Yohan.
Tangan Yohan bergerak memeluk leher Reyhan dan menepuknya perlahan.
"Lo kuat Reyhan.. Lo udah bertahan sejauh ini sama Ibu lo, dan lo harus terus pertahanin. Meski misalnya Ayah lo gak suka sama lo, lo nikmatin aja.. Siapa tau nanti Ayah lo berubah kan? Lo harus kuat."
Reyhan yang terlarut dalam kesedihan menatap lurus dengan kosong, lalu ia mulai berhenti mengeluarkan air matanya.
Reyhan berniat mendorong Yohan karena ia malu namun melihat perlakuan Yohan, Reyhan hanya diam.
Ternyata lo beneran kuat, Yohan. Batin Reyhan.
Yohan melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Reyhan lalu menatapnya.
Reyhan yang ditatap merasa canggung dan malu karena ulahnya tadi.
Akhirnya Reyhan menghela napas panjang.
"M-maaf... Yohan." Ucap Reyhan singkat dan Yohan tersenyum.
"Gak apa-apa, semua orang pasti punya masalah sendiri.. Dan suka dipendem, tapi jangan keterusan dipendem soalnya sekali ngeluapin bakal gini." Yohan tersenyum lebar sampai menampakkan deretan giginya.
Padahal gue sendiri gitu. Batin Yohan.
"Makasih," Reyhan memberanikan diri menatap mata Yohan dan saat ia menatap nya Yohan masih setia dengan senyuman lebarnya membuat Reyhan semakin merasa bersalah.
"Maafin Ayah gue, ya?" Ucap Yohan lembut.
Namun tiba-tiba hidung Yohan mengeluarkan darah yang cukup banyak, membuat Reyhan panik. Tak lama kemudian, Yohan pingsa dan dibawa ke UKS oleh Reyhan.
......................
Sedari tadi Reyhan menunggu Yohan bangun. Ia benar-benar merasa bersalah.
"Ini semua salah gue! Gue orang paling gak tau diri, kenapa gue bisa benci sama anak yang kuat kayak Yohan? Gak kayak gue yang lemah! Gue udah ngebahayain orang lain. Semoga lo gak apa-apa Yohan.." Cemas Reyhan.
Pasalnya kini sudah waktu istirahat, yaitu jam 10 pagi, namun Yohan tak kunjung bangun dan mimisannya terkadang masih keluar.
Haidar dan Sonya menyusul dengan cepat dan segera mencari Yohan.
"Yohan..." Gumam Sonya sambil mendekati Yohan.
"Lo apain Yohan?!" Haidar baru bisa menanyai Reyhan saat istirahat.