When The Evil Fall In Love

When The Evil Fall In Love
Bab 33. Pembantaian Ke dua



"Kenapa bisa begini!" ucap Riana terkejut


"Kalau kau ingin jawabannya, ikutlah denganku," Aryo mengulurkan tangannya


Melihat Riana tak bereaksi lagi-lagi ia menarik paksa gadis itu hingga keduanya kembali berada di dalam rumah sakit.


"Dasar brengsek, kau bilang ingin memberitahu semuanya tapi kau malah membawaku kembali ke sini!" ujar Riana mendengus kesal


Aryo tersenyum sinis kemudian meninggalkan gadis itu tepat di depan Angel berbaring.


"Angel!!"


Riana tak menyangka jika Aryo akan membawa ke ruang perawatan Angel.


Ia kemudian menggenggam erat jemari sahabatnya itu.


Riana kemudian memejamkan matanya berharap akan mendapatkan visi setelah menggenggam jemari Angel. Namun sayangnya ia tak mendapatkan apapun meski ia sudah berkali-kali mencobanya.


"Ah sial, ini tak mungkin terjadi. Biasanya aku selalu berhasil mendapatkan sesuatu untuk melihat penyebab sebuah kejadian,"


Riana kemudian teringat visi yang ia dapatkan saat pergi bersama dengan Aryo.


"Aku harus ke tempat itu lagi, aku yakin bisa menemukan petunjuk saat menyentuh bunga itu," Riana buru-buru pergi meninggalkan tempat itu, namun saat ia hendak keluar gadis itu melihat beberapa orang polisi berjaga di depan pintu keluar hingga membuatnya mengurungkan niatnya.


Gadis itu terlihat panik saat seorang dokter menarik gagang pintu ruangan itu.


"Bagaimana ini, aku bisa ketahuan??" ujarnya begitu panik


*Krieet!!


Seketika ia merasakan seseorang menarik lengannya dan memeluknya hingga tak seorangpun melihatnya.


Riana merasa jika Aryo akan membawanya ke Nirwana, hingga ia begitu bahagia saat pria itu melepaskan pelukannya.


Seketika wajahnya langsung berubah kecewa saat ia menyadari ia sudah kembali ke rumahnya.


"Kok sudah pulang Ri?" tanya Lasmi terkejut saat mendapati Riana pulang lebih awal


"Eh itu karena ada rapat di sekolah makanya siswa dipulangkan lebih cepat dari biasanya," jawab Riana


"Mas Arya ganteng mau kerja kelompok lagi?" tanya Lasmi saat melihat sosok pemuda tampan itu


"Tidak nek, aku hanya mengantarnya pulang saja," jawab Aryo


Melihat Aryo berlalu pergi, Riana segera mengejarnya.


"Bawa aku ke Nirwana lagi," ucap Riana menarik lengan pemuda Itu


Aryo hanya tersenyum menanggapi permintaan gadis itu.


"Kalau begitu menikahlah denganku, maka aku akan membawamu kemanapun kau mau," jawab lelaki itu


"Yang benar saja, kita belum baru saling mengenal nama mana mungkin bisa memutuskan menikah. Aku harus tahu dulu siapa dirimu agar aku bisa menerima pinanganmu," jawab Riana


"Apa aku perlu mengingatkan semuanya," Aryo mendekatkan wajahnya dan menatap sendu gadis itu membuat Riana langsung memalingkan wajahnya


"Hentikan bersikap sok akrab denganku," sahut Riana


"Hmm," Aryo kemudian merapikan rambut Riana yang tampak menutupi sebagian wajahnya.


Lasmi terus memperhatikan gerak-gerik keduanya dari kejauhan meskipun wanita itu sudah membuat perisai gaib untuk Riana namun ia tak mengerti bagaimana Aryo masih bisa menembus pagar gaib itu.


Setelah melihat Riana tampak rapi ia kemudian berpamitan kepada Lasmi dan meninggalkan tempat itu.


Melihat pria itu meninggalkan Riana Lasmi segera berlari mendekati cucunya itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sekolah hari ini?" tanyanya dengan raut wajah penasaran


Riana kemudian menceritakan semuanya kepada Lasmi tentang apa yang terjadi di sekolah.


Wanita itu terlihat begitu khawatir padanya hingga mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Lasmi kemudian menyuruh Riana untuk mengecek peti mati Raja Iblis.


"Dia masih ada di sana?" ucap Riana setelah memastikan jenazah Raja Iblis masih dalam peti mati.


Lasmi tampak menerawang saat melihat jenazah Raja Iblis. Wanita itu sulit memberitahukan Riana tentang bahaya yang sedang mengintai gadis itu. Bagaimanapun juga ia tak mau membuat gadis itu ketakutan.


Malam itu Bu Warni dan Bu Widya tampak sedang mencari sesuatu di ruang kelas X. Mereka berdua yakin bisa menemukan barang bukti di tempat itu hingga bertekad mencarinya malam itu.


*Tak, tak, tak!!


"Sepertinya ada yang datang," ucap Warni kemudian berjalan menuju ke pintu masuk


*Grepp!!


Seketika seorang pria langsung mencekiknya dan mengangkat tubuhnya hingga ia nyaris kehabisan nafasnya.


Widya tak diam saja, wanita itu kemudian mengambil kursi dan memukul pria itu.


*Brakkk!!


Ia begitu terkejut saat melihat kursi itu hancur ketika mengenai tubuh pria tersebut.


"Si..si...siapa kau sebenarnya!" serunya begitu ketakutan


Pria itu kemudian melemparkan tubuh Warni hingga membentur dinding kelas.


"Arrghh!!"


Seketika netra pria itu berubah menjadi merah begitupun dengan seluruh tubuhnya.


Widya yang ketakutan seketika terjatuh ke lantai. Pria itu menyeringai saat melihat Widya ketakutan dan berusaha menggerakkan kakinya agar bisa meloloskan diri dari Iblis itu.


Namun sayangnya tiba-tiba kedua kaki Widya tak bisa digerakkan membuat wanita itu semakin ketakutan.


Air matanya seketika menetes saat pria itu mendekatkan wajahnya kepadanya.


"Manusia tak berguna sepertimu lebih baik mati saja!" pria itu kemudian menggerakkan telapak tangannya dan sebuah bola kristal seketika berputar-putar di atas telapak tangannya


Warni yang baru saja sadarkan diri segera mengambil sesuatu dan melemparnya kearah bola kristal di tangan Sang Iblis.


*Brakkk!!


Pria itu begitu murka saat tahu Warni menggagalkan rencananya.


Ia kemudian menghilang dan tiba-tiba sudah berdiri di depan Warni dan mencekik wanita paruh baya itu.


"Iblis sepertimu tidak akan pernah bisa membunuhku, kau tahu itu. Tapi kenapa kau masih saja melakukannya?" tanya pria itu


"Karena aku tahu ajalmu sudah dekat, itulah alasannya kenapa aku melawan mu," jawab Warni kemudian mendorong pemuda itu hingga ia terhempas beberapa langkah darinya.


Ia kemudian melepaskan kekuatannya untuk membentuk sebuah perisai gaib untuk mengurung makhluk itu.


Melihat Arya Zagan tak bisa keluar dari pagar gaibnya, Warni segera menghampiri Bu Widya dan mengajak wanita itu keluar dari ruangan kelas.


Namun saat keduanya hendak Menuruni tangga Aryo menghadangnya dengan tatapan bengisnya.


Ia kemudian mengambil pedangnya dan menghunuskan nya kepada Warni.


Seketika darah segar menyembur dari mulutnya dan wanita itu seketika ambruk di lantai.


"Bu Warni!" seru Widya menghampirinya


"Cepat pergi dari sini dan selamatkan dirimu. Biarkan aku yang akan menahannya," tutur Warni


Melihat Widya pergi Arua segera melemparkan pedangnya hingga menatap di punggung wanita itu.


*Bruugghhh!


"Tidak!" seru Warni langsung menyerang pria itu


Arya kemudian menggerakkan tangannya dan pedang saktinya seketika terlepas dari tubuh Widya dan kembali ke genggamannya.


Saat pria itu menebaskan pedangnya kearah Warni, Widya yang masih bernafas segera bangun dan mendorong wanita itu hingga jatuh dari lantai dua.


*Pranngg!!


Beberapa polisi yang berjaga di tempat itu langsung mendekat kearahnya.


"Ada korban lagi!" seru polisi itu


salah seorang dari mereka melihat seorang pria berdiri di samping jendela kelas X sambil memegang pedang di tangannya.


"Oh itu pembunuhnya!" seru salah seorang polisi


Saat keduanya hendak meninggalkan Warni wanita itu menarik kaki mereka.


"Jangan pergi!"