YOHAN ALVARENDRA

YOHAN ALVARENDRA
Kasih Sayang



1 bulan kemudian, seperti ajaib Yohan sudah bisa berjalan normal kembali meski terkadang masih sempoyongan. Semangat dan usaha Yohan tidak main-main.


Sore ini Yohan baru pulang dari rumah sakit setelah pemberian kemoterapi yang kedua kalinya.


Sedang di perjalanan, Yohan mengunjungi Alvarendra ke kantor polisi.


Kini yang selalu menemani Yohan adalah Haidar dan Sonya, karena Yohan sendiri yang meminta selain Haidar dan Sonya fokus saja pada hal yang harus mereka lakukan.


Yohan pernah meminta Sonya seperti mereka namun Sonya langsung menolak dengan alasan ia tidak punya kesibukan apapun.


Jadilah mereka berdua yang selalu berada disamping Yohan selama ini.


Sonya pun sering menginap di rumah Yohan. Ia diberi izin oleh Ibunya setelah tahu alasannya.


****************


Saat ini mereka sudah pulang dari kantor polisi dan sudah sampai rumah malam hari.


Yohan langsung menuju kamarnya karena ia merasakan nyeri di kepalanya disertai mual membuatnya langsung meringkuk di kasur.


"Yohan, bagian mana yang sakit?" Tanya Sonya khawatir.


"...Kepala sama mual." Jawab Yohan lalu duduk kembali. Sesekali Yohan meringis.


"Ganti baju? Mau gue ambilin bajunya?" Tawar Sonya dan dibalas gelengan Yohan.


"Gue keatas dulu ya? Nanti Haidar tidur disini kan?" Tanya Sonya kembali.


"Lo gak apa-apa diatas sendiri?" Yohan balik bertanya.


"Gak apa-apa lah diatas itu lumayan luas dan nyaman. Hehe.."


"Iya lo keatas aja,"


"Eh iya, lo mau makan apa?"


"Telur rebus aja. Maaf ya repotin,"


Bisa dibilang Yohan ini orkay, namun untuk pemulihan makanannya jadi sederhana.


"Sekali lagi bilang 'maaf' gue tempeleng." Sonya terkekeh lalu berlalu pergi untuk merebus telur.


Gue kepikiran pengen ngetik sesuatu. Batin Yohan lalu mengambil hp nya kemudian mulai mengetik di memo.


Setelah mengetik, Yohan sedikit terkekeh.


Ngapain gue ngetik gini? Tapi seru juga.


Yohan menyimpan hp nya kembali lalu beranjak untuk mengganti bajunya.


Saat Yohan baru melepas baju kebetulan Sonya masuk dan Sonya terkejut.


"Yohan!" Sonya berlari keluar, pipinya memerah.


Yohan sama terkejutnya lalu cepat-cepat ia memakai baju untuk tidur.


Tak lama Sonya masuk kembali dengan gugup.


"I-ini telurnya," Sonya menyimpan telur yang sudah dikupas diatas meja belajar Yohan.


Yohan sama berdebarnya entah kenapa membuat situasi mereka berdua canggung.


"O-oh iya makasih."


"M-maaf." Ucap keduanya bersamaan.


"Maaf gue main masuk dikira udah ganti bajunya,"


"Maaf gue lupa gak nutup pintu."


Mereka berdua saling tatap.


"Gue, boleh ngelakuin sesuatu gak?" Tanya Yohan mendekati Sonya yang sedang berdiri.


Sonya terkejut.


"Apa?"


"Peluk lo." Yohan memeluk Sonya membuat jantung Sonya semakin tak karuan.


Sonya sendiri merasa hangat lalu membalas pelukan Yohan dengan tulus.


"Gini dulu boleh?" Tanya Yohan disela pelukan.


"Apa yang gak boleh buat lo si.." Sonya mengeratkan pelukannya.


Yohan mengelus kepala Sonya dengan lembut.


"Makasih, makasih kalian rela izin sekolah demi gue sampai gue sembuh.. Padahal kelas 2 masa-masa penting buat sekolah tapi kita..."


"Gak apa-apa, walikelas kita juga ngerti kok, bahkan walikelas gue yang lo bukan muridnya dijenguk kemarin kan. Ibu gue juga pernah jenguk, walikelas lo sering jenguk, mereka itu peduli Han..."


Sonya mengelus rambut Yohan, ia terkejut karena beberapa gulungan rambut terkepal di tangannya.


"Efek kemo.." Gumam Yohan.


Sonya semakin mengeratkan pelukannya.


Setelah beberapa menit, Sonya teringat bahwa Yohan belum makan.


"Han.." Tidak ada jawaban.


"Yohan..?"


Kepala Yohan jatuh di pundak Sonya.


"Oh tidur... Cape ya Han?"


Sonya menggoyangkannya namun ternyata Yohan tidak bangun.


Sonya membaringkannya ke kasur perlahan lalu membawa telur yang ia simpan.


Saat keluar kamar, ia bertemu Haidar sedang menonton tv.


"Haidar."


"Apa?"


"Masa?"


"Iya,"


"Biasanya nanti malem-malem kebangun."


"Ooh, tapi dia kayaknya butuh pelukan." Celetuk Sonya membuat Haidar terkejut.


"Maksud lo?"


"Ya, tidurnya coba bareng. Kan kalo bareng gak jauh juga kalo dia minta tolong."


"Iya juga sih."


"Lo kan Abangnya, jadi lo coba aja."


"Oke makasih idenya."


"Oh iya nanti kalo Yohan kebangun rebusin telur aja. Telur yang ini gue makan."


"Siyap!"


****************


3.00 AM


Terjatuh dari atas gedung yang tinggi dengan kecepatan tinggi. Saat akan mencapai tanah...


Deg!


Duk!


Dahi Yohan terbentur tembok membuatnya terkejut. Yohan terengah-engah ditambah keringat bercucuran.


Oh, mimpi.. Batin Yohan.


Yohan terkejut melihat Haidar tidur di sampingnya. Karena Haidar orangnya lumayan sensitif membuatnya langsung membuka mata dan melihat Yohan.


"Yohan? Lo kenapa?" Haidar memeluk tubuh Yohan seperti memeluk guling. Haidar menempatkan kakinya diatas kaki Yohan dan tangannya memeluk dada Yohan.


Yohan terdiam sejenak lalu ia merasa mual, rasanya ingin muntah.


Cepat-cepat Yohan melepaskan tangan dan kaki Haidar lalu segera pergi ke kamar mandi.


Haidar dengan sigap membantu Yohan ke kamar mandi karena jalannya belum normal sekali.


Yohan hanya memuntahkan cairan bening.


"Han.. Makan ya?" Tawar Haidar.


Yohan hanya mengangguk dan mengikuti Haidar ke meja makan.


"Mau telur rebus?" Tanya Haidar dan hanya diangguki Yohan.


Haidar merebus telur itu dan beberapa menit kemudian telur matang. Haidar mengupas kulit telurnya lalu memberikan telurnya pada Yohan.


Yohan makan dengan perlahan karena ia sendiri tidak nafsu, namun mau bagaimana lagi? Yohan ingin sembuh jadi ia harus selalu makan.


"Gak apa-apa makan dikit, asal sering." Ujar Haidar.


"Iya."


Setelah makan, Yohan dan Haidar kembali ke kamar. Saat hendak naik ke kasur, Yohan merasa mulas dan ia cepat-cepat ke kamar mandi.


Setelah selesai BAB, ia kembali ke kamarnya. Sesekali Yohan meringis karena nyeri di kepala nya terasa lagi.


"Apa yang sakit?" Tanya Haidar khawatir.


"Kepala, mual" Ujar Yohan pelan.


Haidar melakukan akupuntur di beberapa titik bagian tubuh Yohan.


"Gimana? Enakan?" Tanya Haidar.


"Iya, makasih." Yohan berbaring kembali diikuti Haidar.


"Lo disini semaleman?" Tanya Yohan.


"Iya. Gak apa-apa kan?"


"Gak apa-apa."


...****************...


7.50 AM


Yohan dan Sonya masuk ke kamar yang Sonya tempati.


Yohan dan Sonya duduk bersandar di tembok sambil mendengarkan musik dengan earphone. Sesekali mereka menyanyi.


Yohan menyandarkan kepalanya ke pundak Sonya.


Kini lagu yang terputar berjudul I Wanna Grow Old With You —— Westlife.


Mereka menyanyikan rapp nya bersama.


I wanna grow old with you


I wanna die lying in your arms


I wanna grow old with you


I wanna be looking in your eyes


I wanna be there for you


Sharing in everything you do


I wanna grow old with you


Mereka saling menatap dengan menyiratkan senyuman sendu.