YOHAN ALVARENDRA

YOHAN ALVARENDRA
Perkenalan



Jumat 6:30


Seorang remaja laki laki kelas 2-1 SMA tengah berjalan di koridor sekolah, ada yang menatapnya aneh dan ada juga yang menatapnya senang. Namun laki laki itu hanya tersenyum ramah dan berjalan dengan sopan.


Saat ia memasuki kelasnya semuanya menatapnya sekilas lalu kembali melakukan aktivitasnya masing masing. Laki laki itu langsung menuju bangku nya untuk duduk yaitu di paling ujung kiri dekat jendela.


Saat ia baru duduk, seseorang menepuknya dan memanggil namanya.


"Yohan!" Remaja lelaki berambut hitam dan berponi itu bernama Yohan Alvarendra. Ia kemudian memalingkan wajahnya menatap orang yang memanggilnya itu.


"Eh, Haidar!" Remaja lelaki yang juga seumuran dengannya bernama Haidar Fernando, sekaligus teman sebangkunya Yohan baru saja datang.


"Kita kerkom bareng, nanti pulang sekolah. Mau di rumah siapa?" Tanya Haidar.


"Lo aja, jangan gue."


"Kok, lo gak pernah ngebolehin gue kerkom di rumah lo?"


"Ya, gak apa apa, hehe. Enakan di rumah lo kok"


"Hmm... Yaudah,"


Yohan terkekeh dan Haidar juga ikut terkekeh.


................


Kring!!


Kring!!


Kring!!


Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas untuk pulang.


Yohan dan Haidar menunggu ketiga sahabatnya dan saudara Yohan. Mereka selalu pulang bersama meski diantara mereka ada yang mau kerja kelompok, seperti sekarang ini.


Saudara Yohan, Marvin Alvarendra. Ia kelas 1 dan satu satu nya saudara yang dekat dengan Yohan. Ya, hanya Marvin. Orangnya bertubuh mungil, wajahnya imut, dan tingkah lakunya seperti anak kecil. Semua orang menyukainya.


Yandhi Zibrano, sahabat mereka. Ia kelas 2-2, Yohan dan Haidar kenal Yandhi pada saat ada sebuah lomba di sekolah semester lalu, karena Haidar kebetulan menjadi panitia perwakilan kelas, dan Yandhi panitia perwakilan kelas 2-2. Yandhi orangnya, kalem kalem judes, suka gengsi, tapi sebenarnya sangat peduli dan sayang mereka.


Sonya Rafassya, sahabat perempuan pertama mereka, ia sekelas dengan Yandhi, dan ia kenal dengan mereka karena dikenalkan oleh Yandhi saat lomba. Sonya orangnya murah senyum, baik kepada semua orang, dan perhatian, tidak peduli siapa orangnya, ia juga terkadang selalu menjadi penasihat yang baik dan bijak, bukannya blak blak an kayak Haidar.


Dan terakhir, Wilona Raveena. sahabat perempuan mereka, yang baru baru ini baru mereka kenali tapi langsung dekat. Ia kelas 2-3. Mereka kenal padanya saat di upacara bendera dua minggu kemarin. Ya, Haidar dan Wilona dihukum karena telat masuk sekolah, namun bukannya mengeluh atau apa, mereka malah mengobrol santai seperti orang yang sudah lama kenal. Wilona orangnya bobrok, segala sesuatu pasti di buat tertawa. Padahal tidak ada yang lucu.


Haidar? Tentu saja dia bobrok, sebelas duabelas dengan Wilona. Namun Haidar kelewat julid, tidak seperti Wilona, cuma ngakak in apa aja tapi masih jaga etika.


Dan... Yohan? kalian simpulkan sendiri nanti :)


Bagi mereka, berkenalan itu sangat mudah dan sebentar, nyatanya mereka baru saja dua minggu berlalu tapi sudah sahabatan.


Akhirnya yang ditunggu pun datang. Haidar menunggu teman temannya di koridor. Karena kelas mereka menyatu tapi beda ruangan alias bersebelahan. Sedangkan Yohan menunggu saudaranya, Marvin di depan kelas 1-1.


Yandhi, Sonya dan Wilona keluar dari kelas mereka dan langsung menghampiri Haidar.


"Mana si Yohan?" Tanya Yandhi sambil celingak celinguk.


"Biasa, kelas 1 pulangnya kan suka telat." Jawab Haidar


Mereka hanya mengangguk angguk dan segera menyusul Yohan menuju kelas 1-1.


Kebetulan saat mereka kesana, Yohan dan Marvin sudah terlihat sambil melambai lambaikan tangan. Mereka baru saja mau menghampiri mereka.


"Kebetulan banget ahaha!" Heboh Wilona sambil menepuk nepuk punggung Marvin.


Marvin hanya tersenyum, pasalnya ia juga baru sadar, kebanyakan teman temannya itu adalah temannya Yohan.


"Yok pulaaang!! Eh iya kerkom dulu" Ucap Haidar di akhiri dengan helaan napas kecewa sambil mendahului mereka.


Mereka hanya tertawa dan lanjut berjalan.


................


Pulang kerja kelompok


Di rumah Yohan


Plak!


"Kemana aja gak bilang dulu?" Tanya Ayahnya--Alvarendra.


Yohan terkejut dan baru ingat kalau ia belum memberitahu Alvarendra kalau ia akan pergi kerja kelompok dulu.


"Elah, gue lupa gak kasih tau Ayah kalo mau kerkom dulu, saking gamau pulang ke rumah sih.." Batin Yohan.


"Kenapa gak jawab?" Tanya Alvarendra ketus.


"Tadi kerkom dulu, lupa gak bilang." Jawab Yohan singkat.


"Kalo kamu pulang sore perasaan gak pernah chat? Dan alasannya selalu kerja kelompok."


"Ya, gu-aku beneran kerkom Yah.. Janji nanti bilang dulu sama fotoin buktinya kalo Ayah gak percaya," Yohan berharap Ayahnya mendengarkannya.


Namun Ayahnya malah tersenyum miring.


"Lupa? Keluyuran ya?!" Nada Ayahnya meninggi


membuat Yohan tersentak.


"Kalo lain kali sampe pulang malem, terus Ayah gak lihat kamu belajar di rumah, awas aja."


"Semenjak gak ada Ibu kayaknya kamu jadi agak males,"


Yohan mendongak cepat dan emosinya tiba tiba memuncak.


"Jangan membawa bawa Ibu."


"Tapi benarkan, waktu Ibu masih ada kamu tuh terlihat selalu semangat dan ceria, gak kayak sekarang."


Yohan menundukkan kepalanya sambil menahan air mata nya yang sudah di ujung mata.


Plak!


Tamparan kedua kalinya lebih keras dan masih di pipi kiri Yohan. Yohan yang sedang menunduk tiba tiba tertegun dan wajahnya terangkat sedikit keatas. Ia pun menitikkan air matanya.


"Dasar cengeng!" Alvarendra lalu pergi meninggalkan Yohan yang masih mematung di sana.


"Gue kangen Ibu.." Batin Yohan sambil tersenyum kecil.


......................


Di kamar, Yohan menangis tanpa suara sambil duduk memeluk lututnya. Ia sering menangis sendirian, tanpa ada orang yang tahu. Namun ia selalu menyembunyikan kesedihan itu dengan senyumannya yang ceria didepan teman teman nya.


Setiap hari pasti ia selalu menangis, bukan cengeng... Kalian juga pasti mengerti perasaan Yohan.


Ia anak tunggal, Ibu nya sudah tiada sejak ia masih SD. Ayahnya orang yang sangat keras, seperti tadi. Bisa bisa ia disebut penggila bisnis karena lebih menomorsatukan bisnis dan,, keluarga entah nomor berapa.


Jadi Yohan hanya hidup berdua dengan Ayahnya.


......................


Di sekeliling Yohan semuanya gelap, ia bahkan tidak bisa melihat tubuhnya sendiri.


"Gue dimana?" Batin Yohan.


Tiba tiba suara yang bergema terdengar.


"Katanya Ibu nya baru meninggal tahu,"


"Iya, tapi Ayahnya itu pebisnis yang kaya."


"Tapi dia terlihat gak peduli sama keluarganya, iya nggak?"


Yohan terkesiap dan merasa marah.


Namun tiba tiba ada sesuatu seperti tangan meraba lehernya dari depan lalu perlahan mencekik Yohan.


"A-apa apaan i-ini?!" Yohan berusaha melepaskannya dan ia langsung berlari entah kemana karena disekelilingnya gelap.