
Pagi ini, Yohan dan Marvin berangkat bersama ke
sekolah. Yohan membonceng Marvin menggunakan motor Yohan.
"Gimana sekolahnya?" Tanya Yohan memulai pembicaraan.
"Hm? Ya kayak biasanya aja, abang gimana?"
"Kayak biasanya," Jawab Yohan sambil tersenyum dan Marvin hanya mengangguk angguk.
Tiba-tiba Yohan merasa sakit kepala dan ia menggelengkan kepalanya pelan sambil memejamkan matanya.
"Bang, kenapa?" Tanya Marvin khawatir.
Motornya jadi sedikit oleng, dan tatapan Yohan terlihat kosong membuat Marvin khawatir.
"Bang?" Marvin menepuk bahu Yohan.
"Ah!" Tiba-tiba Yohan mengerem dengan mendadak.
Ckiit!
Marvin menubruk Yohan.
"Hah.. hah.." Yohan juga sepertinya terkejut.
"Bang? Biar gue aja yang ngendarain, gapapa kan?" Tanya Marvin sambil menghela napas panjang.
"G-gapapa, gue aja... Maaf ya Vin gue gak fokus"
"Hm.. Iya"
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mereka, Yohan yang membonceng Marvin lagi.
................
"Han. Jelasin tugas gue dong, gangerti hehehe." Ucap Yandhi sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Yohan dan membuka buku matematika nya.
Seperti biasa, mereka sedang beristirahat dan berkumpul di kantin.
"Gue juga gak ngerti" ucap Yohan melihat rumus di buku Yandhi.
"Lagian kenapa nanyain gue?" Tanya Yohan.
"Lah, dikira tau. Ya, karena diantara kita lo yang paling pinter."
"Ah gausah gitu,"
"Cie, biasanya juga suka gengsi kok tiba-tiba so sweet? Pft." Celetuk Haidar sambil menahan tawa dan Yandhi langsung duduk kembali, menjaga jarak dengan Yohan.
"Masalah buat lo? Dasar tukang julid!" Yandhi memutar bola matanya malas.
Yohan melihat Yandhi dan melihat Haidar. Ia pun tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Kalian gak bisa berhenti ribut ya?" Yohan tertawa karena merasa gemas melihat kedua temannya ini jika sudah bertengkar.
Mereka berempat saling menatap dan menatap Yohan dengan ekspresi terkejut.
Yohan masih dengan sisa tawanya, ia heran kenapa sahabat-sahabat nya menatapnya begitu.
"Kenapa? Ada yang salah?" Yohan meraba raba wajahnya.
"Kenapa??" Tanya Yohan sekali lagi.
"Uwoaaah!" Heboh semuanya bersamaan, Yohan bingung apa yang sedang mereka kagumi.
"Gue pertama kalinya liat Abang ketawa lepas!" Kata Marvin.
"Iya gue juga!" Kata Haidar dan Yandhi bersamaan, dan mereka saling menatap saat sadar mereka mengucapkan hal yang sama. Mereka langsung membuang muka dengan tatapan sinis.
"Apasih!" Ucap Haidar sinis.
"Apa lo!" Yandhi memutar bola matanya malas, dan Yohan tersenyum.
"Waaah HAHAHA" Tawa Wilona menggelegar, semua orang menatapnya.
"Waaah Yohan lucu..!" Ucap Sonya. Seketika jantungnya berdebar dan wajahnya sedikit memerah.
"Kalian kenapa, sih?" Tanya Yohan.
Mereka hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
...****************...
Kelas 2-1 sampai 2-3 siang ini berolahraga. Cuacanya sangat terik hari ini, membuat mereka semua mengeluh.
Per kelas beda guru, namun waktunya sama.
Kelas 2-1
"Baik anak-anak, hari ini latihan fisik ayo berbaris!" Ucap Pak William.
"Yahh kok fisik sih, yang lain aja di tes doang!" Haidar menggerutu kesal dan terdengar oleh Pak William.
"Kamu selalu aja ngeluh, kan bagus buat fisik."
Haidar hanya cemberut dan menghela nafas kecewa, Yohan yang disampingnya hanya tersenyum.
Kelas 2-2
"Hari ini kalian di tes main bola basket! Ayo berbaris!" Ucap Pak Albern.
"Yes! Basket!" Ucap Sonya semangat, sementara di sampingnya yaitu Yandhi hanya menghela napas panjang.
Kelas 2-3
"Baik anak-anak, sekarang kalian di tes main badminton, asal kalian hadir saja sudah bapak kasih nilai, tapi tetap harus olahraga karna menambah nilai." Ucap Pak Addy tersenyum.
"BAPAK YANG TERBAIK!" Teriak Wilona sambil mengacungkan jempolnya dan Pak Addy hanya tersenyum.
Haidar yang di belakang Yohan menghitung seberapa banyak gerakan lompat Yohan.
Namun baru saja 5 hitungan, Yohan sudah merasa lelah dan sedikit pusing hingga napasnya terengah-engah lalu ia terpeleset.
Bruk!
Yohan sedikit merintih kesakitan.
"Yohan, kamu sakit?" Tanya Pak William.
"Ti-tidak, saya baik-baik saja." Ucap Yohan sambil tersenyum.
"Han! muka lo pucet!" Panik Haidar dan dilihat oleh Pak William.
Pak William mengenakan punggung tangannya pada kening Yohan.
"Kamu demamnya tinggi! Kamu boleh pulang sekarang karena sakit." Ucap Pak William.
"Iya Han, ayo gue anter." Ucap Haidar memegang lengan Yohan.
"G-gue gapapa Dar,"
"Jangan gitu. Jangan maksain diri Han!"
Dan Yohan mencoba berdiri namun tubuhnya lemas.
Grep!
Untungnya Haidar menangkapnya dengan cepat.
"Tuh lihat, lo sampe sempoyongan gini! Badan lo juga menggigil."
"Ayo sini," Haidar mengarahkan punggungnya dan berjongkok.
"Gue bukan anak kecil," Yohan terkekeh.
Haidar berdecak dan menarik Yohan lalu menggendongnya, Yohan terkejut namun ia hanya bisa pasrah karena ada Pak William.
"Pak, saya juga boleh pamit? Nemenin Yohan." Tanya Haidar dengan tatapan memelas.
Pak William yang sudah tahu sifat Haidar seperti itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Makasih Pak!" Haidar membungkuk sedikit lalu pergi.
"Hati-hati!" Teriak Pak William.
Haidar hanya mengacungkan jempol.
"Untung gue pake mobil." Ucap Haidar lalu melajukan mobilnya, Yohan ditidurkan di kursi belakang.
......................
"Lo balik aja lagi, makasih udah nganterin." Ucap Yohan saat Haidar mengantarkannya sampai rumah nya.
Haidar yang sedang melihat lihat rumah langsung menatap Yohan dengan tajam.
"Gak! Gue bakal nemenin lo."
"Lah kenapa?"
"Nanya lo?"
"Gue gak kenapa-napa, diselimutin sama tidur aja udah sembuh."
"Pokoknya sampe orang rumah pulang, baru gue pulang."
Yohan terkejut dan ia melarang Haidar.
"Jangan!"
"Kenapa? Sekalian sambil gue kenalan."
"Ah, nggak. Ke kamar gue aja yok jangan disini."
Mereka pun di kamar Yohan.
"Kamar lo rapi banget."
"Emang lo nggak?"
Haidar geleng-geleng kepala, dan Yohan tertawa.
"Oh ya, ada saputangan gak?" Tanya Haidar.
"Eh yang lo waktu itu.. Nodanya gak pudar semua-"
"Bukan yang gue, lo punya gak di rumah?"
"Ada sih, buat apa?"
"Minjem."
"Ijin pake dapurnya ya." Kata Haidar.
Yohan heran apa yang akan dilakukan Haidar, namun ia hanya terkekeh dan berbaring.
"Ngapain lo bawa baskom?" Tanya Yohan.
"Ngompres lo lah!"
Haidar mulai memeras saputangan yang ada airnya dan memasangkannya ke kening Yohan.
Lalu Haidar menarik selimut Yohan sampai ke dada Yohan.
Yohan seketika terdiam.
"Ada obat penurun demam gak?" Tanya Haidar dan Yohan masih diam.
"Oi!"
"Ha? Oh ada, gue aja yang ngambil." Jawab Yohan sambil berusaha duduk namun ditahan Haidar.
"Dimana?" Haidar menatapnya tajam, Yohan hanya bisa pasrah.
"Di laci meja belajar," Gumam Yohan lalu Haidar segera mengambilnya dan membawa air putih.
"Nih minum biar cepet sembuh." Haidar memberikan nya kepada Yohan dan Yohan tersenyum sambil menitikkan air matanya.
"Lah kok nangis?"
"Makasih, Haidar"