
Suasana pemakaman sungguh pilu pagi ini. Banyak orang yang menyampaikan belasungkawa kepada Alvarendra dan Haidar setelah mereka mengetahui bahwa Haidar adalah kakak Yohan.
Sonya terus menerus menangis sejak malam, bahkan matanya sudah bengkak dan merah. Ia terus mengelus batu nisan bertuliskan "Yohan Alvarendra".
Haidar tentu saja hatinya sangat sakit. Kemarin malam terakhir ia bertemu dengan Yohan yang masih hidup sebelum ulang tahunnya.
Kini ulang tahun nya menjadi akhir hidupnya. Sangat singkat Yohan hidup, dunia bahkan belum mengetahui bahwa Yohan anak yang sungguh baik.
"YOHAAAN!!" Alvarendra meneriakkan nama Yohan berulang kali sambil menangis.
Alvarendra dicekal oleh 2 orang polisi namun ia memberontak dan berhasil memegang batu nisan Yohan.
"Yohan... Maafkan Ayah selama ini tidak menjadi Ayah yang baik bagimu... Kau pasti bahagia ya bertemu Ibu? Semoga kau bahagia disana... Yohan.." Suara Alvarendra begitu bergetar sambil mengecup batu nisan bertuliskan Yohan Alvarendra.
Setelah beberapa lama, orang-orang mulai pergi meninggalkan pemakaman, tersisalah Teman-teman Yohan dan Alvarendra.
Masih memandangi gundukan tanah yang bertabur bunga itu, Sonya memeluk batu nisannya sedari tadi dan menangis hingga terisak.
Langit mulai gelap dan tak lama hujan turun dengan deras.
Cuaca pagi ini seperti mewakilkan perasaan mereka saat ini.
Alvarendra diajak kembali ke kantor polisi.
"YOHAN! BAHAGIA DISANA!" Alvarendra pergi bersama para polisi yang mendampingi nya.
"ARGH!!"
Alvarendra mencekik salah satu polisi itu dan langsung dicegah polisi lainnya.
"Hahahaha! Setiap kejadian yang membuatnya tertekan membuat gue mudah kendaliin!"
Alvarendra diborgol dan langsung dibawa ke mobil polisi. Selama didalam mobil, ia tertawa.
Kondisi Alvarendra kini jika berubah dengan kepribadian lainnya karena suatu situasi yang membuatnya tertekan atau stress.
Semuanya masih mengeluarkan air mata dalam diam. Sampai Reyhan mengusap air matanya kasar.
"Gak boleh gini, nanti Yohan gak tenang." Gumam Reyhan pelan.
"K-kita harus relain Yohan.." Sahut Wilona dengan menyembunyikan wajahnya dibalik tangannya.
Haidar menatap nisan dengan tatapan kosong dengan air mata yang mengalir dan air hujan yang terus mengguyur mereka.
"Makin deras, ayo kerumah Yohan."
Mereka semua pergi menuju rumah Yohan untuk berteduh dan menenangkan diri.
Haidar masuk kedalam kamar Yohan dan menemukan hp Yohan di laci. Ia melihat isi hp Yohan.
Ada satu aplikasi yang ikonnya besar di layar beranda yaitu memo catatan. Haidar segera membukanya dan ternyata ada beberapa memo yang baru-baru ini dibuat.
Haidar melihat satu persatu isi dalam memo tersebut.
Tangis Haidar pecah, ia berasa sedang mendengar isi hati seorang adik.
Belum lama mereka baru mengetahui fakta bahwa mereka bersaudara, belum tercapai harapan rahasia Haidar yang ingin hidup bahagia tanpa kendala apapun sebagai adik kakak dengan Yohan.
Banyak yang Haidar harapkan. Namun ia hanya bisa menangis didalam kamar Yohan sendirian.
Yohan... Kenapa lo tiba-tiba pergi? Gak bilang dulu sama Abang? Gue gak ngira lo bakal pergi secepat itu, emang bener kematian selalu terjadi tiba-tiba, tapi ya.. Haidar perlahan terisak.
Haidar lupa bahwa ada mereka di ruang tamu. Haidar cepat-cepat mengatur emosi nya kembali dan keluar kamar membawa hp Yohan.
"Kalian..." Haidar memberikan hp Yohan kepada mereka lalu mereka membacanya.
"Yohan emang anaknya tangguh, kuat, tapi dia juga cuma anak pada umumnya. Mustahil gak merasa sakit," Gumam Yandhi sambil tersenyum.
"Gue nyesel,"
Wilona memeluk Sonya dengan erat. Keduanya terisak cukup keras.
Kemarin, lo langsung pergi.
Gue gak percaya..
Flashback on
"Gue pengen lo bahagia, lebih dari siapa pun..."
"Gue pengen ulang tahun sekarang lo pure bahagia,"
"Gue harap gue bisa sama lo lebih lama lagi sampai berbulan-bulan."
"Gue pengen lihat lo ketawa lepas,"
"Anggap aja pernyataan dari Dokter Aris gak ada, lupain aja. Kita habisin waktu aja tanpa memikirkan itu."
Yohan hanya tersenyum sendu mendengar kata-kata Sonya diatas sandaran pundak Sonya.
Ra, maafin kalo gue gak bisa nepatin janji.
Tapi gue janji gue bakalan bahagia kalau udah disana dan ketemu Ibu.
Maaf kalian semua, gue udah repotin.
"Selamat ulang tahun, Yohan."
Kembang api yang berasal dari festival sekolah terlihat di balkon.
Yohan tersenyum lalu perlahan memejamkan matanya.
"Kembang api nya bagus ya,"
Sonya menoleh menatap Yohan sekilas lalu tersenyum.
"Lo tidur?"
"Beneran tidur?"
"Lo pasti cape melewati hari-hari belakangan ini."
"Gue rasa gue juga jadi suka Westlife."
"Lagu-lagu nya enak, tapi kayaknya lagu favorit lo tentang cinta sama perpisahan semua,"
"Gue agak sedih."
Sonya memeluk kepala Yohan dengan lembut.
Sebenernya gue udah overthinking tapi gak! Jangan..
Sonya meletakkan jari telunjuknya dibawah hidung Yohan.
Air matanya keluar begitu saja lalu memeluk Yohan erat.
"Kenapa.. Kenapa..?"
Sonya terisak saat itu juga, ia memeluk tubuh Yohan yang tak memberi respon apapun dan matanya tetap terpejam.
Tak lama Haidar dan Marvin datang membawa kue dan langsung muncul didepan mereka.
"Selamat ulang ta-" Haidar dan Marvin terkesiap mendengar isakan Sonya.
Sonya menyembunyikan wajahnya dibalik pundak Yohan yang sudah tak merespon.
Haidar dan Marvin dengan cepat menghampiri mereka.
"Bang Yohan!"
"Han!"
Haidar mengecek denyut nadi Yohan namun ia tak menemukan denyut.
Haidar terduduk. Kue yang dibawanya terjatuh ke tanah. Marvin menyentuh Yohan yang sudah mulai dingin. Ia mematung dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Flashback off
Mereka semua mencoba untuk tidak selalu menangis. Namun di kepala mereka selalu terputar bayangan saat Yohan berbuat baik kepada mereka.
Setelah semua meredakan tangisnya, mereka berusaha merelakan Yohan meski sulit. Berakhir mereka hanya berdiam dirumah Yohan tanpa pergi ke festival yang sudah mereka buka saat malam hari.
Diluar hujan, mungkin festival nya tidak terlalu seru karena tiba-tiba hujan.
"Kita jangan memberatkan Yohan. Nanti dia gak tenang," Ujar Yandhi sambil menatap langit-langit.
...----------------...
"Nak," Bayangan seorang wanita membuka tangannya seakan akan memeluk.
"Ibu?"
"Iya ini Ibu, Yohan.." Wanita itu tersenyum.
Yohan langsung berhambur memeluk Wanita itu.
"Aku kangen Ibu, akhirnya bisa bertemu Ibu."
"Apa yang membuatmu kesini?"
"Penyakit... Tumor otak."
"Turunan dari Kakek mu."
"? Benarkah?"
"Aku janji untuk bahagia disini,"
"Iya, kau harus bahagia Nak."
"Bahagia bertemu Ibu?"
"Tentu saja!"
Mereka berdua saling menggenggam tangan dengan erat satu sama lain lalu tertawa.
Mereka mulai berjalan menuju cahaya yang terpancar didepan mereka.
Kalian harus relain gue.
Kalau kalian menangis, gue gak tenang.
Gue udah bahagia!
Makasih, semuanya. Semoga kalian juga selalu bahagia..
...End...