YOHAN ALVARENDRA

YOHAN ALVARENDRA
Ingatan masa lalu



Krieet


Pintu rumah terbuka.


"Itu pasti Ayah.." Ucap Yohan lalu Haidar melihat kearah pintu kamar mereka.


Sekarang sudah malam dan Haidar masih menemani Yohan di kamarnya. Yohan sudah pasti menolaknya berulang kali dan berdebat namun Haidar malah pura pura budeg dan bersikeras mau menemani Yohan sampai Alvarendra pulang.


"Lo pulang aja sekarang." Ucap Yohan dan ia duduk di kasurnya.


"Udah gak lemes?"


"Nggak, tenang aja." Yohan tersenyum.


Tok


Tok


Tok


"Ada siapa di dalam?" Tanya Alvarendra dengan nada yang lumayan sopan.


Alvarendra mengetahui ada seseorang di rumah karena di luar ada sepatu yang tidak ia kenali.


"Temen, sekarang mau pulang." Lalu Yohan dan Haidar keluar kamar.


Haidar membungkuk sedikit sebagai tanda hormat pada Alvarendra.


"Saya mau pamit pulang, terima kasih atas tumpangannya." Ucap Haidar.


"Iya. Hati-hati di jalan." Ucap Alvarendra singkat sambil melihat wajah Haidar dengan teliti.


......................


Yohan mengantar Haidar sampai jalan karena sudah malam.


"Hati-hati ya Dar, udah malem." Ucap Yohan.


"Gausah khawatirin gue, khawatirin diri lo sendiri aja." Haidar tersenyum miring kearah Yohan dan Yohan hanya terkekeh.


"Makasih buat hari ini!"


Haidar mengacungkan jempol dan melajukan mobilnya. Yohan masuk kembali ke rumah.


......................


"Kenapa kau membawa temanmu kesini?" Tanya Alvarendra dingin di sofa ruang tamu sambil menonton tv.


"Mau main aja," Jawab Yohan pelan.


Alvarendra berdiri dan Yohan sudah memprediksi apa yang akan dilakukan oleh Ayahnya, yaitu ditampar atau dipukul.


Jauh di dalam hati Yohan, ia ingin kabur tapi dia tidak bisa melawan orangtua, meski Ayahnya tidak suka padanya, jadi Yohan hanya bisa diam.


"Dia, siapa?"


Yohan mengernyit, apa maksud Alvarendra.


"Namanya? Hai-"


"Ah, sudahlah."


Namun di luar nalar Yohan, tiba-tiba Alvarendra membawa cangkir didepannya yang berisi kopi panas lalu melemparkannya kepada Yohan.


Untungnya Yohan mengangkat tangannya kedepan wajahnya sehingga kopi nya mengenai tangannya.


Prang!!


"Akh!" Yohan merintih karena rasanya benar-benar panas, dan gelasnya mengenai tangannya juga sedikit keningnya.


Ekspresi Alvarendra terlihat sangat dingin dan datar. Alvarendra pergi ke dapur dan tiba-tiba ia membawa pisau yang baru diasah alias tajam.


Yohan terkejut setengah mati, Apalagi yang akan dilakukan ayah?! Batin Yohan.


Namun tiba-tiba saja kepingan memori terputar di kepala Yohan.


...****************...


"Dasar cewek jal*ng!"


Plak!


"Kau tahu dari mana?" Seorang lelaki menjambak rambut seorang wanita.


...****************...


"Hah!" Yohan terperanjat dan Alvarendra sudah berada di depannya sambil memegang pisau.


Alvarendra melayangkan pisaunya ke arah Yohan. Yohan cepat-cepat menghindar namun lengannya terkena goresan pisau.


Sret!


"Ukh."


"Ayah kenapa?! Sadarlah!" Namun Alvarendra terus melayangkan pisaunya dengan tatapan datar.


Sret!


Lagi-lagi lengan Yohan terkena pisaunya. Ia ingin pergi keluar rumah, namun ia berpikir Alvarendra akan membahayakan orang lain, jadi Yohan hanya bisa menghindar dirumah.


Sret!


Kini pipi kiri Yohan terkena pisau dan lukanya lumayan dalam, Yohan merintih kesakitan sambil terus menghindari pisaunya.


Alvarendra terlihat gila sekarang, Yohan merasa ia bukan Alvarendra yang ia kenal, Alvarendra seperti berbeda orang.


Yohan menahan tangan Alvarendra agar berhenti melayangkan pisaunya, meski tangan Yohan harus terluka.


Tenaga Alvarendra tidak main-main, akhirnya Yohan melepaskan pisaunya dan pisaunya terlempar lumayan jauh.


Lalu Yohan memeluk Alvarendra.


...----------------...


Alvarendra melepaskan tangan Yohan yang memeluknya lalu pergi ke kamarnya.


Yohan masih terheran-heran, sebenarnya kenapa Alvarendra mendadak seperti itu?


Namun tiba-tiba suatu ingatan terputar di kepala Yohan.


...****************...


"Kau sudah bersama dia sejak awal pernikahan kita, kan."


"Meskipun aku tidak cinta padamu, tapi tetap saja..!"


"Tahu darimana kau?!" Lelaki itu menarik kerah wanita didepannya.


"Ah! Udah kerjaan gagal, datang ke rumah semuanya membuat kesal."


"Salah kau sendiri yang tidak bisa menentramkan keluarga. Sudah selama ini aku menahan emosi dan tidak berani mengatakannya padamu, tapi sepertinya sekarang puncaknya aku merasa marah jadi aku harus membicarakannya padamu!"


Emosi kedua orang itu meningkat dan mereka saling berdebat sampai suasana nya menakutkan.


Seorang anak laki-laki yang niatnya mau keluar kamar tidak jadi karena situasi rumah tidak baik-baik saja, ia hanya mengintip dibalik pintu.


...****************...


"A-apa itu?" Gumam Yohan dan luka-lukanya terasa berdenyut, lagi-lagi ia merintih kesakitan.


Yohan segera ke kamarnya dan mengobati lukanya sendiri.


Lalu ia merasakan mual juga, bukannya mual karena darah, entah kenapa ia tiba-tiba merasa mual.


Yohan memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi.


...----------------...


Prang!


Seorang pria memecahkan vas bunga yang ada di ruang tamu dengan sengaja karena amarahnya sudah benar-benar tak terkendalikan.


"Dasar perempuan murahan!"


"Dasar lelaki brengsek!"


Mereka terus berdebat dan melemparkan atau merusak barang yang ada di sekitar mereka.


"Anakmu yang lain itu seumuran sama dia juga ya?"


"Aku kesal diperlakukan seperti ini!"


"Aku selalu jadi babu mu, semua hal yang dilakukan aku maupun Yohan semuanya salah di matamu! Mata tuh dipake buat apa? Buat melototin orang??" Ucap wanita itu dengan nada yang tinggi sambil marah.


"Emang faktanya kalian salah!"


"Gak tau diri!"


"Dasar brnngsk!"


Prang!


Pria itu memecahkan gelas yang ada di sampingnya.


Tatapan pria itu kini berubah drastis. Ekskpresi nya sangat dingin dan datar, lalu ia pergi ke dapur. Saat kembali, ia membawa pisau.


Wanita itu terkejut, ia ingin lari tapi tidak bisa karena kakinya terasa lemas. Anak laki-laki yang mengintip dibalik pintu pun terkejut.


Jleb!


"Yohan!"


"Ibu!


...----------------...


Yohan terperanjat dan napasnya terengah-engah. Kaki dan tangan nya mati rasa.


"Ayah? Aku? Ibu?!" Gumam Yohan sambil berusaha mengingat kembali masa lalu nya. Sebenarnya Yohan tidak ingat masa lalu nya saat SD atau saat Ibunya meninggal.


Yohan tidak tahu Ibu nya meninggal karena apa, yang terakhir ia ingat adalah ia terbangun di rumah sakit dan tidak ingat apa-apa.


"Kenapa sebenernya?"


Yohan duduk di kasurnya dan melihat jam, pukul 6.10 AM.


Oh iya sekolah. Batin Yohan.


"Aw masih perih." Ringis Yohan memegang tangannya yang dibalut perban.


Gimana mau ke sekolah coba, Haidar dan yang lainnya pasti khawatir. Batin Yohan.


Namun akhirnya Yohan memutuskan tidak sekolah, karena demamnya juga masih lumayan tinggi.


Tok


Tok


Tok


"Sekolah?" Tanya Alvarendra singkat diluar kamar.


"Mm.. Nggak Yah, lagi gak enak badan."


"Boleh masuk?"


"Bo-boleh" Yohan terkejut karena biasanya Alvarendra tidak bicara santai seperti ini.


"Istirahat aja di rumah, jangan ke mana mana." Ucap Alvarendra setelah menempelkan punggung tangannya pada kening Yohan.


Yohan heran, kenapa tiba-tiba Ayahnya seperti ini? Kemarin seperti bukan Ayahnya, sekarang juga?