YOHAN ALVARENDRA

YOHAN ALVARENDRA
Masuk Rumah Sakit



Yohan terbangun dari tidurnya dan merasakan sakit kepala yang luar biasa dan rasanya lebih sakit dari yang sudah ia lalui.


Yohan menjambak rambutnya sendiri dan merasa sangat frustasi.


Yohan berusaha turun dari kasur dengan tubuh yang bergetar hebat.


Saat Yohan mencoba berdiri, ia malah terjatuh dan seluruh tubuhnya kejang-kejang.


"AARGHH!!" Yohan tidak bisa menahannya lagi, ia sudah benar-benar tak tahan dengan apa yang dirasakannya membuat Marvin dan Haidar terbangun.


"YOHAN!" Mereka menghampiri Yohan yang kejang-kejang di lantai dan terus berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya.


Pandangan mata Yohan mengkabur dan ia muntah tiba-tiba.


"AARGHHH!!"


"Bang! Cepet siapin mobil! Kita bawa langsung ke IGD!" Teriak Marvin sambil berusaha menenangkan Yohan dan Haidar segera menyalakan mobilnya dan kembali untuk membawa Yohan.


"Lo duduk di belakang, tidurin Yohan!" Mereka menggendong Yohan dan segera memasuki mobil.


"Tenang Bang... Tenang.." Marvin mengusap-ngusap tubuh Yohan sambil meneteskan air matanya.


Haidar mulai melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi karena ini tengah malam.


Selama perjalanan, Yohan meraung kesakitan dan kejangnya sesekali berhenti.


................


Yohan segera mendapatkan penanganan dan segera dilakukan pemeriksaan CT Scan. Marvin dan Haidar menunggu diluar ruangan.


Haidar menggetarkan kakinya sedangkan Marvin menggigiti kukunya karena mereka sangat tegang.


"Bang..."


"Yohan.." Ucap mereka berdua bergetar.


Lalu pintu ruangan terbuka, Haidar dan Marvin segera berdiri dan menanyakan kondisi Yohan.


"Untuk saat ini, ia perlu beristirahat agar tenang dan dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut." Ucap seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan.


"Hasilnya mungkin memerlukan beberapa hari, harap menunggu." Tambah perawat itu sambil tersenyum lalu pergi.


Tak lama kemudian, Yohan dipindahkan ke ruang rawat inap VIP.


Napas Yohan cukup berat, ia dipasangi Masker Nebulizer untuk menormalkan pernapasannya.


Marvin dan Haidar menunggu Yohan di ruangan. Sekarang masih jam 2 pagi, mereka mengantuk dan akhirnya memutuskan untuk tidur di sofa yang ada disana.


6.00 AM


Haidar terbangun dan melihat Marvin tidur dengan lelap disamping Yohan. Haidar tersenyum tipis, lalu ia mengeluarkan hp nya.


Haidar memberitahu teman-temannya lewat chat kalau ia tidak akan sekolah dan memberi tahu kondisi Yohan.


Haidar membuka grup chat mereka.





Haidar mematikan ponselnya dan mendekati Marvin lalu duduk disamping Yohan.


Yohan tidurnya kayak pules, tapi pasti gak enak karena napasnya berat... Untung pake uap. Batin Haidar menatap khawatir Yohan.


Emang ngagetin banget sih gue kakaknya.. Kenapa gak dari dulu ortu kita bilang ya? Batin Haidar.


Sudah lewat setengah jam, Yandhi, Wilona dan Sonya datang bersama.


Karena ruang VIP dan ruangannya pun luas, pengunjung tidak dibatasi. Rumah sakit nya pun berbeda dengan rumah sakit saat Yohan ditusuk.


Memang rumah sakitnya lumayan jauh, tetapi disini lebih lengkap dan rumah sakitnya besar. Ada beberapa gedung yang terpisah juga sama besarnya.


Haidar memilih rumah sakit ini karena ingin Yohan mendapatkan perawatan yang bagus.


Sonya langsung menghampiri Yohan dan duduk disamping ranjang.


"Yohan..."


"Napasnya berat?" Tanya Yandhi.


"Iya,"


Sonya memegang tangan kiri Yohan dan sesekali mengelusnya dengan perlahan yang dipasangi selang infus.


"Udah." Jawab semuanya.


Pintu diketuk dan seorang perawat datang membawa nampan yang berisi alat pengukur suhu dan alat untuk mengecek saturasi oksigen.


"Permisi, mau cek suhu dan saturasi," Ucap perawat itu ramah.


Mereka segera berdiri dan mempersilakan perawat itu memeriksa Yohan.


"Belum bangun ya?" Tanya perawat itu sambil memasangkan jempol Yohan ke alat saturasi lalu melepas masker nebulizer yang terpasang di mulut Yohan.


"Belum kayaknya sus," Balas Haidar sambil memperhatikan Yohan.


Perawat itu mengecek suhu Yohan.


"37°C, nanti dikasih antibiotik ya. Saturasi nya 80, napasnya lumayan normal kalau di Nebu. Untuk sekarang diganti dulu pakai Nasal Oxygen Cannula, pengganti Nebu." Jelas perawat itu dengan ramah lalu memasangkan selang NOC ke hidung Yohan.


"Oh, gitu ya sus."


"Hasil CT Scan nya kemungkinan hari ini juga udah ada, nanti saya kasih tahu dan dokternya kesini."


"Ooh.. Gitu ya sus, makasih."


Perawat itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum lalu pergi.


Mereka duduk kembali disamping ranjang.


Pintu diketuk kembali, ternyata seorang pengantar makanan.


Yandhi mengambil makanannya dan membawanya kedalam lalu menyimpannya diatas meja.


"Ayah belum tahu Yohan sakit..." Ujar Haidar pelan.


"Ayah?" Tanya mereka terkecuali Marvin. Ia masih tertidur.


"Oh itu, Ayahnya Yohan. Sebenernya.. Gue sama Yohan sodaraan" Haidar akhirnya memberi tahu mereka.


"HAH?" Semuanya terkejut.


"Sstt jangan berisik woi!"


"Ya, pokoknya gitu. Gue juga tau dari Yohan, gue juga pernah nanyain ke Ibu gue ternyata bener. Sekarang kayaknya gue harus nemuin Ayah langsung," Jelas Haidar panjang.


Mereka hanya menganggukkan kepala.


"Nanti aja siang." Ucap Wilona dan diangguki Haidar.


Tanpa mereka sadari Yohan membuka matanya perlahan dengan berat dan ia melihat Marvin yang tertidur pulas disampingnya. Yohan tersenyum tipis.


Tangan Yohan masih digenggam Sonya, mereka belum menyadari Yohan bangun. Yohan menggenggam balik tangan Sonya sambil menatapnya membuat Sonya terkejut.


"Yohan...!" Sonya mengeluarkan air matanya dan menidurkan kepalanya di samping Yohan.


Mereka semua langsung mendekati Yohan.


"Ada yang sakit?" Tanya Yandhi dan dibalas gelengan Yohan.


Yohan tersenyum tipis melihat Sonya lalu mengelus rambutnya perlahan, membuat mereka semua merasa terharu.


"Yohan... Lo harus sembuh..." Ucap Sonya dengan suara bergetar namun masih menenggelamkan wajahnya disamping bahu Yohan dan memeluknya. Ia tak berani menatap Yohan.


Marvin yang merasa terusik mulai bangun dan meregangkan badannya. Ia melihat Yohan sudah bangun.


"Bang..!" Marvin menggenggam tangan kanan Yohan dan dibalas senyuman tipis Yohan.


"Oh iya, lo harus sarapan." Ucap Haidar lalu mendorong meja yang diatasnya ada wadah kotak yang berisi makanan khusus.


Somi dan Wilona yang duduk di sisi kiri beralih ke sisi kanan Yohan karena mejanya akan diletakkan di sisi kiri.


Ekspresi Yohan sudah terlihat bahwa ia tidak menyukai makanan rumah sakit, namun mau tak mau Yohan harus makan dan menghabiskannya karena nanti mereka pasti akan protes dan Yohan juga tidak mau merepotkan mereka karena makanannya tidak habis.


Ranjang nya dinaikkan keatas membuat posisi Yohan duduk dan langsung membuka tutup kotak itu lalu mulai makan dengan perlahan.


"Ha.Bi.Sin. biar sehat." Ucap Haidar penuh penekanan.


"Iya-iya.." Jawab Yohan pelan.


Setelah selesai makan, Yohan kembali berbaring.


Pintu diketuk, seorang perawat dan dokter masuk. Mereka berdiri dan menyambut dokter.



"Pagi, saya akan menjelaskan hasil CT Scan nya, Nak Yohan di diagnosis..."