
Tiga hari kemudian, Yohan bersekolah kembali seperti biasa. Saat beristirahat, teman-temannya langsung mengerubungi nya dan menanyakan kabar Yohan.
"Gue gapapa, gausah berlebihan.. Hehe" Balas Yohan untuk pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya.
Tiba-tiba Yohan merasakan sakit kepala yang berdenyut disertai lengan kanan dan jari jemari nya mati rasa.
Yohan menggerak-gerakkan jari jemarinya dan rasanya sangat lemas, sakit kepalanya masih berdenyut.
Akhir-akhir ini gue kenapa ya? Perasaan gak ada salah makan atau ngelakuin apa-apa. Batin Yohan.
"Kenapa, Yohan?" Tanya Wilona yang melihat ekspresi Yohan terlihat bingung.
"Ah! nggak." Yohan hanya terkekeh dan mengobrol kembali dengan mereka.
......................
"Han, kenapa gak nulis?" Tanya Haidar saat melihat Yohan seperti memainkan pulpennya.
Sedari istirahat tadi, mati rasa di bagian lengan kanan Yohan tak kunjung hilang, membuatnya sulit menulis saat belajar di kelas.
"Su..sah..." Jawab Yohan pelan, sambil berusaha memegang pulpen, tangannya terasa sangat lemas.
"Lo kenapa?!" Bisik Haidar namun suaranya lumayan keras.
Tiba-tiba Yohan merasa mual dan ingin muntah.
Ia cepat-cepat ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
"Lo belum periksa ke dokter?" Tanya Haidar saat Yohan kembali ke kelasnya.
"Nggak, lagian kayaknya ini efek waktu demam tinggi. Soalnya beberapa bulan ke belakang gue gak sakit, sekalinya sakit ya gitu." Jelas Yohan panjang lebar.
"Iya, justru itu yang harus di periksain..." Ucap Haidar sambil menghela napas.
"Gak.. Ah" Ujar Yohan sambil tersenyum lebar.
"Dih. **Baget!" Balas Haidar.
...****************...
"Yohaan! Siniiin hp guee!!" Seru Sonya kepada Yohan yang membawa hp Sonya. Entah kenapa hari ini Yohan ingin usil, sekalian mendekati Sonya.
Yohan membawa hp Sonya karena saat sedang berjalan, tidak sengaja Yohan mengintip hp Sonya, apa yang membuat tersenyum tipis sedari tadi.
Dan ternyata Sonya sedang melihat foto Yohan yang entah kapan ia memotretnya.
"Dari kapan motoin gue??" Tanya Yohan dengan nada menggoda sambil senyum-senyum.
"Iiih, siniin...." Rengek Sonya sambil berusaha meraih hp nya di genggaman tangan Yohan yang ia angkat sangat tinggi sambil berjinjit.
Entah kenapa mereka terlihat lucu, tidak seperti sikap biasanya mereka.
Mereka berdua mendahului teman-temannya karena sibuk kejar-kejaran. Teman-temannya hanya menertawakan mereka dan membiarkan mereka seperti itu, karena pada dasarnya Sonya dan Yohan tidak pernah seperti itu, jadi teman-temannya merasa sangat senang dan bersyukur mereka bahagia.
"Yohaan, siniiin yaa kita udah mau nyampe rumah~" Ujar Sonya sambil tersenyum sampai membuat matanya membentuk bulan sabit.
Mereka sudah melewati taman yang berada disana, itu artinya mereka sudah hampir berpisah/pulang ke rumah masing-masing.
Yohan malah terus berlari dan memasuki area taman itu, Sonya tetap mengejar karena hp nya masih dalam genggaman Yohan.
"Awas itu daritadi kepencet pencet rusak, gatau ah." Sonya berpura pura mengambek membuat Yohan tertawa.
"Hahaha, lo lucu." Kini Yohan yang mengatakannya, pipi Sonya tiba-tiba memerah dan ia merasa malu.
"Udah ah, siniin..! Gak lucu Yohaaan!" Sonya kembali berusaha meraih hp nya yang Yohan angkat tinggi-tinggi.
Namun tiba-tiba Sonya terpeleset dan membuatnya jatuh menimpa Yohan.
"Aduuh.." Sonya mulai terbangun dan ia baru tersadar bahwa ia terjatuh diatas Yohan.
Mereka saling tatap selama beberapa detik, jantung keduanya berdetak cepat.
"Waaah" Wilona, Yandhi, Haidar, dan Marvin ternyata mengintip mereka sejak tadi dibalik pohon. Mereka menutup mulut bersamaan dan merasa terharu.
"L-lo, gapapa?" Tanya Yohan membuat Sonya tersadar kembali, ia sempat terpaku.
"A-ah!" Sonya cepat-cepat berdiri dan merapikan seragamnya.
Yohan pun berdiri dan melakukan hal yang sama.
"Iya, gue gapapa." Jawab Sonya sambil memalingkan wajahnya karena malu.
"Nih, hp lo. Hehehe" Yohan memberikan hp Sonya kembali, dan Sonya menerimanya dengan canggung.
"Yaaah penonton kecewa" Ujar para penonton dibalik pohon. Apalagi Marvin, ia sangat ingin melihat Yohan kembali seperti itu. Karena ia ikut lega melihat Yohan bahagia.
Akhirnya mereka berjalan bersama lagi, mereka tidak memberi tahu kalau sebenarnya mereka melihat Yohan dan Sonya kejar-kejaran.
...****************...
"Yohan.."
Baru saja Yohan memasuki rumah, sebuah suara seorang pria terdengar, yaitu Alvarendra.
"Y-ya?" Yohan sedikit terkejut.
"Kesini dulu," Ucap Alvarendra dengan nada yang terdengar dingin tapi juga lembut.
Yohan semakin heran, namun ia hanya mengikuti perintah Ayahnya.
"Kesini disamping Ayah." Pertama kalinya juga setelah sekian lama Yohan baru mendengar Alvarendra menyebut dirinya Ayah.
Yohan hanya menurutinya dengan perasaan yang agak was-was.
"Pertama, Ayah minta maaf." Alvarendra menundukkan kepalanya.
"U-untuk apa?" Tanya Yohan canggung.
"Semuanya, mungkin. Yang telah Ayah lakukan berlebihan atau bahkan sangat berlebihan..."
Yohan semakin dibuat heran oleh perkataan Alvarendra.
"M-maksud Ayah?" Tanya Yohan dengan hati-hati.
Alvarendra menghela napas, Yohan menahan napas karena takutnya tiba-tiba Alvarendra seperti waktu malam itu.
"Ayah.. Mau beritahu yang sebenarnya.."
"Kamu ngerasa Ayah berbeda?"
"Eum.. Iya."
"Sebenarnya, Ayah punya kepribadian ganda."
Yohan terkejut bukan main, karena selama ini ia tidak tahu. Padahal mereka satu rumah.
"Jadi, mending kamu jangan deketin Ayah kalau Ayah kelihatan dingin. Itu bukan Ayah,"
"Jadi, ini kepribadian asli Ayah?"
"Ayah juga gak ingat sama sekali tentang semua yang Ayah lakukan, Ayah takut membahayakan orang lain.. Apalagi saat di kantor."
"Sekarang juga bisa aja Ayah tiba-tiba berubah, jadi kalau Ayah berubah jadi yang aneh-aneh, kamu boleh menyakiti Ayah.. Agar Ayah berhenti." Lalu Alvarendra tersenyum, entah kenapa hati Yohan sedikit bergetar dan merasakan kesedihan.
"Selama ini, Ayah gak pernah gini..." Yohan mulai menitikkan air matanya, karena baru mengetahui fakta yang sesungguhnya, sementara mereka tinggal satu rumah.
Alvarendra terkejut dan ia menanyai Yohan kembali.
"Yohan... Selama ini Ayah ngapain?"
"Selalu nuntut nilai sempurna, orang yang keras." Yohan berkata jujur dan semakin menumpahkan air matanya.
Alvarendra lalu memeluk Yohan dengan erat dan sama-sama mengeluarkan air matanya.
"Maafin Ayah selama ini Yohan.. Ayah beneran gak inget apa-apa, gak bisa ngontrol juga.. Maaf..." Mereka menangis sejadi-jadinya dan saling memeluk dengan erat. Entah kenapa rasa rindu tiba-tiba menghampiri mereka, karena selama ini mereka hanya diam saja dan tidak berkomunikasi.
"Gak usah minta maaf Yah,, Yohan selalu sayang sama keluarga Yohan... Meski mereka membenci Yohan sekalipun, Yohan bakalan tetep sayang.. Karena itu yang diajarkan I-ibu..." Alvarendra menangis lebih deras setelah mendengar perkataan Yohan.
"Argh!"
"A-ayah kenapa?"
Alvarendra mengambil cutter yang terlihat di laci tas Yohan yang terbuka lalu...
Jleb!