
"Weh, Han! Ada berita lagi tentang Ayah." Seru Haidar sambil melihat layar hp nya. Yohan yang sedang berlatih berjalan terkejut.
"Hah? Apa katanya?" Tanya Yohan masih berusaha menggerakkan kaki nya dengan susah.
"Ayah di klarifikasi punya kepribadian ganda, cuma bakal tetep ditahan selama beberapa tahun karena kepribadian ganda nya emang bahaya," Ujar Haidar menyimpulkan berita yang viral tersebut.
Yohan menghela napas.
"Eh ada artikel tentang lo juga, lo dikabarin sakit tapi gak ada foto sama gak dikasih keterangan sakit apa. Beritanya udah dari sebelum kita pindah ke gedung ini ternyata," Ujar Haidar terkejut.
Yohan sama terkejutnya, ia pun bertanya kepada Haidar. "Siapa yang nyebarin?"
"Gak tau, tapi untungnya gak dikasih keterangan."
"Masih susah jalan nya?" Tanya Haidar khawatir melihat Yohan yang kesusahan mencoba berjalan menggunakan alat bantu jalan dan berusaha mengalihkan topik.
"Susah ya susah, tapi gak boleh nyerah." Yohan baru bisa menggeserkan kaki nya perlahan atau menyeretnya dengan alat bantu jalan.
****************
Setelah beberapa lama, Yohan kembali ke kamar dan ternyata mereka belum pulang, masih berbincang-bincang.
Raut wajah Reyhan nampak sedih. Yohan yang menyadari itu lantas bertanya.
"Kenapa Han?"
"...Ternyata bener Ayah lo gak sengaja bunuh Ibu, alias sama kepribadian gandanya ya?"
Yohan hanya tersenyum membuat Reyhan heran.
"Gak apa-apa, lupain aja. Hehe" Yohan tersenyum sambil tangannya pose peace dengan mata tertutup.
Reyhan merasa hatinya sedikit lega.
Saku celana Reyhan bergetar dan ternyata Ibu nya menyuruhnya pulang karena sudah menjelang sore. Reyhan pamit dan pulang.
Beberapa saat setelahnya pun hp Marvin bergetar, sebuah telepon masuk dari Ayahnya yang menyuruh Marvin membantu bisnis perusahaan Alvarendra.
"Gue balik dulu ya, disuruh Ayah." Marvin membereskan barang-barangnya.
Sebelum pergi Marvin memeluk leher Yohan yang masih duduk di kursi roda dengan sebelah tangannya sambil menepuknya perlahan.
"Gue pergi dulu ya bang,"
Yohan memeluk balik Marvin sambil menepuk punggungnya.
"Maaf ya udah ngerepotin, untungnya ada kalian yang kebetulan Om salah satu anggota perusahaan nya. Makasih.. Banget Vin, bilangin makasih ya ke keluarga lo dari gue, makasih banget..." Marvin menatap mata Yohan yang bersinar itu.
"Sama-sama Bang, gak ngerepotin kok. Ayah jadi bisa ngerasain mimpin perusahaan yang emang dulu Ayah pengen gitu, tapi katanya ternyata butuh kerja keras dan mental yang kuat, Ayah juga paham perasaan Om, pasti capek."
"Lo juga semangat Bang! Pokoknya harus cepet sembuh! Gue menanti kepulangan lo ke rumah Bang!" Marvin pun beranjak pergi.
Yohan kembali berbaring ke kasurnya.
"Lo mau istirahat ya? Kalo gitu kita juga pulang." Ucap Yandhi sambil menepuk kedua bahu Wilona.
"Lagian penuh, nanti lo mau di periksa susah. Kita juga lagi bantu-bantu buat siapin festival buat sekolah dan kelulusan kelas 3."
"Yakan Wil?" Yandhi menyikut Wilona.
"Ha? Iya.."
Yandhi menepuk bahu Yohan.
"Cepet balik ya..! Hehe. Gue baliik." Yandhi berlalu pergi.
"Hati-hati."
"Gue juga pulang dulu ya, cepet sembuh." Wilona tersenyum dan mengikuti Yandhi, tersisa lah Haidar dan Sonya yang menunggu.
Tiba-tiba Dokter Aris dan seorang perawat datang. Haidar dan Sonya berdiri.
"Yohan sudah bisa pulang hari ini," Ucap Dokter Aris diiringi senyumannya.
Mereka semua tentu terkejut dan tentunya bahagia.
"Tapi sebelum pulang, Yohan mulai di kemoterapi dulu ya? Sambil nunggu ngurus administrasi, obat dan yang lainnya. Semoga aja cukup dengan kemoterapi dan cepet sembuh ya." Lanjut Dokter Aris.
Yohan hanya mengangguk, Dokter Aris menyuruh perawat memasangkan cairan infusan yang berisi obat kemoterapi, perawat itu langsung memasangkannya.
Karena 2 hari kebelakang, Yohan tidak memakai infusan karena kondisinya sudah mulai stabil.
"Kayaknya sekitar beberapa jam, nanti kalo udah habis pencet bel aja ya." Ujar Dokter Aris lagi.
"Haidar yang akan mengurusnya?" Tanya Dokter Aris.
"Iya Dok."
"Yaudah sekarang aja biar nanti gak lama lagi."
Dokter Aris tersenyum. "Memang sudah tugas saya, saya pamit ya."
Mereka berdua pergi keluar. Haidar bersiap untuk pergi ke meja perawat mengurus segalanya.
"Gue pergi dulu ya Ra." Ujar Haidar dan berlalu pergi.
"Akhirnya pulaaangg..!" Seru Sonya sambil melihat Yohan dengan senyuman yang mengembang.
Yohan membuka tangan kirinya dan sedikit bergeser seolah mengundang Sonya untuk tidur diatas tangannya.
Sonya yang melihatnya langsung menidurkan kepalanya dibawah tangan Yohan.
"Kok dibawah?" Tanya Yohan.
"Tangan lo kan ada infusnya," Ujar Sonya.
"Oh iya." Sonya terkekeh.
Tangan Yohan bergerak mengusap puncak kepala Sonya. Sonya yang menyadarinya mendongak melihat Yohan.
Yohan hanya tersenyum membuat pipi Sonya memerah, ia kembali menyembunyikan wajahnya lalu menampar badan Yohan pelan.
"Kenapa? Lo malu ya??" Tanya Yohan menggoda.
"Apasih," Tanpa Sonya sadari tangannya bergerak memeluk tubuh Yohan.
Dan berakhir mereka berdua tertidur lelap.
****************
5.50 PM
"Gue udah beres-" Saat Haidar masuk membawa paperbag rumah sakit yang isinya segala macam hal, ia terkejut melihat posisi tidur Sonya dan Yohan.
Ya, mereka masih dalam posisi yang sama seperti tadi. Sonya memeluk Yohan sambil menyembunyikan wajahnya dan Yohan yang memeluk Sonya dengan tangan kirinya.
Haidar melihat infusan Yohan yang terlihat kurang dari setengahnya dan melihat kembali posisi mereka.
"Aah.." Gumam Haidar.
Gabisa gabisa gabisa! Kok mereka gemes banget sih!?? Batin Haidar berteriak. Cepat-cepat Haidar menghampiri mereka yang sepertinya masih tertidur lelap.
"Foto ah.." Gumam Haidar dengan senyuman liciknya lalu memotret beberapa gambar mereka dari berbagai arah, seperti seorang penguntit.
Lalu tiba-tiba kepala Sonya bergerak membuat Haidar cepat-cepat menghentikan aksinya dan duduk disamping ranjang, pura-pura bermain hp.
****************
6.50 PM
Sejak sore tadi, Haidar tertidur, Sonya pun masih tertidur.
Sonya mulai bangun dan melihat infusan Yohan. Sudah habis.
Sonya memencet bel perawat.
"Obatnya udah habis," Ujar Sonya kepada bel itu.
"Oh, udah habis? Saya kesana."
Beberapa saat seorang perawat datang.
Haidar dan Yohan merasa terusik dan mereka perlahan membuka matanya.
"Dilepas dulu ya.." Perawat itu melepas infusannya perlahan.
"Kalian boleh pulang, kursi rodanya bawa aja. Dirumah banyakin gerak ya."
"Kalo sekolah boleh?" Tanya Yohan.
"Kalo bisa istirahat aja dulu, biar sembuh total"
"Cepet sembuh ya, saya pamit."
****************
Mereka keluar dari rumah sakit. Sonya mendorong kursi roda Yohan menuju mobil Haidar.
Ditengah perjalanan, Sonya diantar pulang duluan oleh Haidar.
****************
"Gue nginep ya Han!" Begitu mereka sampai Haidar meminta untuk menginap.
"Iya, makasih udah nemenin." Yohan menuju kamarnya. Ia merasakan pusing namun tidak separah sebelumnya.
Efek kemoterapi?