YOHAN ALVARENDRA

YOHAN ALVARENDRA
Kehangatan



"Gue nonjok, ngedorong Yohan sampai jatuh, gue tau gue emang gak tau diri... Gue gak pantes hidup, mending nyusul Ibu gue aja." Ucap Reyhan datar menatap Yohan.


"Eh y-ya bukan gitu maksud gue, gue nanya doang Yohan lo apain.. Awas lo jangan macem-macem sama diri sendiri" Haidar merasa salah bicara.


"Kenap-"


Yohan tiba-tiba terbangun dengan posisi duduk lalu melihat sekitar.


"Yohan!"


......................


Sepulang sekolah hari ini, Yohan mengunjungi Alvarendra ke kantor polisi.


"Yohan..!" Seru Alvarendra saat Yohan hendak duduk di balik sekat.


Syukurlah ini Ayah! Batin Yohan senang.


"Yohan.. Maaf Ayah gak bisa jadi Ayah yang baik.."


"Ayah jangan menyalahkan diri.."


"Ayah. Ada yang mau Yohan tanyakan." Ucap Yohan tiba-tiba dan diangguki Alvarendra.


"Sebenarnya, kenapa Yohan gak ingat sama sekali ingatan masa lalu Yohan? Kenapa Ayah mempunyai kepribadian ganda? Bagaimana aku bersaudara dengan Haidar?" Tanya Yohan berturut-turut membuat Alvarendra terdiam.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Alvarendra bertanya balik.


"Sekarang ingatan masa lalu terputar lagi,"


"Sekarang Ayah kasih tahu semuanya, kamu gak ingat masa lalu kamu karena kamu trauma... Trauma karena..." Alvarendra menggantung kalimatnya dan menunduk.


"Kamu nyaksiin Ayah bunuh Ibu. Ayah berubah jadi biasa lagi setelah menikam Ibu. Lalu saat Ayah lihat, kamu udah gemeteran terus pingsan. Pas bangun di rumah sakit, kamu kayak linglung, dan katanya kamu hilang ingatan karena trauma."


Yohan menyimak terus sambil berusaha mencerna perkataan Alvarendra.


"Ayah punya kepribadian ganda dari kecil, tapi Ayah sendiri gak tau ada kepribadian apa aja, soalnya hampir tiap hari gak inget apa yang udah Ayah lakuin."


"Kata dokter, mungkin Ayah mempunyai kepribadian ganda karena trauma berat. Trauma berat dulu yang Ayah saksikan, keluarga Ayah dibantai saat Ayah masih berumur sekitar 3 tahun. Dan Ayah pernah hampir dibunuh juga sampai lari mati-matian."


"Pertanyaan terakhir, bagaimana kamu sama Haidar bersaudara? Ternyata kamu sudah tahu. Dulu Ayah menikahi Ibu Haidar lebih dulu, lalu tak lama aku menikah dengan Ibu mu. Ibu Haidar mengandung lebih dulu, lalu 1 bulan kemudian, Ibu mu mengandung kamu."


"...Apa jawaban Ayah jelas?"


Yohan masih terdiam setelah mengetahui fakta-fakta masa lalunya.


"Ooh.. Begitu ya"


"Akhirnya aku mengetahui kebenarannya." Yohan tersenyum dengan tatapan teduh.


"Maaf, Ayah memang monster." Alvarendra menunduk.


"Ayah jangan gitu, itu kan kepribadian ganda Ayah..." Ucap Yohan lembut.


"...Kau pasti stress karena kehilangan Ibumu, apalagi dulu masih kecil."


"Sifatmu dengan Ibumu hampir sama, pasti diajarkan oleh Ibu ya?" Alvarendra tersenyum.


Yohan merasa sakit kepala hebat lagi namun ia tetap berusaha bersikap normal.


"Iya.." Yohan dan Alvarendra tersenyum sambil meneteskan air matanya.


Seorang penjaga datang dan menghampiri mereka.


"Maaf. Waktu Anda sudah habis." Ucap kedua penjaga itu disamping Alvarendra dan disamping Yohan.


"Ayah, jaga diri jaga kesehatan."


"Kamu juga, maafkan Ayah.."


Alvarendra kembali masuk kedalam penjara dan Yohan pulang ke rumah.


......................


Di sepanjang jalan Yohan merasakan sakit kepala hebat membuatnya ingin tidur.


Namun saat tiba di dekat rumahnya, Haidar dan Reyhan ternyata sudah di depan pintu rumah Yohan.


"Kalian mau apa?" Tanya Yohan.


"Ke rumah lo, Reyhan sekalian mau minta maaf. Ya kan?" Haidar menyikut Reyhan.


"Ah, iya."


"Gimana ya, gue mau tidur.. Hehe" Yohan merasa canggung.


"Oh kalo gitu maaf, gue gak tau. Maaf udah ganggu, lain kali aja gue mainnya." Reyhan gugup.


"Gak apa-apa, sekali lagi maaf ya Reyhan." Ucap Yohan.


"Buat apa?"


"Perbuatan Ayah gue."


"Oh, iya udah gak apa-apa gak usah dibahas." Reyhan tersenyum canggung.


"Cie senyum," Ejek Haidar membuat Reyhan malu.


"Yaudah kita mau balik lagi aja, Nanti kalo boleh main chat ya!" Seru Haidar lalu berpamitan dan pergi bersama Reyhan.


Yohan masuk kedalam rumah dan ia mencari timbangan berat badan.


Ia menimbang dirinya sendiri dan ternyata turun 5kg.


Ia merasa mual dan segera ke kamar mandi. Yang ia muntahkan hanya cairan bening, karena makanan tidak masuk sama sekali kedalam perutnya.


Gue punya firasat buruk. Batin Yohan.


Yohan merasa tambah pusing, akhirnya ia tertidur di sofa ruang tamu.


......................


Sore nya, Yohan menghubungi Haidar dan Marvin jika sekarang ia mau ditemani mereka dan meminta Haidar dan Marvin untuk menginap di rumah Yohan.


Haidar membawa mobil karena ia malas menaiki motor, rumahnya jika memakai mobil sekitar 20 menit, ia juga mengajak Marvin.


"Tumben lo mau ditemenin mana nginep." Ucap Haidar sambil senyum-senyum.


"Kenapa senyum-senyum? Enggak, gue pengen ditemenin aja."


"Adek ku tercingtah!" Haidar memeluk Yohan dengan tiba-tiba membuat Yohan terkejut.


"Adek?" Marvin terkejut.


"Oh iya, lo belum tau ya. Sebenernya Haidar itu Abang gue, cuma kita beda Ibu. Namanya juga asalnya Haidar Alvarendra." Yohan melepaskan tangan Haidar.


Marvin semakin dibuat terkejut mendengar penjelasan Yohan.


"Ini rahasia keluarga ya." Haidar mengedipkan mata kepada Marvin.


"Wahh gue gak nyangka... Tapi bagus deh karena Bang Yohan punya 2 saudara yang sayang dan peduli sama Abang!" Seru Marvin lalu memeluk Yohan.


Haidar ikut memeluk mereka berdua.


"Gue sayang sama kalian," Ucap Yohan lalu memeluk mereka berdua.


......................


"Kita tidur dimanaa??" Tanya Marvin saat mereka bersiap-siap untuk tidur.


"Haidar tidur di sofa aja, kita di kamar. Hahaha" Tawa Yohan.


"Gitu sama Abang teh,." Haidar pura-pura ngambek sambil cemberut.


"Perasaan Bang Haidar jadi lebay deh pas udah tau kalian adik kakak." Ucap Marvin.


"Iya nih gak tau mendadak lebay banget," Yohan pun tertawa.


Mereka bertiga tertawa bersama.


"Tidur di kamar gue, lumayan luas. Cukup kan?" Tanya Yohan.


"Cukupin! Kamar lo luas!" Seru Haidar lalu mereka masuk ke kamar Yohan.


"Gimana mau pake karpet?" Tanya Marvin.


"Gue juga ikut dibawah." Sahut Yohan.


"NOOO!!" Teriak Marvin dan Haidar bersamaan.


"Lo kan yang punya rumah, ya diatas lah!" Seru Haidar.


"Gak sopan,"


"BODO AMAT!" Teriak mereka berdua lalu tertawa lepas.


"Yaudah gue mandi dulu." Ucap Yohan.


Yohan memakai baju tidur lengan pendek. Saat kembali ke kamar, Marvin dan Haidar melihat Yohan terkejut..


"Kenapa natapnya kayak kaget gitu?" Tanya yohan.


"Lo.... Kenapa kurusan?" Tanya Haidar.


"Gue baru nyadar..." Sahut Marvin pelan.


Ah, gue malah pake tangan pendek. Batin Yohan.


"Bukan apa-apa, tidur yok!" Seru Yohan berusaha mengembalikan suasana.


Yohan pasrah, ia hanya bisa jujur.


"Gue turun 5kg."


Haidar dan Marvin membelalakkan matanya.


"Han..."


"Iya, gue gak makan dari kemarin-kemarin. Gak nafsu, tiap hari paling cuma minum."


"Udah ah ayo tidur!"