YOHAN ALVARENDRA

YOHAN ALVARENDRA
Khawatir



Mereka pulang pukul 7 dari pantai dan sampai ke rumah pukul 10 malam.


"Loh, Ayah belum pulang?" Gumam Yohan saat memasuki rumahnya, tidak menemukan keberadaan Alvarendra.


"Gak biasanya Ayah belum pulang jam segini,"


......................


Yohan terbangun pukul 5 pagi dan mencoba memanggil Alvarendra.


"Ayah?" Yohan mengetuk pintu kamar Alvarendra namun tidak dikunci.


"Ayah kok gak ada?" Gumam Yohan.


Yohan heran sekaligus khawatir dengan kepribadian ganda nya Alvarendra.


Karena hari ini masih libur sekolah, Yohan kembali ke kamarnya karena merasa sangat mengantuk.


Sakit kepalanya muncul kembali dan kini rasanya sangat berdenyut, membuatnya sulit tidur.


"Aarghh!" Yohan memegangi kepalanya dan tiba-tiba merasa mual, ia cepat-cepat ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


Yohan terduduk di atas kasur dan menyender ke tembok sambil terus memegangi kepalanya.


Lama-lama Yohan mulai meremas rambutnya dan merasa frustasi. Bahkan air matanya lolos membasahi pipinya.


...----------------...


"Bahkan dia yang duluan lahir, ya?!"


"Padahal kita udah menikah dan punya Yohan!"


"Haaah....."


"Berisik!"


"Aku udah nikah duluan sama dia!" Santi terdiam.


"Siapa namanya?"


"Nama siapa?"


"Nama anak mu."


"Haaah...."


"Haidar"


...----------------...


"HAH!" Perlahan Yohan melepaskan tangannya dari rambutnya.


"A-apa maksud..." Sakit kepalanya masih sangat berdenyut, Yohan merintih kesakitan.


"H-haidar.. Anak Ayah??!!" Yohan merasa sangat frustasi dan menjambak rambutnya.


"KENAPA GUE HILANG INGATAN MASA LALU?! GUE KAYAK ORANG BEGO GAK TAU APA-APA. AAAH!" Yohan mengacak rambutnya frustasi.


"Padahal masa lalu gue sepenting itu..." Yohan menundukkan kepalanya dan tangisnya pecah. Ia memukul-mukul pahanya sendiri.


Yohan memukul-mukul dadanya sendiri, dadanya terasa sesak dan kepalanya terasa berputar, sakit kepala tadi belum juga menghilang.


"Akh"


Lalu Yohan merasa lukanya ngilu dan memegang perutnya.


Yohan terkekeh, "Ternyata bener kejadian di cerita-cerita, kalo inget masa lalu itu bisa-bisa bikin gila."


"Terus maksud ingatan yang pertama kali gue lihat itu maksudnya Ayah yang udah bunuh Ibu? Kepribadian ganda nya Ayah?"


"ARGH! MASIH BANYAK YANG BELUM KEJAWAB!"


Yohan bukannya marah karena Haidar anak Alvarendra, namun karena ia sama sekali tak ingat masa lalunya yang dulu waktu Yohan kecil sering mendengar atau mengintip jika orangtuanya bertengkar dan membicarakan segala hal.


Jadi bisa dibilang di masa lalu Yohan terdapat fakta-fakta tentang keluarganya.


Yohan memukul-mukul kepalanya sendiri dan masih menangis hingga terisak, ia ingin mengingat semua yang ada di masa lalu, namun ia merasa reaksinya akan seperti sekarang nantinya.


Lama-kelamaan akhirnya Yohan merasa sangat mengantuk dan ia tertidur.


Hp nya bergetar beberapa kali tanda sebuah pesan dan panggilan masuk.




Beberapa pesan dan panggilan dari Sonya masuk beberapa menit lalu.


...****************...


Sonya heran karena pesan-pesannya terbaca dan panggilannya berdering, tapi tak diangkat.


Gue khawatir.. Batin Sonya.


"Datengin aja rumahnya, kah?"


"Datengin aja lah! Gue khawatir ada apa-apa," Gumam Sonya dan akhirnya ia beranjak pergi menuju rumah Yohan.


......................


6.00 AM


"Permisi..." Sonya mengetuk pintu rumah Yohan namun tak ada jawaban dari dalam rumah.


Sonya memegang kenop pintu dan mencoba membukanya.


"Eh? Gak dikunci?" Batin Sonya sambil masuk kedalam rumah perlahan.


"Aduuh gue tau ini gak sopan, tapi kayaknya gak ada orang.. Maafin gue Yohan, gue bener-bener khawatir" Gumam Sonya sambil melihat-lihat rumah Yohan.


Dan akhirnya Sonya melihat kamar Yohan terbuka, ia cepat-cepat melangkah dan melihat kamar Yohan.


Sonya terkejut kala ia melihat Yohan tertidur dengan posisi duduk menyender ke tembok.


"Maaf ya, gue izin masuk.." Gumam Sonya lalu menghampiri Yohan.


Saat Sonya mendekati Yohan, ia menutup mulutnya karena terkejut melihat penampilan dan kondisi Yohan yang sedang tertidur.


Sonya bisa melihat ekspresi lelah dan betapa sangat frustasi nya Yohan. Air matanya pun masih membekas dan rambutnya berantakan. Napas Yohan juga terlihat berat.


Sonya ikut meneteskan air matanya. Pertama kalinya ia melihat Yohan yang selalu tertawa seperti ini.


"Baru aja kemarin kita seneng-seneng.."


"Tapi kenapa lo udah menderita lagi?" Gumam Sonya dengan suara bergetar.


Sonya duduk diujung kasur Yohan dan menatap Yohan sedih.


"Ayahnya kerja ya? Apa gue masakin makanan aja," Gumam Sonya lalu beranjak menuju ke dapur untuk memasakkan makanan untuk Yohan.


"Kenapa napasnya berat gitu ya.. Gue khawatir liatnya, tapi dia kayak baru tidur..." Gumam Sonya sambil menyiapkan bumbu untuk memasak.


"Apa gue bilangin ke mereka?"


Tapi pasti Yohan gak mau kan? Batin Sonya.


"Apasih! Jangan kasih tau mereka, kasian Yohan." Sonya menggelengkan kepalanya lalu lanjut memasak.


Sonya membawa dua potong roti sandwich kedalam kamar Yohan. Ia meletakkan piring berisi roti sandwich itu diatas meja belajar Yohan.


Sonya duduk diujung kasur Yohan dan melihat Yohan dengan teliti.


Tiba-tiba Yohan bergerak lalu sedikit merintih, Sonya yang melihat itu langsung mendekati Yohan.


"Yohan! Apa yang sakit?!"


Grep!


Tiba-tiba Yohan memeluk Sonya membuat Sonya membeku.


Tanpa pikir panjang Sonya memeluk Yohan kembali dengan erat.


"Yohan..." Gumam Sonya.


"Ra... Gue gak mau lo lihat gue yang gini, maaf lo jadi khawatir." Ucap Yohan lalu mengelus pelan kepala Sonya dengan lembut.


*


20 menit kemudian Sonya menawarkan sandwich nya.


"Makan yang banyak, biar sehat."


".....Maaf Ra, tapi gue gak nafsu makan."


"Loh kok gitu?? Harus makan dong.. Biar sehat!"


"Tapi..."


"Coba aja dulu,"


Akhirnya Yohan menggigit sedikit ujung sandwich itu, lalu menyimpannya kembali kedalam piring.


"Gimana? Kok.. Ekspresi nya gitu?" Tanya Sonya melihat ekspresi Yohan yang seperti terlihat tidak menyukai sandwich nya.


"Maaf Ra, bukannya gue gak suka.. Tapi di lidah gue rasanya hambar dan gue gak nafsu makan.."


"Lo sakit lagi? Ayo ke dokter!"


"Ng-nggak, bukan sakit.. Gue emang lagi gak mau makan,"


"Nanti pas gue pulang makan ya!"


"Hm..."


Sonya hanya bisa menghela napas.


......................


Sonya berpamitan pulang sekitar pukul 10 pagi dan ia terus menerus menyuruh Yohan agar makan.


"Harus makan!"


"Iya iya... Hahaha"


"Kok ketawa?!"


Yohan melambaikan tangannya.


Setelah Sonya pulang, Yohan memilih menonton tv karena ia merasa bosan.


Seorang wanita ditemukan dibunuh mengenaskan di rumah kosong tua.


Diduga pelakunya adalah pemilik bisnis keluarga Alvarendra, yaitu Alvarendra sendiri.


Alvarendra adalah seorang pengusaha sukses yang juga memiliki seorang anak.


Video rekaman cctv kafe ini merekam Alvarendra menyeret seorang wanita!


Untuk sementara, Alvarendra di tahan di kantor polisi xxx. Untuk saat ini, kepolisian masih menginterogasinya dan belum memberikan informasi lebih lanjut kepada kami.