
"Hah hah hah...."
Yohan membuka matanya sambil terperanjat dan napasnya terengah-engah.
Sekujur tubuhnya berkeringat membuat bajunya basah, matanya pun sembab karena ternyata selama tidur ia mengeluarkan air matanya mungkin karena mimpi itu.
Kondisi Yohan kacau sekarang. Untung ia di kamarnya, jadi tidak ada orang yang melihatnya.
"Mimpi itu lagi," Gumam Yohan memegang kepalanya dan merasakan sakit kepala yang lumayan.
................
Sabtu
6:57 AM
"Hah.. hah hah..."
Yohan berlari dengan napas terengah-engah dari gerbang sekolah menuju kelasnya yang berada di lantai 2, sialnya tangganya ada dua alias berbelok, diujung koridor lagi.
Meski Yohan sudah lewat dari gerbang dan belum telat, namun tetap saja sebentar lagi akan masuk.
Kelas 2-1 juga terletak di paling ujung dekat tangga untuk menuju lantai 3.
Yohan melewati koridor kelas 1, di sana pun sudah sepi dan tidak ada orang yang di luar.
Memang tidak biasanya Yohan begini, namun entah kenapa ia bisa bangun kesiangan. Padahal ia sudah menyetel alarm nya.
Alvarendra juga selalu berangkat pagi, sekitar jam setengah enam. Ia tidak membangunkan Yohan karena ia tahu anaknya tidak biasa bangun siang. Namun lain cerita untuk pagi ini...
Yohan menaiki tangga dengan tergesa-gesa, dan seseorang mendorong punggungnya dengan cukup keras, membuat Yohan tidak sempat menahan dengan tangannya sehingga kakinya menabrak anak tangga.
Duk!
Wajah Yohan terbentur keras dengan lantai yang akan menuju ke tangga satunya lagi.
"Ups! Maaf~ Hahaha" Dua orang yang mendorongnya naik keatas sambil terus menertawakan Yohan.
"Santai aja bro, kayak dikejar setan aja~ HAHAHAHA!"
Yohan segera bangun dan melihat kedua orang itu
pergi. Ternyata mereka orang yang sekelas dengannya. Mereka memang kadang suka mengganggu dan menghina Yohan diam-diam karena Yohan lumayan pintar, jadi mereka iri.
Ding Dong~
DingDong~
Yohan merasa tubuh, kepala, dan hidungnya sakit. Namun ia harus cepat ke kelasnya karena sudah bel masuk.
Namun saat Yohan baru menapaki satu anak tangga, sesuatu dari hidungnya keluar Cairan yang teksturnya perpaduan kental dan cair, terasa hangat, melewati bibirnya.
Yohan terkejut dan ia menutupinya dengan tangannya, dan langsung melanjutkan menaiki anak tangga lantai dua lalu menuju kamar mandi.
Yohan berjalan dengan perlahan dan agak mengendap, karena di koridor kelas 2 juga tidak ada siapapun.
......................
Sedari tadi Yohan menyerap darahnya dengan tisu toilet. Masa bodoh tisu toilet yang penting mimisannya berhenti. Kepalanya juga sedikit pusing.
"Ayolah berhenti..." Gumam Yohan sambil terus menyerap darahnya.
Darahnya mengucur lumayan deras sejak tadi, dan sekarang sudah lewat sekitar 2 menit masih sama saja. Yohan tidak bisa masuk kelas dengan keadaan seperti ini, yang ada nanti Haidar heboh.
Dan sekitar 10 menit berlalu, mimisannya baru berhenti namun sakit kepalanya malah bertambah. Sesekali Yohan merintih kesakitan.
......................
Yohan menyiapkan hati dulu sebelum membuka pintu didepannya itu. Pintu kelas 2-1.
"Fyuuh..." Yohan mengetuk lalu membuka pintu perlahan dan Pak Bobby (walikelas sekaligus guru matematika) menatap Yohan dengan terkejut.
"Maaf, Pak." Yohan sedikit membungkuk lalu menyalami tangan Pak Bobby.
"Tumben kamu telat?"
"Maaf... Bangun kesiangan," Yohan tersenyum dan pak Bobby hanya geleng-geleng kepala.
"Weh, tumben banget lo telat. Masa kesiangan bangunnya? Gue chat gak di bales-bales" Haidar langsung menginterogasi Yohan dengan pertanyaannya.
"Ya, gitu deh..." Yohan terkekeh sambil menahan rasa sakit kepala nya.
"Eh itu, kenapa hidung lo kayak ada merah merah nya?" Haidar menatapnya penuh dengan teliti hidung Yohan.
Yohan terkejut dan segera mengelap hidungnya dengan asal asalan.
"Gak apa, hehe." Yohan tersenyum kembali.
Haidar kedip-kedip mata.
Pelajaran matematika dimulai.
......................
"Dar, punya saputangan gak?" Tanya Yohan sambil berusaha menyembunyikan hidungnya agar tidak terlihat oleh Haidar.
"Punya, emangnya kenapa?"
"Dirumah. Hehehe~"
"Haish yang bener dong!"
"Iya iya ni, buat apa emang?"
"Maaf ya besok gue balikin. Makasih" Ucap Yohan dengan nada lembut.
"Emangnya kenapa sih? Kenapa lo kayak sembunyi-sembunyi?"
Ucap Haidar dengan sinis sambil memberikan sapu tangannya.
"Bukan apa-apa."
Yohan mengelap mimisannya dengan sembunyi-sembunyi. Ya, mimisannya kembali keluar.
"Woi woi. Pak Bobby liatin ke arah kita tuh, mampus kalo ditanya." Haidar menyikut Yohan.
"Lo lagi ngapa-Yohan!" Haidar berteriak membuat semuanya menoleh kearahnya.
"Ada apa Haidar?" Tanya Pak Bobby sambil menghampiri meja Haidar.
"Han! Lo kenapa?! Kenapa gak bilang sama gue?!" Bisik Haidar sambil menepuk punggung Yohan.
"G-gak apa-apa, cuma mimisan."
"Cuma! Banyak tau! Ke kamar mandi ayo!"
"Kenapa Hai-Yohan! Kamu kenapa?" Tanya Pak Bobby panik.
"Haidar, anterin Yohan ke UKS."
"Baik Pak, ayo!" Haidar menarik Yohan.
Mereka pun keluar kelas dan menuju UKS.
"Cih! Gitu aja mimisan, lemah!"
......................
Jam pelajaran terakhir semua kelas dipulangkan karena guru-guru di sekolah ada rapat. Namun Yohan dan teman-temannya serta saudaranya memilih untuk diam dulu di kantin sekolah, karena gerbangnya pun belum ditutup.
"Seger..." Ucap Wilona setelah meneguk minumannya. Ia menyimak sambil minum.
"Btw, ngapain kita disini Dar?" Tanya Yandhi pada Haidar.
"Ya, gapapa sih.. Kalian juga pasti gabut kan. Kita ngobrol santai aja,"
"Oh,"
"Eh tadi ya si Yohan mimisan anjir, mana darahnya banyak." Haidar mendadak heboh.
Yohan yang terkejut langsung menatap Haidar dengan tatapan tajam.
"Beneran?! Lo kenapa Yohan?!" Tanya Sonya panik dan melihat wajah Yohan penuh teliti, yang ditatap merasa canggung.
"G-gue gapapa" Yohan tersenyum kecil.
Sebenarnya Yohan suka pada Sonya sejak pertama kali melihatnya, ia adalah tipe idaman Yohan. Yohan berharap jika ia ditakdirkan jodohnya, maka ia akan maju, namun jika tidak, ia akan mundur.
Namun tidak mungkin kan? Karena sulit melihat sifat sebenarnya perempuan itu. Karena ia selalu bersikap sama kepada semua orang.
Kini jantung Yohan pun berdegup kencang, meski Yohan tahu kalau Sonya pasti khawatir pada semua orang.
"Terus, gimana dong?" Tanya Yandhi menatap Yohan khawatir.
"Ehem si tukang gengsi khawatir~" Haidar malah meledek Yandhi.
"Jawab yang bener." Yandhi menatap tajam Haidar dan nadanya terdengar sangat dingin.
"Ya gak gimana-gimana, pake saputangan gue terus ke UKS."
"Bang, gapapa?" Tanya Marvin pada Yohan karena dari tadi Yohan diam.
Marvin menggoyangkan tubuh Yohan.
"Ah. Apa?"
"Abang lagi mikirin apa?"
"Oh, nggak.. Hehe"
Marvin melihat wajah Yohan dengan teliti.
"Eh iya Han! besok disuruh bawa jangka gitu, ya?" Tanya Haidar.
"Masa? Gue gak tau,"
"Tadi kan Pak Bobby bilang lagi pas kita mau keluar."
"Oh, gak inget."
"Masa gak inget?!"
"Iya, asli gak inget."