YOHAN ALVARENDRA

YOHAN ALVARENDRA
Diagnosis



"Tumor otak." Dokter Aris menatap Yohan sendu, yang ditatap tertegun dan terdiam.


"Ini adalah tumornya, sudah besar dan akan dengan cepat menyebar ke bagian otak yang lain." Dokter itu menunjuk tumornya.


"Meski kemungkinan tidak terangkat seluruhnya, setidaknya sebagian besar tumornya terangkat. Sisanya dilanjut dengan radioterapi dan kemoterapi untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker."


Sontak mereka semua langsung terkejut dan perasaannya campur aduk, apalagi Sonya. Ia sudah meneteskan air matanya.


Yohan hanya bisa terdiam dan menerima dengan lapang dada soal penyakit yang sedang diidapnya.


"Oh ya, apa di keluarga Nak Yohan ada yang pernah kanker atau tumor otak?" Tanya dokter Aris.


"Tidak.. Ingat," Balas Yohan.


"Oh.. Gitu ya, Nak Yohan ngerasain sakit kepalanya mulai dari kapan? Dan apa aja yang kerasa beberapa hari kebelakang?" Tanya Dokter Aris kembali.


"Dok, dari beberapa bulan kebelakang, dia kayak kesakitan gitu tapi suka ditahan.." Sahut Haidar. Dokter Aris terkejut.


"Benar Yohan?" Tanya Dokter Aris kepada Yohan.


"I-iya, pertama sering sakit kepala, lalu sering mual dan muntah, semakin kesini semakin sering.. Dan akhirnya tidak selera makan dan selalu mengantuk."


"Kenapa kamu tidak langsung periksain aja?"


"Saya kira itu cuma efek dari demam tinggi waktu itu, saya jarang sakit taoi sekalinya sakit demam tinggi. Saya kira itu bagian dari efek setelah demam,"


"Besok, pindah ke gedung kanker ya."


"Kalau bisa besok langsung dioperasi,"


"Saya permisi.." Dokter itu pamit dan pergi dengan perawatnya. Dokter memberikan hasil scan nya kepada Haidar.


Yohan hanya mengeluarkan air matanya tanpa suara, begitu pula dengan mereka.


Yohan yang tidak pernah melihat mereka menangis sekalipun kini mereka menangis tanpa suara apalagi Sonya dan Wilona sampai terisak.


Sonya menghampiri Yohan dan memeluknya.


"Yohaaan...." Ucap Sonya bergetar, lalu pelukannya dibalas Yohan.


Haidar yang melihat hasilnya semakin menangis, namun ia berusaha agar suaranya tak terdengar. Begitu pula dengan Yandhi dan Marvin.


"Harapan gue.. Bisa hidup lebih lama kayaknya gak tercapai ya? Kayaknya waktu jalan-jalan sama kalian itu pertama dan terakhir kalinya gue main sama kalian." Ujar Yohan pelan membuat tangisan semuanya pecah.


"Lo jangan ngomong gitu.. Bang!" Marvin semakin menangis dan menyembunyikan wajahnya dibalik lengannya.


"Lo jangan gitu..." Ucap Wilona bergetar.


"Jangan tinggalin gue..." Sonya semakin mengeratkan pelukannya.


"Dari kapan..." Haidar menggantung kalimatnya.


"Lo ngerasain sakit kepala?" Tanya Haidar tanpa menatap Yohan.


"Kayaknya... Sekitar beberapa bulan kebelakang, udah lumayan lama. Lo udh tay kn" Jawab Yohan pelan.


"Kenapa lo gak bilang?" Tanya Yandhi.


Yohan hanya terdiam dan menatap langit-langit.


"Jangan bilang lo gak mau kita khawatir lagi." Ujar Haidar.


Haidar hanya bisa menghela napas, ia sudah tak tahan lagi dan akhirnya menghampiri Yohan dan menggenggam tangannya.


"Kenapa.. Kenapa baru aja kita tahu kalo kita adik kakak.. Kenapa.. Lo harus sakit..." Ujar Haidar pelan.


"Gue.. Belum bilang ke Ayah," Sahut Yohan.


"Oh ya, biar gue aja sama Marvin ke kantor polisi, kalian nungguin Yohan ya." Ucap Haidar dan diangguki mereka.


Haidar dan Marvin segera bersiap dan pamit untuk pergi ke kantor polisi mengunjungi Alvarendra lalu ke rumah Yohan untuk membawa barang-barang dan bajunya.


Perusahaan Alvarendra otomatis menurun, kini perusahaannya diurus oleh Ayah Marvin yaitu Mario Alvarendra, adiknya Alvarendra.


Awalnya Mario kewalahan, namun ia mengetahui jika Alvarendra mempunyai kepribadian ganda.


Mario berusaha meyakinkan seluruh pekerja disana agar tetap bekerja untuk meningkatkan kembali perusahaan, sebagian dari mereka bahkan ada yang keluar.


"Saya tidak mau menjadi bawahannya pembunuh!"


Mario meyakinkan terus para pekerja disana, untungnya ada yang mengerti.


Jadi dimulai Alvarendra dipenjara, Mario lah yang mengurus Cola-Cola Company. Ia jadi sibuk dan jarang ada di rumah. Untungnya keluarga Mario harmonis, ia mempunyai 2 anak yaitu Marvin dan Martin. Martin adalah adik Marvin.


...----------------...


Haidar dan Marvin menemui Alvarendra.


"Eh, Haidar? Kamu benar Haidar?!" Tanya Alvarendra setelah duduk dibalik sekat.


"I-iya, saya Haidar.." Haidar merasa canggung.


"Eh, kamu Marvin ya?" Tanya Alvarendra kepada Marvin.


"Iya, saya Marvin." Marvin tersenyum tipis.


"Kaliam ngomongnya jangan formal, santai aja." Ujar Alvarendra dan diangguki mereka berdua dengan canggung.


"Oh iya, Haidar... Kamu sudah tahu faktanya? Dari Yohan?" Tanya Alvarendra.


"Ah! Iya.. Haidar udah tahu?" Haidar mencoba untuk tidak formal dan malah merasa canggung sendiri.


"Iya, kamu anak Ayah.. Maaf Ayah belum bisa jadi Ayah yang baik," Ujar Alvarendra.


"Gak apa-apa," Haidar tersenyum.


"Oh ya, kalian mau ada perlu apa? Dikira Yohan yang datang." Tanya Alvarendra membuat Haidar dan Marvin terkesiap dan saling menatap.


"Oh ya, apa dulu di keluarga kita ada yang pernah kanker?" Tanya Haidar tiba-tiba membuat Alvarendra mengernyit.


"Hm.. Siapa ya? Kalau gak salah ada... Tumor otak! Kata Kakek kalian, Ayah kakek kalian/*kakek Alvarendra* dulu tumor otak dan tak lama setelahnya meninggal.." Alvarendra menundukkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Alvarendra.


"Ah, e-enggak, i-itu.. Kita mau memberitahu kalau Yohan.. Sakit." Ujar Haidar pelan membuat Alvarendra terkejut.


"Apa? Sakit apa?" Tanya Alvarendra.


"Bang Yohan lagi dirawat di rumah sakit xxx, dokter mendiagnosis Bang Yohan..." Sahut Marvin dan menggantung kalimatnya. Marvin menahan air matanya kembali.


"Tumor otak, Bang Yohan besok akan dioperasi." Marvin akhirnya meneteskan air matanya dan mengusapnya.


Begitu pula Haidar, ia menundukkan kepalanya, menahan air mata.


"Apa? Aku... tidak salah dengar kan?" Ucap Alvarendra tidak percaya.


Marvin dan Haidar hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Hah... YOHAAAANNN!!!!" Alvarendra berteriak sangat kencang diiringi tangisan, membuat penjaga segera menghampirinya.


"Ada apa?" Tanya penjaga itu.


"Tidak mungkin.. Yohan..." Alvarendra menundukkan kepalanya.


"Aku ingin melihat anakku.." Ujar Alvarendra kepada penjaga itu.


"Tidak bisa, kemungkinan Anda akan berubah lagi..!" Cegah penjaga itu.


"Kalian awasi saja aku! Aku ingin bertemu dengannya! Dia sakit..!!" Alvarendra sudah merasa kesal dan bercucuran air mata.


"AARRGHH!" Tiba-tiba Alvarendra merasa sakit kepala membuat penjaga itu memanggil penjaga yang lain.


Alvarendra tiba-tiba terdiam dan setelahnya, ia malah tertawa.


"Hahahah! Alvaren bodoh! Emosi dikit aja udah bisa dikendaliin ma gue!" Ujar Alvarendra membuat Haidar dan Marvin berdiri.


"Maaf, untuk saat ini Anda berdua pulang dulu, Alvarendra memang selalu seperti ini, setiap hari." Ujar kedua penjaga itu dibalik sekat dan menyeret Alvarendra yang terus tertawa seperti orang gila.


Ayahnya Bang Yohan kenapa ya? Batin Marvin, lalu mereka berdua pergi kerumah Yohan untuk mengambil baju dan barang-barang yang diperlukan.