
Siangnya
Yohan dipindahkan menuju gedung sebelah, yakni gedung khusus penderita kanker.
Kini di ruangan lebih sempit tidak seperti saat di ruang VIP, Haidar dan Sonya yang menemani sepanjang hari, karena mereka memaksa Yandhi, Wilona dan Marvin pulang karena terlalu banyak yang menunggu.
"Ayah, kabarnya gimana?" Tanya Yohan kepada Haidar.
"Hm? Dia baik-baik aja. Oh iya Han, sebenernya Ayah kenapa tiba-tiba suka beda kelakuannya?" Tanya Haidar.
"Itu... Sebenernya Ayah punya kepribadian ganda." Balas Yohan.
"Kok, bisa? Beneran?" Tanya Haidar terkejut.
"Katanya ya gitulah tanya aja sendiri," Balas Yohan.
"Yeuu" Haidar menghela napas kasar sedangkan Yohan terkekeh.
Sonya sedang membereskan barang mereka di lemari yang ada disana.
Dokter Aris dan perawat masuk membuat Sonya dan Haidar berdiri menyambut.
Tak lupa dokter Aris menampilkan senyuman ramahnya.
"Besok bisa dioperasi.. Lebih cepat lebih baik," Dokter Aris tersenyum ke arah Yohan.
"Operasi dilakukan dengan menggunakan bius umum. Operasi dimulai dengan membuka tulang tempurung kepala atau kraniotomi dilanjutkan dengan pemotongan jaringan tumornya sendiri. Operasi tumor otak biasanya berlangsung selama kurang lebih 3 jam lamanya. Sepertinya membutuhkan transfusi darah, apakah disini ada yang golongan darahnya sama dengan Yohan? Tanya Dokter Aris.
"Saya AB," Sahut Haidar.
"Oh, bagus. Bolehkah darahnya di donorkan untuk transfusi?"
"Tentu saja!" Haidar sudah pasti tidak akan menolaknya karena ini bersangkutan dengan nyawa, apalagi Yohan adiknya sendiri.
Dokter Aris mengangguk. "Baik, kayaknya itu saja penjelasan mengenai operasi besok, napasnya gimana Nak Yohan?"
"Udah mulai normal,"
"Bagus, kalau pakai NOC doang kayak sekarang gimana?"
"Enak, napasnya perlahan normal lagi."
Dokter Aris mengangguk, "Oke, kalau gitu besok siap ya dioperasi?" Yohan hanya mengangguk.
"Kalau gitu saya kembali dulu ya, Haidar ikut buat donor darahnya," Haidar mendekati Dokter Aris.
"Ra, anterin ke toilet." Yohan memegang tangan Sonya.
"Hm? Ayo." Sonya membantu Yohan turun dari kasur.
"Mau ngapain?" Tanya Haidar, mereka belum pergi.
"Mual," Balas Yohan pelan.
"Kalau bisa nanti pake wadah aja di kamar biar gak susah-susah ke toilet," Saran Dokter Aris.
"Bentar Dok, boleh ikut Yohan dulu? Mau lihat," Ujar Haidar.
"Saya juga ikut," Mereka semua akhirnya pergi ke toilet mengantar Yohan.
Yohan memuntahkan semua isi perutnya, namun hanya terlihat cairan bening dicampur sedikit makanan.
"Belum makan siang ya?" Tanya Dokter Aris dan dijawab gelengan oleh Haidar.
Mereka pun kembali ke kamar. Dokter Aris, perawat dan Haidar pamit.
Saat mereka hendak keluar, tiba-tiba Yohan kejang-kejang membuat Sonya panik.
Dokter Aris, perawat, dan Haidar membalikkan badannya kembali dan menghampiri Yohan.
Dokter Aris dan perawat itu berusaha menenangkan Yohan, lalu tak lama kemudian Yohan biasa kembali dengan napas yang tersengal-sengal.
"Suka kejang?" Tanya Dokter Aris kepada Sonya dan Haidar.
"Terakhir waktu mau kesini dirumah, kalau sejak dirawat gak pernah lagi," Kini Sonya membuka suara sambil mengusap Yohan khawatir.
Setelah itu Yohan terlelap dengan napas yang masih tersengal.
"Saya keluar ya, ayo." Dokter Aris mengajak Haidar dan mereka pun keluar dari ruangan menyisakan Sonya sendiri yang sedang menunggu Yohan.
...****************...
Sore nya, Haidar mengunjungi kantor polisi lagi, jaraknya memang lumayan jauh dari rumah sakit, sekitar 30 menit.
Beruntung Alvarendra sedang tidak berubah.
"Ada apa Nak?" Tanya Alvarendra membuat Haidar terkejut.
Alvarendra terkejut, "Apa? Yohan... AKU INGIN MELIHAT YOHAN..!" Alvarendra berteriak tiba-tiba.
Penjaga memghampiri Alvarendra yang tengah menunduk.
"Aku.. ingin melihat Yohan," Ujar Alvarendra kepada penjaga itu.
"Besok saja..! Besok! Setelah dioperasi..." Alvarendra mulai meneteskan air matanya.
"Besok kan operasinya, Haidar?" Tanya Alvarendra.
"..Iya.." Jawab Haidar canggung.
"Baik, besok boleh pergi tapi diawasi!" Ujar penjaga itu dan Alvarendra mengangguk.
...****************...
Esok
"Kamu berdoa aja ya Nak, supaya tumornya gak membesar lagi dan operasinya berhasil meski kemungkinan tidak terangkat seluruhnya," Ucap Dokter Aris kepada Yohan yang hanya dibalas anggukan.
Yohan sedang duduk di kursi roda dan didorong oleh perawat menuju ruang operasi, bahkan bajunya sudah berganti menjadi baju khusus operasi.
...------------...
Gue pengen hidup lebih lama lagi...
Yohan mulai terlelap akibat pengaruh obat bius nya sambil selalu diajak mengobrol oleh Dokter Spesialis Bedah Saraf yaitu Dokter Aris. Dokter Aris keluar dari ruangan operasi.
"Semoga, teman kalian ini dapat bertahan hidup lebih lama, operasi nya lancar.." Ucap Dokter sebelum memasuki ruang operasi kembali, Haidar dan Sonya mengangguk dan menunggu diluar ruangan operasi.
...----------------...
Setelah beberapa jam menunggu, seorang perawat keluar, mengajak Haidar dan Sonya mengikuti mereka menuju ruangan Dokter Aris.
...----------------...
Mereka duduk dan mulai mendengarkan penjelasan dokter dengan perasaan cemas.
"Tumor ganasnya sudah berhasil diambil, namun ada sel yang tidak terangkat, sehingga nanti akan dilakukan pengobatan radioterapi dan kemoterapi."
"Operasi berhasil dilaksanakan, sebesar 98%." Ucap Dokter Aris tersenyum membuat Haidar dan Sonya saling tatap dan tersenyum lebar menahan untuk tidak berteriak.
"Terimakasih Dok," Ucap Sonya membungkukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum.
"Semangatin Nak Yohan, pengangkatan tumor sebesar itu bisa menimbulkan banyak efek nantinya,"
"Sekarang dia masih dalam masa transfusi darah, dia mengalami pendarahan yang cukup banyak. Makasih Nak udah mau donorin darahnya."
"Apa yang enggak buat Yohan?" Ucap Haidar, senyumnya merekah.
"Kalian tunggu Yohan aja,"
...----------------...
Yohan ditempatkan di ruang ICU untuk sementara setelah dilakukan operasi.
Yohan membuka matanya perlahan dan hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah Alvarendra.
"A...yah..?" Ucap Yohan pelan diiringi suara masker nebulizer. Matanya belum terbuka sempurna, ia masih menatap setengah-setengah. Yohan tersenyum tipis. Tipis sekali hingga semua yang melihatnya tidak menyadarinya.
Alvarendra datang mengunjungi Yohan yang diawasi polisi.
"Yohan..." Alvarendra memegang tangan Yohan pelan.
Yohan hanya tersenyum dan melihat langit-langit ruangan.
......................
Beberapa hari berlalu, Yohan sudah kembali ke ruangan rawat inapnya dan kesadarannya perlahan kembali.
Kini Yohan sedang disuapi puding oleh Sonya.
"Aaaa~" Sonya melayangkan sendoknya yang berisi sepotong puding bak pesawat terbang. Yohan langsung menerimanya dan menelannya sambil tersenyum.
"Ih lo gemesin sumpah kayak anak kecil!!" Ucap Sonya gregetan. Ia mencubit pipi Yohan pelan dan menguyel-uyel nya.
Yohan hanya tersenyum lucu membuat Sonya sedikit menjerit karena senyuman Yohan.
"Salting ya lo?" Tanya Haidar yang memperhatikan Sonya sedari tadi.
"Nggak..! Nih makan lagi.. Hehehe," Sonya menyodorkan sendoknya yang berisi sepotong puding, namun Yohan berusaha mengambil sendoknya dengan tangan yang masih bergetar.
"Oh, mau sendiri?" Sonya memberikan Sendoknya pelan-pelan, namun Yohan ternyata menyuapi Sonya.
Mereka berdua saling tersenyum.